Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Permintaan Maaf yang Terpaksa


__ADS_3

12.00 PM


Di belakang halaman sekolah, Alvin di tuntut oleh teman-teman Yuka, dan bahkan Yuka merasa sedikit bersalah terhadap Alvin.


Alvin berpikir sedikit dan menatap kepada mereka


"Apa maksudnya ini, hah?" Tanya Alvin yang merasa bersalah karena kemarin.


"Alvin." Gadis itu menghampiri Alvin


"Gue dengar lo melakukan hal-hal yang tidak pantas kepada teman sekelas kita, ya?" Menatap Alvin dengan muka yang marah.


"Gue gak tahu apa yang lo maksud." Jawab Alvin dengan muka serius.


"Jangan berpura-pura!" Ucapnya dengan sangat marah.


"Aku tidak merasa begitu terganggu kok, Rayhannah" Ucap Yuka.


"Apa yang kau bicara kan, Yuka?" Ucap gadis satunya lagi yang bernama Natasha.


"Bukannya orang mesum seperti ini mengantar kamu ke tempat yang sangat sepi untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak?" Kata Natasha.


"Woi, gua tau kalau gua melakukan itu kepada Yuka, tapi gua tidak sengaja tau!" Ucap nya dengan sangat serius.


"Apakah gua harus percaya kepada pria seperti elo? " Ucap Rayhannah yang menyilangkan tangannya.


"Bagaimanapun juga, elu harus minta maaf kepada Yuka karena udah menyakiti perasaan dia! " Ucap Rayhannah yang sangat serius


Alvin menunduk dengan cepat dan berkata "Gua minta maaf. "


"Itu sangat cepat?!" Ucap Rayhannah yang terkejut.


"Itu tidak cukup! Berlututlah!" Ucap Natasha.


"Baiklah. Terserah. " Alvin berlutut kepada meraka.


"Sesuai keinginan lo." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Itu gampang sekali?!" Rayhannah terkejut lagi.


"Kamu punya harga diri tidak?! " Ucap Natasha.


"Jauhilah pandangan mesum lo dari Yuka, denger ga percakapan gua?" Ucap Natasha yang sangat serius.


"Baiklah, gua akan melakukan itu." Alvin tersenyum.


"Gue mohon maaf dengan sepenuh hati gua, bahwa gue itu salah."


"Gue sangat menyesal dan ingin berminta maaf."


"Sudah cukup, teman-teman" Ucap Yuka menatap kedua temannya.


"Gua pikir pria brengsek ini sedang mengejek kita..." Ucap Rayhannah yang masih tidak percaya tentang Alvin.


"Tentu saja tidak, gua sangat menyesal dengan perbuatan gua ini." Alvin tersenyum.


"Hanya demi penampilan, gua yakin." Ucapnya dengan sangat serius.


"Sepertinya lo meremehkan percintaan!" Ucap Rayhannah yang sangat serius.


"Dan gue tidak merasakan ketulusan apa pun dari kata-kata atau tindakan elo!"


"Elu pasti hanya meniru kata-kata lo itu dari komik atau TV, kan? " Rayhannah mulai terasa cape berbicara dengan Alvin.


"Dasar ********..." Alvin mulai kehabisan kesabarannya.


"Elu menyebut kata-kata yang seharusnya tidak pernah di ucapkan seumur hidup kepada gue." Ucap Alvin dengan wajah yang serius.


"Apa? Yang lo maksud itu apa?! " Ucap Rayhannah yang mulai merasa bingung dengan perkataan Alvin.


"Jangan terlalu penuh dengan diri lu sendiri, dasar gadis bodoh..." Ucap Alvin yang sangat marah karena disebut peniru.


"Gua bersedia untuk membiarkan elu mengatakan apapun ke gua, sampai-sampai elu memulai membicarakan omong kosong seperti asmara dan ketulusan." Alvin mencabut rumput dengan sangat keras.


"Apa yang elu ketahui tentang cinta?!" Alvin berdiri dan eksperesi dia sangat marah sekali.


"Jangan membuat gua ketawa sampai gua mati!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Gua udah mendengarkan semua percakapaan elu, tapi gua sudah cape mendengar cukup omong kosong tentang 'perasaan yang terluka'."


"Apakah elu menjalankan hidup lo sesungguhnya?"


"Lu pikir lo itu keren karena marah atas nama Yuka?" Ucap Alvin dengan serius.


"Kalian meremahkan gua! Alvin Ghifari si kaisar dingin. " Alvin bergaya dengan sangat keren.


Mereka terkejut dan tidak bisa berbicara apapun kepada Alvin, Alvin menatap mereka lagi dan memasukan kedua tangannya kepada sakunya.


"Apakah lo tau betapa menyakitkannya cinta sejati itu?!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Mereka merasa aneh dan canggung mendengar ceramahan Alvin.


"Katakanlah wanita yang elu cintai selama lebih dari satu dekade pergi dan menikah dengan musuh bebuyutan elu." Ucap Alvin dengan sangat serius dan meneteskan air matanya.


"Berapa banyak yang elu pikir elu akan menderita pada hari pernikahan mereka?!"


"Dan bagaimana jika wanita itu mendatangi elo sepuluh tahun kemudian dan meminta lo untuk merawat putrinya?" Ucap Alvin dengan sangat terharu.


"Apakah kamu tahu bagaimana rasanya?! Tentu saja tidak!"

__ADS_1


"Ada apa dengan pria brengsek ini?" Ucap Rayhannah yang merasa canggung.


"Pria mesum ini benar-benar aneh..." Ucap Natasha yang merasa canggung juga.


"Tunggu dulu!" Seorang laki memotong pembicaraan mereka.


Meraka semua melihat pria itu.


"Fernando?" Kata Yuka.


"Maafkan aku, teman-teman!" Fernando menunduk kepada mereka.


"Alvin melakukan semua itu demi aku."


"Huh?!" Wanita-wanita itu terkejut bahwa Alvin itu telah membantu Fernando.


"Dia mengatakan semua hal-hal tidak masuk akal dan gusar pada gadis-gadis sehingga Yuka akan membencinya."


"Benarkan, Alvin?" Ucap Fernando dan menatap Alvin.


"Iya, terserah dah, yang penting gua di bayar" Ucap Alvin.


"Aku pergi kepadanya untuk meminta bantuan tentang Yuka." Fernando tersipu dan merasa canggung.


"Saat itulah dia berkata, 'Segalanya akan kembali normal jika dia membenciku.', " Fernando tersenyum.


Fernando menatap Yuka dan tersenyum.


"Saya akhirnya menunjukkan kamu sisi saya yang saya tidak banggakan, tapi aku akan melakukan yang terbaik untuk menjadi pria yang layak untukmu, Yuka" Fernando tersipu dan tersenyum.


"Bisakah kamu tunggu saya?" Fernando tersenyum.


"Baiklah, jika Anda baik-baik saja dengan itu..." Ucap Yuka.


"Jika lo berdua baik-baik aja, gua juga tidak punya keluhan lain." Ucap Rayhannah.


"Benarkah? Terima kasih atas pengertian kamu." Fernando tersenyum.


"Persahabatan itu memang bagus ya!" Ucap Fernando sambil tertawa.


-----


Alvin terselamatkan oleh Fernando dan dia sedang membasuh muka nya dengan air agar dia tidak teringat dengan kejadian tadi dan kemarin.


"Hah..." Membasuh muka nya.


"Terima kasih udah menolong gua, Fernando." Ucap Alvin


"Gua hampir saja kena tuntut dan hampir di keluarkan dari sekolah ini." Mengusap mukanya dengan handuk.


"Tidak masalah. Justru gua yang harus meminta terima kasih pada lo" Fernando tersenyum.


"Bagaimanapun, lo menyelamatkan nyaea gua" Alvin duduk di tangga


"Kagak lah, gua cuman melakukan perkerjaan seharian gua." Alvin tertawa.


"Kenapa lo tidak pacaran sama dia?" Fernando tersenyum.


"Oh, itu..."


"Kamu janji kan kamu bakal menikah dengan ku?" Ucap Tomoe


"Ugh..." Alvin meraba kepala nya.


"Alvin, lo kenapa?" Fernando mulai khawatir.


"Setiap lo ngomong tentang pacar, kepala gua selalu pusing..." Ucap Alvin yang sedang tidak enak badan.


Alvin berdiri dan menghapiri kelasnya.


"Gua harus pergi, Fernando." Ucap Alvin sambil berjalan menuju kelasnya.


Alvin berjalan sambil berpikir tentang gadis yang bilang ke dia untuk menikahinya ketika meraha sudah besar.


"Gadis yang selalu ada di pikiran gua itu... Siapa ya...?" Ucap Alvin yang sedang kebingungan.


"Kenapa gua harus lupa tentang gadis itu!" Ucap Alvin yang sangat kecewa dan marah terhadap dirinya sendiri.


"Kak Alvin!" Reina memanggil Alvin.


Alvin menoleh kepada Reina dan mulai sedikit panik.


"Oh, R-Reina, apakah kamu memberitahu soal kemarin kepada guru?" Alvin tertawa dengan panik


"Oh, soal kemarin ya? Aku sudah tau, kok" Reina tertawa.


"J-Jadi kamu tidak jadi memberitahu guru...?" Alvin terkejut.


"Tidak!" Reina tersenyum.


"Kak Alvin, makan siang bareng yuk." Reina menawarkan Alvin untuk makan siang bareng dengannya.


"Ehh? Kamu serius? Ini langka sekali untuk mu mengajak senior mu makan bareng?" Alvin tertawa.


"Tidak bisa ya?" Ucap Reina dengan sangat sedih.


"Tentu bisa lah, ayo!" Alvin tersenyum.


***

__ADS_1


Alvin dan Reina berjalan menuju kantin, Alvin melihat banyak sekali murid yang sedang makan siang di kantin. Dan bahkan ada pun gadis yang masih membuat gosip tentang Alvin.


"Kita harus cepat membeli makan siang kita. Aku tidak suka suasana ini..." Ucap Alvin yang merasa tidak enak di hadapan mereka semua.


"B-Baiklah, Kakak adalah tipe orang yang tidak suka berada di tempat yang banyak orang nya ya?" Ucap Reina yang sangat penasaran.


"Hee... Karena aku terlalu mencolok dan popular... Mereka memanggilku orang teraneh, terbodoh dan terdingin! Bahkan kadang mereka memanggilku kaisar! " Alvin tertawa


"Lihatlah pidato ku ini, Reina..."


Alvin berjalan menuju panggung dan semua orang langsung melihat Alvin dengan wajah yang serius.


"Baiklah...! Elu semua mulai sekarang harus denger percakapan gua dan nikmati lah makan siang kalian sambil mendengarkan pidato kaisar ini!" Alvin menyilangkan tangannya.


"Oh... Apa? Lo semua tidak mengenali gua ya?" Alvin tersenyum dan mengolok-ngolok mereka.


"Gua ini Alvin Ghifari. Lo selalu memanggilku orang terbodoh, teraneh, dan terdingin di sekolah ini kan?! Bahkan para gadis selalu menggosipkan tentang gua. " Alvin tersenyum.


"Oh? Apa yang barusan gua denger, nih?" Alvin meraba telinganya.


"Yang pertama gua denger apa ya, ohh...!"


"Ternyata lo semua ini jijik dan kesal pada gua ya? Dan bisa jadi lo semua benci gua juga!"


" 'Memangnya dia kira dia ini siapa?' 'Mana mungkin kami bisa menikmati sekolah dengan tenang jika dia ada di sekolah ini.' 'Suasana apa yang akan terjadi jika dia tidak pernah bersekolah disini?'" Ucap Alvin yang sedang bersenang-senang berkata hal-hal yang bodoh


"Masih ada lagi, ya? Mau lo semua benci atau marah pada gue, silahkan aja, gratis kok." Alvin tertawa.


"Gue tidak butuh kalian bermurah hati pada gue."


"Beginilah cara gue mengelola sesuatu!" Ucap Alvin dengan sangat serius


Para osis mulai muak terhadap perkataan Alvin yang menyebalkan dan sombong.


"Yang tidak menurutiku akan gua ancurin nih sekolah sekarang juga! Lo semua balakan ngelakuin tugas saat gua suruh!" Alvin menunjuk mereka semua.


"Lagipula sekolah yang tidak berguna ini akan segera bangkrut dan hancur, jadi gue akan lakukan apa pun sesuka hak dan kewajiban gue."


"Lo semua siapkan pensil lo masing-masing dan catat perkataan gue ini:" Alvin tersenyum


"Bocah tengik yang lo semua benci ini... Akan menciptakan keajaiban kepada sekolah ini!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Diperpisahan yang akan datang dan murid baru yang akan datang di kelas sepuluh... Gue akan menarik banyak siswa baru ke sekolah yang tidak berguna ini!"


"Guepasti akan mengubah suasana sekolah ini menjadi lebih bagus dengan keinginan gua ini" Alvin tersenyum


-\=-\=-


Alvin dan Reina sedang makan makanan siang mereka di tangga.


"Akting?" Reina terkejut


"Ya, aku memang sengaja membuat mereka jengkel."


"Saat aku bilang sekolah ini adalah sekolah yang sangat jelek dan tidak berguna, mereka semua jadi sangat marah... Aku bisa melihat eksperesi mereka seperti melihat sampah yang lebih buruk dari pada sampah."


"Jika mereka masih peduli dengan sekolah yang hampir bubar ini, berarti mereka belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah ini" Ucap Alvin sambil meminum kopi nya.


"Sekolah ini masih punya harapan untuk bisa menjadi sekolah terpopuler."


Reina tersenyum dan berpikir bahwa Alvin adalah pria yang baik juga.


"Aku salah menilai mu, kak Alvin." Reina tersenyum.


"Maksudmu?" Alvin menatap Reina.


"Kakak ini adalah orang yang dapat di percaya juga, bahkan kakak ini diam-diam baik, ya?" Reina tertawa.


"Sikap ku ini bercampur aduk, Reina. Aku kadang galak, baik, dan juga nakal." Alvin tersenyum.


"Aku hanya ingin beda dari yang lain, kau tahu? Ketika aku sudah bisa kerja, aku ingin menjadi pengusaha yang beda dari yang lain." Alvin tersenyum.


Reina tersenyum bahagia dan punya harapan untuk senior yang keren, Reina langsung mendekatin Alvin dan berkata "Kak Alvin... Udah punya pacar belom?" Reina menanyakan hal itu kenapa Alvin. Alvin tersenyum.


"Belum, emang kenapa?" Alvin mulai penasaran.


"Tidak apa-apa~" Reina tersenyum.


"Kamu ini junior ku yang aneh tau..." Alvin tersenyum dan mengusap rambut Reina.


"Kakak kan senior aku jadi aku akan meniru hal-hal yang kakak lakukan!"


Alvin tertawa dan merasa bangga bahwa dia punya junior yang selalu berada di dekatnya.


"Kapan, kapan, gimana kalau kita bolos seperti biasa?" Alvin tertawa.


"Okay! Ayo kita bolos kapan-kapan lagi!" Reina tersenyum dan bersemangat.


Alvin dan Reina mulai menikmati waktu mereka bercanda dan merencanakan bolos lagi, Reina bersikap tidak seperti biasanya karena dia melihat Alvin sebagai orang yang dapat dipercaya dan baik sekali.


Mulutnya Reina belepotan karena saus yang berada di roti isinya.


"Hadeuh..." Alvin mengambil tisu dan mengusap mulut Reina.


"... ..." Muka Reina berubah menjadi merah.


"Kamu demam ya? Dasar gadis aneh." Alvin tersenyum.


-\=-\=-\=-

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter 4! Jangan sampai ketinggalan ya~ :3


Eits~ Jangan lupa vote nya ya~


__ADS_2