
Di dalam ruangan osis, Alvin yang sedang mengerjakan dokumen-dokumen tersebut mulai terasa kelelahan dan pusing.
"Gue terlalu berkerja keras... Cape banget..." Ucap Alvin sambil meminum jus jeruknya dan mengusap keringatnya.
"Kamu harus beristirahat juga! Jangan memaksakan diri." Ucap Tomoe.
Alvin mematikan komputernya dan ia berdiri.
"Ahhhhhh..." Alvin mengepalkan kedua tangannya.
"Cuman gue aja ya yang di sini?" Alvin melihat ke arah jendela.
"Gue ga punya temen ngobrol neh..."
Tiba-tiba Fiah membuka pintu dan melihat sekitar.
Alvin menoleh kepada Fiah dengan muka penasarannya.
"Permisi..." Ucap Fiah dengan tersenyum.
"Ohh, Fiah, kenapa?" Alvin menghampiri Fiah.
"Kamu juga sendirian ya?" Fiah tersenyum.
"Iya, semua osis malahan pada sibuk dengan aktifitas mereka sendiri." Ucap Alvin.
Tiba-tiba perut Alvin bersuara sangat keras karena ia lapar, Alvin terkejut dan menoleh ke arah Fiah dan mukanya tersenyum.
"Kamu lapar ya?" Fiah terkekeh.
"Iya..."
Alvin menghampiri pintu keluar dan ia berencana untuk makan siang di kantin.
"Kamu mau ke kantin?"
"Iya." Alvin menutup pintu tersebut.
***
Di kantin, Alvin memegang makan siangnya dan ia mencari meja yang kosong dan bagus untuk menyendiri saja.
Tiba-tiba Alvin menemukannya dan ia langsung menghampirinya dengan sangat cepat.
Alvin duduk di kursi tersebut dan ia menaruh makannya.
"... ..." Alvin melihat makanannya dan mulai teringat dengan seseorang yaitu Tomoe, biasanya Alvin selalu disuapi oleh Tomoe ketika makan siang.
"Ini Alvin~ Ahhhh~" Tomoe menyuapi Alvin.
"Hadeuh, Tomoe sekarang malah sibuk ngerjain misi yang harus di laksanakan." Alvin merasa sedih dan kesal.
Tiba-tiba Fiah menghampiri Alvin dan ia langsung duduk didepan Alvin dan langsung menaruh makan siangnya.
"Loh, Fiah?" Alvin menoleh ke arah Fiah.
"Bolehkah aku makan siang bareng dengan kamu?" Fiah tersenyum.
"Terserah." Alvin memakan makanannya.
"Bentar, Fiah, emang kamu udah membantu klub renang dengan membersihkan kolamnya?" Alvin mulai penasaran.
"Udah dong, padahal itu gampang banget!" Fiah tersenyum.
"Baguslah! Sebagai osis yang berbeda dari sekolah lain, kita harus membantu semua murid yang kesusahan!" Alvin mulai bergaya.
"Aku tau, kok." Fiah mengangguk.
Alvin dan Fiah terus berbicara dan mendiskusikan sesuatu sambil memakan makan siang mereka.
Tiba-tiba Tomoe lewat kantin.
"Aduh... Cape banget..." Tomoe tiba-tiba melihat Alvin sedang berbicara dengan Fiah.
Tomoe langsung terkejut dan panik.
"A-Alvin?! Dan...!?" Tomoe terkejut.
Tomoe melihat Fiah.
"Fiah!? Kenapa mereka makan bareng?! Gak mungkin!!!" Tomoe terkejut dan marah, ia mulai diam-diam mengawasi mereka.
Tomoe diam-diam menghampiri mereka dengan sangat tersenyumbi.
"Tapi... Fiah tidak ada di mimpiku itu... Apa mimpiku itu cuman sekedar bohongan!?" Tomoe mulai sangat cemburu.
"Apakah Fiah mencoba menggoda Alvin?! Dia tau kan kalau Alvin sering memainkan perasaan para gadis?!" Tomoe mulai panik dan bergegas menuju Alvin.
Alvin tiba-tiba melihat Tomoe dan ia langsung tersenyum.
"Ahh, Tomoe." Alvin tersenyum.
Tomoe ketahuan oleh Alvin dengan mudah bahwa ia tidak terlalu begitu pintar sembunyi dari hadapan Alvin.
"H-Hei." Tomoe mulai canggung dan cemburu terhadap Fiah.
Tomoe duduk di sebelah Alvin dan tiba-tiba ia mulai marah.
"Jauhi pacarku, dasar cewe bajingan!!!" Tomoe memeluk Alvin dengan erat.
"Ehh?!" Fiah terkejut.
"Ehh, Tomoe?! Kamu kenapa?" Alvin terkejut dan tersipu malu oleh Tomoe.
Fiah terkejut dan ia langsung menjawab tidak. "K-Kamu salah paham!"
"Jangan-jangan, kamu mencoba untuk menggoda pacarku, ya?" Muka Tomoe mulai sangat kesal dan marah.
CTAK!!!
Tiba-tiba Alvin menjentik dahi Tomoe dengan sangat keras.
"Aw! Sakit!" Tomoe langsung memegang dahinya.
"Dasar bodoh! Jangan salah paham dulu!" Alvin mulai marah.
"Fiah dan aku sedang mendiskusikan hadiah untuk ulang tahun pacar Fiah ini." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
"Ehh?" Tomoe terkejut dan ia langsung menoleh ke arah Fiah.
"Tenang aja, Tomoe~ Aku gak akan rebut Alvin dari kamu kok, aku udah punya pacar ini." Fiah tersenyum.
"Aku sedang mendiskusikan hadiah ulang tahun untuk pacarku."
"Ehh? Kenapa kamu mendiskusikan nya dengan Alvin?" Tomoe mulai curiga lagi.
"Karena Alvin itu adalah pria 'kan? Bahkan dia juga pria yang tau segalanya tentang yang diinginkan semua pria." Fiah terkekeh.
Tomoe melihat Alvin dengan muka yang sangat serius.
"Jangan-jangan kamu malah ngawur."
"Enggak lah! Pria yang di inginkan ketika ulang tahun itu pasti rasa cinta yang besar, dan bahkan ingin sekali di beri cium atau pelukan!" Ucap Alvin sambil bergaya dengan keren.
"Jadi hadiah ulang tahun ku kepada Rakka cuman memberi cium atau pelukan?" Tanya Fiah dengan sangat penasaran.
"Itu hanya sebelum memberi hadiah kamu itu." Alvin tersenyum.
"Alvin, emang kamu tau pria seperti apa pacar Fiah itu?" Tomoe meminum jus jeruk punya Alvin.
"Enggak, tapi bodo amat lah! Yang penting gue tau hadiah yang tepat untuk pacar Fiah." Ucap Alvin sambil tersenyum dengan naif.
"Ngomong-ngomong..." Tomoe mulai menyadari sesuatu.
"Ulang tahun Alvin kan bentar lagi?!" Tomoe terkejut.
"Ohh, aku juga punya ide bagus untuk hadiah ulang tahun." Tomoe mengacungkan tangannya.
"Apa?! Apa itu?!" Fiah terkejut dan memegang kedua tangan Tomoe.
"Gimana kalau memberinya kalung yang serasi? Atau kue buatan juga boleh." Tomoe tersenyum.
"Kue buatan? Wahhhh~ Aku harap dia menyukainya~" Fiah tersenyum dengan sangat bahagia.
Tiba-tiba Alvin tidak setuju dengan ide Tomoe.
"Itu hadiah yang sangat jelek untuk tahun sekarang..." Ucap Alvin dengan muka yang suram.
Tomoe mulai sangat terkejut.
"Huh?!" Tomoe terkejut.
"Pria itu pasti akan sakit perut jika memakan kue buatan tersebut." Ucap Alvin dengan muka yang suram.
Alvin menoleh ke arah Fiah dengan muka yang serius.
"Kamu ingin membunuh Rakka?"
"Itu tidak benar!" Fiah terkejut dan merasa sedih.
"Dia memakan roti isi yang aku buat tadi pagi." Fiah tersenyum.
"Baiklah, aku mempunyai ide lain yang sangat bagus!" Tomoe mempunyai ide lagi.
"Didalam informasi aku sih, ini adalah tiga hal yang paling disukai anak laki-laki untuk ulang tahun mereka." Tomeo tersenyum dengan sangat naif dan percaya diri.
"Satu, dompet!"
__ADS_1
"Dua, jam tangan!"
"Tiga, pigura untuk foto kenangan bareng!"
Alvin mulai tidak setuju lagi dengan ide Tomoe yang sangat mainstream.
"Ketiga itu sangat menjijikan dan tidak pantas untuk pria, Tomoe!" Ucap Alvin sambil menyilang kedua tangannya.
Alvin menatap Fiah.
"Biarkan aku menanyakan sesuatu. Kamu punya uang ga?" Ucap Alvin.
"Ehh?" Fiah terkejut.
"Tidak ada harapan. Biarkan aku membantu kamu memilih." Ucap Alvin sambil menyilangkan tangannya.
"Kamu pergi berbelanja dengan ku?!" Fiah mulai terkejut.
"Aku juga ingin ikut, Alvin~~~" Tomoe tiba-tiba memeluk Alvin dengan erat.
"Cerewet dan manja! Kamu kan ada les drumband" Ucap Alvin sambil tertawa.
"Uhhh... Aku pengen ikut..." Tomoe merasa sedih.
"Baiklah, aku punya janji untuk kamu Tomoe."
"Apa itu?!" Tomoe mulai merasa senang.
"Nanti aku kasih tau. " Alvin tersenyum.
"Ugh..." Tomoe merasa sedih lagi.
Alvin melihat ke arah Fiah.
"Kita mulai berbelanja besok, ya?" Tanya Alvin.
"Baiklah." Fiah mengangguk.
***
Keesokan harinya...
Di luar mall.
Alvin dengan memakai baju yang sangat mencolok, hitam dan putih, dia bahkan memakai kalung yang berlambang gengnya dan gelang yang berlambang gengnya juga. Rambut Alvin lebih rapih ketika dia tidak disekolah dan dia bahkan memakai parfum yang sangat mencolok.
Semua wanita terpersona oleh Alvin dan setiap melewatinya pasti tersipu dan terpesona.
Alvin sedang menunggu kedatangan Fiah.
Tiba-tiba Alvin melihat mobil dan Fiah keluar dari mobil itu dan menutup pintunya.
"Dia ternyata kaya ya?" Ucap Alvin dengan penasaran.
Alvin menatap Fiah dan Fiah menghampiri Alvin.
"Selamat pagi, Alvin." Fiah tersenyum.
"Yo, pagi. Ternyata kamu memang punya uang yang banyak ya." Alvin tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa kamu terlalu mencolok?" Ucap Alvin dengan penasaran.
"Hehe~ Karena aku punya kencan yang harus dilaksanakan dengan Rakka hari ini." Fiah tersenyum.
"Bagaimana menurut kamu?" Ucap Fiah dengan sangat penasaran.
"Untuk gadis seperti kamu ini? Ya, itu agak mencolok sih." Jawab Alvin dengan muka yang serius.
"Makasih."
"Kita akan membeli hadiah ulang tahun, 'kan? Mari bergegas aku nanti bakalan sibuk banget." Ucap Alvin sambil menghampiri mall.
Fiah mengikuti Alvin.
"Sibuk dengan apa?" Ucap Fiah.
"Aku harus menjemput Tomoe dan menemani dia." Ucap Alvin dengan tersenyum.
"Ohh..."
Fiah tiba-tiba menemukan jam tangan di tangan Alvin.
"Ohh, kamu pakai jam tangan ya?" Fiah tersenyum.
"Emang kenapa?" Alvin berhenti berjalan.
"Bisakah kamu memberi tau aku jika waktu sudah mencapai jam 1?" Fiah tersenyum.
"Aku harus bertemu dengan Rakka."
"Baiklah." Alvin mengangguk.
"Santai aja." Alvin berjalan lagi.
Mereka berdua tiba di mall yang sangat besar.
Alvin dan Fiah menghabiskan banyak waktu berbelanja dan mencoba-coba baju baru, Alvin melihat-lihat tas yang sangat bagus.
"Tomoe, mau gak ya...?" Alvin mulai ragu.
Alvin dan Fiah melanjutkan belanjanya dan mereka pergi ke tokok aksesoris.
Beberapa menit kemudian...
"Aku sangat senang kamu bersama ku, Alvin." Ucap Fiah yang sangat senang.
"Rasa kamu dalam gaya sangat mengecewakan. Aku tidak tahan melihat orang yang tidak tau rasa gaya yang menarik dan keren." Alvin tersenyum.
"Benar juga. Jika aku bersama kamu pasti kita akan menemukan hadiah yang cocok dan bagus." Ucap Fiah.
"Kamu berterima kasih saja nanti." Alvin memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
Mereka menghabiskan banyak waktu, sampai-sampai Alvin melupakan tentang sesuatu yaitu memberi tahu Fiah kalau jam sudah mencapai jam 1.
Bahkan Fiah juga melupakan tentang itu.
Diluar mall, Rakka yang sedang menunggu Fiah langsung mulai curiga dan memasuki mall tersebut dan mencoba untuk mencari Fiah.
Alvin dan Fiah sedang melihat-lihat gelas yang indah dan tiba-tiba Fiah menyadari sesuatu.
"Ehh? Alvin, jam berapa sekarang?" Ucap Fiah sambil melihat Alvin.
Alvin tiba-tiba langsung teringat.
"Hah!?"
"Wanjer?! Gue lupa---"
Tiba-tiba Rakka menghalangi Fiah dari hadapan Alvin.
Alvin terkejut dan menoleh kepadanya.
"Ketua osis, apa maksud semua ini?" Rakka mulai penasaran dan cemburu.
"Ahh, Rakka!" Fiah terkejut.
"Elu pacarnya ya?" Alvin menyapanya.
"Huh?" Fiah melihat muka Rakka dan eksperesi sekarang ini dia sedang merasa sangat marah sekali dan ingin sekali memukul muka Alvin.
Alvin mulai penasaran.
"Rakka, Alvin enggak ngelakuin apa-apa kok!" Ucap Fiah dengan sangat khawatir.
"Benarkan, Alvin?" Fiah menatap Alvin.
"Iya benar. Santai aja, gue cuman membantunya. " Alvin mengangguk.
"Ayo pergi, Fiah." Rakka berjalan pergi.
"B-Baik." Fiah mengikuti Rakka.
Alvin menatap mereka dan tersenyum.
"Semoga beruntung dah." Alvin berjalan pergi.
Keesokan harinya...
Di dalam kantin.
Alvin dan Varez sedang berbicara sambil memegang makan siang mereka.
"Bos, gimana kalau kita kapan-kapan pergi ke pantai?" Varez tersenyum.
Alvin tersenyum.
"Gue masih sibuk sama Tomoe---"
Tiba-tiba Rakka melewati Alvin dan menjatuhkan makan siangnya.
Rakka berjalan pergi dari hadapan Alvin.
Alvin menatap nya.
"Woy! Elu ngapain anjing?!" Alvin terkejut dan mulai sangat marah.
"Bos! Sabar bos!" Varez memegang bahu Alvin.
__ADS_1
Tiba-tiba Rakka melihat Alvin balik.
"Elu mau nikung gue ya, anjing?" Rakka menghampiri Alvin.
"Nikung apaan goblok?! Gue punya salah apa sama elu?!" Jawab Alvin dengan muka yang sangat marah.
"Elu diam-diam berkencan sama pacar gue ya?! Dasar bajingan anjing!" Rakka tiba-tiba memegang dasi Alvin.
"Woy! Jangan tidak sopan kepada, Ketua Alvin!" Ucap Varez
"Diam, rez!"
Semua murid langsung melihat ke arah mereka dan terkejut.
"DASAR KAU KETUA OSIS GAK BERGUNAAA!!!" Rakka tiba-tiba memukul muka Alvin dengan sangat kencang.
BAAMMM!!!
Alvin terjatuh dan mulut dia berdarah.
"DASAR SIALAN!!!" Alvin menendang perut Rakka dengan sangat keras.
Rakka terdorong kebelakang karena tendangan Alvin yang sangat kuat.
Lily dan Aura melihat mereka berkelahi.
"Si mesum kenapa nih?!" Lily terkejut.
"Ini masalah besar dah." Aura terkejut juga dan ia menyilang kedua tangannya.
***
Di dalam toilet.
Fiah tiba-tiba mendengar banyak gosip tentang Rakka dan Alvin berkelahi.
"Ehh? Mereka berkelahi di kantin?!" Ucap gadis tersebut.
"A-Apa? Alvin dan Rikka berkelahi?!" Ucap Fiah dengan sangat terkejut.
Fiah langsung bergegas menuju ruangan osis.
Beberapa menit kemudian...
Tiba-tiba Tomoe yang berada di belakangnya memegang bahu Fiah.
"Fiah."
Fiah menoleh kepada Tomoe.
"Apakah pacar kamu salah paham tentang pacar aku?!" Tomoe mulai khawatir.
"Kayanya sih begitu...!" Fiah mulai khawatir.
"Mari kita bergegas ke kantin!"
Tomoe mengangguk.
Fiah dan Tomoe lari menuju kantin.
***
Alvin mencoba untuk menghentikan Alvin berkelahi, jika ia tidak dihentikan dia bisa saja membunuh seseorang.
"Bos! Berhenti berkelahi!!! Nanti bos malah melakukannya dengan sangat berbahaya!" Varez menahan kedua lengan Alvin.
"GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!! DASAR MONYET!!!" Muka Alvin mulai sangat kesal.
Rakka merasa kecapean.
"Ketua osis ini memang gila dan kuat..." Rakka mulai kewalahan.
"KALIAN BERDUA!!! BERHENTI SEKARANG JUGA!!!" Fiah menangis dan menghampiri mereka berdua.
Rakka melihat Fiah.
"F-Fiah...?" Rakka terkejut.
Tomoe melihat Alvin dan Alvin sedang kehilangan kendali.
"Kamu kenapa kesini?!" Rakka terkejut.
Fiah menunduk kepada Alvin dan Rakka.
"MAAFKAN AKU, RAKKA!!! Sebenarnya k-kamu ini salah paham tentang Alvin... Alvin ini cuman ingin membantu ku memilih hadiah yang sangat cocok untuk kamu... Karena aku tidak terlalu tau hadiah apa yang cocok untuk pria seperti kamu jadi, aku menanyakan Alvin yang lebih tau tentang hadiah yang disukai oleh pria... Aku enggak punya temen pria lain kecuali Alvin..." Fiah menjelaskan semuanya kepada Rakka sambil menangis.
"Kita terbawa suasana sampai-sampai kita melupakan bahwa jam telah mencapai jam 1... Jadi kamu jangan menyalahkan Alvin karena dia lah yang telah membantuku memilih hadiah..." Ucap Fiah dengan menangis.
Rakka terkejut dan merasa bersalah.
"Fiah... Jadi kalung indah ini...?" Rakka terkejut dan melihat Alvin.
"GUE BUNUH LU!!! GUE BUNUH LU ANJING!!! GUE SIKSA LU!!!" Alvin dengan sangat marah dan tidak terkendali membuat Varez kesusahan dan kelelahan.
Fiah melihat Alvin.
"Alvin! Sadarlah!" Ucap Fiah sambil menangis.
"Fer, bantu gue!!! Gue gak tahan nih!!!" Varez kesusahan dan sangat kelelahan menahan Alvin.
"Baiklah!" Fernando menghampirinya dan ia memegang kedua tangannya.
Tomoe lari menghampiri Alvin.
"Kalian berdua! Jauhilah dia sebelum kalian terluka!"
"A-Apa? Bos Alvin tidak akan pernah mendengar perkataan siapapun---"
"Cepatlah!"
Varez menghela nafsanya dan merekamelepaskan Alvin dan Alvin melihat ke arah Tomoe.
"Tomoe...?" Alvin menatap Tomoe dan mulai sadar.
"Sadarlah, bodoh! Kamu tidak perlu marah seperti itu!" Ucap Tomoe dengan muka yang serius.
Tomoe memegang bahu Alvin dan Alvin mulai tersadari melihat Tomoe yang sedang tersenyum.
"Ahh..."
Rakka menghampiri Alvin.
"Maafin gue, ketua osis. Gue ternyata salah paham..." Ucap Rakka dengan sangat menyesal.
"Gue ikhlas... Maafin gue..."
Alvin terdiam dan hampir tak terkendali lagi.
Tomoe memegang tangan Alvin.
"Bicaralah..." Ucap Tomoe.
"Terserah elu dah... Yang penting elu dah sadar kalau gue itu bukan laki-laki yang suka menikung." Alvin menyilang tangannya.
Alvin tidak banyak bertingkah dah ia langsung menghampiri ruang osis.
"Ayo, Tomoe."
"I-Iya." Tomoe mengangguk.
Fiah menoleh kepada Alvin dan berpikir mungkin dia masih marah tentang Rakka.
***
Di dalam ruangan osis.
Alvin duduk di kursi osisnya dan Tomoe duduk di sebelahnya.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Tomoe.
"Untung saja aku bukan seperti yang dulu..."
Alvin merasa lega ia tidak seperti dulu, jika ia seperti dulu, Rakka bisa terbunuh olehnya sendiri.
Tomoe mengeluarkan sapu tangan miliknya dan mengusap mulut Alvin yang berdarah.
Alvin mulai tersipu malu melihat muka Tomoe yang sedang tersenyum.
"Tomoe..."
"Kenapa?"
"Kamu mencintai aku...?"
Tomoe menoleh kepada Alvin dan langsung terkejut.
"Tentu saja. Aku sangat mencintai kamu sejak kita masih kecil. Kamu ini orang nya baik banget dan masih ada banyak lagi." Tomoe tersenyum.
"Besok... Kita berkencan yuk?" Alvin tersenyum dan memegang tangannya.
Tomoe tiba-tiba terkejut mulai rasa senang.
"Ayo!!! Ayo kita berkencan!" Tomoe mulai semangat dan memegang kedua tangan Alvin.
"Baiklah!" Alvin tersenyum.
...***...
__ADS_1
...Sampai jumpa lagi di chapter 14~ Jangan lupa vote sama commentnya ya~...