Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
05 mei 2008


__ADS_3

Mawar pasti berduri, begitupun juga dengan hidup ini. Seperti apa yang di alami dalam perjalanan hidup Dina, kisah cinta Dina dengan sofian yang harus pupus di tengah perjalanan cinta mereka dan akhirnya Dina menjalin hubungan dengan Doni, seorang laki-laki yang sebelumnya tak pernah terfikirkan oleh Dina akan menjadi tambatan hatinya.


Dina yang pada saat itu masih belum pernah sama sekali berpacaran dan masih duduk di bangku kelas 12 (3 SMA), ia masih begitu lugu mengenai semua hal yang berkaitan tentang pacaran. Sesekali Dina tahu tentang pacaran hanya dari cerita-cerita sahabatnya yang curhat padanya. Dari Erin sahabatnya satu sekolah dan dari Winda sahabat sekaligus tetangga dekatnya. Bukan suatu hal yang tidak wajar, karena Dina yang memang lebih suka menyendiri dan membaca buku-buku pengetahuan dan buku-buku pelajaran secara otomatis membuat Dina kurang berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, apalagi untuk berpacaran tentu tidak terlintas di otak Dina. Lebih tepatnya kutu buku, mungkin itu lebih tepat untuk menyebutnya, hanya saja Dina bukan gadis yang berkaca mata.


Saat itu hari senin tanggal 5 mei 2008, kisah cinta Dina bermula. Dina yang saat itu masih bersekolah menunggu kelulusan, hidupnya terasa ada yang kurang. Erin sahabat satu sekolah dan kebetulan juga satu kelas sering sekali menggoda Dina dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit membuat Dina menjadi minder pada teman-temannya yang lain.


"Din kapan nih punya pacar? Masa sampai dah mau lulus gini kamu masih belum juga punya pacar. Kamu cantik, pinter, banyak yang naksir, masa dari cowok-cowok yang mendekatimu gak ada satupun yang bikin kamu sreg gitu?" Celoteh Erin bertanya pada Dina seraya mengingatkan Dina bahwa dia sudah waktunya mengenal pria.


"Enggak ah Rin, lulus juga belum udah mikirin cowok. Mending berencana kerja atau lanjutin sekolah dari pada mikirin cowok. Kalo udah kerja punya penghasilan, nahhh itu baru boleh mikirin cowok, jadi entar kalau nikah udah nggak kuatir kekurangan." Jawab Dina balik menasehati Erin.


"Ya enggak gitu juga lagi Din, ya paling tidak mengenal laki-laki dan memilih mana yang nantinya pantas buat pendamping hidup kan gak harus nunggu udah kerja to?"


"Ah tahu ah, kamu mikirnya cowok melulu. Pokoknya aku ntar aja mikirnya, yang penting nunggu hasil kelulusan dulu trus nyari kerja."


"Emang kamu gak ada rencana lanjutin study? Yaaa kuliah deket-deket sini kan nggak papa Din. Lagian masih muda ini ! Masa mau buru-buru nyari kerja." Kata Erin bertanya.


"Enggak ah Rin, nggak ada biaya. Kasihan ortu kalau harus maksakan buat biaya. Aku mau cari kerja aja deh, lumayan bisa buat bantu-bantu kebutuhan ortu."


"Loh kan bisa masuk UT kan Din, kan bisa sambil kerja !"


"Enggak ah...! Ntar malah ribet Rin. Aku nggak siap kalau harus kerja sambil sekolah."


"Ya udahlah terserah kamu aja, tapi sebenarnya sayang sekali, kamu kan pinter."


"Hehehe....,yahhh nyatanya nasib kayaknya nggak berpihak Rin, kalau pingin sih iya. Cuma nggak tega aja liat ortu banting tulang, ortu udah cukup tua, rasanya udah waktunya aku bantu-bantu kebutuhan ortu. Ya paling tidak bantu nyekolahin adik biar agak ringan beban ortu Rin." Ujar Dina.


"Ya udah aku duluan ya Din!" Ucap Erin seraya berjalan pulang yang berbeda arah dengan Dina.


Dina berjalan sendirian menuju pinggiran jalan dekat pom bensin untuk menunggu mobil angkutan kota. "Huhhhh... panas sekali siang ini. Anak-anak yang lain juga sudah pada pulang, wah nggak ada tumpangan nih, terpaksa harus nunggu angkut beneran nih" ujar Dina dalam hati. Dina masih berdiri di tepi aspal, sudah 10 menit ia menunggu angkutan pun tak kunjung datang menghampirinya. "Tumben sepi banget hari ini, nggak kaya biasanya?" Dina bertanya pada diri sendiri dalam hati.


"Ehremmm" suara dehem seorang laki-laki dari arah kanan Dina dan berjalan menghampirinya. Dina pun menoleh melihat lelaki itu dan mengembalikan arah pandangannya ke arah jalan raya.


"Lagi nunggu angkutan kota ya dik?" Lelaki itu bertanya pada Dina.


"I, iya mas..." jawab Dina yang agak kaget mengetahui lelaki itu ternyata sudah ada di dekatnya.


"Sendirian aja? Nggak ada temen ya dik?"


"Iya mas, temen udah pada pulang semua! Nggak tahu nih tumben sepi angkutan kota ya?" Jawab Dina berbicara tanpa melihat lelaki itu dan terkesan agak cuek.


"Lhooo... kamu nggak tahu ya dik? Hari ini para pengemudi angkutan kan pada demo di depan kantor kabupaten, jadi ya sepilah!"


"Oooo... gitu ya mas, aku nggak tahu mas. Wah gimana nih, bisa jalan kaki sampai rumah dong ini? Duhhh... jam berapa nyamlai rumah kalau jalan kaki."


"Kalau adik bingung mau naik apa, aku bisa antarkan kamu pulang, tenang aja gak bayar kok!" Lelaki itu menawarkan bantuan pada Dina.


"Hehehe... beneran mas? Nggak ngerepotinkan?" Kekeh Dina sedikit bermalu-malu.


"Iya benerlahhh, emang kamu mau jalan kaki sampai rumah, nggak mau kan? Ya udah yuk, tuh motorku di sana!"


Dina dan lelaki itupun berjalan kerah motor yang akan mereka kendarai, nggak begitu jauh, hanya sekitar 30 meter saja dari tempat mereka berdiri tadi. Sambil berjalan Dina dan lelaki itupun saling bertanya.


"Mau langsung pulang apa mau minum dulu dik?" Tanya lelaki itu sambil menaiki motornya.


"Gimana ya?" Ucap Dina.

__ADS_1


"Minum dulu juga nggak apa-apa, aku yang bayar deh nggak usah khawatir."


"Aku malah jadi nggak enak sama mas, belum apa-apa udah banyak ngrepotin nih."


"Udahhh... nggak papa kok, cuma minum aja ini, ya dah yuk di warung itu aja ya yang deket."


"Iya deh nggak papa minum dulu, kayanya nolak rezeki itukan nggak baik, hehehe..."


Dina dan lelaki itupun berjalan ke arah penjual es kelapa muda yang hanya beberapa meter saja dari tempat motor lelaki itu terparkir.


"Pak, es kelapa muda ya!" Kata lelaki itu pada bapak penjual kelapa muda.


"Kamu mau minum apa?" Tanya lelaki itu pada Dina.


"Aku juga kelapa muda aja ah biar sama"


"Dua jadinya ya mas?" kata bapak penjualnya memastikan untuk segera membuatkan.


"Iya pak, biar sama katanya hehehe." Kata lelaki itu pada pak penjual sambil tertawa kecil.


"Pacar ya mas?" Tanya pak penjual pada lelaki itu.


"Bukan kok pak! Kenalan aja belum ini pak hehehe tanya aja sama orangnya kalau nggak percaya!" Jawab lelaki itu sambil terkekeh mendengar pertanyaan pak penjual.


Dina pun agak sedikit malu mendengar percakapan pak penjual dengan lelaki itu, sedikit malu tapi juga merasa lucu dan cukup bikin Dina salah tingkah.


"Iya pak, kami gak pacaran kok, kami baru aja ketemu di situ tadi, kebetulan mas ini berbaik hati mau mengantar aku pulang." Kata Dina memberi penjelasan pada pak penjual kelapa muda itu.


"Ohhh... tak kirain pacar neng, habisnya kelihatan serasi lho, dari pada cuma gitu-gitu aja mending buruan kenalan deh, siapa tahu nanti jadi pacar beneran!" Canda pak penjual pada Dina.


"Iya ya..., kita belum kenalan ya, kenalkan namaku Sofian" ucap lelaki itu menyebutkan namanya seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Aku Dina mas" sambung Dina yang juga menyambut uluran tangan Sofian.


"Nah, gitu dong kenalan. Kan jadi lebih enak ngorolnya. Ni minumannya udah siap" kata pak penjual seraya memberikan minuman Dina dan Sofian.


"Mas Sofian kerja di mana?" Tanya Dina.


"Nggak kerja Din, masih nyari-nyari nih. Bulan kemarin kontrak kerjaku habis, eh ternyata nggak diperpanjang, jadinya ya masih nganggur, rencana sih mau bikin usaha kecil-kecilan aja biar nggak bingung ngelamar kerja sana-sini. Kamu sendiri sekolahnya gimana?"


"Udah kelas 3 kok mas, tinggal nunggu inayah, eh ijazah maksudnya. Habis itu paling ya cari kerja" jawab Dina yang masih agak canggung berbicara dengan lelaki.


"Nggak nglanjutin Din?"


"Nggak mas, mau bantu-bantu ortu aja. Maunya sih lanjut tapi kasihan ortu udah tua, biar nggak pontang panting terus cari biaya. Kalo lanjut biayanya kan lumayan mas, lagian aku juga cewek aja kok, paling entar kalo dah nikah juga paling yang diurusin dapur."


"Oooo gitu ya, rencana mau kerja di mana Din? Sapa tahu aku juga bisa ikut ngelamar!"


"Belum tahu mas, ijazahnya aja belum keluar kok. Dipikir entar aja kalau ijazahnya udah di tangan hehehe"


"Oke, sipp lah pokoknya, dibikin santai aja biar nggak kemrungsung ya"


"Ya gitu deh mas, eh tapi beneran nggak ngrepotin nih kalau nganter pulang?"


"Enggak kok, aku juga lagi nganggur"

__ADS_1


"emang tadi habis dari mana mas? Mau jemput pacar malah orangnya udah keburu pulang ya? Hehehe..."


"Aku nggak punya pacar kok Din, ya emang lagi nganggur aja trus nongkrong di sini, siapa tahu ada cewek cakep kan enak di pandang mata, eh nggak taunya beneran ada cewek cakepnya hahaha"


"Ah nggak percaya, masa nggak punya pacar?"


"Percaya syukur nggak juga nggak apa-apa, yang penting kan udah ngomong apa adanya!"


"Ah nggak percaya, masa cowok seganteng ini nggak punya pacar?" Ujar Dina dalam hati.


"Ya kalau dulu sih pernah, dulu banget tapi. Kalau sekarang sih jomblo ditinggalin mantan nikah sama orang lain hahaha"


"Seneng banget ditinggalin sama pacar?"


"Dibawa seneng aja Din, mau mewek juga dia udah jadi bini orang, hidup itu yang realistis aja gitu lho, ya nggak?"


"Iya juga sih, tapi heran aja sama mas Sofian, ingat mantan nggak ada sedih-sedihnya malah ketawa"


"Ya sedih kan dulu, masa udah lewat masih tetep sedih aja. Hidup masih berlanjut Dina, lagian jomblo juga lebih bebas kok."


"Ooo... aku kira nggak sempat sedih gitu hahaha, emang bebas gimana maksudnya mas?"


"Yah masih nanya lagi, coba deh bayangin kalo sekarang aku punya pacar, trus sekarang gak sama dia tapi malah minum kelapa muda di taman kota di temani cewek cantik gini, apa nggak dimarahin sama pacar, hayooo....?"


"Hehehe, pinter juga mas Sofian, tapi nggak usah pakai nyolu gitu ah!"


"Nyolu gimana? Emang nyatanya cantik kok! Ya kan pak?" Kata Sofian meyakinkan Dina dengan menanyakan pada pak penjual.


"Bener tu neng, udah jadian aja dah, lagian masnya ganteng neng juga cantik, pas dah serasi banget." Jawab pak penjual yang juga dikit-dikit ikut mendengar percakapan Dina dan Sofian.


"Yah bapak juga modus, biar entar kami sering-sering kemari biar dagangan bapak tambah laris kan? Hehehe, bapak ngaco ah." Ujar Dina bercanda sama penjual itu.


"Hahaha, gitu juga bisa, tapi emang beneran kok neng, kalian pas banget." Jawab pak penjual sambil terbahak.


"Apa iya pak?" Tanya Sofian.


"Ah dibilangin kok pada gak percaya." Jawab pak penjual itu.


"Tuhhh... kan Din apa aku bilang, kamu tu emang cantik kata bapaknya, pas lagi buat aku hahaha."


"Udah ah, pada nglantur ngomongnya. Ayuk ah jadi nganterin nggak nih?"


"Ya jadi, aku bayar dulu bentar."


"berapa pak?"


"Dua belas ribu mas, makasih ya."


"Sama-sama pak, mari pak kami jalan dulu."


"Ooo iya iya mas." Jawab pak penjual.


Dina dan Sofian pun mulai beranjak dari warung es kelapa muda. Sofian menyetater motornya dan Dina segera menbonceng. Perjalanan menuju rumah Dina yang tak begitu jauh jika ditempuh dengan kendaraan bermotor. Dalam perjalanan mereka lanjutkan perbincangan mereka. Dina terlihat begitu nyaman pada Sofian, dia memang pria muda yang luwes dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sedangkan Dina yang sebelumnya bersikap dingin pada laki-laki kini terlihat begitu menikmati perbincangannya dengan Sofian, tanpa Dina sadari Sofian telah merubahnya hanya dengan waktu singkat. Rasa nyaman yang belum pernah Dina dapatkan dari lelaki manapun kini ia dapatkan dari sosok Sofian yang ramah dan suka bercanda.


*****

__ADS_1


__ADS_2