Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Ungkapan rasa


__ADS_3

Memang benar, orang yang sedang kasmaran itu susah mengingat hal-hal lain. Bahkan rutinitas yang dilakukan sehari-haripun sering terlupakan. Apa yang terjadi pada Dina kurang lebih juga seperti itu. Biasanya kalau siang hari dia tidur, tapi untuk kali ini rasa kantuk seakan tak menghampirinya. Dina yang biasanya meluangkan waktu untuk berbelanja kebutuhan dapur saat hari libur saat ini dia juga tidak pergi berbelanja, bahkan teringat saja juga tidak. Sejak bangun tidur pagi Dina sudah teringat dengan Sofian, hingga kini dia hanya mondar-mandir kedalam dan keluar rumah menanti Kedatangan Sofian. Beberapa saat Sofianpun datang juga menjemputnya. Wajah yang berbingar bahagia terlihat jelas.


Sofian segera memutar sepeda motornya, sedangkan Dina berjalan ke arah Sofian, "sudah siap dik?" Tanya Sofian sembari menyapa Dina dengan senyumnya.


"Sudah mas, yuk jalan!" Jawab Dina tersenyum, meskipun agak sedikit malu tapi Dina juga bersemangat sekali untuk pergi dengan Sofian. Mereka berduapun segera meluncur meski tanpa tahu tujuan. Dalam perjalanan sesekali mereka saling bertanya mengisi waktu dalam perjalanan.


"Kemana kita mas?" Tanya Dina.


"Nggak tahu! Enaknya kemana?" Jawab Sofian kembali bertanya.


"Ya nggak tahu, kan mas Fian yang ngajakin! Kemana aja lahhh... aku ngikut aja."


"Oke, terserah aku ya?" Ucap Sofian.


"He em." gumam Dina.


Setengah jam berkendara Sofian belum juga berhenti di suatu tempat. Hingga Dina bertanya-tanya dalam hati


"mau di ajak kemana aku ini, kok nggak sampai-sampai?"


Tak begitu lama akhirnya Sofianpun menghentikan motornya di sebuah tempat yang sepertinya sudah sering ia datangi. Sebuah bukit di tepi jalan. Terlihat seperti bekas tempat tongkrongan seperti taman. Dina penasaran dengan tempat itu, terlihat indah tapi sepi.


Dinapun bertanya, "tempat apa ini mas?" Sembari melihat sekeliling tempat itu.


"Udah naik aja yuk, nanti juga tahu!" Sofian mengajak Dina, seperti ingin menunjukkan sesuatu.


Kemudian mereka berjalan menaiki bukit itu, Sofian menggandeng tangan Dina menuju ke atas bukit. Tanpa banyak bicara Dina mengikuti saja ajakan Sofian. Sesampainya di puncak bukit Dina takjub melihat pemandangan sekeliling bukit itu, pamandangan yang sangat indah sekali terlihat dari puncak bukit. Sofian melepaskan tangannya yang sedari tadi menggandeng tangan Dina. Sedangkan Dina bergerak memutar perlahan menikmati pemandangan yang ada. Ia tak menyangka ternyata ada tempat yang indah di kotanya yang sebelumnya tak pernah ia tahu. Tempat yang penuh rumput rendah layaknya taman pada umumnya, tanaman bunga-bunga yang tersusun rapi, tak begitu banyak pohon dan keadaan alam di bawah bukit yang tampak begitu indah.


Gerakan Dina berhenti, hanya bola matanya bergerak ke kanan kiri mencari keberadaan Sofian yang tiba-tiba tidak ada di sebelahnya. Sofian tersenyum melihat apa yang Dina lakukan, kemudian ia memanggil Dina yang belum juga melihatnya.


"Hei, sini!" Sembari melambaikan tangannya.


Dinapun menelusuri arah datangnya suara Sofian, ia pun melihat Sofian yang sedang duduk di bawah pohon yang rindang melambaikan tangan memanggilnya. Dina berlari kecil menghampiri Sofian.


"Kok aku ditinggalin sih?" Ucap Dina.


"Hehehe, sini duduk!" Kata Sofian lembut.


"Tempatnya indah banget ya, tapi sepi!" Komentar Dina pada tempat indah itu.


"Justru karena sepi makanya kamu aku ajak kesini. Tanpa banyak orang kan jadi lebih syahdu hahaha." Jawab Sofian menjelaskan sembari menggoda Dina.


Dina pun tersenyum manis mendengar ucapan Sofian. Meski malu-malu tapi kalimat-kalimat dari Sofian sangat ditunggu Dina, ucapan-ucapan Sofian banyak disertai dengan sanjungan-sanjungan pada Dina. Sehingga membuat Dina berbunga-bunga dan selalu ingin mendengar kalimat-kalimat datang dari bibir tipis Sofian. Dina segera duduk sembari memukul pelan ke paha Sofian yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


"Huuu... senengnya yang sepi-sepi, awas kalau macem-macem!" Kata Dina mengancam dengan candanya.


"Pikirannya aneh-aneh ah, emang aku mau ngapain coba?"


"Ya nggak tau, kali aja mau yang enggak-enggak! Kan aku ngeri hehehe... "


"Ya mau ngobrol lah Din, masa ngajakin cewek cakep gini mau di anggurin, mau diem-dieman kan nggak asyik!"


"Hehehe..., mas Fian sering kesini ya?"


"Iya sering banget Din ! Kalau pas lagi suntuk aku sini, apalagi kalau pas lagi gundah ya pasti kesini." Jawab Sofian.


"Emang mas Fian bisa juga sedih ya? Hehehe... " tanya Dina bercanda.


"Yah namanya juga hidup Din, kadang sedih kadang senang, memang seperti itu cara Tuhan memberi keadaan, agar kita sebagai manusia bisa mengerti arti susah senang!" Jawab Sofian sembari menjelaskan pada Dina.


"Emang apa sih mas yang bikin mas Fian bisa sedih?" Tanya Dina mulai serius.


"Ya banyak, namanya juga manusia pasti diterpa berbagai macam problem, ya kan?"


"Iya sih mas, aku juga ngerasa gitu!"


"Yahhhh, mau diapain lagi, kita nggak mungkin bisa mengelak dari semua itu. Terkadang kita bisa menutupi semua masalah dengan senyum kita, tapi nyatanya kita tetep aja harus merasakan dan menyelesaikan masalah. Betul nggak?"


"Emang apa yang dirasain?" Tanya Sofian.


"Mas blum aku ceritain ya? Aku tu dah nggak punya bapak mas, bapak sakit sampai akhirnya meninggal dunia ketika aku masih SMP. Kadang suka sedih kalau inget, gimana enggak! Tiap hari liat temen bercanda sama bapak ibuknya, sedangkan aku nggak bisa kayak mereka." Dina singkat bercerita.


"Emmmm, gitu? Udah ah jangan sedih-sedih melulu, kan dari rumah niatnya mau senang-seneng, masa malah jadi sedih-sedihan gini!" Ujar Sofian berusaha merubah suasana.


"Hu,um ya mas, masa sedih-sedihan gini ya hehehe....!"


"Din kamu tau nggak?"


"Nggak mas, emang tau apaan?" Tanya Dina penasaran.


"Jujur ya, kamu cantik!"


"Yang bener mas?"


"Bener Din, masa bohong!"


"Trus emang kenapa kalau cantik?" Tanya dina mengejar rasa ingin tahunya tentang perasaan Sofian.

__ADS_1


"Ya gimana ya! Ngomong nggak ya?" Sofian sedikit grogi untuk menyampaikannya.


"Ya ngomong aja lagih!" Kata Dina seolah memberi kesempatan untuk penyampain Sofian yang sepertinya penting.


"Sebenernya aku takut, tapi apa boleh buat. Kita kan kenal baru aja ni, jadi rasanya kurang pantas bila aku sampaikan, tapi aku nggak bisa menahan lebih lama. Din aku sendiri juga nggak tahu apa yang terjadi pada diriku, rasanya dengan waktu sesingkat ini seperti tidak mungkin, tapi kenyataannya memang seperti ini. Aku suka sama kamu Dina! Mungkin terasa aneh buat kamu, dengan waktu sesingkat ini kita kenal aku sudah berani bilang kayak gini. Maaf ya Din kalau aku lancang!" Ujar Sofian menyatakan perasaannya dan tak ingin Dina merasa risih atas apa yang dia ucapkan.


Dina hanya terdiam mendengarnya, pandangannya tak lepas dari wajah Sofian. Suatu kalimat yang paling membahagiakan Dina, yang tak sekalipun pernah dia dengar sebelumnya dari seorang lelaki. Hingga membuatnya diam seribu bahasa bingung mau berkata apa, saking bahagianya.


Sofian juga terdiam takut bilamana apa yang ia katakan malah akan membuat Dina berpikir yang kurang baik tentang dirinya, perkenalan yang baru beberapa hari mustahil menghadirkan cinta di antara mereka, ungkapan itu tidak akan muncul jika bukan karena maksud tujuan tertentu Sofian. Suasana menjadi hening, hanya hembusan angin dan gerak dedaunan yang terdengar lirih di telinga Dina dan Sofian. Dengan besarnya rasa penasaran atas respon Dina yang sangat ingin ia dengarkan, akhirnya Sofianpun memberanikan diri untuk berbicara.


"Kok diem aja?" Ucap Sofian memecah keheningan dalam diam mereka dan berusaha untuk tetap bersikap tenang di hadapan Dina.


"Emmm.... iya." Dina menjawab tanpa sadar mengucapkan kata iya.


"Iya apa Din?" Sofian kembali bertanya mengejar kepastian jawaban dari Dina.


"Iya mas a, a, aku juga suka sama kamu." ucap Dina terbata-bata.


"Apa Din? Kurang jelas, nggak kedengeran!" Pinta Sofian untuk mengulangnya.


Dina diam beberapa saat dan mengelingkan sebelah matanya. Tersenyum tipis dan penuh rasa malu untuk mengulang kata-katanya.


"Beneran tadi pelan banget, aku nggak denger." Terang Sofian meyakinkan kalau dia memang tidak jelas mendengarnya dan bernada penasaran dan memohon agar Dina mengulang apa yang dia ucapkan.


"Aku juga suka sama kamu mas!" Dina mengulang ungkapannya dan merundukkan wajahnya menetup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.


Sontak Sofian berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Dengan sangat keras Sofian berteriak mengekspresikan kebahagiaannya.


"Yeeeeaaaahhhh...!!"


Sofian kemudian merunduk dan memegang kedua pundak Dina, ia berkata pada Dina.


"Aku nggak salah dengerkan Din?"


"Iya mas!" Jawab Dina.


"Ahhaaahahha... makasih ya, hari ini hari paling indah buatku. Jadi gimana nih kita?" Sofian tertawa bahagia.


"Yaaaa jadian!" Jawab Dina singkat.


Dina masih berdiam diri terduduk dan tersipu malu karena tak tahu harus berbuat apa. Karena memang ini pengalaman pertamanya. Tak lama kemudian Sofian menariknya untuk berdiri, Dinapun berdiri masih dalam posisi kepala menunduk. Sofian memegang kedua pipi Dina dan mencium kening Dina dan memeluk Dina. Dalam pelukan Sofian Dina menemukan kedamaian yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Hingga air mata kebahagiaanpun membasahi kedua mata Dina.


*****

__ADS_1


__ADS_2