Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Canda Sofian


__ADS_3

Setetes embun pagi menetes di dedaunan merata membasahi permukaan daun. Begitu juga yang terjadi pada Dina atas apa yang telah dilakukan Sofian merasuk kedalam jiwanya, tanpa sadar Dina telah membuka hati kepada seorang lelaki.


"Drrrttt, drrrttt, drrrttt.... " handphone Dina bergetar, Dina yang sedang membaca sebuah novel sontak terkagetkan dengan getaran hp yang ada di dekatnya. Dalam posisi mengangkat novel dan siku bertumpu meja ia menoleh ke kanan lengannya dan melihat hp polyphonic-nya di kasur terlihat layarnya menyala. Dina segera mengambilnya, tampak di layar menampilkan satu pesan singkat (sms) dari nomer yang berujung 688.


"Kayak nomer mas Sofian tadi?" Gumam Dina dalam hati.


Dina membuka sms itu dan membacanya.


"Hai, lagi ngapain Din?" Kalimat sms tersebut bertanya.


"Oh iya nomer mas Sofian!" Gumam Dina dan segera membalas sms dari Sofian.


"Lagi baca-baca aja nih Mas, nunggu ngantuk hehehe!"


"Nungguin kok ngantuk, mending nunggu aku datang di tidurmu aja wkwkwkwk...." balas Sofian bercanda.


"Hahaha, mas Sofian kebiasaan deh ngegombal!" Balas Dina sembari senyum senyum sendiri, merasa agak malu tapi juga seneng baca balasan sms Sofian.


"Dianggep nggombal nggak papa, tapi kalau beneran juga pasti lebih asyik kannn?"


"Iya deh ntar aku tungguin di mimpi, tapi jangan lama-lama ya, ntar lumutan lagi! Kelamaan nunggu hehehe"


"Nggak kok!! nggak bakal lama juga pasti datang. Kalau lumutan juga nggak papa deh, kan bisa dibersihin Din hehehe!"


"Ihhh ngerayunya jago, musti hati-hati jaga hati nih kayaknya!"


"Siapa yang ngerayu?! Emang lagi ngarep kok, hehehe!! Eh Dina tenang aja ntar aku bantuin jaga hatinya deh wkwkwk"


"Ngarepin siapa? Aku? Nggak salah nih?"


"Mau salah mau nggak, nggak jadi masalah, yang penting kamu!"


"Yahhhh... ngotot nih critanya?"


"Ngotot juga nggak papa lah, emang maunya gitu, lagian juga dalam mimpi aja kok hehehe... "


"Emmmhhh maunya! Ya udah ntar aku tungguin deh dalem mimpi! Emang kalau ntar jadi dateng mas mau ngapain? Hayyooo...?"

__ADS_1


"Ya nggak ngapa-ngapain sih, paling cuma liatin kamu aja hehehe!"


"Ah masa iya?" Balas Dina bertanya dalam canda.


"Iyyyuuuaaa Dina, janji cuma liatin aja kok, emang nggak boleh ya?"


"Boleh lah, lagian juga cuma dalam mimpi, eh tapi kalau ntar akunya malu gimana? Hahaha"


"Malu malah tambah asyik ngliatnya, kamu kalo pas lagi malu tambah cantik hehehe, apa lagi kalo liatnya nggak cuma dalam ngimpi, cuantik buangettt hehehe..."


"Huuuu.... nggombal lagi deh masnya!" Balas sms Dina seolah sebel dengan Sofian, meskipun dalam hati sebenarnya berbunga-bunga layaknya melati yang baru mekar-mekarnya dan harum sekali.


"Marah yaaaa?" Goda Sofian.


"Enggakkk, ngapain marah?"


"Iya aku tahu kamu nggak lagi marah, kamu kan lagi senyum-senyum gitu ya kannnn?"


"Hahhhh, sok tau ah!" Balas Dina berusaha memperlihatkan sikap biasa. Padahal sebenarnya memang iya seperti apa yang Sofian katakan.


"Alahhhh nggak usah bohong deh, jujur lebih enak lagi Din, jangan biarkan ada dusta antara kuta, eh kita maksudnya hehehe"


"Habisnya kamu sih pake ditutup-tutupi gitu."


"Emang ada yang aku tutupi?"


"Lhahhh itu, kalo senyum ya senyum aja nggak usah bilang enggak, hayooo ketahuan kan?"


Dina dipenuhi rasa malu, merasa tak bisa menutupi apa yang sedang terjadi padanya. Usahanya berkilah mampu di tebak oleh Sofian. Kedewasaan Sofian menjadi bekal untuk menghujani Dina dengan gurauan-gurauan yang mampu membuat Dina salah tingkah.


"Iya deh aku ngaku, aku emang lagi senyum-senyum sendiri kayak orang nggak waras, puas sekarang? Habis mas Sofian lucu sih, masa aku di sanjung-sanjung terus gitu, kan malu hehehe"


"Nah, gitu kan enak jadinya. Lagian juga emang kamu cantik beneran kok Din, sumpahhhh!!"


"Tuuuu kan mulai lagi!"


"Hahaha, iya deh iya! Eh gimana baca novelnya? Nggak jadi ya?"

__ADS_1


"Iya nih, nggak jadi baca novel"


"Ya iya lah, orang kamu sibuk baca smsku, wkwkwk"


"Mas tau aja!"


"Wah ni orang tahu banget yang aku lakuin, kayak paranormal aja." Gumam Dina dalam hati.


"Ya harus tahu dong, apalagi semua tentangmu wkwkwkwk"


"Mulai lagi, cape dehhh...! Udah ah, lama-lama kram perutku nahan pengin ketawa. Eh ntar kalo jadi dateng dalem mimpi ajak mantan sekalian ya, kenalin ke aku wkwkwk"


"Mau mbales nih critanya?"


"Hah, kok tahu? Pura-pura nggak tahu dong biar asyik wkwkwk"


"Hihihihi, masa disuruh pura-pura nggak tahu!"


"Ya nggak papa, biar adil."


"Yang ada pura-pura adil lagi, bukanya adil."


"Hahahaha, ya nggak apa pura-pura adil sekali kali demi dek Dina yang cantik kan nggak apa!" Balas Dina mulai berani menggoda Sofian.


"Iya deh demi kamu yang cantik, ya udah sono tidur, katanya tadi nungguin ngantuk"


"Ngantuknya kadung ilang gara-gara mas"


"Ya udah lanjut aja baca novelnya, besok disambung lagi ngobrolnya"


"Ya deh aku lanjutin baca novel aja biar cepet ngantuk, met malem!"


"Met malem juga Dina, jangan lupa nanti mimpinya ya hehehe." pamit Sofian menutup percakapan mereka dalam sms sembari menggoda Dina.


Dina belum juga mengantuk, malah justru Dina tambah melek aja gara-gara diajak Sofian bercanda. Setelah percakapan via sms itu Dina tanpa sadar sudah mulai memikirkan Sofian, mengingat semua yang telah Sofian lakukan padanya, menghiburnya, menyanjungnya, membuatnya bahagia.


Waktu menunjukkan pukul 21 : 30 Dina belum juga mengantuk. Nampaknya Dina sudah benar-benar dirasuki semua hal tentang Sofian, Dina mulai bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya Sofian, dimana ia tianggal, mengapa dia begitu baik. Meskipun baru sehari Dina mengenal Sofian, tapi rasanya Dina seperti telah mengenalnya bertahun-tahun. Seakan tak ada rasa sungkan yang menjadi dinding diantara mereka untuk bercanda bersama. Cara berkata Sofian dalam bercanda semakin mengisi ingatan Dina. Rasanya ingin berulang kali Dina mendengarnya. Bagaimana Dina tidak seperti itu? Sofian sering kali mengeluarkan kata yang menghibur sekaligus menyanjung Dina bernada lucu, membuat Dina tersenyum, tertawa, salah tingkah, juga sangat bahagia. Tak sekalipun Dina peroleh kebahagiaan seperti ini dari lelaki lain selain Sofian. Bahkan sampai berjam-jam setelah mereka menyudahi percakapan via sms, Dina masih saja senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya mengingat percakapannya di pesan sms. Novel yang Dina pegangpun akhirnya tak jadi dibacanya. Dia hanya duduk bersimpuh sembari tersenyum mengingat canda tawanya bersama Sofian, hingga pukul 00 : 30 akhirnya Dina mulai mengantuk dan segera merapikan sprei kemudian membaringkan badannya di tempat tidur.

__ADS_1


"Hahhh, Sofian kamu bisa aja menghiburku!" Celoteh dina berbicara pada diri sendiri dan memejamkan matanya sembari berharap candaan Sofian tentang janji datang di mimpi akan benar-benar terjadi dalam tidurnya.


*****


__ADS_2