
Hari sudah berganti. Perjalanan kurang lebih delapan jam cukup membuat badan mereka terasa pegal karena terlalu lama duduk dalam bus.
"Brukkk... " Doni melempar tas pakaiannya dan merebahkan tubuhnya ke kasur lantai di kamarnya. Saking lelahnya karena kurang tidur selama di perjalanan, rasa kantuk seakan tak tertahan lagi. Doni pun tertidur dalam keadaan lupa menutup pintu kamarnya. Sedangkan Dina masih sibuk membuka isi dalam tasnya di kamar kontrakan. Beberapa baju ganti dan juga sedikit oleh-oleh dari orang tua almarhum Sofian. Berniat untuk menikmati oleh-oleh ala kadarnya dari orang tua Sofian, Dina pun berdiri dan melangkahkan kakinya menghampiri Doni. Tanpa permisi Dina menyelonong masuk ke dalam kontrakan Doni. Terlihat Doni yang sedang tertidur kecapekan di dalam kamar, Dina menutup mulutnya untuk tidak bersuara agar tidak membangunkan Doni.
"Doni..., kasihan kamu kecapekan gara-gara aku." Ucap Dina dalam hati masih berada di tengah pintu depan. Rasa kasihan pada Doni menggerakkan Dina berniat untuk menutupkan pintu kamarnya. Sambil menenteng oleh-oleh yang akan ia nikmati bersama Doni, Dina pun berjalan menuju kamar Doni.
"Hahhh..." sontak Dina kaget mengetahui adanya gambar-gambar wajahnya terlukis di dinding tembok kamar Doni. Beberapa lukisan wajahnya hasil dari coretan-coretan pensil yang penuh nilai seni dan beberapa tulisan-tulisan yang Doni buat menunjukkan betapa menjiwainya Doni ketika membuat lukisan itu. Dina pun membaca beberapa kalimat yang Doni tuliskan di Dinding.
"TUHAN, andai engkau ijinkan aku merasakan cintanya meski hanya semenit saja. Mungkin itu akan menjadi cahaya terang dalam hidupku."
Tak hanya itu, Dina mulai melangkah masuk ke kamar Doni. Ia temukan begitu banyak tumpukan kertas bergambar wajahnya dengan bermacam-macam bentuk raut wajah. Ia hanya bisa terdiam melihat semua gambar-gambar dan tulisan-tulisan tentangnya. Dina kagum dengan semua karya Doni, namun dia juga kecewa dengan Doni karena menyembunyikan semua darinya.
"Ya Tuhan, jadi selama ini akulah wanita yang Doni maksud."
"Prakkk..." Dina letakkan toples oleh-oleh itu dan berjalan keluar seraya menangis tersedu kembali ke kamarnya."
"Kenapa kamu sembunyikan semua ini dariku Don?" Dina berkata dalam hati dan menangis kecewa.
Tak lama Doni terbangun. Ia menoleh ke arah meja dan melihat toples makanan. Seketika ia tersadar bahwa Dina baru saja masuk ke kamarnya. Tak ingin mengulur waktu Doni segera menyusul Dina ke kamarnya untuk menjelaskan apa yang Dina lihat.
"Hik... hikk...hik...hiikk...!" Suara isak tangis Dina.
"Din...!" Ucap Doni memanggil dan bingung harus bagaimana menjeleskan.
"Selama ini aku nggak boleh masuk ke kamarmu karena itu?" Ucap dina dengan mata merah karena menangis.
"Emmm..." gumam Doni.
"Jawab jangan cuma diam aja!" Ucap Dina bernada kasar.
"Bukan gitu maksudku Din!" Sahut Doni.
"Sejak kapan kamu gambar-gambar aku?"
"Udah lama banget, sejak pertama tinggal di sini."
"Selama itu?"
"Iya."
"Terus cewek yang sering kamu ceritaiin itu aku?"
"Iya."
"Kenapa sih Don kamu sembunyikan semua ini dari aku? Kenapa kamu nggak pernah coba bilang ke aku."
"Kamu terlalu baik buat aku Din. Aku pingin kamu hidup lebih baik dengan orang yang jauh lebih baik dariku."
"Kamu egios Don. Harusnya kamu bilang ke aku dan semua keadaan ini pasti akan beda. Seandainya kamu jujur mungkin kejadian di makam bukan sekedar candaan konyol. Sayangnya itu cuma canda biasa. Kamu nggak bener-bener sayang sama aku. Kalau kamu memang sayang sama aku harusnya kamu bilang, kamu nggak perlu menutupi semua ini. Harusnya kamu perjuangkan cintamu, bukan malah terus-terusan merasa nggak pantas, kamu pengecut Don."
"Maaf." Sahut Doni.
"Baca tu tulisan kamu di dinding yang gede itu! Kamu bilang kamu pingin kan merasakan di cintai meski cuma seminit saja? Ah hahaha... nggak akan mungkin bisa Don, sedang kamu aja nggak pernah mencoba mengatakannya." Ucap Dina menyadarkan Doni.
"Aku diam karena aku tahu kamu cuma cinta sama Sofian." Sahut Doni.
"Fian udah nggak ada Don. Kamu sendiri yang bilang hidup masih terus berlanjut dan cinta nggak cuma hinggap di satu hati. Terus mana upayamu untuk ucapanmu itu? Sedangkan aku juga nggak pernah bilang aku menutup diri." Ucap Dina kecewa dengan apa yang Doni lakukan.
__ADS_1
"Maaf Din!" Sahut Doni bingung harus bagaimana.
"Seandainya kamu bilang jauh sebelumnya mungkin paling tidak aku sudah mulai belajar mencintaimu. Tapi sekarang yang ada kamu kecewain aku Don. Udah lah aku pingin sendiri, aku minta kamu pergi saja dari kamarku!" Ujar Dina luapkan rasa kecewanya.
*****
Keadaan mulai berubah, Dina lebih memilih diam ketika bertemu Doni. Bahkan untuk makan saja Dina lebih memilih beli ketimbang memasak bersama Doni seperti sebelumnya. Tegur sapa Doni juga tak pernah di hiraukan dina. Keadaan seperti itu berlangsung hingga berhari-hari. Sikap Dina yang berubah membuat Doni tidak nyaman bekerja satu toko dengan Dina. Hingga Doni pun memutuskan menghadap bu Ratna untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Doni kemudian tuliskan surat kepada Dina sebelum pergi. Ia selipkan di sela bawah pintu kontrakan dan berlalu pergi. Saat sore hari pulang dari kerja, Dina buka pintu kontrakannya, selembar kertas terlipat terinjak kakinya. Menyadari menginjak sesuatu akhirnya Dina melihat kebawah dan melihat surat Doni yang terinjak olehnya. Ia ambil dan membawanya ke kamar untuk ia baca.
"Maafin aku ya Din. Aku tidak bermaksud untuk jadi pengecut. Aku cuma ingin kamu mendapatkan apa yang sepantasnya kamu dapat. Aku percaya kamu masih menganggapku sebagai diriku yang selama ini kamu kenal selama kita sama-sama di kontrakan. Oh iya, aku pernah bilang ke kamu, aku tidak pernah mencari pacar, tapi aku mencari pendamping hidup. Aku janji suatu saat aku akan menemuimu, semoga saat itu juga kamu masih sendiri. Makasih buat semuanya.
Doni"
Membaca surat yang Doni tinggalkan mata Dina mulai memerah berkaca-kaca. Meskipun rasa yang Doni simpan sendiri selama ini membuat Dina kecewa, tapi biar bagaimanapun Doni adalah satu-satunya orang yang paling mengerti Dina. Hal ini membuat Dina merasa sangat kehilangan.
*****
Sudah hampir sebulan Dina menjalani kesendiriannya tanpa Doni. Hari yang biasanya penuh riuh dan bermakna bersama Doni kini tinggalah sepi, tak ada lagi canda dan tawa. Rasa rindu pada Doni pun mulai hadir. Dina pun lebih sering melamun mengingat kebersaannya dengan Doni.
"Don seandainya kamu tahu, sejujurnya aku menyesal bersikap acuh sama kamu.
Seandainya aku tidak seperti itu mungkin kamu masih tetap di sini menemaniku.
Maafin aku Don, aku kangen banget sama kamu. Aku baru nyadar kedekatan kita yang aku rasa lebih dari sekedar sahabat biasa selama ini ternya itu cinta.
Aku jatuh cinta sama kamu Don! Aku butuh kamu melengkapiku.
Meskipun Sofian selalu ada dalam hatiku tapi bagiku kamu lebih dari seorang Sofian. Seandainya kamu tahu, saat ini kamu telah merasakan cinta dari wanita yang selama ini kamu cintai, bahkan lebih dari satu menit yang kamu harapkan.
Sedangkan Doni yang tidak Dina tahu di mana keberadaannya, mulai merintis usaha baru. Dengan modal tabungannya selama bekerja pada bu Ratna, Doni memulai usahanya jual beli hewan hias seperti kelinci dan lainnya. Meskipun hanya usaha kecil-kecilan di sebuah ruko yang ia sewa tapi cukup untuk biaya hidup dan menyisihkan sebagian hasilnya untuk ia tabung.
*****
Dua tahun kemudian. Doni menepati janji yang ia tuliskan pada Dina sewaktu pergi dari kontrakan dulu. Tanpa sepengetahuan Dina yang masih bekerja di toko milik bu Ratna, Doni datang menemui ibunya Dina.
"Assalammualaikum." Doni ucapkan salam.
"Wa alaikum salam, masuk nak!" Sahut ibunya Dina.
"Apa kabar bu?"
"Alhamdulillah baik, sebentar...! Kamu Doni teman kerja Dina kan?" Tanya ibu meyakinkan apa yang beliau ingat.
"Iya bu, tapi saya sudah lama tidak kerja bareng Dina."
"Ooo pantas nggak pernah main lagi kesini, kerja di mana sekarang nak?"
"Saya kerja di rumah sendiri bu, bikin usaha kecil-kecilan sendiri di rumah."
"Ooo... bagus dong kalau gitu. Mudah-mudahan cepet sukses ya!"
"Amiinnnn...!" Sahut Doni
"Oh iya, Dina apa kabar bu?"
"Dina masih kerja di toko yang dulu."
__ADS_1
"Dina belum nikah ya bu?"
"Belum nak, ibu juga nggak tahu dia sudah ada calon apa belum?!"
"Mohon maaf sebelumnya, sebenarnya saya ke sini ingin berniat melamar Dina. Berhubung dina tidak ada, seandainya Dina berkenan menerima saya apakah ibu juga berkenan saya mendampingi Dina?"
"Maaf nak Doni untuk hal itu ibu ikut saja dengan Dina, kalau sebenarnya ibu sendiri sih setuju sekali nak Doni sama Dina. Tapi biar bagaimanapun Dina yang menjalani jadi ya Dina yang memutuskan.
"Terima kasih bu, lain kali saya kembali lagi kalau Dina ada di rumah. Mungkin satu minggu lagi saya akan kembali. Mudah-mudahan Dina pas pulang."
"Iya nak sama-sama. Tapi apa tidak sebaiknya nak Doni susul saja ke kontrakan Dina?"
"Terima kasih atas sarannya bu. Tapi saya ingin bikin kejutan buat Dina."
"Ya sudah terserah nak Doni saja. Saya cuma bisa mendo'akan mudah-mudahan Dina bersedia."
"Sekali lagi terima kasih banyak bu. Saya pamit undur diri dulu."
Karena tidak bertemu dengan Dina dan menyimpan kontak Dina, akhirnya ia pulang dan memutuskan untuk kembali lagi. Melihat keseriusan Doni akhirnya ibu pun berinisiatif untuk menelepon Dina dan memintanya untuk pulang pada minggu yang akan datang tanpa memberi tahu kedatangan Doni. Sedangkan Dina pun juga berjanji memenuhi permintaan ibunya.
*****
Genap sudah satu minggu. Seperti apa yang sudah Doni janjikan pada ibunya Dina. Dengan keyakinan bahwa Dina pasti akan pulang di hari itu, Doni berangkat ke rumah kediaman ibunya Dina. Sedangkan Dina, karena telah berjanji untuk pulang pada ibunya akhirnya ia pun meminta ijin pada bu Ratna untuk libur dan memenuhi janjinya.
Doni yang penuh kesungguhan niat untuk melamar Dina, ia tiba di kediaman ibu sangat pagi.
"Assalamualaikum." Doni memberi salam.
"Wa alaikum salam. Eh nak Doni. Mari silahkan duduk nak."
"Iya bu, terima kasih."
"Waduhhh... maaf nak, Dina tidak ada di rumah. Tapi Dia janji sama ibu hari ini dia akan pulang. Gimana? Nak Doni sabar mau menunggu? Siapa tahu Dina jadi pulang."
"Iya bu, nggak papa saya tunggu saja."
Doni menunggu cukup lama. Untuk mengisi waktu menunggu Dina datang, sebagai tuan rumah ibu menemani Doni dengan berbincang-bincang. Sesaat kemudian ibu meminta maaf karena ada pekerjaan yang harus beliau selesaikan dan tak bisa menemani Doni lebih lama.
"Iya bu silahkan. Saya sendiri tidak papa. Ibu lanjutkan saja keperluannya." Ucap Doni meyakinkan ibu agar tidak sungkan meninggalkannya sendiri menunggu. Ibu kemudian pergi untuk menyelesaikan urusannya. Tak lama kemudian,
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikum salam" sahut Doni seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Doniii...!!" Ucap Dina kaget melihat Doni ada di rumahnya. Ia langsung berlari menghampiri Doni dan memeluknya.
"Aku kangen kamu Don, kamu jahat, kenapa kamu ninggalin aku, kamu nggak tahu gimana rasanya aku menunggumu selama ini. Jangan pergi lagi ya Don...!! Maafin aku, sekarang aku sadar aku mencintaimu Don!" Ucap Dina sembari menangis bahagia dalam pelukan Doni.
"Dina..., aku juga masih mencintaimu. Aku ke sini untuk menepati janjiku, aku datang untukmu Din."
"Kamu nggak bercanda kan?"
"Aku serius."
"Aku cinta kamu Doni, jangan tinggalin aku lagi, aku bersedia mendampingimu menjalani kehidupan ini. Tidak hanya satu menit saja seperti apa yang harapkan, aku janji aku akan mencintaimu seumur hidupku. Aku bersedia menjadi ibu dari anak-anakmu. Menikahlah denganku!"
Doni dan Dina pun menikah dan mengarungi bahtera kehidupan bersama.
__ADS_1