
"Mbak, mbak Win... mbak bangun mbak!" Winda membuka mata, terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara Dina membangunkannya sambil menggoyang-goyangkan badannya. Winda menoleh melihat Dina yang masih tampak remang-remang dalam pandangannya.
"Emmm... udah pagi ya Din? Perasaan tidur baru sebentar." Winda berkata-kata sambil bergerak malas merentangkan kedua tangannya membuang rasa pegal-pegalnya.
"Hu um. Mbak Win nggak berangkat kerja?"
"Enggak Din, aku masuk siang, sif dua Din."
"Oh ya udah kalau masih ngantuk tidur lagi aja mbak!"
"Nggak ah Din, udah kadung bangun ini."
"Mau aku buatin teh anget?" Dina menawarkan diri.
"Hah, nggak salah denger? Biasanya juga aku yang bikinin, tumben kamu mau bikinin teh anget." Ucap Winda heran dengan sikap Dina.
"Katanya hidup harus tetap berlanjut, ya ini kan mengawali lagi mbak!"
"Hehehe..., gitu dong semangat! Kan seneng lihatnya udah sana kalau mau bikin teh, jangan terlalu manis ya! Aku cuci muka dulu." Ucap Winda dengan perasaan senang melihat semangat Dina untuk tetap tegar setelah meninggalnya Sofian.
Memang nikmat, pagi hari minum teh hangat dan mengobrol. Apalagi tidak diburu waktu untuk bekerja. Begitu selesai membuat teh, Dina membawanya ke meja yang ada di ruang tamu. Ia duduk sambil menikmati minuman hangat sembari menunggu Winda yang sedang cuci muka. Tak begitu lama Winda pun ikut nimbrung menik mati suasana pagi bersama Dina sambil nge-teh bareng. Mereka berbincang-bincang mengisi waktu hingga membicarakan soal pekerjaan.
Dina bertanya pada Winda, "mbak Win, gimana ya? Aku kan udah nggak masuk kerja tiga hari tanpa ijin. Kira-kira bisa diputus kontrak nggak ya?"
"Nah, itu masalahnya Din. Sebenarnya udah mau ngomongin itu, tapi ngerasa belum pas aja waktunya, tapi kamu udah keburu tanya ya sekalian aku omongin aja. Kalau cuma sehari sih yang sudah-sudah di toleransi. Tapi..., biasanya sih Din, kalau udah tiga hari nggak masuk tanpa ijin pemberitahuan biasanya ya diberhentikan." Penjelasan Winda.
"Yahhhh..., positif dipecat dong aku? Gimana nih mbak? Nyari kerja di mana lagi nih?" Dengan raut wajah yang penuh kecewa Dina berkata-kata kebingungan mendengar penjelasan dari Winda.
"Kamu sih... kemarin lusa nggak persiapan dulu kalau mau pergi, harusnya kemarin tu kamu bikin surat ijin dulu baru berangkat ke kampung Fian. Kan bisa kamu titipkan aku Din."
"Namanya juga orang tergesa-gesa mbak, ya mana ingat. Mbak Win juga aneh masa orang lagi sedih kok disuruh bikin gituan."
"Yang namanya perusahaan ya nggak mau tahu lah Din. Masa ngurusin kamu pacaran hehehe...!"
"Ah entahlah. Sudah positif keluar ya mending mikir cari kerjaan lain ajalah mbak." Ucap Dina putus asa.
"Ya sementara waktu mending kamu istirat dulu untuk beberapa hari, biar lebih tenang lebih enakkan."
"Iya mbak, kayaknya mending gitu aja ah."
*****
Dina pun akhirnya hanya menganggur di rumah saja. Apa yang dikatakan oleh Winda membuatnya yakin akan diberhentikan kerja. Banyaknya waktu yang terluangkan, untuk melepas ingatannya sesaat mengenai Sofian, Dina menyibukkan dirinya dengan membaca dan menulis. Ia baca buku-buku Novel, ia juga menulis luapan rasa dukanya. Bersama kenangan-kenangan indah semasa masih bersama Sofian Dina tuliskan,
__ADS_1
"Wahai sunyi, genap empat hari kepergiannya, mengenangnya hanya menjadikan penantian yang tak pernah usai. Bagaimanapun aku harus mengikhlaskannya. Sang kholiq telah memanggilnya, dan tak mungkin dirinya akan kembali merajut asa bersamaku.
Andai saja waktu itu aku tahu, mungkin suasana hatiku takkan seperti ini. Kini aku hanya terdiam melamunkannya yang telah tiada, diriku bagai gitar tak berdawai dan syair. Kini apa yang harus kuperbuat untuk meluluhkan segala penyesalan atas kebodohanku. Tak satupun seseorang memahami apa yang kurasakan, hanya pena dan secarik kertas yang selalu setia menemani dalam kesendirianku.
Andai saja kala itu aku bisa memberi alasan untuk bisa menahannya. Mungkin bukanlah penyesalan yang ada. Hanya saja jalan hidup menuntunku dan dirinya untuk sebentar saja merasai kebersamaan dalam cinta, mungkin TUHAN memang menakdirkan harus seperti ini.
Andai saja saat itu kami sama-sama tahu, sama-sama merasakan apa yang akan terjadi. Pasti canda tawa ketika itu tak hanya sebatas canda tawa biasa, mungkin keceriaan kala itu akan penuh kemesraan bersamanya.
Wahai sunyi, hadirkanlah dia, bawalah dia di sisiku dan perkenankanlah dia menjelma seperti malaikat, agar aku bisa bercengkrama melepas rindu dengannya.
Wahai sunyi ijinkanlah aku bahagia sejenak bersamanya, biarlah dia bercanda denganku yang begitu rentan dirundung sepi. Biarkanlah penyesalan ini sedikit memudar dan menjadi nuansa indah dalam ruang rindu yang tiada bertepi."
Dina berusaha mengurai rindunya kedalam catatan harian. Hampir setiap hari di waktu luang Dina menyempatkan menulis di selembar kertas yang kemudian ia kumpulkan bersama lembaran-lembaran kertas sebelumnya. Seperti ini sudah bertahun-tahun Dina lakukan, baik suka maupun duka, sebagai wanita yang sangat tertup untuk urusan pribadi Dina meluapkannya kedalam sebuah tulisan.
"Derrrttt... derrrtt... derrrttt...!" Suara hp bergetar, satu panggilan masuk dari nomer yang tak dikenal. Merasa tak mengenal nomer itu Dina membiarkannya. Akan tetapi nomer itu terus memanggil, hingga ke empat kalinya, merasa mungkin saja penting akhirnya Dina mengangkatnya,
"Hallo siapa ya?"
"Maaf sebelumnya, ganggu sebentar." Sahut suara seorang wanita dalam panggilan itu.
"Iya, dengan siapa ya?" Sahut Dina penasaran, aising dengan suara wanita yang ada dalam panggilan itu.
"Maaf, apa benar ini dengan dik Dina?"
"Iya, ada apa ya?"
"Oh iya mbak, kemarin saya juga sempat di kasih tahu, katanya akan ada orang yang menghubungiku."
"Mungkin lebih nyaman kalau saya ketemu langsung dengan dik Dina. Boleh minta alamatnya?"
"Oh iya mbak, boleh-boleh, nanti saya kirimkan sms ya?"
"Ya sudah kalau begitu saya tutup dulu teleponnya ya?" Ucap Retno menyudahi pembicaraan di telepon.
Dina pun langsung mengirimkan alamatnya kepada Ratna. Penasaran seperti apa sosok Ratna yang suaranya terdengar lembut dan ramah itu, Dina pun menanti kedatangan Ratna ke rumah. Hanya beberapa jam dari waktu Ratna menelepon, sebuah mobil mewah menepi dari jalan dan berparkir di depan rumah Dina. Dina pun bertanya-tanya sendiri, siapa pemilik mobil mewah itu? Terlihar terbuka pintu mobil mewah itu, dan keluar dari dalam mobil sosok wanita yang cantik, meskipun terlihat sudah berumur empat puluhan tahun. Dengan memakai rok dan kaos oblong biasa dengan rambut panjang yang terurai mempelihatkan wanita itu memang benar-benar cantik alami tanpa polesan make up.
Berjalan mendekat pada Dina, "Selamat siang, dik Dina ya? Saya Ratna yang tadi telepon." Sapa wanita itu dengan senyum manis dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Iya bu, mari silahkan masuk. Maaf keadaan rumahnya seperti ini."
"Oh tidak apa-apa, biasa saja dik." Ucap bu Ratna sembari masuk ke rumah Dina.
"Wah ternyata tante-tante, tadi di telepon aku kira masih muda." Kata Dina dalam hati.
__ADS_1
Meraka duduk behadapan dan membicarakan tentang kejadian tempo hari yang merenggut nyawa Sofian.
"Kedatangan saya kemari selain untuk bersilaturohmi saya juga ingin meminta maaf beribu-ribu maaf atas kejadian yang menimpa Sofian."
"Maksudnya?" Ucap Dina menyela perkataan bu Ratna dan penasaran siapa sebenarnya bu Ratna?
"Saya yang waktu itu menabrak Sofian. Keadaan saya yang begitu banyak masalah membuatku kurang tidur dan mengantuk, hingga akhirnya mobilku lepas kendali." Ucap bu Ratna sedikit menjelaskan.
"Harusnya bu Ratna nggak usah menyetir dong kalau ngantuk!" Sahut Dina bernada kesal pada bu Ratna.
"Iya dik, harusnya seperti itu, tapi nggak semudah yang kamu ucapkan."
"Maksudnya apa? Ibu sudah menghilangkan nyawa orang yang saya sayangi hanya gara-gara mengantuk. Harusnya kalau ibu mengantuk itu tidur aja di rumah!" Ucap Dina agak keras menahan emosi, tapi tetap saja tindakannya tidak sopan, tidak sepantasnya ia bersikap seperti itu pada orang yang lebih tua. Terlebih lagi bu Ratna adalah tamu di rumahnya.
"Iya dik, aku paham apa yang kamu rasakan. Aku sendiri juga pernah muda. Tapi coba kamu bayangkan apa yang terjadi padaku! Suamiku berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Sudah berkali-kali aku mendapati mereka berdua-duaan. Tapi aku masih bisa maafkan perbuatannya. Tapi malam itu aku sudah tidak bisa memaafkannya. Malam itu aku tahu dia telah menghamili sahabatku itu. Lalu kami bertengkar, dan dia memilih untuk meninggalkanku. Suasana hati yang begitu menyakitkan hingga membuatku susah tidur. Akhirnya aku putuskan untuk pergi menemui teman lamaku pagi itu. Akan tetapi belum sampai ke rumah temanku, peristiwa itu terjadi. Berat rasanya jadi diriku dik Dina. Aku baru saja kehilangan suamiku sekaligus menghilangkan nyawa Fian. Sebuah kekecewaan dan penyesalan berkecamuh di dalam hati." Bu Ratna mengeluarkan semua uneg-unegnya hingga meneteskan air mata.
Mendengar curahan hati bu Ratna, Dina hanya terdiam. Ia merasa apa yang di alami bu Ratna sangat berat untuk dijalani. Tersakiti, kehilangan dan rasa bersalah telah menghilangkan nyawa Sofian. Tanpa sadar Dina terbawa suasana, terharu dengan kenyataan yang dihadapi bu Ratna. Hingga akhirnya bu Ratna pun berkata kembali memecah suasana.
"Ah tapi sudahlah. Semua sudah berlalu. Dik Dina sekali lagi aku benar-benar minta maaf."
"Iya bu, saya pun minta maaf tadi bersikap kurang sopan!"
"Iya dik sama-sama. Saya bisa mengerti kok posisi dik Dina. Oh iya, dik Dina sudah bekerja?"
"Udah sih bu, cuma sekarang udah nggak lagi."
"Lho, kenapa?" Tanya bu Ratna.
"Kemarin saya ikut ke Jabar di pemakaman mas Sofian. Nginap juga di sana. Jadi nggak masuk kerja tiga hari tanpa ijin, akhirnya ya di pecat dari pabrik."
"Oooo... gitu, rencana mau kerja kemana lagi?"
"Entahlah bu, belum tahu juga."
"Aku punya beberapa cabang toko busana. Di kota inipun ada. Kalau dik Dina mau kerja di tokoku gimana, mau nggak?"
"Mau bu, mau banget."
"Ya udah kalau mau besok atau lusa dik Dina bisa mulai kerja. Ini alamat tokonya. Kebetulan seminggu ini aku ada di toko yang ini." Ucap bu Ratna sembari memberikan kartu nama.
"Iya bu, masih ya bu Ratna."
"Sama-sama."
__ADS_1
Setelah membicarakan tenang pekerjaan, mereka melanjutkan dengan obrolan lain sambil memperdekat perkenalan mereka hingga bu Ratna berpamitan pulang.
*****