Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Kesiangan


__ADS_3

Hari telah berganti, malam berlalu pergi dan pagi menyambut Dina. Sorot sinar mentari menelusup masuk ke dalam kamar melalui sela-sela kain penutup jendela yang masih menutup kaca jendela. Menyilaukan pandangan kedua mata Dina, hingga Dina pun mengusap-usap kedua mata dan membukanya. Tak terasa ternyata hari sudah berganti, Dina segera beranjak dari tempat tidurnya meski masih sangat mengantuk akibat tidur terlalu malam. Dina berdiri sembari merentangkan kedua tangannya melemaskan otot-otot tubuhnya. Dengan rasa kantuknya Dina berjalan perlahan, melangkahkan kakinya mendekat dan membuka korden yang masih terbentang menutup jendela kamarnya.


"Hhhhhhaaahhh, udah pagi ternyata !" Gumam Dina menyambut pagi.


"Hmmmm, ternyata mimpinya nggak jadi hehehe" ujar Dina berbicara pada diri sendiri.


"Nah, Sofian lagi... Sofian lagi... !! Mau tidur Sofian, bangun tidur Sofian. Siapa sih sebenarnya dia ? Kok aku jadi suka keingetan dia, kok aku ngrasa aneh, apa mungkin aku beneran naksir sama Sofian ? Kalaupun enggak, tapi nyatanya kok aku bawaannya nyaman sama dia, ah entah lah !" Ujar Dina dalam hati, bertanya pada diri sendiri.


Dina kemudian duduk di kursi dekat meja belajarnya setelah membuka korden jendela, tak ada yang dilakukannya, ia hanya berdiam diri dan melamun untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Dina pun tersadar dari lamunannya setelah mendengar kucing kesayangannya mengeong.


"Wah si puspus udah waktunya makan nih" ucap Dina.


Tak mau berlama-lama Dina langsung berdiri dan berjalan ke dapur menyiapkan makanan untuk puspus kucing kesayangannya. Dengan membawa ikan dan sedikit nasi berwadah mangkok kecil Dina berjalan mencari puspus dan memberinya makan sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07 : 15 pagi. Sontak Dina kaget setelah melihat jam dinding.


"Waduhhh aku kesiangan pus, ah gara-gara mikirin Sofian ni, telat kesekolah deh aku" ucap Dina berbicara pada kucingnya.


"Duh gimana nih, coba sms Erin apa ya?" Gumam Dina dalam hati.


Dina segera mencari hp-nya yang ia letakkan di meja belajar. Ia membuka kunci hp-nya dan segera mengetik sms ke Erin.


"Rin gimana nih, aku kesiangan! Bolos dong ini?" Sms Dina ke Erin.


"Kesiangan juga nggak apa kok say, kan emang hari ini jatahnya nggak masuk, emang kesekolah mau ngapain? Lagi eror ya?" Balas Erin.


"Ohhhh iya ya aku lupa, hehehe!" Balas Dina.


"Emang ngapain aja tadi malem, jam segini baru bangun? Begadang ya?"


"Hehehe iya Rin !"


"Makanya cari pacar biar tiap pagi ada yang bangunin ! Nggak pingin apa tiap pagi ada yang ngebangunin pake sms (pagi sayang, udah bangun belummm?) Kan enak! Lagian tumben kamu begadang, emang ada apa?"


"Ah kamu cowok mulu pikirannya, ya sekali-kali begadang kan nggak masalah Rin!"

__ADS_1


"Yaaaa aneh aja! Nggak biasa-biasanya lagi begadang, ada masalah ya?"


"Udah deh kamu tenang aja Rin, aku baik-baik aja kok, nggak usah kuatir deh!"


"Yeeee ni anak ditanya bener-bener kok malah nyuruh tenang, ada apa sih?"


"Rahasia, kamu tenang aja! Aman pokoknya"


"Udah mulai rahasia-rahasiaan nih, cowok ya? Di apelin ya?"


"Mau tau aja apa mau tau banget? Penasaran yaaaa? Hahaha"


"Uuuu dasar kamu, ditanya serius malah ngajakin becanda!"


"Marah yaaaa....?? Bisa marah juga si cantik satu ini hehehe!"


"Ah tau ah, mending sarapan deh dari pada ngabisin pulsa!" Balas Erin terkesan sebel.


"Ya udah sana!"


"Makanya beli dong paket sms, kan irit. Ya udah sana sarapan ! Da Erinnn !!" Balas Dina mengakhiri obrolan via sms.


"Wah Erin lama-lama curiga nih, gawat !! Bisa di ketawain habis-habisan nih. Mesti diem-diem jangan sampai Erin tahu tentang Sofian." Kata Dina berbicara sendiri.


Dina lega ternyata hari ini libur, seandainya tidak bertanya pada Erin, Dina pasti sudah kebingungan, milih berangkat tapi dihukum atau bolos tapi besoknya juga dihukum. Untung saja Dina langsung kepikir sms Erin. Urusan sekolah sudah tidak jadi masalah, mumpung lagi libur sekolah Dina berinisiatif untuk bersih-bersih rumah. Maklum Dina tinggal dirumah sendirian, ibu dan adiknya tinggal di rumah yang satunya, rumah di desa kakek Dina, desa lain yang lumayan jauh kurang lebih 20 km dari rumah yang Dina tempati tapi masih satu kabupaten. Sedangkan ayah Dina sudah tiada. Ayah Dina meninggal dunia sewaktu Dina masih duduk di bangku SMP.


Rumah yang Dina tempati adalah rumah peninggalan dari ayahnya. Alasan Dina tinggal di rumah ini sendiri karena jaraknya lebih dekat dengan sekolah dibandingkan dengan rumah yang ibu dan adiknya tinggali. Sesekali ibu Dina datang menjenguk Dina, memberi uang saku dan keperluan yang lain. Kadang seminggu sekali tapi kadang juga bisa seminggu tiga kali, tidak tentu! Terkadang juga Dina yang datang ke tempat ibunya untuk mengambil semua keperluannya, tergantung siapa yang lebih sempat, ibu atau Dina.


Ibu Dina seorang petani sayuran, yang segala kebutuhan taninya di bantu oleh kakek dan saudara-saudaranya, baik itu masalah modal ataupun tenaga. Semua hal itulah yang membuat Dina merasa terpanggil untuk segera membantu ibunya mencari penghidupan sehari-hari. Sehingga Dina harus memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya setelah lulus nanti. Dina merasa iba terhadap ibunya yang berjuang untuk bisa menyekolahkannya. Dina merasa ibunya sudah cukup tua untuk bekerja, jadi harus mengurangi porsi kerjanya dan Dina siap membantu untuk perekonomian keluarga setelah nanti Dina sudah bekerja. Terutama menyekolahkan adiknya.


Dina pun segera memulai pekerjaan rumahnya. Ia memasak untu keperluan makan sehari sembari menyapu lantai rumah. Ia mengemas semua yang terlihat kurang rapi agar terlihat lebih nyaman dipandang. Dina memang Gadis yang rajin dan bisa mengurus diri sendiri. Ia cukup dewasa untuk mengurus diri. Tetangga sekitarnya pun sering membantunya untuk urusan-urusan yang tidak bisa ia kerjakan sendiri. Bulek Tatik contahnya, bulek Tatik adalah tetangga sebelah rumah Dina. Beliau ibunya Winda sahabat Dina. Bulek Tatik dan Winda sering mengajarinya bagaimana cara memasak ini dan itu. Terkadang urusan makanan Dina juga sering diantar Bulek Tatik atau sebaliknya. Bagi Dina Bulek Tatik tidak hanya sekedar tetangga, bagi Dina bulek Tatik sekeluarga sudah seperti saudara sendiri.


Semua pekerjaan Dina sudah selesai. Ia beristirahat sejenak, setelah keringatnya telah kering ia segera mandi membersihkan diri. Setelah seluruh badannya bersih dan rapi Dina lalu sarapan pagi, yah meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 10 : 00 pagi menjelang siang. Beberapa saat kemudian setelah selesai sarapan Winda datang. Dina menyapa Winda sahabatnya yang lebih tua satu tahun darinya itu, dan lulus terlebih dulu karena Winda memang kakak kelas Dina.

__ADS_1


"Mbak Win, masuk mbak!" Sapa Dina.


"Iya Din, udah sarapan apa belum? Ni aku bawain sayur lodeh!"


"Yah baru aja kelar sarapan mbak, mbak Winda nggak kerja hari ini?" Tanya Dina.


" kerja sih, masuk malem Sif tiga Din!"


"Oooo, kirain libur mbak?"


"Lhah kamu sendiri kok nggak sekolah?"


"Iya ni mbak, lagi libur. Banyak liburnya, kan tinggal nunggu Ijazah doang mbak!!"


"Oh iya ya Din, bentar lagi lulus kok ya?"


"Iya mbak, tinggal nyari kerja kalau udah keluar Ijazahnya."


"Kata ibuk kemarin di anterin cowok ganteng ya?" Tanya Winda sembari menggoda Dina.


"Ah bulek Tatik mbocorin rahasia ni"


"Hayooo siapa? Pacar ya? Gituuu dong punya pacar! Biar kayak orang-orang hehehe "


"Cuma temen mbak bukan pacar! Kenal juga baru aja kok."


"Jadiin pacar sekalian napa? Orangnya cakep kan?"


"Iya sih cakep, tapi kenal juga baru kemarin, masa langsung pacaran? Kayak cewek murahan aja. Lagian yang penting kerja dulu baru pacaran." Ucap Dina memberi penjelasan pada Winda.


"Iya nggak gitu juga Din, kamu kan udah gede udah waktunya pilih-pilih buat pendamping hidup. Lagian kalau emang cowok itu lelaki baik-baik kan nggak apa juga buat pilihan!" Kata Winda menasehati Dina, sebagai tetangga sekaligus sahabat Dina dan lebih dewasa dari Dina, Winda merasa terpanggil untuk mengingatkan Dina, melihat keadaan Dina yang belum juga membuka diri untuk mengenal lelaki lebih dekat.


Percakapan Dina dan Winda terus berlanjut, mereka membicarakan tentang apa yang dialami Dina dan pengalaman-pengalaman Winda. Sebagai seorang sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri mereka saling bertukar pikiran dan saling mengingatkan untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.

__ADS_1


*****


__ADS_2