
Dalam kehidupan semua tak selalu berjalan seperti yang di inginkan, suka duka selalu datang silih berganti. Dina yang bahagia di masa kecilnya bersama ayah dan ibunya berubah menjadi duka yang teramat panjang ketika ayah tercintanya jatuh sakit dan meninggal dunia. Sedang Sofian dimasa lalu yang begitu bahagia dengan hubungannya bersama Yulli beberapa bulan seketika menjadi kehilangan semangat hidupnya saat Yulli mengingkari janji untuk setia menunggu namun malah menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuan Sofian. Akan tetapi kini Dina dan Sofian kembali bahagia dan bersemangat untuk menjalani kehidupan. Cinta mempertemukan mereka dan memberi berjuta-juta harapan. Setelah hadirnya nama Yulli di dalam hubungan Sofian dan Dina, mereka semakin optimis untuk merangkai harapan-harapan baru untuk bahagia bersama.
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang begitu terang, menyambut Dina dengan segala kesibukan yang akan dilakukannya. Tak satupun kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Dina di pagi ini terkecuali kata "bahagia". Yah, kata bahagialah yang paling pantas menggambarkan susana hati Dina. Kondisi fisiknya sudah pulih dari demam dan keletihan, hatinya seolah bagaikan melati yang bermekaran dipenuhi harum wanginya. Kepanikan Sofian ketika mendengar dirinya demam hingga langsung datang menjenguknya membuatnya merasa semakin berarti untuk Sofian. Tak ada lagi yang harus dipertanyakan untuk menguji kesungguhan cinta Sofian.
"Hahhhh... ternyata udah pagi, terima kasih TUHAN Engkau masih memberiku kehidupan hari ini, dan terimakasih Engkau telah hadirkan Sofian dalam hidupku." Dina berkata dalam hati menyambut paginya dan bersyukur atas segala nikmat yang telah TUHAN berikan padanya.
Dina segera turun dari tempat tidurnya, ia berjalan ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi dan membuang air kecil. Setelah itu semua, Dina duduk sejenak di kursi kecil di dapur, berdiam diri sesaat dan teringat ibunya yang beberapa hari belum datang menjenguknya, dan dia pun juga tak terpikirkan untuk menjenguk keadaan ibu, adik dan keluarga di kampung halaman tempat ibunya dilahirkan. Lamunannya seketika buyar setelah Puspus kucing kesayangannya mengeong dan berputar-putar mengelilinginya. Melihat kucing kesayangannya mengeong tanda meminta makanan, Dina pun langsung berdiri meninggalkan kursi tempatnya melamun dan mengambilkan makanan untuk kucingnya. Ia lanjutkan aktifitasnya menyapu, membuka kain-kain penutup jendela dan yang lainnya.
Semua sudah bersih dan rapi, Dina kemudian mandi untuk membersihkan diri. Dina begitu bersemangat pagi ini. Setelah bersih dan berdandan rapi ia sempatkan diri untuk membaca sebentar buku kecil yang tempo hari belum selesai ia baca. Sebuah novel yang menceritakan tentang kisah kehidupan seorang gadis sederhana yang tinggal di sebuah desa di kaki gunung yang asri dan masih kental dengan budaya leluhurnya. Hanya tinggal beberapa lembar saja untuk menyelesaikan kisah dalam novel itu, ia baca dengan cermat dan menghayati kisah gadis itu hingga selesai. Baginya kisah dalam novel itu sangat menginspirasi dirinya, perjalanan hidup seorang gadis yatim piatu yang berjuang mencari penghidupan untuk menghidupi diri dan adik-adiknya. Hal ini membuat Dina kembali teringat ibu dan keluarganya. Ia berdiri meletakkan novel di rak buku dan memperhatikan hp-nya yang tergeletak di meja belajarnya.
"Ibu kenapa ya, sudah seminggu nggak kemari. Mungkin sebaiknya aku yang kesana menjenguknya. Kayaknya nggak perlu ke sekolah dulu hari ini, lagian juga nggak ada yang dikerjakan di sekolah, kalaupun ada yang penting Erin juga pasti ngabarin aku." Gumam Dina dalam hati sembari mengambil hp-nya. Ia membuka menghidupkan hp-nya, terlihat notifikasi satu pesan masuk menunggu untuk ia baca. Dina pun langsung membuka isi sms itu.
"Met pagi sayang!! Udah sembuh apa belum? Kalau perlu sesuatu aku kabari aja ya!" Satu pesan pertama dari Sofian diawal hari.
Dina melihat waktu masuknya sms Sofian. Tertera pukul 05 : 07 di bagian paling bawah sms itu. "Wah... udah dari tadi, pasti mas Fian nunggu balasan nih, pagi sekali mas Fian bangun." Gumam Dina setelah membaca sms dari Sofian, khawatir Sofian akan mengkhawatirkannya keadaannya, ia langsung membalas.
"Maaf kelamaan balesnya, tadi bersih-bersih rumah, aku udah sembuh kok mas, kan udah dirawat sama dokter cintaku!" Balas Dina memanja dan membuka canda diawal harinya.
"Hehehe..., kesekolah apa enggak sayang, aku antar ya?" Balas Sofian menawarkan diri.
"Aku nggak masuk aja ah, kalau mas Fian mau anter, anter aku ke tempat ibu aja ya!"
"Ooo... gitu, sekalian mau ngenalin aku sama calon mertua ya dik?"
"Hehehe, iya. Aku tunggu ya!" Balas Dina.
"Oke siap meluncur sayang."
"He em..., hati-hati di jalan." Balas Dina mengingatkan.
*****
Setengah jam kemudian Sofian datang menjemput Dina. Mendengar suara motor Sofian Dina langsung menuju halaman rumahnya. Terlihat Sofian memarkirkan sepeda motornya dan melepas helm, memakai baju berwarna hitam berjaket abu-abu.
"Mas rapi amat?" Ucap Dina kagum.
"Masa sih dik?" Jawab Sofian.
"He em... kelihatan lebih ganteng!"
"Kan mau ketemu calon mertua hehehe..., dah siap apa belum?" Sahut Sofian.
"Udah mas, tinggal ngunci pintu aja."
Dina kembali masuk kedalam rumah dan menutup jendela dan mengunci pintu belang, lalu kembali melangkah kedepan rumah kemudian menutup dan mengunci pintu depan.
"Bulek aku kerumah ibuk ya!" Dina berjalan ke arah Sofian bersiap untuk berangkat sembari berteriak memberi tahu ibu Winda yang berada di dalam rumah.
Dina mengambil helm yang di ulurkan Sofian padanya, memakainya kemudian naik ke atas motor dan meletakkan kedua tangannya di pinggang Sofian.
"Pelan-pelan aja ya mas" ucap Dina mengingatkan.
"Siap sayang!" Ucap Sofian cepat menjawabnya.
Sofian menghidupkan motornya dan melaju segera meluncur ke rumah ibu Dina tinggal. Dina banyak bercerita mengenai ibunya selama perjalanan. Sofian begitu senang karena Dina ingin mengenalkannya pada ibunya. Sofian merasa Dina bersunggah-sungguh menjalin hubungan dengannya, dengan mengenalkan pada ibunya itu artinya kemungkinan Dina berharap hunbungan mereka tidak hanya sebatas pacaran biasa, akan tetapi hubungan ini akan berlanjut kepernikahan jika saatnya nanti tiba.
"Mas Fian udah siap ketemu ibu?" Kata Dina menguji Sofian dalam perjalanan.
__ADS_1
"Ya siap banget! Aku pingin tau banget tanggapan ibumu tentang hubungan kita dik!" Jawab Sofian meyakinkan.
"Ya mudah-mudahan respon ibu baik ya mas?"
"He em dik, eh ini masih jauh apa udah dekat?"
"Bentar lagi mas, nanti kalau udah sampai pertigaan belok kanan ya mas, nggak jauh kok dari pertigaan itu!" Jawab Dina mengarahkan.
"Sssstttt..."
Sofian menghentikan laju motornya. Tampak rumah beratap tinggi seperti rumah-rumah pada jaman dulu. Sofianpun memakirkan motornya di depan rumah itu. Sembari melepas helm Sofian berkata.
"Bener rumah joglo ini dek rumahnya?"
"Iya mas, masuk yuk!" Ajak Dina.
"Assalamualaikum..." Dina ucapkan salam.
"Waalaikumsalam..." terdengar seorang wanita menjawab salam Dina yang berjalan dari dalam rumah.
"Ibu..." ucap Dina menyapa sembari mendekat pada ibunya, kemudian bersalaman dan mencium tangan dan pipi ibunya.
"Ibu belum sempat kesana, Sayurannya sudah mulai panen Din, rencana besok kesana. Tapi kalau kamu udah kesini ya malah keberenan tho!" Kata ibu Dina.
"Ya nggak papa buk, lagian Dina juga udah mulai jarang masuk sekolah kok, tinggal nunggu pengumuman lulus aja."
Sembari berbicara pada Dina, ibu Dina memperhatikan keberadaan Sofian yang masih berdiri didekat pintu.
"Bu..." sapa Sofian sembari tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Ooo... sini masuk nak, teman Dina ya?" Ibu mempersilahkan Sofian dan bertanya.
"Duduk nak, ibu buatkan minum dulu sebentar."
"Duh nggak usah repot-repot buk!" Ucap Sofian.
"Ehhh nggak papa. Tamu itu harus dibuatin minum hehemmm..." ucap ibu sembari tertawa kecil.
Ibunya Dina orangnya memang ramah dan suka bercanda. Beliau sangat menghargai siapapun yang bertamu di rumahnya, dan beliau selalu menaruh hormat pada siapapun. Ibu pun berbalik dan melangkah ke dapur. Sedangkan Dina melepas jaketnya dan kemudian menyusul ibunya untuk membantu membuat minum. Sambil membuatkan minum ibu bertanya pada Dina.
"Temenmu sekolah Din? Ibuk kok nggak pernah liahat?"
"Enggak buk, dilihat aja kelihatan lebih dewasa gitu kok, masa temen sekolah!" Jawab Dina.
"Bentar..." kata beliau dengan ekspresi penasaran dan ingin menebak.
"Pacarmu Din?" Ucap beliau.
"Hehehe... iya buk, nggak papa kan?" Jawab Dina cengengesan dan agak takut kalau ibunya marah mengetahui dia berpacaran.
"Hati-hati lho kamu, awas kalau sampai berbuat yang enggak-enggak!" Ucap ibu mewanti-wanti Dina.
"Iya buk, Dina tahu, Dina kan udah gede udah bisa memilah mana yang baik mana yang enggak!" Kata Dina meyakinkan ibunya.
"Ya udah, yang penting kamu harus bisa jaga diri. Inget kamu anak orang nggak punya!"
"Iya buk, Dina ngerti kok."
__ADS_1
Ibu dan Dina kemudian keluar dari dapur menemui Sofian dan menyajikan minuman dan makanan ala kadarnya. Ibu mempersilahkan untuk meminum dan duduk sebentar untuk menyempatkan berbicara pada Sofian sebagai wujud rasa menghargai kepada Tamu. Beliau berbincang-bincang sejenak bersama Dina dan Sofian. Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba ibu bertanya pada Sofian.
"Maaf nak kamu pacaran sama Dina?"
"Emmm i... iya buk." Jawab Sofian terbata-bata.
"Ya udah gak papa nak, tapi pesen ibu kalian jangan kebablasan ya. Pacaran boleh tapi harus tau batasannya. Kalian masih terlalu muda untuk berumah tangga, jadi jaga diri kalian baik-baik. Ibu nggak melarang kalian pacaran, Ibu cuma bisa pesen itu. Ibu tahu dari sikapmu kamu anak baik-baik nak, ibu nggak bisa selalu mendampingi Dina jadi ibu titip Dina ya nak, tolong bantu jaga, kalau ada yang kurang pas pada Dina tolong dinasehati. Ibu cuma bisa berharap kalian baik-baik saja, yang akur ya nak sama Dina!" Ucap ibu mengijinkan mereka menjalin hubungan seraya memberi nasehat.
"Iya buk terima kasih!" Jawab Sofian sembari menganggukkan kepala.
"Kamu juga Din, kamu juga harus jaga diri, jangan bergantung terus sama masnya ini. Ya udah ibu ke kebun dulu ngantar makanan kakek sama pamanmu."
"Iya buk!" Sahut Dina.
"Biar saya antar buk kalau jauh?" Ucap Sofian menawarkan diri.
"Nggak usah nak, deket sini kok, lagian jalannya susah pakek motor."
"Ooo... iya buk." Jawab Sofian mengangguk.
Setelah ibunya Dina pergi mengantarkan makanan Dina dan Sofian melanjutkan perbincangan yang sempat terjeda oleh gerak langkah ibunya keluar rumah. Mengetahui respon ibunya Dina yang tak mempermasalahkan hubungan mereka membuat mereka berdua begitu bahagia. Layaknya mawar dengan tangkainya yang berduri namun kelopaknya tetap indah. Begitu juga hubungan mereka, kehadiran nama Yulli yang seakan menjadi duri pada awalnya, namun pada akhirnya justru menjadi penambah keyakinan Dina pada Sofian, dan tanggapan ibu tentang hubungan mereka ibarat kelopak mawar yang bermekaran begitu indah seperti kebahagiaan yang mereka rasakan.
*****
Beberapa hari setelah perjumpaan Sofian dengan Ibunda Dina. Hari yang paling berkesan dalam hidup Sofian saat itu. Bertemu dengan calon mertua yang memberi lampu hijau atas hubungannya dengan Dina. Yah meskipun belum secara resmi mereka mempertemukan antara orang tua keduanya, tapi ibunya Dina sepertinya suka dengan karakter Sofian.
Kebahagiaan seakan-akan tiada hentinya memenuhi hati mereka. Setelah beberapa hari yang lalu, yang penuh dengan kejutan dari TUHAN, kini kabar gembira datang dari sekolah Dina, yang menyatakan kelulusan Dina. Kabar menggembirakan ini seakan melengkapi kebahagian mereka. Dengan lulusnya Dina itu artinya Dina akan segera memperoleh ijazah, yang nantinya akan ia jadikan modal melamar pekerjaan. Rencana yang Dina susun berjalan sesuai harapan. Sekolah, bekerja kemudian menikah.
"Mas udah tahu belum?" Ucap Dina.
"Apa dek?" Sahut Sofian.
"Aku lulus Mas!" Dina memberitahu sambil mengepalkan kedua telapak tangannya mengangkat dan menariknya kebawah, memperlihatkan kegembiraannya.
"Selamat ya sayang, kamu lulus." Ucap Sofian memberinya ucapan selamat atas kelulusannya.
"He em, makasih ya Mas," sambung Dina sembari tersenyum bangga atas jerih payahnya selama tiga tahun. Serta merta Sofian juga tersenyum bangga dengan kelulusan kekasihnya. Berdiri berdampingan dan merangkul Dina, sesekali mengelus rambutnya.
Sangat pantas jika mereka dilimpahi kebahagiaan seperti ini. Perjalan hidup mereka yang penuh dengan kesedihan yang cukup lama, mungkin sudah waktunya kini mereka memperoleh kebahagiaan. Dina dan Sofian berandai-andai, berencana dan berdo'a. Mereka berdua merajut asa untuk masa depan mereka. Berandai-andai bersatu dalam sebuah keluarga kecil yang berkecukupan. Harapan Dina dan Sofian sederhana saja, tak harus menjadi keluarga yang penuh dengan kemewahan dan banyaknya materi. Mereka hanya menginginkan rumah sederhana, dua anak dan cukup sehari-harinya. Tidak perlu muluk-muluk, begitu saja mereka sudah sangat bersyukur.
Setelah menerima ijazah nanti, Dina berencana untuk melamar pekerjaan di sebuah pabrik makanan yang tak jauh dari rumahnya. Dina beralasan, supaya lebih dekat ketika pulang pergi kerja, tinggal menunggu mobil jemputan kariawan dan tak perlu berdiri di sisi jalan menunggu angkutan kota. Selain itu semua alasan Dina berminat melamar kerja di pabrik makanan itu karena banyaknya teman sewilayah yang juga bekerja di pabrik itu, termasuk Winda sahabatnya.
Sofian mendukung rencana Dina, menurutnya bekerja tak jauh dari rumah itu lebih baik, apalagi banyak juga teman sewilah yang juga bekerja di pabrik itu. Tentu Dina tidak perlu banyak beradaptasi lingkungan. Jika ada waktu luang Sofian pun jadi lebih mudah untuk antar jemput Dina bila memang dibutuhkan. Melihat semangat Dina yang ingin segera bekerja, Sofian pun jadi lebih bersemangat mencari pekerjaan.
Dina dan Sofian begitu asiknya membicarakan masa yang akan datang. Tak hanya sebatas mengobrolkan tentang semua itu, untuk sebagai tanda keberhasisan belajar Dina selama tiga tahun Sofian kemudian mengajak Dina ke bukit indah, tempat mereka saling mengungkapkan rasa tempo hari lalu. Tanpa berpikir panjang Dina pun mengiyakan ajakan Sofian.
"Mas kita beli cemilan dulu yuk!" Ucap Dina.
"Boleh." Sahut Sofian.
"Kita bakalan lama di sana to?" Tanya Dina.
"Emang kenapa?" Sambung Sofian.
"Kalau lama cemilannya biar aku banyakin belinya!" Terang Dina.
"He em dik boleh juga itu."
__ADS_1
Mereka pun langsung meluncur ke bukit itu dengan motor bebek Sofian. Berbekal cemilan yang lumayan banyak menurutnya akan bikin suasana lebih menyenangkan. Mereka bisa menghabiskan waktu dengan bercanda penuh kemesraan sambil ngemil makanan ringan yang barusan mereka beli.
*****