Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Pulang


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang, Dina mulai mengemas baju gantinya, handuk dan perlengkapan lainnya ke dalam tas hitamnya. Semua telah tertata dan Dina bersiap untuk berpamiatan kepada seluruh anggota keluarga almarhum kekasihnya. Dina persiapkan segala seseatunya menjalani hari pertamanya tanpa Sofian. Hari pertama dalam suasana hidup yang baru, berbekal kesedihan melanjutkan hidup tanpa seseorang yang sangat berpengaruh dalam masa remajanya, merangkai harapan-harapan baru berharap esok akan lebih baik meski tanpa Sofian.


Di ruang tamu semua anggota keluarga berkumpul,


"Pak, Bu, dan semuanya, saya pamit dulu. Saya ucapkan banyak terima kasih sudah menganggap saya sebagai bagian dari keluarga ini dan atas semua kebaikan bapak dan ibu juga teh Rita dan mas Ridwan." Ucap Dina berpamitan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


"Iya nak, biar diantar kakakmu Rita sampai ke terminal, hati-hati di jalan ya! Semoga nanti nak Dina bisa melanjukan hidup lebih baik" Ucap ayah Sofian sambil memeluk Dina penuh rasa iba.


"Hati-hati nak, jangan lupa main-main ke sini ya! Lain kali ajak juga orang tuamu ke sini!" Ucap ibu sambil meneteskan air mata dan memeluk Dina dengan erat dan mencim keningnya.


Kemudian Dina melanjutkan untuk berjabat tangan dengan Ridwan suami Rita. "Pamit dulu ya mas, terima kasih." Ucap Dina pada Ridwan.


"Iya dik, sama-sama. Kapan-kapan kalau ada waktu luang aku dan kakakmu Rita pasti main-main ke sana." Sahut Ridwan yang juga kasihan melihat keadaan Dina.


"Yuk kita berangkat!" Kata Rita memanggil yang memang sudah menaiki motornya tari tadi menunggu Dina berpamitan pada ayah dan ibu Sofian dan juga Ridwan.


Dina bersama Rita pun mulai melakukan perjalanan menuju terminal.


*****

__ADS_1


Setelah beberapa kilo meter akhirnya Dina dan Rita sampai di terminal bus. Mereka mencari bus arah ke Jawa tengah tempat Dina tinggal di sebuah kota kecil.


"Itu dik!" Ucap Rita menunjukkan dan menggandeng Dina ke arah bus yang akan ditumpanginya.


"Aku pulang dulu teh, sampai jumpa dan terima kasih." Ucap Dina pamit pada Rita sembari naik masuk ke dalam bus.


"Iya, hati-hati dik Dina, jangn lupa sering-sering kasih kabar!" Ucap Rita penuh rasa iba pada Dina dan meneteskan air mata.


Dina pun kemudian berjalan memilih bangku agak tengah dan segera duduk sembari melihat ke arah Rita dari balik jendela kaca dan berdada. Sedangkan Rita juga berdada dan melihat Dina yang berada dalam bus yang sudah mulai berjalan hingga tak terlihat lagi.


Dalam perjalanannya suara dering nada sms terdengar, Dina membuka hp-nya ia baca sms itu,


"Dik tadi aku lupa kasih tahu, di saku samping tasmu tadi aku selipkan Foto Fian. Barangkali kamu ingin menyimpannya."


Mengetahui dari sms Rita, Dina pun mengambil Foto Sofian yang terselip di saku tas hitamnya. Ia pandangi beberapa saat lalu memasukkan ke dalam tas agar tidak hilang.


Sangat berat menjalani hidup seperti kehidupan Dina. Kehidupan yang cukup lama tanpa seorang ayah, dan ketika ia baru pertama kali ia merasakan memiliki seorang pria muda yang sangat ia sayangi, dan ketika ia sudah mulai yakin dan memutuskan untuk memilih sebagai pendamping hidupnya, pria itu harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Yang tersisa hanya kenangan manis di bukit indah, canda tawa Sofian, harapan-harapan yang pernah ia rangkai bersama dan selembar foto dari kakaknya Rita. Mungkin ini adalah derita hidup yang harus Dina rasai, akan tetapi hidup tak selalu hanya dipenuhi derita memilukan. Dan pada suatu saat nanti Dina pasti akan mendapatkan kebahagiaannya. Karena TUHAN sangatlah adil. Mungkin ini adalah bagaian dari anak tangga kehidupan yang harus Dina lalui. Dan ketika nanti telah sampai di ujung anak tangga paling atas saat itulah Dina akan merasakan manisnya kehidupan.


Rasa lelah, letih dan yang lainnya begitu menumpuk pada diri Dina. Sehingga dalam perjalanannya ia pun tertidur di dalam bus antar kota propinsi itu. Hampir delapan jam perjalanan akhirnya Dina sampai juga di daerahnya. Ia memberitahukan pada Pak kondiktur untuk berhenti di tepi jalan yang ia tunjuk. Bus pun menepi dan berhenti. Dina turun dari bus dan berjalan kerumahnya yang memang tak jauh dari tepi jalan pantura. Hari sudah gelap, sudah lewat dari jam sepuluh malam ia ambil kunci pintunya yang ada dalam saku tas hitamnya. Dina masukkan kunci pintu dan membukanya. Lalu ia berjalan menuju kursi dan duduk berdiam diri meratapi kesedihan atas apa yang telah berlalu.

__ADS_1


Winda yang belum tertidur dan mendengar suara langkah kaki Dina dan mengetahui kepulangan Dina, langsung keluar rumah dan memastikan kepulangan Dina. Winda lihat pintu rumah Dina yang masih terbuka. Lalu Winda melangkahkan kakinya berniat melihat keadaan Dina. Dari luar rumah terlihat Dina duduk dan menundukkan kepala dengan kedua tangannya mengusap-usap wajah layaknya orang frustasi.


"Ahhrrhh ahhh..." suara kesal keluar dari mulut Dina sembari melemparkan tas hitamnya.


"Din..., yang sabar ya!" Ucap Winda menenangkan sambil berjalan menghampiri Dina.


Winda belum sampai mendekat, Dina sudah berdiri dan berlari menghampiri memeluk Winda.


"Hemmmm...hmmm..., Mbak Winnnn...!" Dina menangis dan memeluk Winda yang masih berdiri.


"Udahhhh, jangan nangis dong, yang sabar ya!"


"Mbak, Mas Fian Mbak, dia pergi ninggalin aku Mbak."


"Iya Din, udah dong namanya juga musibah, masa kamu mau nangis terus begini. Udah ya, sekarang diem trus cerita sama Mbak biar kamu lega!"


"Kenapa sih mbak, emang aku nggak boleh ngrasain seneng ya? Aku baru dua bulanan mbak sama mas Fian. Tapi kenapa sekarang dia udah nggak ada?"


"Dinnn..., kita semua nggak ada yang tahu sampai kapan usia kita, berapa lama kita hidup. Kalaupun Sofian meninggal itu memang sudah takdirnya Din. Kita nggak bisa ngapa-ngapain, sekarang yang perlu kita lakuin cuma berdo'a buat Sofian dan ngelanjutin hidup. Semua pasti akan mati Din, begitu juga kita. Ya emang takdirnya aja masing-masing. Kamu terus-terusan nangis juga dia nggak bakalan hidup lagi kan?" Ucap Winda menenangkan.

__ADS_1


Mendengar semua yang diucapakan Winda, Dina pun sedikit menahan tangisnya. Kemudian Winda memapahnya masuk ke dalam kamar agar Dina bisa lebih nyaman beristirahat. Rasa tidak tega meninggalkan Dina yang masih bersedih, Winda pun putuskan untuk tidur menginap satu tilam bersama Dina.


*****


__ADS_2