
Hari yang lumayan adem di tambah mega di langit yang cukup tebal dan menutupi sinar matahari yang mengarah ke sebagian lingkungan tempat tinggal Dina, membuat Dina dan Winda semakin betah berbincang-bincang. Yah maklumlah namanya juga wanita, nggak tua nggak yang muda namanya wanita kalau sudah ngerumpi pasti betah sekali. Seandainya bisa terjadi, kalau sudah ngumpul mungkin mereka maunya sehari nggak cuma 24 jam, kalau bisa mungkin maunya 40 jam dalam sehari hehehe. Sudah hampir satu setengah jam mereka mengobrol, tapi apa yang Dina dan Winda bicarakan masih sama, soal pemuda yang mengantarkan Dina pulang. Siapa lagi kalau bukan Sofian yang gantheng itu!
Dalam perbincangan mereka, usaha Winda menasehati Dina membuahkan hasil, Dina yang tadinya menutup-nutupi apa yang ia alami bersama Sofian akhirnya mau juga menceritakannya. Yah meskipun tidak semua tapi paling tidak Dina sudah mau bercerita kepada Winda. Dengan ekspresi wajah malu dan sedikit berbelit-belit Dina bercerita.
"Jadi gini lho mba Win, kemarin kan supir-supir angkot pada demo kan! Nah aku nggak tahu soal itu, jadi pas pulang sekolah kan aku nungguin angkot tuh di tempat biasa, karna nggak tahu kalau supirnya pada berangkat demo jadi ya kayak orang ilang deh di pinggir jalan sendirian nungguin anggkot yang nggak mungkin lewat. Hmmm, sampai kepanasan gitu mbak, mana lama lagi aku nunggunya. Apa nggak nyebelin tu mbak m? Pasti sebel kannn? Nah, tiba-tiba datang deh Sofian nyamperin aku, awalnya sih aku cuek-cuek aja, yah paling orang mau nunggu angkot juga atau gimana gitu, sempet kaget juga sih, orang tahu-tahu dia udah disebelah aku."
"Terus gimana?" Ujar Winda penasaran.
"Ya nggak gimana-gimana! Hehehe..." jawab Dina cengengesan penuh rasa malu untuk melanjutkan ceritanya.
"Ya maksudnya gimana kok bisa sampai dianterin?" Tanya Winda sedikit memaksa Dina melanjudkan bercerita.
"Ahhh mbak Winda, malu ahhh!"
"Yahhh masa cuma gitu doang, mending nggak usah cerita deh! Kaya makan bakso nggak pakai sambel aja, nggak seger tahu!" Ujar Winda agak sebel mendengarkan Dina yang berbelit- belit dalam bercerita.
"Iya deh aku lanjutin. Oke, kan dia udah di sebelahku tuh, trus dia nanya ke aku gini,
(Lagi nungguin angkot ya dik?) Iya mas kataku, (sendirian aja, nggak ada temen ya dik?) Iya mas jawabku lagi, habis itu aku ngomong ke dia kalau anggkot sepi, gitu mbak win! Terus Sofian ngasih tahu aku deh kalau supirnya lagi pada demo. Kalau dia nggak ngasih tau, aku juga nggak tahu kalau supirnya lagi pada demo. Mungkin kasihan sama aku kali ya mbak? Liat aku takut nggak bisa pulang terus dia nawarin mau nganter pulang. Ya aku mau, dari pada nggak bisa pulang! Nah pas mau pulang, eh dia nawarin minum kelapa muda dulu, di warung deket taman itu lho mbak Win. Tahu kan?"
"Iya aku tau!" Jawab Winda.
"Sambil minum terus kita kenalan sambil ngobrol gitu, eh si bapak yang jual malah ngira aku sama dia pacaran. Apa nggak lucu si bapak itu, orang ketemu juga barusan kok dibilang pacaran hahahaha" Sambung Dina sembari tertawa mengingat kejadian itu.
"Lhahhh... terus?" Ujar Winda meminta Dina melanjutkan ceritanya.
" ya udah, terus nganterin aku! nyampai rumah aku ajak masuk dulu dia, terus ya ngobrol bentar tanya -tanya gitu!"
"Bentar apa lama?" Ucap Winda menggoda.
"Cuma bentar kok mbakkk!" Jawab Dina malu-malu.
__ADS_1
"Bentar kok sampai bikin kamu aneh gini!"
"Aneh ginama mbak win? Biasa aja ah."
"Orang kamu aja kelihatan malu-malu gitu kok bilang biasa!" Ucap Winda berusaha membuat Dina mengaku.
"Iya sih, emang agak lama, tapi ya nggak ngapa-ngapain kok, cuma ngobrol aja." Dina mengaku juga.
"Iya aku tahu, tapi kamu seneng kannn...?" Kata Winda.
"Entah ya mbak, tapi kalau orangnya sih ganteng, baik, ramah tapi juga lucu."
"Idihhh kasmaran nih anak!" Celoteh Winda.
"Ih enak aja, kasmaran gimana? Orang juga baru kenal."
"Udah dehhh lihat aja nanti!"
"Ah tahu ah, mbak Win ada-ada aja."
Tiba-tiba handphone Dina berbunyi "bib bib bib" nada dering sms kesukaan Dina berbunyi, mendengarnya Dinapun segera membukanya "ah yang benar saja, dia tahu kalau aku lagi pegang hp" gumam Dina dalam hati. Sebuah nomer ber ujung 688 yang berarti itu nomer Sofian. Sambil tersenyun Dina membaca sms Sofian.
"Hai, udah pulang belum nih, Aku jemput ya? Lagi bosen ni sendirian nggak ada kegiatan!"
"Aku lagi di rumah kok mas, hari ini nggak masuk sekolah!" Balas Dina.
"Lho emang kenapa, demam ya dik?" Tanya Sofian membalas kembali.
"Nggak mas, aku nggak papa kok, emang lagi libur aja mas!"
"Oh ya udah, aku kira demam. Jalan yuk Din?"
__ADS_1
Dina tak membalasnya, dia bangun dari tempat tidurnya dan berlari kecil menuju rumah Winda. "Mbak, mbak Winda, tidur ya? Mbak gimana nih?" Dina berteriak-teriak sambil nyelonong masuk mencari Winda di kamarnya.
"Ada apaan sih Din, kenceng banget ngomongnya" sahut Winda heran sama Dina yang terlihat senyum-senyum nggak jelas.
"Gimana nih, aku di ajak jalan nih sama Sofian !" Kata Dina sembari menyodorkan handphonenya memperlihatkan sms Sofian pada Winda. Windapun segera mengambil hp dari tangan Dina dan segera membacanya. Tak hanya satu sms saja yang Winda baca, dia juga menekan tombol naik turun untuk membaca beberapa sms Sofian, yang memang sengaja tidak dihapus Dina, agar Dina bisa membacanya lagi berulang-ulang. Winda membaca dan memahami isi sms itu, Windapun tertawa cekikikan.
"Hahahahha, ooo ini to yang bikin kamu kegirangan, senyum-senyum sendiri kaya orang gendheng! Din... din..." celoteh Winda sembari membaca.
Dina terlihat malu dan berbicara "ahhh mbak Win, satu itu aja jangan dibaca semua dong!"
"Kenapa, malu ya? Katanya nggak naksir kenapa malu, hahaha asmara ni yeee." ujar Winda tertawa dan mengejek Dina.
"Sini ah, malu tahu! Awas kalo sampai ngomong-ngomong ke orang." Dina malu banget dan mengambil hp-nya dari tangan Winda.
"Iya deh iya... nggak bakal aku bocorin ke orang, tenang aja. Ya udah sono pergi sama cowok idamanmu itu hahaha...! Udah sana aku mau tidur nih!" Tegas Winda meyakinkan tidak akan cerita pada orang lain.
"Beneran ni mbak, terima nggak ajakan Sofian?" Tanya Dina meminta pendapat Winda.
"Ya kalau naksir ya terima aja. Kalau enggak terserah kamu aja deh, udah aku mau tidur, ntar mau kerja." Winda memberikan sarannya.
"Makasih ya, aku pulang dulu hehe...!"
Sembari berjalan pulang Dina mengetik membalas sms Sofian. "Jalan kemana?"
"Ya kemana aja yang penting seneng." Balas Sofian.
"Jam berapa mas?"
"Tunggu aja, ntar aku jemput kerumah, buruan mandi biar wangi ya hehehe!" Balas Sofian.
"Iya aku tunggu, ya dah aku mandi dulu."
__ADS_1
Dina segera bersiap-siap membersihkan diri dan menunggu Sofian datang menjemputnya. Berharap Sofian akan mengajaknya ketempat yang menyenangkan dan bisa bercanda tertawa bersama seperti hari sebelumnya.
*****