Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Curhat


__ADS_3

Rutinitas harian yang tak begitu melelahkan bagi Dina dan Doni. Toko yang masih baru dan belum banyak pelanggan tidak begitu menguras tenaga mereka. Otomatis mrnyisakan banyak energi untuk sekedar berbincang-bincang mengisi waktu di sore dan malam hari.


Pukul 07 : 15 petang selepas isya, Dina berbaring di kasur lantai . Terdiam melamun dan teringat masa-masa bersama Sofian. Senyum, canda, tawa Sofian seakan masih begitu jelas. Tanpa sadar Dina pun meneteskan air matanya mengenang semua itu. Tiba-tiba lamunan Dina buyar seketika saat mendengar suara Doni menyanyikan lagu dengan gitarnya tepat di balik dinding kamar Dina.


"Tak perlu kau tahu.


Tak perlu kau tanya.


Aku tak memintamu untuk memahai.


Tak perlu kau tahu.


Tak perlu kau mengerti.


Lakukan saja apa yang buatmu bahagia.


Biarlah saja aku sebagai penikmat bahagiamu.


Nana...nana... du du du..."


Begitu beberapa syair yang Dina dengar. Mendengar Doni bernyanyi Dina sejenak mencoba menikmati nada dan syair yang Doni lantunkan.


"Wisss... nih anak enak juga suaranya. Nggak nyangka dia bisa juga nyanyi." Dina berkata-kata dalam hati. Rasa ingin menikmati lagi lantunan lagu yang di nyanyikan Doni, Dina beranjak dari posisinya dan berjalan mendatangi Doni.


"Don... aku masuk ya?"


"Ohhh kamu, masuk aja Din!" Ucap Doni sembari berjalan keluar dari kamar, menutup pintu kamar dan menenteng gitar berjalan ke tikar yang ada di ruang tamu.


"Barusan lagunya siapa Don? Kok aku baru denger."


"Maksudnya?" Tanya Doni agak bingung dengan pertanyaan Dina.


"Yang barusan kamu nyanyi itu?"


"Ooo lagu kebangsaan Din hehehe..."


"Ah ngaco kamu Don, kebangsaan orang patah hati kali?"


"Hahaha... nggak juga. Sini duduk Din! Masa berdiri gitu, entar dikira aku nggak mempersilahkan lagi."

__ADS_1


"Jujur ya Don, lagunya enak juga kok. Terus kamu nyanyinya juga enak suaranya. Emang lagu siapa sih Don?"


"Mau tahu aja, apa mau tahu banget?"


"Beneran nih, siapa sih penyanyinya? Lagu baru ya?"


"Udah lama kok Din, kamu nggak pernah denger itu masalahnya yang tahu lagu ini ya emang cuma aku."


"Maksudnya ini lagu ciptaan kamu sendiri gitu? Wihhh... kreatif juga ternyata kamu Don, pasti lagunya buat seseorang ya?"


"Nggak tahu juga Din. Tiap mainin gitar nggak tau kenapa, tiba-tiba seneng aja mainin lagu itu. Emang iya sih, awalnya pas lagi inget sama seseorang coba-coba deh iseng bikin gitu. Eh nggak tahunya malah jadi lagu kebangsaan deh hehehehe..."


"Emang siapa seseorang itu Don? Sepesial banget ya?"


"Iya Din. Dia seseorang yang nggak pernah tahu kalau sebenernya aku suka sama dia."


"Kamu nggak pernah bilang sih ke cewek itu kalau kamu suka!"


"Nggak ah, biar aku aja yang tahu. Kamu kan tau sendiri semua masa laluku. Yang ada kalau aku bilang ke Dia malah dia jadi jijik sama aku. Ya aku kan sadar Din siapa aku. Aku nggak pantas buat dia. Jadi ya mending dia nggak usah tahu, liat dia seneng juga aku udah ikut seneng kok."


"Entahlah, aku nggak ngerti dengan apa yang kamu jalani, buat aku kamu terlalau rumit dipahami Don. Tapi ngomong-ngomong emang udah lama suka sama tu cewek?"


"Nah itu yang aku sendiri juga nggak tahu, awalnya sih cinta-cintaan ala anak bau kencur gitu, cinta monyet hhahaha..., tapi nggak tahu juga kok bisa kebawa sampai sekarang?" Celoteh Doni.


"Nggak Din, siapa juga yang mau sama gembel kayak aku gini. Dilirik juga enggak kali Din."


"Kalau aku sih pernah sekali Don. Ya yang aku ceritain kemarin sampai aku bisa ketemu bu Ratna. Tapi kadang hidup ini terasa nggak adil ya Don? Baru sekali aku suka sama seseorang, pacaran juga baru sebentar. Tapi mau nggak mau aku harus kehilangan dia. Aku kangennnn banget sama almarhum pacarku Don." Dina sedikit curhat sama Doni.


"Din, hidup ini penuh dengan keadilan Tuhan kok. Kitanya aja yang sering ngerasa nggak adil. Hidup emang gitu, apa yang kita inginkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan inginkan untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap buruk ternyata itu adalah yang terbaik untuk kita. Yang jelas Tuhan lebih tau apa yang pantas buat kita. Ya jalani aja hidup ini dengan ikhlas biar nikmatnya juga ketemu!"


"Idih Doni, sekarang udah mulai pinter nasehatin ya? Aku makin heran sama perubahan kamu Don."


"Biasa aja kali!" Sahut Doni.


"Eh, tapi masa iya sih kamu nggak pernah punya pacar?"


"Iya, emang kenapa? Bentar ya aku ambil rokok dulu." Ucap Doni sambil berjalan ke kamar. Doni nembuka pintu dan menutup kembali dengan cepat. Takut Dina akan melihat keseluruhan isi kamarnya. Kemudin Doni kembli keluar dan membuka menetup pintu dengan cepat.


"Gleggg..." suara pintu kamar Doni, menimbukkan rasa penasaran pada Dina.

__ADS_1


"Don perasaan kamarmu nggak pernah kebuka pintunya! Kebanyakan tabungan ya? Takut di curi orang hehehe..."


"Nggak juga sih Din, cuma berantakan! Kan malu kalau dilihat orang hehehe..." jawab Doni menutupi sesuatu dari Dina.


"Dasar cowok..., kebiasaan malas beres-beres." Celoteh Dina.


"Terus yang tadi gimana lanjutnya? Katanya beneran nggak pernah pacaran? Terus kapan kamu nyari pacar, emang kamu nggak pingin nantinya hidup berkeluarga?" Tanya Dina yang semakin ingin tahu lebih jauh tentang Doni.


"Aku nggak nyari pacar, tapi langsung nyari istri hahaha..." jawab Doni bercanda.


"Ah bercanda kamu Don."


"Ya emang bercanda, tapi juga serius, hahaha..."


"Serius dong jawabnya!"


"Iya deh aku serius, jadi gini lho Din, kalau aku cari pacar pastinya kan tu cewek juga harus suka dong sama aku. Kalau enggak kan mana dia mau jadi pacar aku? Terus sekarang emang ada cewek yang suka sama cowok model begini, nggak ada kannnn...? Nah kalau aku cari istri, aku cari cewek yang siap nerima aku apa adanya bukannya yang suka sama aku."


"Maksudnya Don?"


"Ya kalau dia bisa nerima aku, biar nggak ada cinta tapi suatu saat dengan terbiasa hidup bareng aku dia pasti cinta juga sama aku. Ya intinya siapa yang mau jadi ibu dari anak-anakku nanti." Jelas Doni.


"Terus gimana dengan cewek yang kamu taksir sekarang? Masa mau kamu biarin aja? Emang kamu nggak mau coba dulu gitu nanya ke dia?"


"Nggak ah Din, aku akan tetep mencintai dia tanpa harus dia tau. Soal sampai kapan akan seperti itu, aku sendiri juga nggak tahu."


"Terus kalau kamu udah nikah sama orang lain, masa iya kamu juga masih suka sama tuh cewek."


"Ya kalau emang sampai aku sudah menikah masih juga suka sama dia ya mau di apain. Toh cinta nggak hinggap di satu hati aja kan. Yang terpenting kan aku harus bisa memilah antara tanggung jawab sama keluarga dengan perasaan pribadiku. Dan yang pasti keluarga tentu lebih penting dari pada kepentinganku pribadi. Mencintai orang lain bukan berarti mengkhianati Din, dan mencintai seseorang bukan berarti harus menjalin hubungan dengan orang itu juga kan? Katanya cinta nggak mesti memiliki... ya kannn...?" Jawab Doni menjelaskan.


"Tapi nggak ada salahnya juga kan Don nyoba bilang ke cewek itu? Ya siapa tahu dia bisa terima kamu."


"Nggak ah, yaaa... setiap orang pasti juga pingin bisa hidup bareng sama yang dicintai, termasuk aku juga. Tapi aku tahu, aku nggak pantas buat dia. Lagian aku tulus bukannya terobsesi kok sama dia. Jadi tanpa memiliki dia seutuhnya tapi sesungguhnya hatiku memilikinya."


"Itu artinya kamu lebih memilih cinta dalam diam gitu?" Tanya Dina heran dengan pemikiran Doni. Dina tak menyangka Doni yang dia tahu selama ini penuh dengan pandangan negatif ternyata sekarang sangat dewasa dan bijaksana menyikapi kenyataan.


"Aku nggak bisa ngebayangin Don andai aku di posisimu. Aku salut sama kamu!"


Dina dan Doni semakin dekat. Seiring berjalannya waktu dan rutinitas harian mereka di toko bu Ratna yang semakin ramai pelanggan, mereka jadi lebih sering mengisi waktu bersama di sore dan malam hari. Meskipun mereka tidak satu tempat, tapi untuk urusan memasak, sarapan, makan malam,sholat berjamaah dan menunggu kantuk, mereka lakukan bersama-sama layaknya adik dan kakak. Hanya saja untuk urusan kamar Doni, Dina tak sekalipun ikut campur. Bahkan sekedar melihat ke dalam kamar Doni pun tak pernah ia lakukan.

__ADS_1


Semua hal itu berbulan-bulan mereka jalani tanpa jemu. Sikap Doni yang kocak semakin membuat Dina betah di kontrakan. Terlebih lagi Doni selalu setia mendengar curahan hati Dina dan sesekali Doni pun selalu siap mengantarkan Dina menemui ibunya di kampung.


*****


__ADS_2