Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Hari pertama di kontrakan


__ADS_3

Suasana baru, rutinitas baru dan harapan baru. Dina mulai mengemas semua keperluannya yang di butuhkan untuk tinggal di kontrakan nantinya. Dengan semangatnya ia berusaha memulai semua hal baru tanpa kekasihnya, Sofian! Banyaknya perlengkapan yang ia butuhkan selama di kontrakan, Tentu Dina tidak mampu membawanya seorang diri, Dina pun akhirnya meminta bantuan dari Winda.


"Met pagi..., mbak... mbak Winda!" Suara lantang Dina memanggil Winda.


"Ada apa Din? Semangat banget kayaknya pagi ini kamu Din." Ucap Winda sembari menghampiri Dina.


"Hehehe..., boleh minta tolong nggak?"


"Boleh, emang apaan?"


"Belum tahu ya? Aku dapet kerjaan baru mbak. Pagi ini aku mau bawa barang-barangku kesana. Anterin ya!"


"Iya bisa, emang kerja dimana? Kok bawa-bawa perlengkapan menginap segala?"


"Di toko busana mbak. Di sana disewain rumah sama juragannya. Kan lumayan nggak perlu ngeluarin ongkos untuk pulang pergi."


"Ooo... ya udah, aku siap-siap dulu ya." Kata Winda bersedia membantu.


Mereka kemudian berangkat ke toko busana milik bu Ratna. Dengan bawaan Dina yang lumayan banyak dan cukup merepotkan, sebagian ia taruh di bagian depan, sebagian digendong oleh Dina dengan tas ranselnya dan sebagian lagi Dina menentengnya. Karena bawaan yang lumayan banyak sesekali mereka berhenti bergantian posisi agar tidak kecapekan.


*****


"Stop... stop mbak, udah sampai nih!" Dina meminta pada Winda untuk berhenti.


"Beneran ini Din?"


"Iya, yuk turun. Tu kontrakannya di seberang jalan. Bentar ya aku nemuin bosnya dulu. Kemudian Dina berjalan masuk ke toko dan menemui bu Ratna.


"Maaf bu saya terlambat. Tadi ngemas pakaian dulu jadi kesiangan berangkatnya."


"Nggak papa Din, terus mana pakaianmu?"


"Itu di depan, masih di motor bu."


"Ooo ya udah sana suruh bantuin Doni."


Kemudian Dina keluar toko dan meminta Doni untuk membantunya mengangkat barang-barangnya. Setelah ada Doni yang membantu akhirnya Winda berpamitan untuk pulang. Selesai dengan urusan barang-barangnya Dina dan Dina pun kembali ke toko dan memulai pekerjaannya.


Maklum, karena toko busana milik bu Ratna masih baru sebulan jadi belum banyak pelanggan. Dina dan Doni lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengobrol. Bahkan terkadang bu Ratna juga ikut nimbrung mengobrol dengan mereka. Meskipun bu Ratna jauh lebih tua dari mereka tapi bu Ratna sangat pandai bergaul hingga apa yang Dina dan Doni bicarakan beliau juga bisa nyambung.


Seraya mengobrol, bu Ratna sesekali menyelipkan nasehat untuk Dina dan Doni. Saking asiknya menikmati suasana obrolan mereka sampai tak terasa waktupun sudah mendekati pukul 04 : 00 sore. Seperti biasanya, Doni pun mulai membereskan bekas acakan beberapa pelanggan yang tak begitu banyak. Dina membantunya, sedang bu Ratna membukukan omset hariannya. Begitu selesai mereka menutup toko dan beristirahat di kontrakan. Sedangkan bu Ratna langsung pulang.


*****


Hari pertama bagi Dina tinggal di kontrakan. Seumur-umur dia tak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur di kontrakan yang terasa masih asing baginya. Sambil menunggu gelap Dina luangkan waktu sorenya untuk main sebentar ke kontrakan Doni yang hanya berbatasan dinding tembok dengan kontrakannya.


"Srekkk... srekkk... srekkk" suara langkah kaki Dina melangkah pada teras depan kamar Doni. Membuka mulut ingin berkata, al hasil Dina hanya menganga terbuka mulutnya dan tak bersuara ketika ia melihat dari balik kaca jendela Doni sedang sholat. Dina menghentikan langkah dan duduk di bangku yang ada di teras kamar Doni. Tidak ingin mengusik konsentrasi Doni Dina hanya diam tak bersuara, ia hanya memandangi Doni yang sedang sholat dari balik jendela.


Dalam hati Dina seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya, "ah masa iya Doni setekun itu? Atau jangan-jangan dia hanya cari simpati aja dari aku? Hummmm dasar Doni. Badung ya badung aja Don, nggak usah sok alim lah!" Celoteh Dina dalam hati.


"Ehemmm..." Dina pura-pura dehem berniat agar Doni mengetahui keberadaannya.


Beberapa menit tampak Doni sudah melakukan salam gerakan penutup sholat. Mendengar suara dehem Dina ketika pertengahan sholatnya Doni pun menoleh arah pintu dan jendela.


"Eh kamu Din, sini masuk!"

__ADS_1


"Hehe.. sorry ganggu! Kamu jadi nggak konsen sholatnya."


"Nggak papa kok Din. Kamu udah lama? Ada apa nih, ada yang perlu di bantu?"


"Nggak juga sih. Nggak ada apa-apa kok Don, cuma main aja."


"Ooo..., ya udah sini duduk."


"Don kamu tekun juga ya ibadahnya?"


"Cuma ngejalanin kewajiban aja kok Din. Masalah tekun nggak tekun itu sih terserah penilaian orang aja, kalau aku sendiri sih nggak butuh penilaian dari siapapun. Terserah orang mau bilang apa? Yang penting niatku ibadah ya ibadah aja, peduli amat sama penilaian orang."


"Maksudnya?" Tanya Dina inginkan penjelasan yang lebih jelas.


"Ya kalau mau ibadah niatin aja ibadah, nggak perlu harus mengharap dianggap orang yang tekun. Ibadah urusannya kan sama yang Maha Kuasa, jadi ya ngapain ngurusin penilaian orang terhadap kita, toh nggak penting juga, lagian yang benar-benar tahu juga Allah. Ya kannn?"


"Berarti kalau aku nilai kamu sebagai orang yang tekun ibadah kamu juga nggak perduli dong?"


"Yaaa... nggak gitu juga sih. Emmm gimana yaaa..? Udah ah nggak usah di bahas, nggak penting juga. Eh kamu udah ada buat makan malam apa belum Din?"


"Belum ada sih Don, beli nasi bungkus aja apa ya?"


"Nggak usah Din, makan di sini aja. Aku tadi pagi masak banyak kok. Kita makan bareng aja!"


"Kenapa masaknya banyak? Kan kamu cuma sendiri?"


"Kan aku tahu kamu pasti belum kepikir persiapan makan hehehe..."


"Ah kamu sok tahu!"


"Tapi emang bener kannn...?"


"Nasi tadi pagi nggak papa ya? Maklum Din cuma sendirian, jadi kalau masak sekalian buat sehari. Itu aja sering nggak habis, tau sendiri kannn... kalau siang makan di beliin sama bu Ratna?"


"Hehe iya Don, bu Ratna baik banget ya? Kamu juga baik!"


"Wah nyolu nih?"


"Enggak Don, kamu emang baik kok. Tapi aku heran, kenapa kamu dulu bisa bandel banget gitu sih?"


"Yahhh... namanya juga perjalanan hidup Din."


"Jujur ya Don, sebenernya dulu aku tu nggak ada seneng-senengnya sama kamu. Habisnya kamu nakal banget tau nggak? Terus habis itu, sekitar dua tahunan lalu aku juga sering denger omongan tetangga juga temen-temen sekampungmu bilang katanya kamu sukanya mabuk-mabukan, kamu juga pemakai narkoba, suka inilah suka itulah, kan aku malah jadi semakin berpikir negatif sama kamu. Tapi emang bener ya dulu kamu gitu?" Dina mengatakan penilaiannya pada Doni beberapa tahun lalu.


"Iya, terus kenapa? Ahaaaa..., diem-diem dulu kamu merhatiin aku ya? Hayooo ngaku! Hahaha..."


"Yeee... Ge Er...! Ya nggak apa-apa sih Don! Cuma aneh aja gitu, kan dulu aku sering dengar yang negatif tentang kamu, tapi sekarang yang aku lihat malah sebaliknya."


"Terus kamu nggak percaya sama yang kamu lihat sekarang gitu maksudnya?"


"Yaaa... nggak gitu juga kali Don!"


"Nggak percaya juga nggak apa-apa kok Din. Itu kan Hak kamu mau percaya atau enggak itu terserah kamu."


"Kamu aneh deh Don, emang kamu sama sekali nggak pernah perduli sama anggapan orang lain ke kamu? Tanya dina heran dan penasaran dengan sikap dingin dan cara berpikir Doni.

__ADS_1


"Kan udah aku bilang, orang mau menilai aku bagaimana itu terserah mereka, itu hak mereka. Kalaupun kamu mau menilaiku seperti apapun itu juga terserah kamu, itu hak kamu."


"Aku masih bingung deh sama kamu Don. Di mana-mana orang di jelek-jelekin pasti sakit hati, pasti marah, orang disanjung juga pasti seneng, gembira. Lhah ini kamu malah cuma datar aja, seolah-olah nggak ada apa-apa."


"Hehehe, kan orang beda-beda Din. Ya kebetulan aja aku beda sama mereka. Kalaupun aku disanjung-sanjung nyatanya juga nggak bikin aku kenyang, terus dari pada aku ngerasain sakit hati kan mending ngerasain bakso! Ya nggak? Udah ah, ngapain sih ngurusin penilaian orang lain? Nggak ada untungnya juga. Mending kita makan aja yuk! Nggak usah nunggu malam deh, kelamaan, udah laper nihhh..."


"Doni Doni, kamu aneh. Aku masih nggak ngerti sama kamu."


"Udah nggak usah dipikirrr...! Nanti juga ngerti sendiri." Ucap Doni santai, seakan tak perduli dengan rasa penasaran Dina pada dirinya.


"Dasar aneh!" Ucap Dina pelan.


"Tuuu kan, udah nggak usah mikirin cara hidup aku, nanti pusing sendiri lhooo...! Awas aja nanti kalau...!"


"Kalu apa Don?" Dina makin penasaran.


"Kalau jatuh hati sama aku! Hahaha..." jawab Doni bercanda.


"Ah kamu mulai nggak waras Don!"


"Hahaha... ya biarin nggak waras juga. Udah ah ayo makan dulu!"


Merekapun mengambil piring dan nasi beserta lauk pauknya lalu makan bersama. Sambil makan Dina memperhatikan Doni yang sedang makan, Dina heran dengan Doni yang sekarang dan berkata-kata dalam hati penuh tanya.


"Nih orang kayak nggak punya beban hidup aja? Aneh nggak seperti orang lain pada umumnya. Doni-Doni...!"


"Ayo Din, nasinya masih banyak nih! Jangan di anggurin, habisin aja." Sontak perhatian Dina buyar mendengar Doni bicara.


"Hu um Don." Sahut Dina.


Dina dan Doni melanjutkan makan hingga habis nasi dan lauknya. Mereka membersihkan piring dan lain-lain dan melanjutkan mengobrol. Suasana baru yang aneh bagi Dina. Bersama Doni yang agak berbeda dengan yang lainnya menurut Dina, membuat Dina semakin penasaran dengan kepribadian Doni. Untuk beberapa saat ke anehan Doni menyita ruang Sofian dalam ingatan Dina. Meskipun aneh dan bikin penasaran tapi Doni cukup menghibur Dina.


"Alhamdulillah...!" Ucap Doni bersyukur, rasa laparnya sudah hilang.


"Masakanmu enak juga ya Don?"


"Masa iya Din?"


"Iya beneran, siapa yang ngajarin kamu masak Don?"


"Bu Ratna, kalau pas lagi kerja aku suka tanya bumbu-bumbu masakan sama bu Ratna."


"Aku salut deh sama kamu."


"Nggak usah nyolu ah, biasa aja. Eh... besok kalau mau makan kita masak bareng aja. Kamu kan nggak ada kompor, dari pada beli mending kita masaknya jadi satu aja."


"Iya Don makasih. Aku jadi keseringan ngerepotin kamu, maaf ya! Besok aku bantu beli berasnya ya?" Ujar Dina.


"Ehhh... nggak usah, itu beras masih banyak kok. Duitmu kamu tabung aja."


"Ya nggak bisa gitu dong! Masa apa-apa dari kamu semua. Kan kita sama-sama, ya apa-apa juga harus gantian dong."


"Udah nggak usah dipikirin, lagian aku kerja juga cuma buat sendiri. Kalu cuma makan aja gajiku juga lebih-lebih kok Din. Kamu tenang aja!" Ucap Doni sembari menyalakan sebatang rokok yang ada di antara dua jarinya.


"Ah tahu ah, bingung ngomong sama kamu." Ucap Dina sebel, setiap pertanyaannya dijawab Doni dengan jawaban yang susah dibantah.

__ADS_1


"Sorry, bukan ngusir tapi udah waktunya mau maghrib. Sana mandi! Aku juga mau mandi. Ucap Doni sembari duduk dan menghisap rokoknya.


*****


__ADS_2