Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Cemburu


__ADS_3

Hari memang baru menjelang siang, tapi karena sudah tak lagi ada kegiatan di sekolah siswa-siswipun dipulangkan.


Dina melangkah pulang, sesampainya di pintu gerbang hp-nya berdering. Ia pun segera mengambil hp di dalam tas hitamnya dan membuka notifikasi pesan yang Sofian kirimkan untuknya "dah pulang apa belum dek, aku jemput ya?" Isi pesan singkat sofian.


Dina tak mau berlama-lama dan langsung membalas sms Sofian "udah mas, ini baru di gerbang sekolah!" Dina memasukkan kembali hp-nya ke dalam tas, lalu Dina berlari kecil mengejar Erin yang berjalan lebih dulu di depannya.


"Rin tunggu!" Ucap Dina memanggil Erin.


Erin menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya, menunggu Dina yang tak begitu jauh berlari menghampirinya.


"Kok aku ditinggallin, nyelonong gitu aja sihhhh...!" Kata Dina.


"Kamunya asyik sama hp gitu kok. Aku barengin juga paling kamu cuekin, ya nggak?" Ucap Erin.


"Cemburu sama hp-ku yaaaa, hahaha.."


"Nggak juga, emang sms-an sama kekasih baru ya? Hehehe " kekeh Erin.


Tak lama kemudian hp Dina kembali berdering. Dina pun mengambilnya kembali dari tas hitamnya dan membaca sms yang baru saja masuk.


"Tunggu bentar ya, aku jemput!" Isi sms dari Sofian.


Dina membalas, "oh iya mas, aku tunggu deket pom ya?"


Lalu ia kembali memasukkan hp-nya ke dalam tas.


"Wah makin deket aja nih sama si do'i" celoteh Erin.


"Biarin, emang kamu nggak seneng kalo aku seneng?" Ucap Dina menyambung.


"Eh Din aku duluan ya, tuh kakakku udah nungguin, da Dina..." ucap Erin meninggalkan Dina dan menghampiri kakaknya yang menjemputya.


"Iya Rin, daaaa..."


*****


Tinggal Dina berjalan sendiri tanpa Erin, langkah Dina berhenti, di bawah sebuah pohon yang rindang dekat pom bensin, ia duduk di sebuah bangku menunggu Sofian. Dina tampak begitu bahagia, sebab ini pertama kalinya ia pulang sekolah dijemput pacar, pacar baru yang baru beberapa hari lalu. Ia terus menghadap pertigaan jalan gang masuk arah sekolahnya, sembari mengayunkan kakinya yang bergelantung.


Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu Dina datang juga. Sofian berjaket abu-abu yang berkendara motor bebek dan mengenakan helm merah menghampirinya yang masih terduduk di bawah pohon. Dina tersenyum, bersikap manja menyambut kedatangan Sofian.


"Hai, maaf ya jadi lama nunggunya?" Sapa Sofian sembari meminta maaf.


"Nggak papa kok mas, cuma 10 menit aja" kata Dina menjawab sapaan Sofian.


"Mau buru-buru pulang apa mau minum dulu?" Tanya Sofian.


"Terserah mas Fian aja lah, lagian di rumah aku juga ngganggur! Jawab Dina menyerah dan berharap Sofian akan mengajaknya ke suatu tempat.


"Kita minum dulu di tempat kemarin lusa ya?"

__ADS_1


"He,em boleh lah, yuk" ucap Dina bersemangat.


Sofian memutar motornya dan Dina segera membonceng. Mereka menuju taman kota tempat dimana penjual es kelapa muda yang beberapa hari yang lalu mereka datangi. Sofian mengajak Dina ke warung kelapa muda itu selain murah penjualnya juga ramah. Tak butuh waktu lama, tak sampai lima menit mereka sudah sampai di taman kerna memang hanya beberapa puluh meter saja dari tempat mereka berada tadi. Mereka berhenti dan memakirkan motornya di tempat yang teduh. Dina segera turun dan menunggu Sofian yang masih membuka helmnya. Kemudian mereka berjalan menuju penjual es kelapa muda itu.


"Siang pak." sapa Sofian pada bapak penjualnya.


"Siang! mas yang kemarin ya?" Tanya bapak penjual.


"Hehehe iya pak, masih inget aja si bapak. Es kelapanya 2 ya pak" Sofian memesan.


"Iya mas, bentar ya!" Jawab bapak yang langsung membuatkannya.


"Kami tunggu di tempat duduk deket ayunan ya" kata Sofian sembari menunjuk bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Dina dan Sofian melangkah ketempat duduk itu dan menunggu es kelapa pesanannya. Sofian duduk di bangku sedangkan Dina duduk di ayunan dekat Sofian duduk.


"Mas Fian, sini!" Dina meminta Sofian untuk menemaninya di ayunan.


"He em, aku ayun ya?"


"Nggak usah, duduk aja sini samping aku". Pinta Dina.


Sofian beranjak dari tempat duduknya dan menemani Dina. Mereka duduk di ayunan berdampingan dan mengayun pelan ayunan dengan kaki. Mereka bergurau dan tertawa bahagia layaknya orang pacaran pada umumnya.


"Ini mas minumnya, ditaruh di mana ni? Kata pak penjualnya mengantarkan kelapa mudanya.


"Oh iya pak, biar di bangku situ aja pak..." sahut Sofian.


Sofian turun dari ayunan dan mengambil minumannya, ia bawakan juga minumannya untuk Dina yang masih duduk di ayunan. Mereka kembali duduk berdampingan sembari meminum es kelapa muda yang sudah di sertai dengan sedotan. Setelah beberapa kali menyedot minumannya Dina menawarkan pada Sofian untuk mencoba minumannya yang menurutnya lebih manis dari yang ia minum beberapa hari lalu.


"Mas coba deh punyaku, manis loh" kata Dina menawarkan.


"Emang boleh?" Jawab Sofian bertanya.


"Ya boleh kenapa enggak? Nih coba!"


"Sini aku cobain!" Kata Sofian berlanjut menghisap sedotan pada minuman Dina.


"Gimana, manis kan?" Ucap Dina.


"He em lebih manis dari punyaku dik, apalagi sedotannya bekas bibir kamu, jadi tambah berasa manisnya hehehe" canda Sofian.


"Hahaha... berasa sampe ke hati ya mas?"


"Iya hehehe" ucap Sofian terkekeh.


"Mas Fian bercanda terus ah!" ucap Dina.


"Ya nggak papa dong, barang sama pacar sendiri, dari pada cuma manyun, kan nggak enak dilihat orang, entar dikira berantem!"

__ADS_1


"Iya sih, tapi masa nggak ada seriusnya sama sekali?"


"Oooo, jadi Dina lagi mau yang serius hehehe?"


"Mas Fian, apa sih yang bikin mas suka sama aku? Sampe kita jadian gini, kan kita juga blum lama kenal. Jujur ya mas, sebelumnya aku sempat berfikir, mas Fian paling cuma mau main-main sama aku. Yaaa... ngerasa nggak yakin aja dengan waktu sesingkat ini mas bisa suka sama aku!"


"Oke gini ya dik! Aku nggak butuh waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, nggak perlu harus mengenalmu lebih jauh. Jadi nggak usah ditanya kapan dan bagaimana bisa aku suka sama kamu. Karena pertama kali aku lihat kamu aku sudah jatuh cinta sama kamu!" Jelas Sofian meyakinkan.


"Nah, justru itu mas yang bikin aku penasaran, bagaimana bisa terjadi seperti itu?"


"Entah dik, aku nggak bisa jelasin gimana supaya kamu bisa mengerti! Kamu sendiri juga gitu kan? Baru beberapa hari kamu juga suka sama aku."


"Emmm, iya juga sih mas, kok bisa ya?" Ucap Dina penuh kebingungan dengan apa yang terjadi antara dia dan Sofian.


"Hal seperti ini sebelumnya udah pernah juga aku alami, yang kurasakan sama ketika pertama kali aku bertemu dengan Yulli"


"Ooo jadi namanya Yulli?"


"He em dik, mantan pacar hehehe".


"Critain dong mas Yulli orangnya gimana atau apa kek? udah kadung penasaran nih!"


"Entar kamu cemburu kalo aku ceritain."


"Ya nggak papa, ayo dong cerita... !" Pinta Dina penuh penasaran.


"Yulli orangnya agak tinggi, rambutnya panjang. Orangnya baik juga ramah. Hubunganku sama dia juga nggak ada masalah, tapi pas aku kerja keluar kota karena aku waktu itu nggak punya hp jadi ya nggak bisa kirim kabar. Dua bulan aku di luar kota akhirnya aku berinisiatif untuk pulang dan menemui Yulli. Sempet kaget dik, nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebelum aku menemuinya tiba-tiba sahabat dekatku datang memberi tahu kalau Yulli seminggu sebelum kedatanganku telah menikah. Ya aku kecawa kan sama dia! Aku merasa dikhianati Yulli, dia menikah begitu saja tanpa memberiku penjelasan. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan dia. Ah udahlah, itu kan masa lalu. Ngomongin yang lain aja ya?" Sofian sedikit bercerita dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Yulli cantik ya mas? Mas Fian masih cinta ya sama dia?" Tanya Dina.


"Iya dia memang cantik!"


"Masih cinta kan sama Yulli?" Tanya Dina mengejar jawaban.


"Udah ah, inget-inget dia malah bikin sakit hati!"


"Tuh kan bener mas Fian masih cinta sama Yulli, buktinya mas masih sakit hati kalo inget dia?"


"Ya nggak gitu juga sayang!" Ucap Sofian.


"Mas Fian jujur aja mas, semakin terasa sakitnya itu berarti semakin besar cinta mas ke Yulli."


"Udah ah jangan dibahas lagi!" Ucap Sofian.


"Jangan-jangan aku cuma sebagai pelarian saja?" Ucap Dina sedikit cemberut.


"Tuh... kan kamu jadi cemburu. Kan tadi aku dah bilang gak usah dibahas. Dina sayang, kamu nggak sebagai pelarian kok, aku serius sama kamu. Aku cuma pingin lupain masa lalu aja, dan aku cuma cinta sama kamu. Senyum dong jangan cemberut gitu!" Ucap Sofian memanjakan Dina.


Hingga beberapa saat Sofian masih meyakinkan Dina, bahwa dia hanya mencintai Dina dan tidak lagi menyimpan rasa untuk Yulli. Dina masih saja dengan ekspresinya yang cemberut. Mungkin benar apa yang dikatakan Sofian, Dina cemburu, Dina tak ingin ada orang lain yang dicintai Sofian selain dirinya. Melihat Dina yang sudah mulai tidak nyaman dengan suasana ini Sofianpun mengajaknya pulang. Sofian membayar minumannya dan menghampiri Dina yang masih duduk di ayunan. Sofian menggandeng tangan Dina dan menarik pelan untuk beranjak dari ayunan. Dina menurut, namun hanya diam saja. Kemudian Sofian mengantarkanya pulang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Dina di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


*****


__ADS_2