Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Kecelakaan


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, ijazah Dina juga sudah ia dapatkan. Dina gunakan ijazahnya untuk melamar pekerjaan di pabrik makanan ringan yang tak jauh dari wilayahnya bermukim. Upayanya berbuah hasil yang memuaskannya. Meskipun hanya diterima sebagai kariawan kontrak, tapi itu sudah cukup memuaskan Dina. Keinginannya bekerja sudah tercapai. Rutinitas hariannya sudah berubah selama sepekan pertama bekerja. Pagi jam tujuh ia sudah harus ada di pabrik, sore jam empat baru keluar pabrik. Sedangkan Sofian yang belum juga mendapat pekerjaan hanya bisa sesekali mengantar jemput Dina. Surat lamaran kerja Sofian yang ia masukan ke beberapa lowongan kerja belum juga ada yang memberinya panggilan kerja. Hingga akhirnya seorang teman lamanya datang bersilaturohmi dan menawarkan pekerjaan untuknya. Teman lamanya yang bernama Andi itu menawarkan pekerjaan sebagai sales perabot rumah tangga. Dari pada terus-terusan menganggur Sofian pun menerima tawaran itu, ia bisa bekerja sebagai sales perabot sambil menunggu panggilan kerja dari beberapa perusahaan tempat ia melamar pekerjaan.


Walaupun harus meninggalkan Dina untuk sementara waktu, tapi pekerjaan ini sangat membantu. Paling tidak ia bisa mulai menabung sedikit demi sedikit dari penghasilannya. Hal ini ia rasa perlu ia sampaikan kepada Dina sehari sebelum keberangkatannya. Malam pukul 19 : 30 Sofian berangkat ke rumah Dina untuk menyampaikannya. Setelah sampai, dalam keadaan ala kadarnya dengan rambut yang terurai tanpa berdandan Dina menyambut Sofian dan mendengarkan apa yang akan disampaikan Sofian padanya. Karena hari memang sudah malam Sofian pun tak berlama-lama mengulur waktu, karena ia juga harus mempersiapkan semua keperluannya setelah pulang dari rumah Dina. Tanpa basa basi ia pun segera menyampaikan rencana keberangkatannya.


"Dik, aku ada pekerjaan sementara di luar kota. Kamu nggak apa kan aku tinggal sementara waktu? Besok aku berangkat, jadi nggak bisa antar jemput kamu lagi sayang. Nggak papa kan? Dari pada aku nganggur kan lebih baik kerja, lumayan hasilnya bisa disisihkan dikit-dikit di tabungan! Aku janji akan sering-sering kasih kabar, sebulan sekali akan aku usahakan pulang menemuimu."


"Jadi kita nanti bakal jarang ketemu dong?" Sontak mulut Dina menjawab, seakan-akan belum siap jauh-jauh dari Sofian.


"Iya sih dik, tapi mau gimana lagi? Nggak bisa ketemu tiap hari tapi kan masih ada hp. Kita masih bisa hubungan kan!"


"Iya deh Mas, Dina nggak apa-apa kok, soal pulang sebulan sekali nggak usah dipaksakan. Mas juga nggak usah khawatir aku pulang pergi kerja naik apa, lagian mobil antar jemput pabrik juga ada, jadi nggak perlu repot-repot nunggu angkutan kota. Lagian Ibu juga pernah pesen aku jangan terlalu bergantung sama Mas. Iya kan? Mas Fian berangkat kerja aja! Yang penting jaga kesehatan, kalau kerja hati-hati ya! Awas hatinya juga dijaga hehehe...!" Ucap Dina bernada manja mengizinkan dan berusaha menutupi kesedihannya akan ditinggalkan Sofian sementara waktu.


"He em sayang, aku akan jaga hati untukmu." Sofian menjawab dengan sangat lembut, sembari menowel ujung hidung Dina dengan jari telunjuknya dan tersenyum manis menatap bola mata Dina berhadapan dengan jarak dekat sekali.


"Janji sering-sering kasih kabar ya!" Pinta Dina memelas.


"He em Mas janji!" Sahut Sofian.


Suasana malam yang cukup mengharukan buat Dina. Di waktu sebelumnya hampir setiap hari ia bersama Sofian. Tapi mulai besok dan selanjutnya ia harus bisa menahan rindu pada Sofian. Dina juga harus mulai belajar lebih dewasa menyikapi keadaan hubungannya dengan Sofian. Meskipun telah berusaha menyembunyikan kesedihannya tapi akhirnya Dina pun tak mampu membendung rasa sedihnya. Dina baru menyadari bahwa dia meneteskan air mata setelah Sofian mengusap dengan lembut air matanya yang mengalir di pipinya.


"Lhohhhh kok nangis?" Ucap Sofian.


"Emmmhhhhemmm...hiks...hiks..." Dina tak mampu menahan isak tangisnya, ia langsung memeluk Sofian dengan erat.


"Udah dong sayang, nggak usah takut, aku janji aku nggak akan ninggalin kamu, aku nggak akan kepincut wanita lain kok. Udah ya, senyum dong!" Kata Sofian menenangkan Dina.


"Hhhhhmmm hemmmm..." Dina tak bisa berkata-kata, dia hanya menangis pelan di pelukan Sofian. Dia sandarkan kepalanya di dada Sofian dan melingkarkan erat tangannya di pinggang Sofian.


Entah apa yang terjadi dengan Dina. Hatinya terasa berat sekali melepas Sofian pergi merantau keluar kota. Bukan karena Sofian akan ingkar janji atau berpaling pada wanita lain. Tapi kepergian Sofian membuat perasaannya begitu aneh. Membuatnya berat sekali untuk melepaskan Sofian Pergi. Dina merasa seakan-akan kepergian Sofian tidak akan kembali. Namun apa daya, perasaan yang eneh tanpa ada dasar apapun yang bisa ia jadikan alasan untuk mengutarakan membuatnya hanya bisa berdiam diri dan menahan isak tangisnya di pelukan Sofian. Hingga akhirnya Sofian pun melepas pelukan Dina, merenggangkan tubuhnya dari Dina dan memegang ke dua pundak Dina sambil berkata,


"Udah ya, jangan sedih gitu ya sayang! Udah malem aku harus pulang mempersiapkan semua keperluanku nanti. Soalnya besok subuh aku harus sudah berangkat." Sofian berkata dan menatap mata Dina penuh dengan rasa sayang.


"Bentar lagi ya Mas! Aku masih pingin sama kamu, kan besok udah nggak ketemu lagi." Pinta Dina.


"Iya deh bentar lagi juga nggak papa."


Mendengar Sofian mengiyakan permintaannya Dina pun langsung memeluk kembali tubuh Sofian. Untuk lebih menenangkan keadaan Dina Sofian pun membalas pelukan Dina dengan mendekap erat tubuh Dina. Dengan posisi berdiri dan kepala Dina menyandar pada dada Sofian, dengan lemah lembut Dina berkata pada Sofian untuk yang pertama kalinya selama mereka berpacaran,


"Mas boleh nggak minta sesuatu?" Tanya Dina.


"He em dik" sahut Sofian.


"Selama kita pacaran Mas Fian nggak pernah kecup bibirku, boleh nggak Mas kalau aku minta saat ini?" Pinta Dina yang sedikit aneh dalam pendengaran Sofian, karena memang Sofian tak pernah melakukannya pada Dina atau siapapun termasuk Yulli.


Sofian hanya terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa. Ia tak tahu harus bagaimana, mengiyakannya atau menolaknya. Sedangkan Dina yang masih merasa aneh dengan perasaannya yang merasa seakan-akan Sofian tak akan kembali lagi, membuatnya semakin mendesak dirinya sendiri untuk mengulang kembali apa yang dia pertanyakan. Dan entah apa yang membuat Dina sangat menginginkan kecupan itu walaupun itu hanya sekali saja.


"Boleh Mas?" Ucap Dina kembali bertanya berharap Sofian akan melakukan apa yang dia inginkan.


Karena begitu sayang dan cintanya pada Dina dan demi membuat Dina menjadi lebih tenang dan mengikhlaskan kepergiannya keluar kota akhirnya akhirnya Sofian pun menjawab apa yang dipertanyakan Dina.


"Buat kamu boleh sayangku." Ucap Sofian sembari melepas dekapan tangannya dan kemudian memegang kedua pipi Dina, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Dina dengan lembut dan mengecupnya. Tak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja dan Sofian menarik kembali wajahnya menjauh dari wajah Dina.


"Makasih ya mas." Dengan tatapan mata yang polos dan lugu penuh ketulusan Dina memandang wajah Sofian dalam-dalam dan mengucapkan terima kasihnya atas permintaanya yang telah Sofian penuhi.


Jam pada dinding menunjukkan pukul 09 : 05 malam. Sofian yang mengarahkan pandangannya pada jam itu kemudian seketika teringat kalau ia harus segera pulang untuk mempersiapkan keperluannya dan beristirahat. Tanpa berpikir lama Sofian pun berkata berpamitan pada Dina.


"Dina sayang, udah malam! Aku pulang dulu ya? Aku kan harus kemas-kemas dulu, aku juga harus istirahat kan sayang."


"Iya Mas." Sahut Dina singkat menjawabnya.


"Ya udah, jangan sedih terus ya! Mas pulang dulu." Ucap Sofian sembari melepas pelukan dan membalikkan badan melangkah menuju motornya yang terparkir.


"Mas..." ucap Dina.


"Iya, apa lagi say?" Sahut Sofian menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Dina.


Dina tak berkata apapun, ia hanya berjalan mendekati Sofian dan menarik tangannya. Dina kembali memeluk Sofian dan mengecup bibirnya di halaman depan rumahnya. Ia tak perduli lagi dengan orang-orang di sekitar lingkungan rumahnya. Yang Dina tahu hanya bagaimana ia bisa menuangkan segala kerisauan hatinya untuk melepas Sofian.


"Udah ya, aku pulang dulu. Kamu baik-baik di rumah!" Ucap Sofian.


Mendengar ucapan Sofian Dina pun melepas pelukannya dan melangkah mundur. Tak henti-hentinya ia memandangi Sofian yang hingga Sofian menjalankan kendaraannya berlalu pergi.


Rasa takut kehilangan Sofian begitu menyelimuti Dina. Dalam dingin malam matanya terpejam namun ia tetap saja tak bisa tidur, tak sedetikpun ingatannya terlepas dari Sofian. Bayang-bayang Sofian selalu ada mengisi rongga-rongga kesunyian hatinya. Hingga akhirnya Dina pun berkata dalam hati.


"Seandainya aku ada di sampingnya ketika Mas Fian berangkat mungkin aku akan lebih tenang. Tapi siapa yang mau mengantarkanku ketempat mas Fian sepagi itu? Ya Tuhan... betapa bodohnya diriku."


Dina baru menyadari bahwa selama ini ia tak sekalipun tahu dimana alamat Sofian. Kesadarannya akan hal itu Dina semakin memikirkan Sofian. Dalam hati ia terus berkata,


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku, selama ini aku hanya ingin dia mengerti aku dan aku tak sekalipun mencoba mengerti dirinya. Aku terlalu egois, aku hanya memintanya untuk membahagiakanku saja tanpa memikirkan untuk membahagiakannya. Bahkan menanyakan dimana rumah dan keluarganya saja aku tidak pernah. Kekasih macam apa aku ini?"


Dina dipebuhi rasa penyesalan yang kian mendalam. Dia baru menyadari selama ini dia hanya mementingkan dirinya sendiri, dan sebaliknya ia tidak pernah memikirkan tentang kepentingan Sofian. Malam semakin larut dan semakin hening. Keheningan semakin membawa Diba ke dalam rasa sedih dan penyesalannya. Tak ada yang bisa ia perbuat kecuali hanya meneskan air matanya. Hingga tengah malam ia pun terpikir untuk menghubungi Sofian untuk menanyakan alamat rumahnya dan berencana memaksa Winda agar mau mengantarkannya ke rumah Sofian di waktu subuh nanti.


Tangan kanannya meraba-raba mencari hp, di sisi kanan tuhuhnya ia menemukan dan segera menekan salah satu tombol agar menyala layarnya. Ia baru mengetahui ternyata Sofian mengirim pesan satu jam yang lalu. Ia membuka isi pesan Sofian,


"Met tidur, jaga kesehatan ya! Aku sayang kamu."


Membaca pesan singkat itu Dina tersenyum, tidak berlama-lama Dina langsung menelepon Sofian untuk menanyakan alamat rumahnya.

__ADS_1


"Tutttt nomer yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."


Berulang kali Dina melakukan panggilan jawabannya masih tetap sama, kontak Sofian sedang tidak aktif.


"Ahhhh gimana nih?" Dina bingung harus berbuat apa. Upayanya menghubungi tak bisa direspon. Penuh dengan keputus asaan ia melempar hp-nya hingga terjatuh di bawah meja.


"Prakkk..." hp terjatuh mengenai kaki meja hingga lampu layarnya mati.


Rasa sedih, sesal, putus asa dan gelisah terus menghujamnya. Hingga akhirnya ia merasa tak mampu menyelesaikannya sendiri ia pun berniat membangunkan Winda. Dina langsung berjalan keluar dari kamarnya dan menuju rumah Winda.


"Tok tok tok .... mbak, mbak Winda!" Berukang kali Dina memanggil Winda hingga Winda pun terbangun dan membukakan pintu.


"Ada apa sih Din jam segini bangunin orang?" Tanya Winda sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 03 : 20 menjelang subuh.


"Anterin aku mbak!" Ucap Dina.


"Anterin kemana? Kamu abis nangis?" Tanya Winda penasaran.


"Critanya entar aja sambil jalan ya! Tolong anterin ya mbak penting banget."


"Jam segini? Ini orang aja belum pada bangun Din! Emang mau kemana sih? Kamu ngigo ya? Tanya Winda semakin penasaran.


"Udah deh mbak anterin aja, penting banget pokoknya."


"Iya deh iya, aku keluarin motor dulu." Ucap Winda.


"Aku ambil jaket dulu ya!" Sahut Dina


Winda pun segera mengeluarkan kendaraan, sedangkan Dina pulang mengambil jaket dan hp-nya.


"Udah siap Din? Kemana ini tujuannya? Tanya Winda.


"Kerumah Mas Fian mbak!"


"Oke..., tapi rumahnya di mana nih?" Tanya Winda yang masih sedikit mengantuk.


"Bentar ya aku telepon dulu, soalnya aku juga belum tau di mana rumahnya." Ucap Dina sembari mengambil hp di kocek jaketnya.


"Hahhhh.... gila! Rumah pacar sendiri aja kamu nggak tahu? Wah bener-bener kelewatan kamu Din." Sahut Winda heran dengan diri Dina.


"Hehehe..., udah dong jangan ngedumel terus!" Ucap Dina sambil menghidupkan hp-nya.


"Buruan! Lama bener sih tinggal telpon gitu aja." Ucap Winda.


"Hahhhh..., kok nggak mau hidup mbak?"


"Kok bisa? Baterainya habis paling Din?"


Winda merogoh kecek jaketnya mengambil hp dan memberikannya pada Dina. Ia matikan hp Winda, membuka penutup baterai dan mengambil baterai dan sim card Winda yang terpasang di hp. Kemudian Dina lakukan hal yang sama pada hp-nya. Kemudian ia pasangkan sim card punyanya ke hp Winda. Ia pasang kembali baterai dan menghidupkan hp Winda. Ia mencari kontak Sofian yang ia simpan di sim card. Dina labgsung menelepon Sofian.


"Tutttt tutttt tutttt..., hallo, ada apa lagi sayang? Aku dah siapin semua kok, tinggal berangkat, kamu nggak usah khawatir." Sofian mengangkat teleponnya dan langsung bericara.


"Enggak ada apa-apa! Mas aku kirimi alamatmu sekarang ya." Sahut Dina menyambung percakapannya dalam telepon.


"Emang mau ngapain? Lagian aku juga udah mau jalan ini. Eh kamu jam segini kok udah bangun ada apa? Sana tidur, nanti pagi kamu kan harus kerja."


"Udah kirimkan aja sekarang, Mas jangan berangkat dulu. Aku mau kesana diantar Mbak Winda." Dina mendesak Sofian lalu menutup teleponnya. Satu menit kemudian sms Sofian masuk memberi alamat rumahnya.


"Ini dia Mbak alamatnya." Kata Dina menunjukkan sms Sofian.


"Uhhhh..., rumit banget sih hidupmu Din. Ya udah ayo buruan berangkat!" Ucap Winda tergesa-gesa untuk segera berangkat.


Dina dan Winda menuju rumah Sofian. Meski udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang namun tak sedikit pun menyurutkan niat mereka. Demi bertemu kekasih hatinya Dina berusaha tak merasakan rasa dingin. Sedangkan Winda, demi membantu sahabat yang sudah seperti saudara sekandung, ia melawan rasa dingin itu dan memacu sepeda motornya.


*****


Cukup lama Dina dan Winda berputar mencari rumah Sofian, karena memang baru sekali ini mereka menyambangi rumah Sofian. Hingga akhirnya pujul 04 : 10 mereka berdua menemukan rumah Sofian. Winda menghentikan kendaraannya. Kemudian mereka turun dan menghampiri Sofian yang sedang berdiri menunggu kedatangan mereka di teras.


"Susah ya nyarinya? Masuk yuk!" Ucap Sofian.


Dina, Winda dan Sofian masuk kedalam rumah Sofian yang tak begitu luas.


"Silakan duduk! Maaf ya Mbak Win, Dina udah ngerepotin." Ucap Sofian agak sungkan dengan Winda.


"Iya Mas nggak papa kok." Jawab Winda dengan tersenyum.


"Emang ada apa ini, kayak penting banget sih Dik?" Ucap Sofian pada Dina.


"Aku ke teras aja dulu ya biar kalian lebih enak ngobrornya." Winda berkata seraya berdiri dan berjalan ke teras.


"Ada apa sayang? Kok kamu aneh gini sih, kan aku cuma mau pergi kerja. Kasihan Mbak Winda kan direpotin terus." Ucap Sofian merasa aneh dengan sikap Dina.


"Nggak tahu mas. Yang jelas aku pingin banget ngantar mas berangkat."


"Kan aku perginya naik motor kenapa mesti diantar?"


"Yaaa... setidaknya aku ada saat mas pergi gitu maksudku, emang salah ya?"

__ADS_1


"Ya nggak juga, tapi nggak harus ngerepotin Mbak Winda juga kan dik?"


"Iya Mas. Maaf ya!" Ucap Dina merasa bersalah dengan sikapnya.


"Ya udah nggak papa." Sahut Sofian.


"Aku mau bilangain Mbak Winda bentar ya."


"He em sana!" Ucap Sofian.


Dina keluar dari ruang tamu dan menghampiri Winda yang duduk di bangku teras.


"Mbak Win pulang dulu juga nggak papa, Mbak Win kan nanti masuk kerja. Nanti aku pulangnya naik ojek aja nggak papa."


"Beneran?" Sahut Winda.


"Iya mbak, nggak papa kok."


"Ya udah aku duluan ya Din. Mas Fian aku pulang dulu ya!" Ucap Winda pada Dina sambil melangkal kedepan pintu dan berpamitan pada Sofian.


"Ohh iya Mbak, maaf ya merepotkan. Makasih Mbak." Sahut Sofian.


Winda tergesa-gesa. Untuk menyingkat waktu karena ia harus tiba di rumah sebelum matahari terbit dan bersiap-siap berangkat kerja, ia langsung secepatnya pulang. Sedangkan Dina kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pembicaraannya dengan Sofian.


"Mas ortu mas kemana?" Tanya Dina.


"Bapak sama ibu di Jawa Barat dik. Ini rumah kontrakan."


"Kok mas Fian nggak pernah cerita ke aku?"


"Kan kamu nggak pernah nanya." Sahut Sofian.


"Emmmm..., terus jadi berangkat jam berapa nih?" Tanya Dina.


"Harusnya ya sekarang, tapi ada kamu ya di undur satu dua jam biar kamu seneng hehehe."


"Ya udah kalau gitu berangkat aja yuk, aku nganternya sampai halte ya. Kan kita jalannya nggak searah."


"Bener kamu nggak papa berangkat sekarang?" Ucap Sofian.


"Bener nggak papa kok mas."


Mereka berdua segera berangkat. Dalam perjalanan mereka melanjutkan obrolan hingga sampai di halte pukul 05 : 30 pagi. Dina turun dari tempatnya membonceng, sedangkan Sofian masih duduk di atas motornya.


"Mas Fian langsung aja nggak papa dari pada nanti telat sampai sana. Aku nunggu ojek sendiri aja." Ucap Dina meyakinkan Sofian ia siap untuk ditinggalkan.


"Yakin nggak papa Dik?" Ucap Sofian.


"He em mas." Sahut Dina dengan berat hati melepas Sofian pergi.


Sofian pun menghidupkan motornya. Kemudian ia mulai menjalankan motornya arah kota tujuan. Sedangkan Dina hanya terdiam melihat Sofian berkendara pergi. Setelah kurang lebih seratus meter melintasi aspal, tiba tiba dari lawan arah sebuah mobil mewah melaju kencang dan oleng,


"Awassss....!" Dina berteriak kencang.


"Bruakkkk..." sebuah kecelakaan tak terelakkan, mobil mewah itu menabrak Sofian. Motornya terpental hingga ke tengah jalan dan Sofian terbawa di kabin mobil hingga mobil itu terbalik berguling.


Sontak Dina menangis dan berteriak-teriak,


"Mas Fiannnn..." Dina berlari menghampiri Sofian yang tergeletak di tepi jalan. Ia angkat kepalanya ke pangkuannya. Dina bersihkan wajah Sofian yang penuh Darah dan terus memanggil namanya. Penuh kepanikan melihat Sofian dalam keadaan tidak sadarkan diri, Dina duduk bersimpuh memangku kepala Sofian menangis sejadi-jadinya dan mencium keningnya berkali-kali. Hingga akhirnya datang beberapa orang memberi bantuan dan membawa Sofian kerumah sakit. Sedangkan pengemudi mobil yang juga tak sadarkan diri itu juga di bawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang memberi pertolongan.


*****


Dina duduk di bangku dan menundukkan kepala. Dia hanya bisa terdiam dan terisak-isak. Tejawablah sudah semua perasaan aneh yang menyelimutinya sepanjang malam. Ternyata perasaan aneh itu mengisyaratkan malapetaka yang di alami Sofian. Tiba-tiba datang seseorang ber jas putih menghampirinya dan bertanya,


"Maaf dik, anda keluarga dari korban kecelakaan yang bernama Sofian?"


"Iya Dokter, bagai mana keadaannya Dok?" Sahut Dina dengan penuh penasaran.


"Maaf dik, sebaiknya Adik ikhlaskan saudara Sofian! Kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain, saudara Sofian tidak tertolong." Ucap Dokter itu memberi kabar.


"Hummm... hmmm... hmmm..., Mas Fian." Dina menangis tersedu begitu mendengar ucapan Dokter itu. Tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Dina sangat syok mendengar kabar buruk itu sehingga ia pun jatuh terkulai pingsan. Dokter dan beberapa suster yang ada di sekitarnya pun langsung menolongnya.


Betapa sedihnya Dina, Sofian seorang pria muda yang tampan dan baik hati penuh kasih sayang dan sangat pengertian, satu-satunya pria yang mampu merubah prinsip hidup Dina tentang mengenal pria, satu-satunya pria yang Dina cintai, pria muda pertama yang masuk dalam kehidupan Dina sebagai kekasih dan merangkai masa depan bersama, telah meninggalkannya untuk selamanya.


*****


Beberapa saat kemudian Dina yang sudah lama tak sadarkan diri telah siuman, dia terbaring di tilam rumah sakit dekat ruangan para suster. Ia kembali teringat peristiwa kecelakaan itu. Dina pun mengis kembali, ia berusaha menahan tangisnya dan mencoba menghadapi kenyataan. Dia pun segera berjalan ke ruangan di mana Sofian di tempatkan. Sesampainya di ruangan itu, Dina melihat beberapa orang menangis mengelilingi jenazah Sofian, yang ternyata mereka adalah anggota keluarga Sofian dari Jawa Barat. Ada kedua orang tuanya dan beberapa kerabatnya.


Salah satu dari kerabat Sofian datang menghampiri Dina yang sedang menyandarkan badan dan kepalanya di kerangka pintu sambil menangis terisak-isak.


"Kamu Dina ya? Yang sabar ya! Aku Ridwan kakak ipar Sofian." Ucap orang itu menenangkan Dina dan mengenalkan Diri sambil menarik Tangan Dina untuk bergabung mendekat pada jenazah Sofian.


"He em mas" jawab Dina sembari menahan tangisnya dan berjalan mengikuti ajakan Ridwan untuk mendekat.


Menatap wajah Sofian Dina semakin terpukul hingga tak dapat menahan tangis. Seorang wanita tua yang juga menangis di sebelah Dina tiba-tiba menoleh dan memandang Dina. Kemudian wanita itu memeluk Dina dan menangis dalam pelukan Dina sembari berkata,


"Kenapa ini bisa terjadi nak? Kenapa ini terjadi pada anakku?" Ucap ibu itu penuh rasa duka kehilangan.

__ADS_1


"Entahlah Bu, aku tidak bisa menahannya pergi." Ucap Dina pada wanita itu yang ia yakini itu adalah Ibunya Sofian.


*****


__ADS_2