Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu

Tentang Aku, Dia & Belajar Mencintaimu
Sampai di rumah


__ADS_3

"Kiri mas, itu rumahku yang warna biru muda" Dina yang masih duduk membonceng memberi aba pada Sofian untuk menepikan sepeda motornya.


"Oooo itu ya?" Ujar Sofian menyambung perkataan Dina.


"Sttttt "


Sofianpun menepi dan berhenti di depan rumah Dina yang tak jauh dari tepi jalan raya. Mereka berdua turun dari sepeda motor dan melepas helm. Sungguh menjadi sesuatu yang sangat tidak biasa dipandangan mata para tetangga. Semua tetangga Dina yang berada di teras rumah masing-masing memperhatikan Dina dan Sofian yang sedang berdiri di depan rumah Dina. Bagaimana tidak? Dina yang selama ini mereka tahu adalah sosok gadis remaja yang nyaris tak pernah berhubungan dengan lelaki muda, Dina yang selama ini terlihat bersikap dingin terhadap lelaki, Dina yang selama ini mereka kenal lebih menutup diri dari para lelaki sebayanya juga yang sedikit lebih dewasa dari padanya. Kini mereka para tetangga melihat di depan mata dengan sangat jelas, Dina sedang bersama seorang laki-laki muda yang rupawan. Semua tetangga terheran dengan apa yang mereka lihat. Bukan rasa heran yang disertai ketidaksenangan terhadap Dina, namun para tetangga justru merasa heran yang disertai dengan rasa ikut berbahagia dengan apa yang telah Dina perlihatkan. Dina yang cantik juga dikenal sangat ramah dan baik di lingkungannya. Atas semua perilaku luhurnya sehingga tetanggapun banyak yang simpati terhadapnya dan menginginkan apa yang terbaik untuk Dina.


"Mampir dulu ya mas! Nggak baik buatku, udah dianter kok nggak diampirkan hehehe..." ujar Dina meminta Sofian berkenan mampir.


"Emang nggak papa nih Din?"


"Enggak apa-apa kok, nyantai aja lagi mas nggak ada yang nglarang juga kok."


"Nggak diajak mampir dulu Din? Nggak sopan tamu nggak disuruh masuk dulu!" Sahut tetangga sebelah Dina yang duduk di teras rumah.


"Ooohhh, iya bulek! Ini juga udah tak ajak mampir." Ujar Dina menyahut omongan tetangganya yang menyarankannya untuk menghampirkan Sofian.


"Buuu.... !!" Sapa Sofian pada tetangga sebelah Dina.


"Tuh kan mas! Tetangga aja nyuruh mampir, masa nggak mau mampir?"


"Iya deh aku mampir dulu"


"Yuk masuk!" Ajak Dina pada Sofian.


"Yukkk" ujar Sofian.


Mereka berduapun segera masuk ke dalam ruang tamu memenuhi saran bulek tetangga sebelah Dina. Seharusnya Dina merasa ada kecanggungan dengan adanya Sofian di rumahnya. Namun tanpa disadari hal itu tak dirasakan Dina. Sofian memang sungguh luar biasa, tanpa sengaja dengan waktu sebentar saja kehadirannya mampu merubah keadaan jiwa Dina. Yah...., Dina yang selama ini bersikap seolah tak peduli dengan pria-pria muda! Sofian bagaikan seorang pelukis, hanya sesaat saja mampu memberi warna-warni yang indah pada Dina yang seolah menjadi kanfas putihnya.


"Duduk aja dulu mas, aku bikinkan minuman manis dulu ya!"

__ADS_1


"Oh iya Din, makasih."


Dina segera menuju kamar untuk meletakkan tas hitamnya yang selama 2 tahun telah setia menemaninya menuntut ilmu. Kemudian Dina ke arah dapur melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu dekat dapur, lalu cuci kaki dan tangan baru kemudian membuatkan minuman untuk Sofian.


Usai membuat minuman Dina langsung melangkahkan kakinya keruang tamu mengantar dan menyuguhkannya pada Sofian.


"Jadi ngrepotin kamu malah Din?" Ucap Sofian sembari tersenyum tipis pada Dina.


"Eh nggak repot kok mas, gantian dong! Tadi aku udah ditraktir minum, masa sekarang jadi tamu di rumah nggak disuguhi minum?"


"Hehehe..." Sofian tertawa kecil.


"Nih diminum mumpung masih lagi dingin-dinginnya, entar cair es batunya jadi kurang manis lho." Kata Dina sembari tersenyum manis.


"Tenang aja Din, kalo kurang manis minumnya sambil ngliatin senyumnya yang bikin kan jadi manis hehehe..."


"Hemmmm, nggombal lagi deh mas nya!"


"Mas Sofian ada-ada aja ah!" Ucap Dina tersipu malu namun sangat senang sakali mendengar candaan Sofian yang membuat hatinya berbunga-bunga.


Candaan-candaan Sofian terus menghujani Dina, membuat Dina semakin tak bisa merasakan dirinya sebelumnya, dirinya yang dingin dan tak peduli pada lelaki, berubah menjadi Dina yang tak lagi bisa membendung sikap dinginnya terhadap lelaki. Dina seakan dalam keadaan jiwa yang lepas dan bebas berbahagia di hadapan Sofian. Saat itu hari yang begitu ceria untuk Dina, hari yang penuh canda dan tawa di rumahnya.


Tiba-tiba saja semua menjadi berubah, Sofian yang tadinya terus bercanda seketika hanya terdiam menunduk, beberapa saat kemudian Sofian batuk-batuk. Memecah keheningan sesaat itu. Dina yang begitu ceria seketika berubah raut wajahnya, menjadi terlihat penuh dengan kekhawatiran. Dina takut terjadi sesuatu pada Sofian.


"Mas Sofian nggak papa mas? Mas sakit ya?" Tanya Dina khawatir dengan keadaan Sofian.


"Nggak, nggak papa kok Din, cuma tersedak aja, kebanyakan ketawa hehehe...!" Jawab Sofian menenangkan Dina.


"Yakin nggak papa mas?" Ucap Dina.


"Iya tenang aja Din aku nggak apa-apa kok"

__ADS_1


Mereka kemudian terdiam sesaat, Dina melihat Sofian dan Sofian melihat Dina, mereka saling bertatap pandangan dan hanya terdiam.


"Lhoh kok diem?" Tanya Sofian memecah keheningan.


"Emmmm, nggak papa sih!" Jawab Dina yang tiba-tiba malu gara-gara saling pandang.


"Ya udah, aku pulang dulu ya? Kayaknya udah kelamaan mampirnya hehehe..."


"Kok buru-buru mas?"


"Yaaaa lain kali kan bisa main lagi kesini, ya kan?"


"Ya udahlah kalau mas Sofian udah mau pulang."


"Oh iya Dina, aku boleh minta no hp-mu nggak?"


"Boleh mas, tapi jangan dikasihkan ke orang lain ya!"


"Iya tenang aja."


Dina kemudian memberikan nomer hp-nya dan balik meminta nomer hp Sofian, mereka saling bertukar nomer hp untuk bisa saling berkomunikasi via telepon atau sms.


"Ya udah aku pulang ya, mari Din sampai jumpa lagi!"


"Ya mas makasih ya." Ujar Dina sembari menganggukkan kepala.


Sofianpun bergegas pulang mengendarai sepeda motornya.


"Smoga saja mas Sofian main-main lagi kesini, orangnya baik nyenengin gak banyak gaya ramah lagi sama aku, duhhh... bisa naksir nih sama mas Sofian, gawat bisa-bisa kalau Erin tahu bisa diketawain nih aku. Bisa diledekin tiap hari nih sama Erin, belum lagi kalau dia sempet nyeritain ke yang lain, wah aku bisa dijadikan bahan ledekan temen-temen nih.... !" Celoteh Dina dalam hati, setelah Sofian tak terlihat lagi dipandangannya.


Senin, 05 mei 2008 menjadi hari yang membahagiakan untuk Dina maupun Sofian. Hari yang akan menjadi awal dari semua kisah perjalanan cinta Dina.

__ADS_1


*****


__ADS_2