
Layla mengangguk dan kemudian diam, dia hanya menikmati suasana hening tersebut sambil memandangi jalan yang sedang di lewati nya. Perjalanan mereka terasa sedikit membosankan karna mereka berdua seperti dua orang asing yang baru dipertemukan. Tak ada satu orang pun yang ingin memulai percakapan.
Zery terlihat fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Layla juga fokus memandangi gedung - gedung tinggi yang ada disekitarnya.
Namun beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Zery mulai memasuki sebuah komplek perumahan, melihat hal itu Layla pun angkat bicara karna bingung dia sebenarnya mau di bawa kemana.
"Kita sebenarnya mau kemana, Kak?" tanya Layla yang masih melontarkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Aku mau membawamu ke rumah Ayahku." jawab Zery singkat.
"Kita mau ngapain di sana?" tanya Layla lagi.
"Aku sudah lama tak menjenguk nya, jadi karna biasanya aku di sana lama, makanya sekalian aja aku bawa kamu." jelas Zery kepada gadis itu.
"Nanti aku kena marah oleh Lilya kalau tau aku meninggalkan mu sendiri an malam - malam dirumah." Lanjutnya.
"Oh gitu. Padahal aku gapapa kalo ditinggal sendirian dirumah." ucap Layla sambil berlagak seperti orang yang tidak takut akan sesuatu. Padahal sebenarnya, jangankan tinggal sendirian di rumah, dia melihat cicak aja langsung teriak memanggil orang untuk mengusirnya.
"Ikut aja, toh kamu belum pernah kan kerumah ku." tegas Zery.
"Ini rumahnya yang mana sih, kok kita ga nyampe - nyampe?" tanya Layla yang merasa sudah lama berjalan di daerah komplek tersebut.
"Tadi kita udah lewat sini juga loh kak, aku inget rumah itu yang di terasnya ada pot bunga besar yang warna nya putih." ucap Layla sambil menunjuk rumah yang dimaksud.
Melihat Layla yang kebingungan, Zery bukannya memberi penjelasan tapi dia malah tertawa.
"Maaf ya, sebenarnya rumah Ayahku bukan dikomplek ini." ujarnya dengan keadaan masih tertawa.
Mendengar hal itu Layla jadi kesel, dia merasa di bohongi,
"Ih apaan sih kak, ga lucu." ucap Layla kesal. Wajahnya langsung berubah, tatapannya pun mulai sinis.
"Maafin dong sayang, aku becanda doang. Niatnya biar bisa lama - lama aja sama kamunya." bujuk Zery yang melihat Layla sudah mencibirkan bibirnya.
"Rumah yang kamu tunjuk barusan itu rumah saudara ku loh." sambung Zery. Namun perkataan nya masih saja belum dibalas oleh Layla.
"Oiya, kita beli makan dulu yok. Abis itu baru kerumah Ayah." ujarnya yang masih belum mendapat balasan dari Layla.
Layla kemudian hanya mengangguk sambil memasang muka datar.
"Kamu mau makan disini, atau kita bungkus aja trus nanti makannya samaan sama Ayah di rumah?" tanya Zery sambil mematikan mesin mobilnya.
"Bungkus aja!" jawab Layla ketus.
__ADS_1
"Kamu mau ikut turun ga?" tanya Zery lagi.
"Ga, aku tunggu disini aja." jawab Layla yang lagi - lagi masih cuek.
Zery pun langsung turun dan meninggalkan Layla di dalam mobil sesuai dengan permintaan nya.
Layla yang bosan menunggu berinisiatif menyalakan music dari ponselnya. Dia pun mengiringi lagu yang berbunyi. Suaranya yang merdu ternyata terdengar ke telinga Zery.
Zery ternyata sudah tiba disaat Layla sedang asik bersenandung, dia memilih sembunyi dan tidak langsung masuk ke dalam mobil. Karna jika dia masuk, Layla yang sedang menghayati nyanyian nya akan berhenti ketika melihat ada orang lain yang mendengarnya.
Zery terus menunggu sambil merekam diam - diam suara dari gadis yang dia cintai itu. Setelah lagu selesai, baru lah Zery masuk ke dalam mobil tersebut.
"Suara kamu bagus," pujinya.
"Kakak denger aku nyanyi?" tanya Layla yang langsung memalingkan wajahnya kepada Zery. Dia menatap Zery dengan Mata yang tajam tak berkedip dan mulut yang sedikit menganga.
"Kaget ya? Atau kamu malu?" ejek Zery sambil sibuk memasang seatbelt.
"Ga kok, biasa aja. Suara ku kan emang bagus, ngapain malu." ungkap nya sambil berbangga diri.
"Emang siapa yang bilang suara mu bagus?" ejek Zery lagi.
"Padahal tadi Kakak yang bilang sendiri." tutur Layla.
Zery pun terdiam karna yang dikatakan Layla benar.
Layla langsung mengambil seatbelt tersebut tanpa berkata sedikit pun.
"Bisa ga, atau sini mau aku pasangin?" canda nya sambil mengulurkan tangan.
"Gausah, aku bisa sendiri!" ucap Layla sambil menepik tangan tersebut.
Zery hanya terkekeh melihat tingkah Layla. Layla yang tau maksud dari pria tersebut langsung menatap nya sinis.
"Ayo jalan, jangan harap mau macam - macam." pinta Layla dengan tangan yang di silang di dada nya.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul Tujuh, Lilya dan Bapaknya juga sudah berangkat menuju bandara.
"Nak, kamu hubungin Suami mu. Nanti minta tolong dia aja untuk menjemput kita." pinta Pak Ramli kepada Lilya.
"Oke Pak." jawab Lilya dan langsung meraih ponsel yang ada dikantongnya.
__ADS_1
"Halo," ucap Lilya ketika melihat panggilannya sudah diangkat oleh Suaminya.
"Halo kak," balas Layla.
"Lah, kok kamu Lay yang ngangkat telponnya. Suami ku mana?" tanya Lilya yang agak kebingungan.
"Aku tadi denger suara ponsel nya Kak Zery yang ada diatas meja, trus pas ku liat di situ ada Nama "Istriku" , yaudah berarti itu Kakak, makanya telpon nya ku angkat aja." jelas Layla dengan cepat.
"Oiya, sekarang aku lagi di rumah Ayahnya Kak Zery. Tadi pas pulang ngajar, aku langsung di bawa kesini, katanya sekalian makan malam di sini aja." lanjutnya.
"Oh iya Lay, Kakak tau kok, tadi Zery udah pamit kalo mau kesana, dan yang nyuruh Zery buat bawa kamu itu Kakak." ungkap Lilya.
"Kirain tadi kalian udah pulang. Btw sekarang Zery mana?" tanya Lilya pada Layla.
"Dia lagi ke toilet kak. Nanti kalo dia balik ku suruh telpon Kakak lagi yah." saran Layla.
"Gausah Lay, Kakak cuma mau nanya aja, dia bisa ga jemput kami di bandara nanti?" tanya Lilya.
"Bisa dong kak, nanti aku yang ajak dia buat jemput Kakak disana." balas Layla.
"Yaudah kalo gitu, Kakak tutup dulu ya telponnya." ucap Lilya lembut.
"Iya Kak, takecare ya." balas Layla dan kemudian kembali meletakkan ponsel yang dia pegang tersebut ke tempat semula.
Ketika Zery kembali, Layla mulai menceritakan apa yang barusan dia lakukan.
"Yaudah, abis dari sini kita langsung ke bandara atau ke rumah dulu buat mandi?" tanya Zery dengan nada lembut.
"Ke rumah dulu deh kak, aku gerah." ucap Layla.
"Yaudah, aku pamit dulu ke Ayah." tutur Zery lalu meninggalkan Layla.
Zery pergi ke arah kamar Ayah nya, di sana dia melihat Bi Asri sedang memijit kaki Ayahnya.
"Yah, aku balik dulu ya." ucap Zery sambil bersaliman.
"Aku mau jemput Lilya dan Mertua ku di bandara." sambungnya.
"Oh gitu, kamu hati - hati ya." pinta Ayahnya.
"kalau bisa, nanti kabarin Ayah kalau dah sampai rumah." pintanya lagi.
"Baik yah," Zery pun langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Ayah Zery sekarang sudah berangsur pulih, di tambah setelah memiliki pengasuh pribadi. Dia jadi tampak lebih ceria dan bersemangat. Mungkin dulunya dia kesepian makanya terlihat sedikit murung.
Bersambung.