
Beberapa minggu pun berlalu, tapi ada satu keanehan yang terbesit dipikiran Lilya tentang lelaki yang sekarang sudah menjadi Suaminya tersebut. Pasalnya semenjak menikah, mereka belum pernah melakukan hubungan ranjang yang dapat menghasilkan buah hati yang lucu.
Setiap malam Suaminya itu hanya memuaskannya dengan permainan mulut dan jari yang lihai saja. Sebenarnya tak masalah bagi Lilya, toh jika dia ingin merasakan rudal, dia bisa mendapatkannya dari orang yang dia cintai. Pacarnya Adam tidak akan menolak jika mendengar keinginan seperti ini.
Lilya dan Adam masih saja melakukan hal yang dapat memberikan kenikmatan tersendiri tersebut, keduanya tak mau saling lepas. Jadi mereka tetap melanjutkan hubungannya diam - diam yang sebelumnya memang sudah terjalin.
Jam sudah menunjukkan hampir Pukul Enam.
"Kak,bangun!" ucap Lilya sambil mengusap - usap kepala Suaminya dengan lembut.
Zery membuka mata dan langsung melihat gadis cantik yang mungil itu berada tepat dihadapannya.
"Makasih yaa, Kamu bangun duluan aja." jawabnya sambil kembali menutup mata.
Entah kenapa hatinya Zery belum bisa menerima kehadiran Lilya didalamnya. Dia masih saja berharap bahwa yang dia nikahi adalah gadis yang pertama dia lihat saat awal bertemu waktu itu.
"Aku ingin mandi bersama." sambil berbisik di telinga Suaminya. Lilya memang sering memancing Suaminya agar mau melakukan hal yang memang dilakukan oleh Suami Istri.
Semua itu dia lakukan agar Dia dapat merasakan cinta nantinya. Tak berbeda dengan Zery, Lilya ternyata juga belum bisa menerima kehadiran Zery untuk masuk ke hatinya. Sebab masih ada Adam yang terlebih dulu telah menghiasi hatinya.
"Apakah kamu mau memandikanku?" tanya Zery sambil sedikit membuka mata dan memandangi wajah Lilya.
"Kenapa tidak." jawab Lilya singkat dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Mereka berdua langsung bangkit dari tempat tidur yang empuk itu. Tiba - tiba Lilya menahan badan Zery, Zery pun seolah tau apa yang diinginkan gadis itu, Dia pun langsung balik badan dan berkata,
"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut.
"Tolong bantu aku melepaskan ini." jawab Lilya dengan nada yang manja sambil memegangi piyamanya.
Zery pun langsung memenuhi permintaan dari Istrinya tersebut, piyama itu sekarang sudah berserakan dimana - mana. Tubuh Zery langsung menggendong tubuh mungil yang sudah tidak diselimuti sehelai benang tersebut bak karung beras.
Seperti ucapannya tadi, Setibanya dikamar mandi Dia meminta Lilya untuk memandikannya bak anak balita yang tidak tau bagaimana caranya mandi.
"Apa ini harus aku juga yang menggosoknya?" canda Lilya sambil matanya menuju kearah benda yang berdiri tegak sejak awal masuk ke kamar mandi tadi.
"Boleh saja, gosok secara perlahan ya!" pintanya sambil mengambil posisi duduk dan memainkan benda tersebut. Dia tampak seperti ingin mengajari Lilya bagaimana cara menggosok yang dia maksud.
Lilya dengan cepat langsung mengambil alih, sentuhan Istrinya mampu membuat dia mengerang merasakan kenikmatan. Dibawah sower yang masih menyala, tangan kecil itu naik turun di benda pusaka milik Suaminya. Tidak lama kemudian Suaminya akhirnya mencapai kenikmatan yang sesungguhnya. Cairan putih kental seperti susu itupun keluar dari tempat yang tadinya dimainkan oleh Lilya.
...****************...
Dimeja makan telah tersedia roti tawar yang sudah diolesi selai coklat kacang. Ternyata hari ini adalah giliran Layla yang menyiapkan semuanya. Setelah siap tak lama semua orang datang ke meja dan sarapan bersama.
"Selamat pagi, Pak." sapa Layla sambil mengaduk segelas teh yang dibuatkan untuk Ayah angkatnya tersebut.
"Pagi, Layla." jawab Pak Ramli sambil memberikan senyuman tipis kepadanya.
__ADS_1
"Kamu hari ini mau ngajar?" sambung Pak Ramli sambil melihat kearah Layla yang sudah rapi tidak seperti hari biasanya.
"Iya pak," jawab Layla singkat sambil meletakkan segelas teh yang siap untuk diminum.
"Tumben kamu ngajar pagi?" tanya Lilya Kakaknya.
"Kata Mamanya dia ga mau sekolah, yaudah les nya pagi aja, sore katanya mereka juga ga ada di
rumah." jawab Layla santai.
Layla lebih memilih menjadi guru les private bahasa inggris. Katanya dia suka melihat anak kecil. Layla memang memiliki sifat lemah lembut dan penyayang persis seperti mendiang ibunya.
Cukup beberapa menit dapur terasa tidak ada orang karna keheningan,tak ada yang bicara, semua asik menikmati sarapannya.
"Yaudah sayang, mau aku anterin?" tanya Zery ketika dia sudah siap dengan sarapannya.
"Aku kan bisa berangkat sama Bapak, Kak." jawab Lilya yang sedang merapikan lipstik di bibirnya.
"Lilya sama Bapak aja Nak, mending kamu anterin Layla aja!" pinta Pak Ramli sambil melihat ke arah Layla.
"Iya Kak, kasian Layla sendiri terus." sambung Lilya.
Mendengar hal itu justru Zery malah makin senang, dia akan menghabiskan waktu di dalam mobil bersama orang yang dia cintai.
"Yaudah ayok!" ajak Zery sambil memandangi Layla.
Didalam mobil mereka hanya mendapati suasana keheningan, tak ada yang mau memulai obrolan, yang terdengar hanya suara mesin mobil dan klakson pengguna jalan yang ada disekitar mereka.
"Kamu mau diantar kemana?" tanya Zery memecah suasana.
Layla langsung merogoh tas nya dan mengambil sebuah handphone miliknya.
"Kesini, Kak!" ucap Layla sambil memperlihatkan alamat nya kepada Zery.
"Oh ini ga jauh dari kantor saya" jawab Zery singkat.
Layla langsung menyimpan handphone nya kembali. Disaat Zery melihat gerak gerik Layla, Dia tersadar bahwa Layla belum menggunakan seatbelt. Zery langsung menepikan mobilnya dengan niat ingin memasangkan seatbelt kepada Layla.
"Kenapa kak, kok berhenti?" tanya Layla heran.
"Kamu lupa pake ini." jawab Zery sambil mencondongkan badannya agar bisa mengambil seatbelt yang ada di samping kiri Layla.
Layla hanya diam, jantungnya berdetak kencang sebab melihat posisi Zery yang begitu dekat. Begitupun juga Zery, saking dekatnya dia bisa merasakan nafas Layla yang memburu seperti abis dikejar copet.
"Kamu kenapa?" tanya Zery sambil memalingkan wajahnya kearah Layla.
"Saya grogi kak." jawab Layla jujur.
__ADS_1
"Tenang aja, aku ga bakal macam - macam kok." ucap Zery dengan sedikit senyum.
Mendengar hal itu Layla malah langsung melihat kearah gunung kembarnya lalu kembali melihat kearah wajah Zery.
Melihat Layla yang seperti itu, muncul lah jiwa usilnya.
"Tapi kalo ngeliat itu sedikit boleh kan?" bisik Zery di telinga Layla. Awalnya niat Zery memang becanda, tapi Layla malah mengangguk mengiyakan perkataan Zery.
Usilnya itupun berbuah manis, dia tidak menyangka bahwa Layla akan memberinya ijin. Bahkan tangan Layla mulai mengambil tangan Zery dan meletakkan nya di atas gundukan besar itu.
Ternyata ini bukan lah Layla yang dulu lagi yang masih polos. Semenjak ciuman pertama yang dia dapatkan dari Zery, dia mulai sering menonton film dan video yang berbau delapan belas plus plus. Dia juga kerap kali memperhatikan Zery, hanya untuk berimajinasi dan berandai - andai jika dia melakukan hal yang seperti di video tersebut bersama Zery.
"Ini boleh dibuka?" tanya Zery sambil meraba raba gundukan tersebut. Layla hanya mengangguk, seolah pasrah dengan perlakuan apa saja yang akan diberikan kepadanya.
Zery langsung membuka kancing baju kemeja berwarna putih tersebut yang dari tadi sudah merekah karna besarnya ukuran yang ada dibalik baju itu.
Akhirnya apa yang dia inginkan dulu sekarang bisa dilihatnya. gunung yang mulus dan putih tersebut sudah berada tepat didepan wajah. Sekarang hanya tersisa pembungkus berwarna hitam yang menutupinya. Saat ingin membuka kaitan di belakang punggung Layla, tiba - tiba suara yang tak asing terdengar ditelinga mereka berdua. Ternyata suara itu berasal dari ponsel milik Zery.
Zery langsung mengurungkan niat dan lebih memilih mengambil ponsel miliknya yang berada didalam kantong celananya. Sedangkan Layla langsung merapikan bajunya kembali.
...****************...
"Ayahnya Mas Zery sering ga minum obat ya?" tanya seorang dokter kepada Anak dari pasiennya.
"Iya dok, padahal udah saya ingetin loh dok." jawab Zery dengan nada kesal dan agak kecewa. Ayahnya kembali masuk rumah sakit lantaran penyakit yang di idap nya kembali kambuh.
Hari itu dia tidak jadi ke kantor, dia menyuruh sekretarisnya untuk mengundur semua jadwal pada hari itu. Dia lebih memilih menjaga Ayahnya yang terbaring dirumah sakit.
"Ayah kenapa Kak?" tanya Istrinya yang tiba - tiba masuk tanpa permisi. Lilya keliatan khawatir walaupun Dia tidak mencintai Zery, tapi Ayah itu adalah mertuanya.
"Sakitnya kambuh lagi, pasti dia ga pernah minum obat yang disuruh dokter." jawab Zery lesu. Dia menggenggam tangan Ayahnya yang tidak bergerak itu.
"Ayah pasti kuat." ucap Zery sambil menciumi tangan Ayahnya. Dia benar - benar takut akan ditinggal Ayahnya untuk selama - lamanya.
"Tenang aja kak, kita serahkan semua pada Dokter. Kita kan udah usaha, sekarang kita tinggal berdoa sama yang maha kuasa." ucap Lilya sambil mengelus punggung Suaminya.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul Tujuh malam, Zery merasakan ada yang membelai rambut di kepalanya. Dia membuka mata dan melihat tangan Ayahnya. Tangan tersebut seolah olah ingin membangun kan Zery yang tertidur pulas.
"Nak, kamu pulang saja. Tidur sambil duduk ga akan bikin capek mu berkurang" tutur Ayahnya yang masih terlihat lemas.
"Ayah udah sadar?" tanyanya. Zery ternyata ketiduran, Dia melihat sekeliling kamar bermaksud ingin mencari Lilya. Tapi Lilya yang tadinya ada di ruangan itu pun ternyata sudah tidak ada disana.
"Aku disini aja, Yah." sambung Zery.
"Ayah udah lama bangunnya?" lanjut Zery.
"Udah dari satu jam yang lalu. Tadi Lilya juga sempat berpamitan, dan meminta ayah untuk bilang ke kamu, kalo dia pulang duluan." jelas Ayahnya.
__ADS_1
Bersambung.