
Di malam yang indah dengan gemerlap bintang yang bertaburan di angkasa, terdengar suara mobil dari halaman rumah milik Pak Ramli. Dia baru saja pulang dari luar kota, sesampai nya di depan pintu, dia sudah disambut oleh dua putri yang cantik jelita.
" Alhamdulillah sampai juga akhirnya." ujar Pak Ramli sembari meliuk kan badannya ke kiri dan ke kanan.
"Sini pak, tasnya Layla aja yang bawa!" pinta Layla sambil mengambil tas milik Bapak angkatnya itu dari tangannya.
"Bapak emang dari kota mana,kok keliatannya kecapean begitu?" tanya Lilya sambil berjalan masuk bebarengan dengan Bapak dan Saudarinya.
"Sebenarnya ga jauh, biasanya cuma Satu jam perjalanan. Tapi gatau kenapa tadi pas mau pulang, Bapak malah kejebak macet, seharusnya Bapak sudah tiba dirumah Pukul Enam tapi sekarang malah sampai dirumah sudah Pukul Delapan." ungkap Pak Ramli yang kemudian duduk di sofa ruang tamunya.
"Oalah Pak, untung Bapak bawa supirkan!" ucap Layla singkat.
"Iyalah, kalo ga keknya Bapak bakal nginep aja dihotel deket situ." balas Pak ramli sambil menoleh kearah Lilya.
Pak Ramli memang belum tua, tapi juga tidak bisa dibilang muda. Dia sering pusing ketika lama mengendarai mobilnya sendiri, sebab itulah dia sekarang memilih untuk memakai jasa supir.
Dulunya Pak Ramli tidak suka jika mobilnya dikendarai oleh orang lain, dia hanya mau naik mobil jika dia yang mengendarainya. Aneh memang, tapi katanya menyetir itu menyenangkan.
"Lilya, Suamimu mana?" tanya Pak Ramli sambil melihat sekitar dan tidak melihat batang hidungnya Zery.
"Dia lagi keluar Pak, kayaknya ketempat Ayahnya." ujar Lilya dengan santai.
"Kenapa kamu ga ikut?" tanya Pak Ramli dengan nada mempertanyakan sifat Zery, Dia seolah - olah lupa kalo dia sudah mempunyai Istri.
"Tadi zery udah ngajak, tapi aku masih mandi, dan aku juga capek Pak, mau istirahat aja dirumah." ucap Lilya sambil menatap Layla.
"Lagian kasian Layla Pak, dia sendirian dirumah." sambung Lilya.
Dirumah itu memang tidak menggunakan asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah dikerjakan bersama oleh dua gadis cantik tersebut. Kadang mereka juga menggunakan shif. Hari ini semua pekerjaan di handle Lilya, dan hari berikutnya di handle oleh Layla.
__ADS_1
Walaupun bukan sedarah, mereka bisa dibilang sangat akur bahkan jarang ada pertengkaran diantara mereka. Layla yang sadar diri dan Lilya yang cukup rendah hati. Jadi mereka berdua saling melengkapi.
Lilya sudah ditinggal Ibunya sejak dia masih berumur Sepuluh tahun. Semenjak kepergian Ibunya, Bapaknya tidak pernah menikah lagi. Karna tak bisa urus rumah sendirian, akhirnya Bapak Lilya mencari asisten rumah tangga dan kebetulan orang itu adalah Ibunya Layla.
Bukan hanya untuk kerja pagi, siang, lalu sorenya pulang. Tapi Pak Ramli juga menyuruh mereka buat menetap dirumah Yang sekarang masih ditempati oleh Pak Ramli.
Ibu Layla terlihat cekatan, semuanya bisa dia atasi termasuk mengurus anak semata wayangnya itu. Karna semenjak kehadiran mereka Lilya juga kembali ceria. Sebab itulah Lilya dan Layla bisa akur seperti sekarang.
Namun sayang, disaat anak - anaknya sudah dewasa Ibu Layla menghembuskan nafas terakhir karna sakit yang dideritanya. Dia tak pernah cerita kalau dia sedang sakit, dia menyimpan nya sendirian. Bahkan disaat terakhirnya pun dia sempat bilang, dia tidak apa - apa. Ibu Layla berkata dia takut menyusahkan dan membuat mereka sedih jika tau akan penyakitnya.
Padahal, jika Ibu Layla cerita lebih awal, dia masih bisa tertolong dan diobati di rumah sakit yang bisa dibilang terjamin pelayanannya.
...****************...
"Yah, hari ini sudah minum obat?" tanya Zery sambil melahap makan malamnya. Zery pergi kerumah Ayahnya hanya sekadar ingin menemani Ayahnya makan malam saja.
Zery yang mendengar hal itu langsung berhenti makan dan kembali berkata kepada ayahnya.
"Inget kata dokter, Ayah harus tetap minum obat walaupun ga ngerasain sakit!" tegas Zery. Ayahnya memang sering tidak meminum obatnya, bukannya diminum malah dibuang ke tempat sampah.
"Ayah capek, tiap hati harus minum pil sebesar itu." tutur Ayahnya. Ayahnya langsung tertunduk lesu,dia langsung mendorong piring yang ada dihadapannya.
"Ayah mau tidur aja, kamu silahkan lanjut makan. Jika sudah siap panggil bibi untuk membersihkannya!" pinta Ayahnya sambil berdiri dan beranjak lalu melangkah menuju ke kamarnya.
Zery merasa bersalah telah membuat Ayahnya sedih, dia tau Ayahnya juga tak ingin seperti ini. Tapi apa boleh buat, Zery memang harus memaksa Ayahnya agar mau minum obat, jika dia tidak minum obat itu, penyakitnya akan semakin mudah kambuh.
Zery melakukan semua ini karna dia sangat menyayangi Ayahnya, bahkan semua kemauan Ayahnya slalu dia turuti termasuk masalah perjodohan kemarin.
Dia tidak mau menyesal dikemudian hari seperti yang dia lakukan pada mendiang ibunya. Ibunya kecelakaan saat menyusul dia ke bandara. Waktu itu dia dan teman - teman sekolahan nya berniat berlibur ketika waktu libur sekolah tiba, namun Ibunya melarang karna tujuan mereka yang cukup jauh. Ibunya takut terjadi apa - apa kepada anaknya, maklumlah itu anak semata wayang mereka.
__ADS_1
Tapi waktu itu dia tidak mendengarkan perintah ibunya, Zery tetap pergi. Namun naas, ketika sedang menunggu di bandara dia mendengar suara telpon berbunyi dari kantongnya. Ketika dilihat ada nama kontak AYAH. Dia langsung mengangkat dan ketika itu juga tubuh yang besar itu ambruk tak berdaya mendapati kabar bahwa Ibunya kecelakaan dengan truk pengangkut barang dan langsung meninggal ditempat.
Sejak saat itulah Zery slalu nurut dan patuh akan semua suruhan Ayahnya. Dia tidak mau kejadian itu terulang kembali untuk kedua kalinya.
...****************...
"Udah pulang, Kak?" tegur Lilya saat melihat suaminya itu memasuki kamar. Saat itu jam sudah menunjukkan Pukul Dua Belas Tengah malam.
"Iya," balas Zery singkat.
"Dari mana aja? Kaka jadi ke tempat Ayah?" tanya Lilya sambil beranjak dari posisi yang tadinya dia tiduri. Dia tadi tidur di tepi tempat biasanya Zery tidur, mangkanya dia agak kedalam agar Suaminya itu juga bisa beristirahat.
"Kalo nanya satu - satu!" jawab Zery sambil menatap sinis Lilya.
Lilya hanya bisa diam melihat respon dingin Suaminya. Lilya sebenernya tau bahwa Suaminya juga tidak mencintainya, tapi semua sudah terjadi, perjodohan itu juga tidak akan bisa mereka tolak. Lantaran mereka saling menyayangi orang tuanya dan tidak ingin membuatnya kecewa.
"Aku tadi jadi ke tempat ayah, tapi abis dari situ aku keliling dulu ngilangin setres makanya pulangnya agak telat." sambung Zery sambil mulai merebahkan badannya di atas kasur yang empuk tersebut.
"Oh gitu ya Kak, Kaka ada masalah? gapapa kok kalau mau cerita, aku mau dengerin. Tapi kalo ga mau cerita juga gapapa, aku ga maksa." tanya Lilya sambil memandangi wajah Suaminya. Walaupun dia tidak mencintai Zery, namun dia tetap berusaha menjadi istri yang baik. Yang bisa jadi tempat cerita, layaknya pasangan yang harus slalu ada buat pasangan satunya.
Zery langsung balik menatap istrinya, kemudian dia menceritakan kejadian yang dia alami ketika dirumah Ayahnya tadi. Tanpa sadar Lilya sudah tertidur pulas saat mendengarkan cerita dari Suaminya tersebut.
"Dasar, tadi katanya mau dengerin aku cerita." gerutunya.
Zery kemudian mencium kening istrinya tersebut,dan berkata didalam hatinya,
"Maafkan aku yah, aku belum bisa jadi suami yang baik. Ucapanku kadang masih kasar yang mungkin bisa saja melukai hatimu. Tolong beri aku waktu, aku akan berusaha mencintaimu." batinnya.
Bersambung.
__ADS_1