
Sudah seminggu Lilya tidur sendirian, Suaminya sedang menjaga ayah mertuannya di rumah sakit. Lilya slalu menjenguk setiap pulang kerja, namun dia tidak di ijinkan berjaga disana oleh suaminya.
Malam itu Lilya sangat bosan, matanya yang agak sipit tidak bisa diajak kompromi. Waktu sudah menunjuk kan pukul Sebelas malam, tapi matanya tetap tidak mau terpejam.
"Mas, aku mau ketemu." ketik Lilya di sebuah ponsel. Dia kemudian mengirim pesan tersebut kepada seseorang yang nama kontaknya tertulis ADAM. Lilya ternyata mengirim pesan kepada pacarnya. Tak butuh waktu lama, pacarnya itu langsung membalas pesannya.
"Mau Mas jemput atau Mas tunggu aja di tempat biasa?" balas Adam.
"Tunggu aja Mas!" pinta Lilya.
"Yang bener aja, masa Mas berani jemput Istri orang tengah malam begini." sambungnya.
Adam hanya membalasnya dengan emot jempol.
Lilya kemudian diam - diam keluar dari rumahnya. Dia keluar lewat jendela, jika lewat pintu dia takut ketahuan oleh Bapak dan Layla.
Lilya memang sudah sengaja memesan grab car, dia menyuruh mobil tersebut untuk parkir dihalaman tetangganya. Sambil menenteng high heels bertumit Lima cm tersebut, dia melompat dari jendela dan berjalan pelan menuju gerbang depan rumahnya. Rumahnya memang tidak ada satpam penjaga atau cctv seperti rumah orang kaya pada umumnya. Dia mulai menggeser pagar, dan dengan cepat berlari kearah mobil yang sudah lama menunggu nya.
Dengan menggunakan short dress berwarna merah, dia memasuki mobil yang sudah dipesannya.
"Jalan pak!" pinta Lilya sambil menunduk memasang heels yang tadi nya masih dia tenteng.
"Cantik banget mbak, mau kemana?" goda sang supir sambil melihat kearah spion tengah.
"Mau ketemu pacar saya Pak." ucap Lilya singkat.
"Wah beruntung banget Mas yang dapetin Mbaknya." sambung pak supir sambil mulai melajukan kendaraannya.
"Agak cepetan dikit ya, Pak!" pinta Lilya sambil melihat supir tersebut.
"Oke, Mbak!" ucap sang supir sambil menganggukkan kepalanya. Mendengar perintah dari penumpangnya, Supir itupun mulai sedikit melajukan kecepatan mobil yang dia bawa.
Tak lama kemudian, sampai lah mereka di sebuah apartmen mewah. Sebelum turun tak lupa Lilya menyodorkan uang kertas kepada supir yang telah membantunya dalam proses pertemuan tersebut.
"Makasih ya, Pak." ucap Lilya sambil keluar mobil.
"Sama - sama mbak." balas Pak supir dan langsung pergi meninggalkan Lilya.
Lilya pun segera masuk dan langsung berjalan menuju lift yang ada di sana. Ketika sampai di depan lift, Dia mendapati telponnya sedang berbunyi. Suara tersebut biasanya berdering ketika ada seseorang yang menelponnya.
"Kamu dimana?" tanya seseorang ketika Lilya sudah mengangkat telpon.
"Aku di bawah,ini mau naik. Tunggu yaa!" pinta Lilya kemudian langsung menutup telponnya.
Lilya naik ke lantai Lima, sesampainya di lantai yang dia tuju. Dia langsung mencari kamar yang biasanya juga dia kuniungi ketika ingin bermadu kasih dengan pacarnya tersebut.
__ADS_1
"Sayang, Aku kangen." seru Lilya yang tiba - tiba masuk tanpa permisi. Dia langsung naik ke pangkuan Adam kemudian memeluknya. Adam yang sedang duduk di sofa itupun langsung membalas pelukan pacarnya tersebut.
" Suami mu kemana? Kok jam segini kamu bisa keluar rumah?" tanya sang pacar heran. Karna semenjak menikah, dia tak pernah diajak ketemu diluar kantor. Jika ingin bermesraan mereka hanya melakukannya di ruangan tersembunyi itu.
"Dia di rumah sakit, menjaga Ayahnya." gerutu Lilya.
"Sudah seminggu ini aku tidur sendirian." sambung Lilya dengan wajah cemberut.
"Yaudah, Malam ini tidur sama Mas aja. Mau?" tanya Adam sambil memandangi wajah masamnya Lilya.
"Mau." jawab Lilya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Adam langsung mengangkat Lilya seperti balita yang digendong ibunya, kemudian meletakkannya di pinggir kasur yang cukup besar itu. Dia langsung membungkuk dan membukakan heels yang sedang terpakai di kaki pacarnya.
" Bajunya ga sekalian dibukain?" canda Lilya sambil senyum centil.
"Emang boleh?" tanya Adam sambil menatap kearah Lilya.
"Boleh aja kalo Mas mau." jawab Lilya sambil melingkarkan tangannya dileher pacarnya itu.
"Dengan senang hati." ucap Adam dan langsung mendorong Lilya. Adam pun segera merangkak ke atas tubuh mungil itu lalu mulai mencondongkan badannya kebawah. Dia mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir merah milik Lilya. Sedang asiknya bercumbu tiba - tiba terdengar dering ponsel milik Adam. Dia pun berhenti kemudian melihat ponsel tersebut. Bukannya mengangkat dia malah mematikan daya ponsel tersebut.
"Kok dimatiin?" tanya Lilya.
"Engga penting." jawab Adam singkat.
Adam pun mulai menarik tali yang ada di bahu pacarnya. Dia melakukan nya secara terburu - buru. Dia menarik dress itu sampai kebawah, dan betapa kagetnya dia ketika melihat dua gundukan berukuran sedang itu tidak dibungkus dengan kacamata berbusa, begitu juga dengan lembah yang sudah berair tersebut.
"Kamu engga pakai cd?" tanya Adam sambil melihat kearah lembah yang sudah sangat basah itu.
"Engga, aku sengaja biar kamu gampang memasukkan benda pusaka milikmu yang sedari tadi sudah berdiri itu." ucap Lilya dengan sedikit tersenyum sambil melihat benda yang dia maksud.
Karna bendanya memang sudah tegang dari awal Lilya datang, tanpa pikir panjang dia langsung memulai aksinya.
Setelah beberapa menit mereka langsung ambruk tak berdaya. Badan mereka sudah dipenuhi oleh peluh keringat yang merata. Mereka pun tertidur pulas karna lelah.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul Tiga subuh, Lilya tiba - tiba terbangun. Dia mencari ponselnya yang tadinya berada didalam tas kecil yang dia bawa. Setelah melihat jam, dia pun membangunkan Adam.
"Aku harus pulang." bisik Lilya ditelinganya sambil tak lupa menggoyangkan badan besar milik pacarnya itu.
"Tunggu sebentar! nanti Mas antar pulang." pinta adam sambil langsung memeluk gadis yang ada di hadapannya tersebut.
"Mas lapar, kamu mau buatin Mas mie dulu engga?" tanya Adam sambil memandangi wajah Lilya.
"Aku juga lapar, yaudah aku masak dulu ya." jawab Lilya. Dia langsung melepaskan pelukan Pacarnya tersebut, dan mulai beranjak dari kasur itu. Dia kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di sudut kamar. Setelah keluar, dia sudah menggunakan kimono handuk yang tergantung dikamar mandi tersebut.
__ADS_1
Lilya agak heran, kenapa kimono nya kecil bahkan sedikit pendek di tubuhnya. Tapi dia masih berpikiran positif, mungkin ini memang sudah disiapkan oleh adam untuknya.
Ketika sedang memasak dan hampir matang, tiba - tiba Adam datang dan memeluknya dari belakang.
"Mas kenapa?" tanya Lilya sedikit mendangak keatas, karna ukuran tubuhnya hanya sebatas dada Adam saja.
"Emang ga boleh meluk pacar sendiri?" tanya Adam kesal.
Lilya hanya mengangguk mendengar pertanyaan Adam tersebut.
Tangan Adam kemudian mulai nakal, dia mencoba memasukkan tangannya di cela - cela kain yang longgar di daerah dadanya Lilya.
"Jangan Mas! Aku masih masak loh." cegah Lilya sambil memegangi tangan besar milik pacarnya itu.
Bukannya berhenti, Adam malah menarik kimono tersebut. Akhirnya dua gundukan berukuran sedang itu terlihat jelas tanpa tertutupi sehelai benang pun. Adam langsung memegangnya dengan lembut, dengan sesekali mancubit bola kecil yang ada diatasnya.
Mendapati perlakuan Adam yang seperti itu, Lilya pun terangsang kembali. Dia dengan cepat mematikan kompor yang masih menyala tersebut.
Tangannya kemudian mulai memegangi meja yang ada didepannya, tanpa sadar kakinya pun mulai melebar dan badannya juga mencondong kedepan.
Melihat posisi Lilya yang seperti itu, Adam seperti mendapatkan lampu hijau. Dia pun langsung mulai menancapkan benda tumpul itu kedalam lobang berair tersebut.
Ronde ke dua pun terjadi. Setelah itu, Lilya langsung membersihkan diri karna akan diantar pulang oleh pacarnya tersebut.
...****************...
"Akhirnya Ayah boleh pulang" ucap Zery sambil membantu Ayahnya turun dari mobil. Setalah seminggu dirawat dirumah sakit, keadaannya pun mulai membaik. Sebab itulah Ayahnya diperbolehkan pulang.
Sesampai nya di depan pintu rumah, mereka disambut oleh asisten rumah tangga dan seorang ibu - ibu yang tidak dikenali oleh Ayahnya Zery.
"Kamu siapa?" tanya nya sambil melihat kearah ibu tersebut.
"Dia Bi asri, Yah!" celah Zery.
" Dia yang akan membantu Ayah selama aku gada di samping Ayah." jelas Zery kepada Ayahnya. Ayah nya hanya mengangguk saja kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bi, ambil kursi roda yang kita beli kemarin!" pinta Zery kepada Bibi barunya itu.
Ketika Bibi sampai, Ayah langsung duduk diatas kursi itu tanpa disuruh.
"Yaudah sekarang ayah istirahat yah!" ucap Zery lembut.
"Bi, bantuin Ayah ya! Jangan lupa kasih dia obat setiap hari." pinta Zery.
"Baik, Tuan." balas Bibinya sambil sedikit menundukkan kepala.
__ADS_1
Bibi Itu langsung mendorong kursi tersebut untuk dibawa ke kamar. Sedangkan Zery langsung pergi ke kantor karna ada urusan yang harus dia selesaikan.
Bersambung.