
Hari yang telah di tunggu akhir nya telah tiba. Sudah ada empat bus yang berjajar di area depan gerbang sekolah.
" Ver.. kita gak satu bus ternyata " ujar Edwis tak semangat.
" Iya... tapi gak papa deh yang penting kita nanti satu kamar " jawab Vira menyemangati Edwis.
Tak lama beberapa guru pendamping memberi perintah agar semua murid- murid berbaris di depan bus masing- masing untuk di absen.
Setelah mengisi absen,semua siswa masuk kedalam bus untuk mencari tempat duduk. Vira yang berencana hendak duduk di depan tiba- tiba tangan nya di tarik hingga membuat diri nya terduduk di kursi itu.
" Kurang ajar banget sih.. main tarr....... " belum selesai Vira melanjut kan perkataan nya ia sudah di kejut kan oleh Reno yang telah duduk di sebelah nya.
" Reno...?? jadi kamu yang narik tangan aku,kurang kerjaan banget sih jadi orang bikin orang jantungan aja " oceh nya mengeluar kan kekesalan nya.
" Duduk di sini aja... " ucap nya masih memegang tangan Vira.
" Gak mau! aku mau duduk di depan aja.. udah lepasin tangan aku " jawab nya, Vira berusaha melepas kan cengkeraman tangan Reno.
" Gak..!! kamu duduk di sini atau keluar dari bus ini, karena kamu lihat semua udah duduk dan gak ada tempat lagi untuk kamu.. " ujar nya menunjuk ke sekeliling dalam bus.
Vira yang juga melihat nya pun hanya pasrah, tak mungkin ia harus keluar dari bus ini.
" Gara- gara kamu sih... " ujar nya kesal, namun tidak dengan Reno ia tersenyum puas penuh kemenangan.
Sementara di kursi belakang mereka, Gita yang tadi nya hendak duduk bersama Reno terpaksa mengurung kan niat nya karena Reno sudah lebih dulu menarik tangan Vira untuk duduk di sebelah nya. Membuat hati nya semakin panas dan semakin tak menyukai dengan kehadiran Vira.
Setengah jam perjalanan..
Reno yang sejak tadi belum tertidur karena sibuk dengan ponsel nya, ia melihat Vira yang telah tidur dengan pulas nya. Dengan perlahan ia menaruh kepala Vira di bahunya.
" Dasar gadis tukang tidur.. " ucap nya lirih sembari tersenyum.
__ADS_1
Tak bisa di pungkiri perasaan Reno saat ini sangat lah berbeda jika ia melihat Vira. Entah sejak kapan mulai tumbuh perasaan itu, apakah di saat dia benar- benar Vera atau semenjak Vira yang telah memasuki raga Vera.
Hampir enam jam perjalanan mereka sampai di sebuah pedesaan kecil yang masih asri. Berada di daerah perbukitan membuat cuaca terasa sangat dingin.
Apa lagi hari telah senja, membuat dingin nya udara serasa menusuk ke dalam tulang.
Mereka di arah kan menuju ke sebuah penginapan yang telah di sediakan sekolah. Meski desa ini kecil namun di sini mereka memeiliki fasilitas layak nya penginapan di villa mewah.
Karena desa ini memiliki beberapa tempat wiasata alam yang menarik.
" Ahhh.. lelah nya " ujar Vira membaring kan tubuh nya ke atas kasur yang ukuran nya hanya muat untuk dua orang.
Edwis juga ikut berbaring di samping nya.
" Di sini udara nya dingin banget ya... jadi males mau mandi " ucap Edwis menggosok- gosok kedua tangan nya.
" Jelas dingin lah Wis...di sini kan daerah pegunungan, lagian kalau mau mandi ada air hangat nya kok.. "
" Bilang aja males mandi.. " ejek Vira yang langsung di sambut gelak tawa oleh Edwis.
Mereka masih berbaring bersama sambil bertukar cerita, hingga langit menjadi gelap cahaya mentari yang tadi nya terang kini berganti dengan rembulan yang masih berbentuk separuh, namun cahaya nya sangat lah terang.
Setelah acara makan bersama, semua kembali ke kamar mereka masing- masing. Namun tidak dengan Vira, ia memilih duduk sejenak di dekat kolam ikan yang berada di halaman samping villa.
" Jangan keluar sendiri saat malam...berbahaya " ujar Reno yang tiba- tiba sudah berdiri di belakang Vira.
" Berbahaya apa nya.. ini kan villa, gak mungkin kan di sini ada binatang buas atau sebagai nya.. "
" Ya berbahaya kan bukan berarti tertuju ke hal yang seperti itu, bisa jadi berbahaya nya merujuk ke sesuatu yang gak bisa di lihat oleh kasat mata.. "
" Maksud kamu ada hantu gitu, di jaman modern seperti ini ku rasa udah gak ada lagi hal- hal yang seperti itu.. "
__ADS_1
" Jangan terlalu percaya diri... ya udah kalau kamu masih mau diem di sini, yang jelas aku udah kasih tau kamu. Ini kan bukan di kota tapi di desa biasa nya suka ad..... " belum selesai Reno melanjut kan perkataan nya tiba- tiba ada sesuatu yang jatuh.
Bugh...
Reni dan Vira saling pandang satu sama lain, Vira langsung berdiri dan segera lari masuk kedalam bersama dengan Reno. Tanpa mereka sadari mereka saling berpegangan tangan.
Mereka sampai di ruangan tengah yang lumayan besar, ia mengedar kan pandangan nya ke sekeliling ruangan yang tampak sepi.
" Kemana pergi nya mereka semua..? " ujar Reno yang ngos- ngosan karena habis berlari.
Vira hanya menggeleng pelan, ia juga merasa capek karena jarak dari halaman samping villa ke ruang tengah cukup jauh.
" Aakkhh... !!kenapa kita pegangan tangan sih " ujar Vira yang langsung melepas kan tangan Reno saat menyadari jika mereka saling berpegangan tangan.
" Biasa aja dong.. gak usah pake teriak gitu, ntar di kira aku ngapa- ngapain kamu lagi " ujar Reno mengusap pelan telinga nya yang terasa peka.
" Ya maaf kelepasan soal nya.. " ucap Vira terkekeh.
" Tunggu dulu deh.. kenapa sekarang kamu yang lebih sering kesal ke aku sih "
" Ya karena kamu emang sering ngeselin.. udah deh jangan di perpanjang lagi, kalau di luar rumah kita anggap teman kalau di rumah baru aku anggap kamu majikan.. " jawab nya.
" Ngomong- ngomong yang jatuh tadi apa ya.. aku jadi merinding, kamu sih pake acara ngomong kayak gitu.. " lanjut Vira lagi.
" Mana aku tau, tadi nya cuma iseng mau nakuti kamu eh.. gak tau nya beneran muncul "
" Dasar penakut tapi suka nakuti orang.. " Ujar Vira.
Mereka pun pergi mencari keberadaan yang lain nya menuju halaman depan villa. Tampak semua orang telah berkumpul dengan duduk melingkar.
Reno dan Vira ikut masuk di antara mereka, dan mengikuti kegiatan yang sedang mereka lakukan.
__ADS_1