
Di sebuah ruangan yang ber-cat hitam dan putih. Duduklah seorang pria di balik meja yang bertuliskan CEO ARKANA DIGTA MAHESA
Arkana (32) tahun. Dia adalah CEO Mahesa Group, yang tak lain adalah perusahaan keluarganya sendiri.
Kana, pria tampan, tajir serta pewaris tunggal perusahaan Mahesa Group itu sangat dikagumi kaun hawa. Sayang, dengan kemapanan dan pesona yang dia miliki tak sebanding dengan takdirnya cintanya.
Di usianya yang terbilang masih muda, dia harus menyandang gelar duda. Tanpa seorang anak. Entah apa yang membuat mantan istrinya meninggalkan Kana.
Mereka menikah sudah berjalan 5 tahun lamanya. Tapi sayang, Tuhan belum memberikan keturunan pada mereka.
Dia bercerai dengan istrinya 1 tahun yang lalu. Istrinya ternyata mengkhianati cintanya.
Mira Aurora, dengan tega menduakan cintanya dengan pria lain, yang tak lain masih sahabat Kana sendiri.
Entah apa yang membuat Mira berpaling dari Kana. Hancur lebur hati Kana mengetahui kenyataan itu, dan dia menganggap mereka sudah mati.
Setelah perceraian itu, Kana seperti menutup mata terhadap lawan jenis. Dia seperti tanpa minat pada seorang wanita. Hanya pada beberapa wanita tertentu saja yang dekat dengannya.
*
Kana sibuk dengan berkas yang dia teliti, sesekali dia membubuhkan tandatangan pada berkas itu.
Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Lalu Kana menghentikan kegiatannya dan meraih ponselnya berbarengan dengan pintu ruangannya diketuk dan masuklah seorang wanita lebih dewasa darinya.
Wanita dewasa itu Bu Linda, sekretaris Kana.
Dia menghampiri meja Kana dan menyodorkan berkas lagi padanya.
"Ada berkas lagi yang harus kamu teliti!" sodor Bu Linda dan meletakkan di meja kerja Kana.
"Ok, Bu," jawab Kana sambil menempelkan ponselnya ke telinga untuk melakukan panggilan pada seseorang. Telepon pun langsung tersambung.
"Hallo, An ... Nanti, makan siang masakin aku soto ayam sama kentang balado, ya!" perintahnya pada seseorang di sebrang sana.
"Ok, terimakasih. Awas telat!" lanjutnya.
Bu Linda membereskan berkas-berkas yang sudah selesai diperiksa oleh Kana. Lalu dia berkata, "Kamu tuh kaya perintah istri, aja."
"Lah, kenapa emang?" tanya Kana.
__ADS_1
"Ya, kamu merintah Anjana kaya sama istri aja. Hampir tiap hari mesti dikirimin makan siang. Kenapa kamu gak nikahin dia aja!" ungkap Bu Linda.
"Anjana, kan asisten pribadi keluarga Aku, Bu. Wajar dong kalau Aku nyuruh dia ini dan itu," jawab Kana sambil tersenyum.
"Ya, lagi pula, dia pasti gak repot kok. Papa 'kan lagi ke luar kota. Toh, aku nyuruh dia gak tiap hari," lanjutnya.
"Nih, ya. Kalian itu cocok, kok. Kamu duda, dia janda. Awas, ntar kesambet set*n," ucap Bu Linda.
"Set*nnya ibu ... hihihi," ledek Kana.
"Issshhh ... Kamu sukanya ngeledek mulu." Bu Linda memprotes.
Setelah selesai membereskan berkas-berkas itu, Bu Linda pun keluar dari ruangan Kana. Tinggallah Kana seorang, dengan tersenyum mengingat ocehan Bu Linda. Lalu, bayangan masa lalu tanpa permisi kembali di ingatannya.
***
Tujuh tahun yang lalu.
"Jadi, kita meeting di sini, Kan?" tanya seorang pria yang bernama Adit pada Kana. Waktu itu Kana baru diangkat menjadi CEO di perusahaannya. Saat itu Kana belum menikah.
Hari ini, Kana ditemani Adit meeting di luar kota yang kebetulan dekat dengan rumah Adit.
Setelah selesai meeting, Adit membawa Kana mampir ke rumahnya. Kana memang belum pernah berkunjung ke rumah Adit dan mengiyakan ajakannya.
Mereka sudah tiba di rumah Adit dan memasuki teras rumahnya. Adit mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah ketukan pertama, ponselnya berbunyi. Adit pun mengangkat telepon itu dan sedikit menjauh dari pintu.
Kana menunggu Adit menerima telpon dan bersandar di dinding dekat pintu. Tak berapa lama pintu itu terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik di balik pintu.
Kana seperti terpana melihatnya. Gadis yang berbaju hijau army dan membiarkan rambutnya tergerai itu tersenyum dan menjawab salam tadi.
"Perasaan tadi yang ngucap salam Mas Adit," gumam gadis itu.
"Maaf, cari siapa, ya?" tanya gadis itu. Tetapi, Kana tidak merespon dan masih terpana.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya gadis itu lagi. Kana pun mengerejapkan matanya dan sadar dari keterpaannya.
"Hmmm ... anu, saya," blom tuntas Kana menjawab, Adit langsung menghampiri setelah selesai menerima panggilan tadi.
"Hai, Dek?" sapa Adit dan gadis itu langsung mencium punggung tangannya.
__ADS_1
'Dek, adiknya Adit kah?' monolog Kana dalam hati dan bibirnya tersenyum.
"Mas, kok, nggak bilang kamu mau pulang?" tanya gadis itu. Kana masih memerhatikan mereka berdua yang terlihat saling menyayangi.
"Maaf, ini aja dadakan. Kebetulan, Mas ada meeting sama Bos di daerah ini," jawab Adit halus.
"Kalau tahu Mas mau pulang, Aku siapin makanan," ucap gadis itu dengan senyum msnisnya.
"Nggak apa-apa, lagi pula aku udah makan tadi di tempat meeting sama Bos." Dan tibalah Adit memperkenalkan Ana pada Kana. "Kan, kenalin, ini Anjana."
"Dek, ini anak Bos-nya Mas, Pak Arkana namanya, tapi panggil aja Kana."
Kana langsung menyodorkan tangan kanannya, disambut oleh Anjana dan saling mengenalkan diri.
Awalnya Kana merasa bahagia, karena gadis yang baru berjabat tangan dengannya adalah adiknya Adit. Ya, dia mengira adik karena mendengar Adit memanggilnya 'Dek.' Namun Kana seperti jantungnya berhenti berdetak tatkala mendengar penuturan Adit.
"Istriku cantik, ya?" ucap Adit.
"Ap-apa ...?" gugup Kana karena ternyata gadis yang sedang dia kagumi adalah istri Adit. Betapa malunya dia bila ketahuan seperti memuja gadis itu tadi, yang tak lain adalah istri dari asistennya.
"Istri ... ya ampun, sorry, waktu nikah kalian Aku nggak bisa dateng. Makannya aku gak tahu kalau Anjana istrimu." Kana berusaha menutupi rasa malunya.
Adit dan Anjana menikah baru beberapa bulan. Di waktu mereka menikah, Kana tidak datang karena berada di luar negri. Makannya dia tidak mengenal Anjana.
"Maaf juga, baru kenalin sekarang," ucap Adit dan mengajak Kana untuk masuk. Anjana pun menyodorkan minuman dan camilan kepada mereka.
Kana benar-benar merasa gila terhadap perasaan yang tidak sengaja mengagumi istri asistennya.
***
Suara dering posel membuyarkan lamunannya. Tertera nama salah satu sahabatnya. Mereka pun berbincang lumayan lama. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak berapa lama, sambungan telepon pun berakhir.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dan menyuruh sang pengetuk masuk dan menampilkan dua orang wanita yang berbeda usia.
Salah satu dari wanita itu adalah Bu Linda, dan di belakangnya ada seorang wanita cantik yang sedang menenteng kotak makan dan tersenyum manis padanya. Senyumannya membuat hati Kana terpana. Terpana seperti di masa lalu.
__ADS_1
Bersambung ...