
Tok ... Tok ... Tok ...
Bu Linda sedang ke ruangan Tuan Arya untuk mengantarkan berkas-berkas yang tadi dihandle Anjana. Setelah mengetuk pintu ruangan dan ada titah masuk dari dalam, Bu Linda pun melenggang masuk.
"Permisi, Tuan. Saya ingin memberikan berkas-berkas yang sudah Pak Arkana tandatangani," ucap Bu Linda sambil meletakkannya di meja.
Tentu saja Tuan Arya mengerutkan keningnya. "Loh ... Kenapa bukan Anjana?"
"Maaf, Tuan. Anjana sedang mengasuh bayi besar." Bu Linda benar-benar menyampaikan pesan Anjana.
"Maksudnya? ... Emangnya ada bayi masuk ke Kantor Kita?" Tuan Arya bingung.
"Bayi besarnya itu, Pak Arkana, Tuan."
"Astaga ... Kamu jangan bikin Saya pusing dong, Lin! Anjana mengasuh bayi besar, atau sedang bersama Arkana?"
"Ya itu ... Anjana sedang menghibur Pak Arkana yang sedang merajuk seperti bayi besar."
Seketika tawa Tuan Arya pecah. Dia baru faham apa yang dimaksud Bu Linda. "Hadeuuuhhh, anak itu. Sudah dewasa, kelakuan masih kayak anak kecil."
"Apa Tuan keberatan?" tanya Bu Linda hati-hati.
"Tidak ... Biarkan saja mereka berdua. Saya tahu apa yang sedang Arkana rasakan. Dia memang harus punya waktu untuk menghibur diri. Selama ini, Dia terlalu banyak menguras isi pikirannya dan melupakan kebahagiaannya." Tuan Arkana pun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Saya terkadang bingung harus berbuat apa. Saya tahu Arkana dari dulu menaruh hati pada Anjana. Tapi takdir membuatnya terpuruk."
Bu Linda dan Tuan Arya memang mengetahui masa lalu pahit Arkana. Di mana, pada saat Arkana menghubungi Tuan Arya ketika Adit kecelakaan, Bu Linda sedang mendampingi rapat Tuan Arya.
"Sebenarnya, Saya bisa saja menyatukan mereka. Tapi, Saya yakin Anjana tidak semudah itu menerimanya. Saya juga khawatir, masa lalu dan kenyataan yang Kami kubur dalam-dalam, akan menjadi hal buruk bagi kesehatan mental Arkana. Kenyataan itu bagaikan bom waktu yang kapan saja akan meledak."
Ucapan Tuan Arya membuat Bu Linda ikut sedih. Karena dia tahu, ketika pasca kecelakaan itu, mental Arkana sempat terganggu.
"Mungkin lebih baik Kita simpan rapat-rapat kenyataan itu. Untuk saat ini, lebih baik Kita biarkan saja mereka dekat!"
Tuan Arya mengangguk setuju. Walaupun dia tidak sepenuhnya tenang.
"Ayok dong, cobain!"
"Ogah ... Ini mainan anak-anak. Aku nggak mau main ginian!"
"Ck ... Siapa bilang, ini mainan anak-anak. Lihat di sana, banyak 'kok orang dewasa yang memainkannya!"
Anjana ternyata membawa Arkana ke Game Zone. Tempat ini memang tidak jauh dari Kantor. Makannya, Anjan hanya mengajaknya jalan kaki.
"Kamu saja yang main. Aku mending jadi penonton saja!"
"Ish ... Nggak asyik." Anjana mendelik tajam.
Anjana pun memilki ide. "Bagaimana, jika kita taruhan!"
Arkana menatap malas pada Anjana. "Taruhan apa?"
"Kita main 5 macam permainan ini. Jika Aku kalah, Aku akan mentraktir makan siang selama seminggu. Begitupun jika Anda yang kalah. Bagaimana ... Deal!" Anjana mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Ck ... Baiklah ... Tapi dengan syarat!" Arkana sedikit menarik bibirnya yang menampilkan senyum misterius.
"Apa syaratnya?" tanya Anjana dan menerima usul Arkana.
"Tolong jangan bersikap formal padaku. Aku ingin kita seperti teman. Jadi, panggil Aku Arkana saja. Dan jika Kamu setuju, Aku akan ikut main. Jika Kamu tidak setuju, Aku lebih baik pergi dari sini!"
"Tapi ...."
"Kenapa? ... Aku Bos-mu? ... Huuufffttt, Aku juga manusia. Nggak ada salahnya kita berteman. Kita sudah lama bekerja sama. Dan Aku muak dengan kedekatan kita yang begitu-begitu saja."
Anjana pun berpikir, tidak ada salahnya juga menerima permintaan Arkana.
"Ok ... Deal!" ucap Anjana sambil mengulurkan tangan kanannya. Arkana pun menjabat tangan Anjana.
"Mulai saat ini, Kita berteman!" Arkana pun tersenyum
Mereka pun beraksi memainkan 5 permainan yang Anjana tunjuk. Arkana pun akhirnya menikmati permainan yang tadi dia anggap untuk anak kecil.
Akhirnya permainan selesai. Nilai Anjana 2, karena Anjana berhasil mengalahkan Arkana dua kali. Sedangkan nilai Arkana 3, karena berhasil mengalahkan Anjana tiga kali.
Mereka pun duduk di kursi yang tersedia di sana. Arkana benar-benar merasa puas bisa mengalahkan Anjana.
Arkana terkekeh. "It's not bad. So ... Karena Aku yang menang, berarti Kamu harus tepatin janjimu!"
Anjana memutar bola matanya jengah. "Baiklah ... Aku terima kekalahanku. Tapi, belikan Aku es krim sekarang! Aku nggak bawa dompet apalagi ponsel." Anjana menadahkan tangannya.
"Perasaan yang tadi ngajak ke sini tuh, Dia. Harusnya, yang beli ini itu yang ngajak," protes Arkana. Pasalnya, Arkana tadi membeli beberapa koin untuk ke 5 permainan yang mereka mainkan. Anjana sama sekali tidak keluar uang sedikit pun.
Anjana terkekeh dengan dumalan Arkana. "Setidaknya, Aku sudah menghiburmu. Jadi, itung-itung itu semua adalah imbalan untukku."
"Ck ...," decak Arkana sambil mengeluarkan dompet dari kantong celananya.
"Beli apapun yang Kamu mau," ucap Arkana dengan menyodorkan black card miliknya ke tangan Anjana.
Anjana mengangguk dan mencebikkan bibirnya ketika melihat black card itu. "Pin-nya?" tanya Anjana.
Arkana mendekati Anjana. Dia pun membisikkan pin black card itu. "151284," bisik Arkana tepat di telinganya. Hal itu sukses membuat Anjana sedikit gugup. Tapi maksud Arkana membisikkan pin itu karena itu adalah pun rahasia yang tak boleh orang dengar.
__ADS_1
"O-ok ...." Anjana pun pamit membeli es krim.
Suasana hati Arkana sedikit membaik saat ini. Dia juga senang bisa berteman dengan Anjana. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
Tak berapa lama, Anjana sudah kembali membawa 2 es krim. Anjana pun mengembalikan black card milik Arkana. Dia juga memberikan salah satu es krim itu padanya.
"Es krim rasa coklat bisa membuat perasaan menjadi tenang," ucap Anjana sambil fokus memakan miliknya.
Arkana pun fokus memakan es krim miliknya. "Sebenarnya Aku nggak terlalu suka es krim. Tapi, baiklah. Itung-itung perayaan pertemanan kita."
Anjana mengangguk dan tersenyum. "Aku suka es krim. Rasa apa saja."
Timbul pemikiran usil di benak Arkana. "Hey ... Es krim-ku." Anjana melotot.
Tanpa diduga, Arkana mengambil es krim Anjana. "Jangan coba-coba makan es krim-ku!"
"Why ...? Aku hanya ingin mencicipi es krim-mu," ucap Arkana.
"Nggak boleh ...!"
"Pelit amat jadi cewek."
"Karena es krim itu ada kacangnya. Bukankah, Kamu alergi kacang?"
Seketika Arkana pun terdiam. Anjana dengan cepat mengambil es krimnya.
"Benarkah ... Jangan bohong ... Kamu pasti cuma alasan aja supaya Aku nggak cicipin es krim itu."
Anjana menghela nafas dan menunjukkan padanya bahwa es krim itu ada kacangnya. "Noh, lihat ... Aku nggak bohong."
Arkana pun mendengkus sebal. Namun, dia dibuat melotot oleh kelakuan Anjana ...
Hap ...
Es krim cornet\* miliknya tanpa dia sadari sudah dilahap bagian atasnya oleh Anjana. "Anjana ...," geram Arkana.
Anjana bergegas lari dari Arkana dengan memeletkan lidahnya. Arkana tak tinggal diam, Dia pun bergegas mengejarnya. "Awas Kamu, ya ...!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ...