TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU

TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU
12. Kehujanan


__ADS_3

"Kemana dia?"


Saat ini, Arkana sedang mencari keberadaan Anjana di area Game Zone. Anjana sepertinya bersembunyi dari kejaran Arkana. Namun Arkana dibuat terpana oleh adegan yang tak jauh dari depan matanya.


Arkana melihat interaksi Anjana dengan seorang anak kecil perempuan yang berkunjung di sana. Anak itu terlihat girang ketika Anjana mengajarkannya permainan yang tidak dia fahami. Orang tua anak kecil itu juga sangat terbantu dengan adanya Anjana, karena sedang menggendong balita, adik dari anak kecil itu, itulah yang Arkana lihat.


Arkana dengan senyum mengembang menghampiri Anjana yang sedang fokus mengajak bermain anak kecil itu.


"Aku cari Kamu ke mana-mana. Ternyata Kamu ada di sini."


Anjana menoleh dan terkekeh ke arahnya. "Tadi, pas Aku ingin bersembunyi, anak kecil ini sedang menangis ingin memainkan permainan ini. Sedangkan, ibunya sedang repot sama adik dari anak kecil ini."


"Perlu bantuan?" tawar Arkana. Tentu saja Anjana mengangguk setuju.


"Adek gemoy, kenalin ini Om Arkana. Kamu mau 'kan ditemenin main sama Dia?" ucap Anjana pada anak kecil yang tubuhnya bongsor, sehingga Anjana menyebutkannya gemoy.


Anak kecil itu mengangguk. "Hai, Om, ayok main sama Aku!"


Mereka bertiga bermain bersama. Mungkin jika orang melihatnya, mereka seperti keluarga yang berbahagia.


Tak berapa lama, Ibu dari anak kecil itu menghampiri. "Maaf, sudah merepotkan pacar Anda," ucap Ibu itu pada Arkana.


"Hah," kaget Anjana. Sedangkan Arkana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf ya, pacarnya pasti nyariin karena Kamu malah main dengan anak Saya," ucap Ibu itu lagi namun ditunjukkan pada Anjana.


"Emmm ... Dia---," ucapan Anjana menggantung.


"Tidak masalah ... Saya suka anak kecil. Lagipula, ini sangat menyenangkan," ujar Arkana. Anjana merasa canggung.


"Tapi, Kami tidak---," sekali lagi ucapan Anjana menggantung. Namun sekarang terpotong oleh Ibu itu.


"Wah ... Apa kalian pengantin baru? Kalian terlihat sangat serasi dan cocok." Pernyataan Ibu itu membuat Anjana tersendat.


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...


Arkana hanya mendengkus dan menahan senyum dengan pernyataan Ibu itu.


"Kami bukan---," lagi dan lagi, ucapan Anjana menggantung.


"Saya doakan, semoga kalian cepat diberi momongan."


Ucapan Ibu itu membuat Anjana melongo. Dia benar-benar kesal karena dari tadi ucapannya selalu terpotong dan menggantung. Sedangkan Arkana terkekeh geli dengan pernyataan Ibu itu.


"Ya sudah, Kami pamit mau pulang, karena sudah sore. Sekali lagi, Saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan kalian berdua."


Anjana hanya meringis menahan rasa kesal yang sedari tadi dia tahan.


"Makasih ya, Om, Tante, sudah mau nemenin Aku main. Kalau gitu, Aku pamit pulang dulu. Dadah ...," ucap anak kecil yang gemoy itu pamit dan melambaikan tangan, lalu pergi dengan ibunya.


Setelah kepergian anak kecil bersama ibunya itu, tawa Arkana seketika pecah.


"Ngapain ketawa?" Anjana cemberut.


"Lucu aja ... Ucapan Kamu dari tadi terpotong terus sama Ibu itu, hahaha ...," tawa Arkana semakin menjadi.

__ADS_1


"Ketawa aja terus ...," geram Anjana dengan melipat kedua tangannya di dad*.


"Apa kita perlu mengabulkan permohonan Ibu itu?" ucap Arkana dengan menaik turunkan alisnya.


Anjana mendelik. "Permohonan yang mana?"


Arkana mendekati Anjana dan membisikan kalimat di telinganya. "Kita menikah, dan punya momongan!"


"Apa?" Anjana memelototkan matanya.


"Tapi bo-ong," canda Arkana.


Arkana tertawa terbahak bahak ketika melihat wajah Anjana yang terlihat murka. Anjana pun mendorong tubuh Arkana dan meninggalkannya dengan wajah ditekuk.


Anjana kesal dan marah dengan candaan Arkana. Bisa-bisanya malah meladeni ucapan Ibu itu. Dia pun keluar dari area Game Zone dan berjalan dengan kesal.


Arkana pun mengikutinya dari belakang. Entah kenapa, dia bisa seusil itu dan merasa puas sudah membuat Anjana kesal.


Tiba-tiba hujan turun ketika mereka sudah keluar dari area Game Zone itu. Mereka mencari tempat untuk berteduh. Mereka pun berteduh di tempat halte bus.


"Ya ampun ... Hujannya langsung deras," ucap Anjana dengan mengusap-usap bajunya.


"Kamu kebasahan?" tanya Arkana.


"Tentu saja. Nggak bisa lihat bajuku yang basah ini," dumal Anjana.


Arkana seketika canggung, karena melihat baju Anjana yang basah. Baju yang dikenakan Anjana kemeja warna putih tangan panjang yang dilipat sesikut, dengan rok span selutut warna coklat. Kemeja putih yang basah itu terlihat transparan dengan menampilkan dalaman yang dipakai Anjana.


Anjana belum menyadari bahwa kemeja putihnya transparan. Namun Arkana bingung memberitahunya. Seketika mata Tama membulat ketika ada seorang pria paruh baya di halte bus itu. Pria paruh baya menatap intens ke arah Anjana. Lebih tepatnya, menatap intens pada kemeja Anjana yang transparan.


Arkana menyesal tidak memakai jas-nya. Andai tadi dia tidak mendengarkan Anjana untuk tidak perlu memakai jas. Mungkin dia bisa meminjamkan jas-nya saat ini.


Arkana tanpa pikir panjang langsung membuka kemeja yang dia pakai. Hingga dia hanya memakai kaos oblong polos warna putih.


"Kenapa bajumu dibuka? Kalau masuk angin gimana?" tanya Anjana heran.


Arkana seakan tidak peduli dengan ucapan Anjana. Dia pun mendekati Anjana yang sedang sibuk menggosok-gosok telapak tangannya karena kedinginan. Tanpa aba-aba dan tanpa permisi, Arkana menyampirkan kemeja miliknya yang berwarna abu-abu itu ke tubuh Anjana.


"Tutupi pemandangan tubuhmu dari pria yang punya pikiran kotor!" ucap Arkana.


"Maksudnya?" Anjana belum mengerti dan belum menyadari apa yang Arkana maksud.


"Bajumu transparan. Hal itu bisa membuat laki-laki hidung bel*ng menyantapmu." Ucapan Arkana sukses membuat Anjana melihat ke arah bajunya. Dia melotot dan baru menyadarinya. Dia pun langsung membenarkan kemeja Arkana untuk menutupi pemandangan itu.


"Jaga pandanganmu!" ancam Anjana dan menutup rapat-rapat tubuhnya dengan kemeja Arkana


Arkana hanya geleng-geleng kepala dibuatnya. "Nggak usah GR! ... Bilang makasih, kek!"


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" protes Anjana sambil cemberut.


"Ck ... Kukira Kamu sudah tahu dan sengaja mempertontonkannya."


"Astaga, Kamu kira Aku wanita apa-an," geram Anjana.


"Untung Aku yang melihatnya dan juga Kamu nggak sendiri di sini. Jika saja Kamu sendirian dengan penampilanmu seperti ini, Aku nggak bisa jamin keselamatanmu."

__ADS_1


"Jaga bicaramu ... Jangan sembarangan kalau bicara!" kesal Anjana. Arkana malah terkekeh.




Malam pun tiba ...



Hasyiiimmm ... Hasyiiimmm ...



Arkana merasa tak enak badan. Badannya menggigil dan beberapa kali bersin.



Arkana dan Anjana pulang ke rumah dari area Game Zone sore. Lebih tepatnya, ketika mereka setelah berteduh lama di halte bus. Sangat sulit mencari taksi jika hujan sederas itu.



Anjana langsung mandi air hangat dan meminum air hangat. Sedangkan Arkana, malah duduk santai di sofa kamarnya sambil mengecek beberapa email masuk. Hingga dia pun malah terlelap.



Arkana terbangun ketika sudah malam, karena merasakan tubuhnya yang menggigil dan juga bersin-bersin. Dia juga melewati makan malam.



Sebenarnya, pembantu di rumah itu sudah mengetuk pintu kamarnya ketika jam makan malam. Namun ternyata nihil.



Anjana di kamarnya kenapa tiba-tiba tidak tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Tuan Arya dan Nyonya Arumi juga sudah tidur. Anjana malah tidak bisa tidur, hingga dia pun keluar dari kamar paviliun itu.



"Mungkin Aku butuh yang hangat-hangat. Bikin mie instan banyak rawitnya, wah mantap tuh," ucap Anjana bicara sendiri. Dia pun menuju ke dapur rumah besar. Namun ketika dia melewati kamar Arkana, tiba-tiba dia mendengar benda jatuh. Karena penasaran, Dia pun mendekati pintu kamar Arkana dan mengetuknya.



Tok ... Tok ... Tok ...



"Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Anjana. Namun dia tidak mendengar suara dari dalam. Dia pun dengan pelan membuka pintunya karena sangat khawatir.



"Ya ampun, Ar ...."



BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2