
Saat ini, Anjana sedang membuat sup untuk Arkana. Dia benar-benar jengkel pada kelakuan anak majikannya itu. Tadi ketika Dia masuk kamarnya, Dia dikejutkan dengan tubuh Arkana yang tergeletak di lantai. Anjana pun panik dan langsung menolongnya. Ketika badannya diperiksa, ternyata suhu badannya panas.
Anjana geleng-geleng kepala ketika melihat baju yang Arkana gunakan itu masih baju tadi sore. Baju yang sudah basah kehujanan. Pantas saja sekarang Arkana demam. Anjana pun menyuruhnya berganti pakaian.
Sup sudah siap dihidangkan. Dia pun membawanya ke kamar Arkana. Sekarang, waktu menunjukkan pukul 12 malam.
Arkana sudah mengganti bajunya dan sedang bersandar di kepala ranjang ketika Anjana memasuki kamarnya.
"Makan sup dulu biar menghangatkan tubuh Kamu. Abis itu minum obat!" ucap Anjana sambil memberikan mangkuk sup itu ke Arkana.
Arkana memandang malas pada Anjana. "Kamu nggak ada niatan buat suapin Aku. Aku lagi sakit, loh. Tega banget disuruh makan sendiri," keluh Arkana.
"Ck ... Manja ... Salah sendiri, ceroboh tadi nggak langsung mandi air hangat dan berganti pakaian," dumal Anjana.
"Maaf ... Tadi pas cek email, Aku malah rebahan dan ketiduran." Arkana mencari alasan. Namun memang kenyataannya seperti itu.
Anjana pun mulai menyendok sup itu dan meniupinya, lalu disodorkan pada Arkana. "Aaa ...," titah Anjana pada mulut Arkana.
Arkana tidak menurut membuka mulutnya. Dia gemas melihat wajah Anjana yang kesal. "Ikhlas nggak sih, suapinnya?"
"Kenapa tanya gitu?"
"Wajah Kamu menggambarkan kalau Kamu nggak ikhlas. Ngurusin orang sakit itu harus ikhlas, sambil tersenyum dan lemah lembut!"
Anjana memutar bola matanya jengah. "Baiklah ... Ayok buka mulutnya!" ucap Anjana dengan senyum dipaksakan.
Arkana pun dengan senyum pu*as menerima perlakuan Anjana. Hingga sup itu habis dan Anjana memberikan obat demam untuknya.
"Tunggu beberapa menit dulu, baru boleh tidur karena makanan barusan belum tercerna!" ucap Anjana layaknya seorang Dokter.
"Siap Bu Dokter!" seloroh Arkana.
"Aku bukan Dokter." Anjana pun membereskan bekas sup tadi ke nampan dan akan bergegas keluar. Namun, Arkana melarangnya.
"Bisa temani Aku sampai tertidur! Setidaknya, temani Aku ngobrol dulu selagi makanan turun tercerna!" pinta Arkana. Anjana pun meletakkan nampan itu di atas nakas dan duduk di kursi sebelah ranjang Arkana.
"Ok ... Lagipula, Aku juga belum ngantuk." Anjana mengecek suhu tubuh Arkana dan mengganti kain kompresan di dahinya.
"Hmmm ... Maaf, Aku tidak memberitahu Tuan dan Nyonya."
"Tidak apa-apa. Jangan ganggu mereka. Mereka mungkin sudah tidur nyenyak!" Anjana pun mengangguk.
"Terimakasih," lirih Arkana.
"Aku 'kan asisten di sini. Jadi, sudah menjadi tugasku untuk melakukan segala hal," ucap Anjana sambil memasangkan kain kompresan lagi.
Arkana menghela nafas. "Maaf, sudah ceroboh dan merepotkanmu."
"Sudah biasa Kamu ceroboh dalam hal apapun. Jadi, sudah terbiasa juga bagiku direpotkan olehmu."
Arkana terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa ... Apa ada yang salah?" tanya Anjana yang melihat Arkana terkekeh.
"Tidak ... Aku hanya nyaman, kita bisa seakrab ini. Aku bosan dengan sikapmu yang selalu formal. Seakan-akan, dunia kita berbeda."
"Emang Kita berbeda 'kan. Kamu pria dan Aku wanita. Jelas beda dong."
"Ya ... Ya ... Ya ... Kamu memang selalu pintar kalau berbicara."
"Terimakasih atas pujiannya ... Lagipula, jika Aku nggak pintar, mana mungkin Tuan dan Nyonya memperkerjakan Aku."
Arkana mendes*h sebal dengan sikap percaya diri Anjana. Tapi Dia suka dengan sikap Anjana yang sekarang.
"Kamu mungkin akan sangat terkejut lagi jika tahu dengan kecerobohan terbesarku," ucap Arkana. Namun tak terdengar jelas oleh Anjana.
"Apa? Kamu bicara apa barusan?"
"Hmmm ... Nggak penting." Arkana mencoba mengubah topik. "Oh ya ... Kamu sendiri, kenapa belum tidur jam segini?"
"Oh ... Aku tadi sudah tidur sebenarnya. Terus jam 11 tadi Aku terbangun dan perutku terasa lapar. Aku pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan dan ditambah cabe rawit yang banyak, Aku sangat suka. Lalu Aku mendengar suara benda jatuh di kamarmu, Aku pun langsung ke sini karena khawatir takut kamu kenapa-kenapa."
Ucapan Anjana membuat Arkana terbang melayang. Dia tidak menyangka, bahwa Anjana mengkhawatirkan dirinya. "Terimakasih, sudah mengkhawatirkan Aku."
Anjana mendengkus. "Terimakasih sama cacing-cacingku. Berkat mereka, Aku bisa menolongmu." Mereka berdua saling terkekeh.
"Oh ya ... Apa memasak mie instan-nya jadi?"
"Perutku seketika kenyang ketika melihat kecerobohanmu itu," ketus Anjana.
"Wait ... Apa ini kode?" tanya Arkana.
"Kode apa?"
"Hmmm ... Bagaimana jika Aku sembuh, Aku traktir Kamu makan enak!" tawar Arkana.
Anjana seperti memikirkan sesuatu. "Aaahhh ... Aku 'kan juga punya hutang janji padamu. Kamu lupa, kalau Aku kalah permainan dan akan mentraktirmu setiap makan siang selama seminggu."
Arkana mendengkus dan geleng-geleng kepala. "Kukira Kamu lupa. Hmmm ... Tapi menang taruhan permainan itu nggak sebanding dengan pertolonganmu ini."
"Kenapa?"
"Bagaimana ... Biar Aku saja yang mentraktirmu setiap makan siang selama seminggu?"
Anjana mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. "Ok ... Itu ide bagus. Setidaknya uang jatah makan siangku nggak keluar dompet." Seketika Arkana melemparkan bantal guling ke arah Anjana. Anjana pun tertawa.
"Ish ... Tidur sana ... Sudah malam! Besok Aku harus ke kantor. Dan Kamu jangan dulu ngantor karena badanmu harus pulih dulu!" Anjana membantu Arkana membenarkan posisi tidurnya dan membenarkan selimut pada tubuh Arkana.
"Tidurlah ... Aku juga sudah mengantuk dan akan ke kamarku," pamit Anjana.
Namun sebelum Anjana pergi, Arkana lebih dulu mencegahnya dengan memegang pergelangan tangannya. "Hmmm ... Bisa temani Aku sampai tertidur dulu. Please!"
Anjana pun kembali duduk di kursi sebelah ranjang Arkana. "Ok ... Baiklah."
__ADS_1
Anjana menunggu Arkana tertidur. Namun, stelah Arkana tidur, Dia pun malah tertidur, dengan menumpukkan kepalanya pada sisi ranjang Arkana. Matanya sangat berat, hingga kesadarannya pun lenyap dan pergi ke alam mimpi.
Pagi pun tiba ...
Arkana sangat menikmati pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Pemandangan itu adalah, Anjana yang tertidur bertumpu pada sisi ranjang miliknya.
'Jadi, Dia menemaniku semalaman?' ucap Arkana dalam hati.
Dia pun dengan pelan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Anjana dan merapikan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Seketika tidur Anjana terusik dan Arkana dengan cepat menarik tangannya kembali.
"Kamu sudah bangun?" tanya Arkana basa basi.
Anjana mengumpulkan nyawanya yang baru saja bangun. "Astaga ... Aku malah ketiduran di sini. Addduuuhhh ...." Anjana merenggangkan otot-ototnya.
"Maaf ... Sudah membuatmu tidur dalam posiai seperti itu!" Tama merasa bersalah sudah sangat merepotkan Anjana.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, Aku pamit ke kamarku dulu!" Arkana mengangguk dan membiarkan Anjana keluar dari kamarnya. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar.
"Apa yang kalian berdua lakukan di kamar?"
Deg ...
"Mama ...."
BERSAMBUNG ...
__ADS_1