
"Kita sambut penampilan dari murid kita yang akan membacakan sebuah puisi, yaitu Alea Aditia Paramitha. Silakan naik ke atas panggung!"
Saat ini, Anjana, Arkana beserta Bu Sari sedang menghadiri pentas seni dari sekolah Alea. Mereka sangat antusias menantikan penampilan dari Alea.
"Puisi ini Aku persembahan untuk Bundaku tersayang," ucap Alea dengan celoteh cadelnya.
Bunda, Kau adalah segalanya bagiku
Bunda, terimakasih sudah melahirkanku
Bunda, maafkan Aku belum bisa menjadi
anak yang baik
Bunda, terimakasih sudah menjadi Ayah juga
untukku
Semoga, Ayah bahagia di Surga sana
Semoga, Bunda bisa mendapatkan
kebahagiaan juga
"Sekian, puisi dariku, terimakasih!"
Anjana seketika berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan mendengar puisi indah itu dari mulut cadel sang putri. Anjana langsung menghampiri sang putri ketika turun dari panggung dan memeluknya erat. Air matanya tak bisa dibendung lagi.
"Bunda bangga banget sama Kamu, sayang," ucap Anjana sambil menciumi wajah sang putri.
Bu Sari juga menitikkan air mata haru dan mengaminkan doa sang cucu. Semoga kelak, Anjana bisa berbahagia, doanya dalam hati.
Hati Arkana terasa nyeri mendengar puisi yang dibawakan Alea. Alea tidak mungkin membawakan puisi itu jika saja Adit masih ada. Sungguh dia sangat merasa bersalah.
Arkana pun mengambil alih Alea dari Anjana, lalu memeluknya erat. "Semoga doa Kamu di puisi itu terwujud ya, Sayang!"
"Papa jangan ikutan sedih kayak Bunda, dong. Papa 'kan juga sudah janji sama Alea, kalau Papa juga akan bahagiain Aku," ucap Alea dengan khas cadelnya.
Arkana mengurai pelukannya dan menampilkan wajah tersenyum. "Kamu benar, Papa akan lakuin apapun supaya Kamu bahagia."
"Papa serius?"
Arkan mengangguk meyakinkan. Alea langsung memeluknya. "Alea sayang sama Papa."
Anjana terharu melihatnya. Andai suaminya masih ada. Mungkin yang Alea peluk adalah Ayah Alea.
Bu Sari mendekati mereka. "Alea hebat. Nenek bangga sama Kamu, Sayang."
"Makasih, Nek," ucap Alea.
Acara masih berlanjut. Acara demi acara ditampilkan. Hingga acara itupun selesai tepat pukul dua siang. Penonton mulai membubarkan diri.
Saat ini, Arkana sedang mengemudi mengantarkan Anjana, Alea dan Bu Sari pulang.
"Oh ya, kapan kalian akan kembali ke Jakarta?" tanya Bu Sari.
Arkana dan Anjana yang berada duduk di kursi depan itu saling pandang.
"Aku sih, terserah Anjana," ucap Arkana sambil fokus mengemudi.
"Kayaknya ntar malam, aja. Nunggu Alea tidur dulu," ucap Anjana.
__ADS_1
"Ya sudah, Ibu mau sediain makan malam spesial buat kalian."
Anjana mengangguk setuju.
Malam pun tiba. Arkana sedang asyik bermain dengan Alea di ruang TV. Sedangkan Anjana membantu sang Ibu menyiapkan makan malam.
"Makan malam sudah siap. Yuk sayang, kita makan malam dulu!" Ucapan Anjana menghentikan aktivitasnya mereka.
"Yuk, beresin dulu mainannya. Lalu kita makan!" perintah Arkana pada Alea.
Mereka pun akhirnya sudah berkumpul di meja makan. Arkana sangat menikmati kebersamaan bersama mereka.
"Semoga Nak Arkana suka dengan masakan di sini," ucap Bu Sari.
Arkana tersenyum simpul, "Aku makan apa aja, Bu. Asal jangan dari kacang tanah. Aku punya alergi kacang tanah."
"Benarkah? ... Kok bisa sama dengan Alea, ya?" Bu Sari tercengang dengan pernyataan Arkana. Anjana pun menghentikan kunyahannya.
Anjana mengangguk, "Iya, Alea juga alergi kacang tanah. Sedangkan Kami di sini nggak alergi. Entah Alea punya turunan dari siapa. Yang jelas, Almarhum ayahnya pun tidak alergi pada makanan apapun."
"Oh gitu ... Iya, alergi bisa jadi faktor dari keturunan. Aku aja turunan dari Mama."
Anjana sedikit heran memang dengan alergi yang Alea punya bisa sama dengan Arkana. Padahal Alea tidak ada turunan dari siapapun.
"Ya, sudah ... Kita lanjut makan lagi, keburu dingin nggak enak!" perintah Bu Sari diangguki keduanya. Sedangkan Alea makan dengan tenang.
"Waktunya bobo, sayang!" ajak Anjana pada sang putri.
"Alea nggak mau bobo." Alea merajuk.
"Kenapa nggak mau bobo? Ini udah malam loh, sayang." Anjana melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Sedangkan malam ini dia berencana untuk pulang ke Jakarta. Jika jam segini masih di rumah Ibunya, bisa nyampe jam berapa hingga Jakarta, hatinya mulai kepikiran.
"Nanti kalau Alea bobo, pas Aku bangun, pasti Bunda nggak ada."
Arkana yang melihat Alea merajuk, menghampirinya. "Alea sayang ... Anak kecil nggak boleh bobo terlalu malam."
__ADS_1
"Tapi Alea takut Bunda pergi."
"Bunda pergi bukan untuk selamanya. Weekend besok juga Bunda pulang lagi. Bunda pergi juga 'kan buat cari uang. Supaya Alea bisa dibeliin apa saja sama Bunda." Arkana dengan halus memberi pengertian pada Alea yang cemberut.
"Dibacain dongen sama Papa, mau nggak?" Akhirnya Arkana memiliki inisiatif.
Alea pun mengangguk antusias, "Mau, Pa."
Arkana pun tersenyum, lalu menggendong Alea ke kamarnya dengan Anjana yang mengikuti dari belakang.
Arkana membaringkan Alea di ranjangnya, lalu memakaikannya selimut hingga menutup dad* Alea. Sedangkan Anjan mencari buku dongeng yang ada di meja belajar Alea.
"Pa ... Kalau Papa jadi Papa beneran Alea mau nggak?" celetuk Alea. Hal itu membuat Arkana canggung.
"Alea sayang ... Sudah malam ... Bobo ya. Jangan lupa baca doa dulu. Jangan bahas yang lain!"
Arkana bisa melihat, gelagat Anjana yang sedikit berubah setelah mendengar permintaan Alea.
"Saya tunggu di luar!" ucap Anjana dan berlalu keluar dari kamar Alea.
Rumah Anjana berlantai dua. Rumah sederhana dengan halaman yang luas, adalah rumah impian Adit sewaktu masih hidup.
Anjana memandangi halaman yang luas itu dari jendela. Tak berapa lama, Arkana datang menghampirinya.
"Alea sudah berhasil Aku tidurkan," ucap Arkana.
"Terimakasih, Mas. Ya udah, kita langsung siap-siap berangkat sekarang aja!"
"Ok ... Aku tunggu di depan!"
Anjana mengangguk dan bergegas berkemas barang bawaannya. Bu Sari pun menghampirinya.
"Alea selalu menangis jika ketika bangun, tidak ada Kamu di sampingnya," ucap Bu Sari dengan sendu.
"Ya, gimana lagi, Bu. Aku 'kan juga harus kerja."
"Seandainya, Kamu menerima pinangan Nak Doni, mungkin Kamu nggak harus kerja capek-capek dan meninggalkan Alea. Kamu hanya fokus pada rumah tangga dan juga Alea."
Ucapan Ibunya membuat Antara sedikit tersinggung. "Bu, tolong jangan bahas Doni lagi!"
"Tapi, Ibu hanya ingin melihat Kamu bahagia dan selalu ada untuk Alea!"
"Cukup, Bu. Aku mohon. Hal itu nggak akan membuatku bahagia. Karena Aku nggak mencintai Doni."
"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Paling tidak, Kamu melakukannya demi Alea." Bu Sari tidak menyadarinya, bahwa Anjana sangat marah dengan apa yang diucapkannya.
"Aku berangkat," pamit Anjana dan menyalami sang Ibu.
Anjana berjalan cepat dan menghampiri Arkana yang sudah menunggunya di depan. "Kita berangkat sekarang!" ucap Anjana pada Arkana dan berlalu meninggalkannya.
Arkana pun pamit pada Bu Sari dengan sopan. "Saya permisi pulang dulu, Bu!" ucap Arkana dan menyalami Bu Sari.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Dan juga titip Anjana!" Pesan Bu Sari yang terakhir membuat Arkana berpikir keras.
Arkana pun mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan rumah itu. Bu Sari pun masuk ke dalam rumah.
Ketika Arkana masuk ke dalam mobil, dia mendengar isakan. Isakan tangis yang dia tahu dari Anjana. Namun Anjana berusaha menghentikan tangisnya dan pura-pura memandang jendela ke luar mobil.
Arkana tidak berani bertanya. Lagipula, dia tidak ada hak bertanya soal urusan pribadinya. Bisa dia tebak, sepertinya Anjana sedikit cekcok dengan ibunya.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1