
Seperti biasa, di pagi hari, keluarga Mahesa sarapan bersama. Namun ada yang kurang di meja makan. Yaitu, tidak ada Arkana dan Anjana di sana. Tuan Arya pun bertanya pada pelayan rumahnya.
"Kenapa Arkana belum bergabung sarapan?" tanya Tuan Arya pada pelayan itu.
"Kurang tahu, Tuan. Apa perlu Saya lihat ke kamarnya?" ucap pelayan yang bernama Bu Lina.
"Biar Saya saja yang ngecek ke kamarnya," ucap Nyonya Arumi dan bergegas pergi ke kamar Arkana. Dia juga sedikit khawatir pada anaknya karena tidak biasanya telat sarapan.
Ketika mendekati kamar Arkana, Nyonya Arumi mendengar samar-samar suara wanita. Nyonya Arumi dengan cepat berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya tanpa mengetuk.
"Apa yang kalian lakukan di kamar?" tanya Nyonya Arumi to the point.
"Mama ...." Arkana sedikit terkejut dengan kedatangan sang Mama tanpa mengetuk pintu.
Sama halnya dengan Anjana. Dia juga sangat terkejut. "Selamat pagi, Nyonya?" Anjana bersikap biasa saja dan menyapa dengan hormat.
"Kenapa Kamu ada di kamar Arkana?" selidik Nyonya Arumi.
"Semalam Pak Arkana demam. Jadi Saya membantunya," ucap Anjana.
"Benar Ar, Kamu semalam demam?" Nyonya Arumi langsung menghampiri Arkana yang sedang duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Iya, Ma. Pas tengah malam."
"Kenapa Kamu nggak kasih tau Mama?"
"Sudah tengah malam. Nggak enak ganggu Mama dan Papa yang sedang istirahat."
"Lalu ... Kenapa Anjana bisa tahu kalau Kamu demam?"
"Semalam kebetulan, Dia sedang ke dapur dan mendengar suara benda jatuh dari kamarku. Jadi Dia menolongku yang demam dan terjatuh di lantai."
Penjelasan Arkana dipercayai Nyonya Arumi. Malah Dia mengucapkan terimakasih. "Terimakasih atas pertolonganmu. Maaf ... Tadi sempat berpikiran negatif."
"Nggak apa-apa, Nyonya. Kalau begitu, Saya permisi pamit ke kamar dulu untuk siap-siap ke kantor." Anjana pun keluar dari kamar Arkana.
Selepas kepergian Anjana. Nyonya Arumi pun mendekati Arkana dan mengecek suhu tubuh Arkana.
Nyonya Arumi tampak menghela nafas. "Sepertinya, Kamu harus istirahat total. Jagan dulu ke Kantor."
"Iya, Ma," ucap Arkana lirih.
Nyonya Arumi memandang intens wajah Arkana. "Sudah saatnya Kamu ada istri lagi di sampingmu. Supaya kalau sakit ada yang rawat. Jadi, jangan ngerepotin Anjana kayak gitu."
Arkana mendengkus mendengar ucapan sang Mama. "Siapa yang mau nikah sama Aku, Ma."
"Niken."
"Ck ... Dia bukan tipeku."
"Lalu ... Mau sampai kapan Kamu menduda seperti ini. Masak, Kamu repotin Anjana terus." Nyonya Arumi sedikit kesal.
"Bagaimana, kalau Aku nikah sama Anjana."
Seketika, mata Nyonya Arumi membulat. "Jangan ngawur Kamu. Anjana itu istri asistenmu. Sudaha berapa kali Mama bilang, jangan bicara sembarangan."
__ADS_1
"Istri dari asistenku. Tapi sudah tiada." Arkana sedikit menghela nafas dan mendengkus.
Arkana memang sudah berapa kali meminta persetujuan mamanya untuk menikahi Anjana. Tetapi Nyonya Arumi hanya menganggapnya bercanda. Sedangkan Tuan Arya memberi ijin dan restu. Lagipula, Anjana kehilangan suaminya gara-gara menolong anaknya. Sebut saja balas budi.
"Lagipula, Anjana mana mungkin mau sama Kamu," seloroh Nyonya Arumi. "Maksud Mama. Anjana mana mungkin menerima Kamu yang merupakan atasannya."
Nyonya Arumi bukan tidak menyukai Anjana. Tapi, Dia sudah janji pada orang tua Niken untuk menjodohkannya pada Arkana.
"Sudahlah ... Kamu jangan bercanda dulu. Istirahat yang cukup. Nanti, Mama suruh pelayan mengantarkan sarapan buat Kamu ke sini!"
Nyonya Arumi pun keluar dari kamar Arkana. Namun ketika menutup pintu, Anjana datang dari belakang punggungnya.
"Permisi Nyonya, Saya mau memberikan sarapan untuk Pak Arkana dan memberikan obat demam juga," ucap Anjana.
"Loh ... Bukannya, Kamu mau siap-siap ke Kantor?" Nyonya Arumi memperhatikan penampilan Anjana masih mengenakan pakaian yang tadi. Namun, karena parasnya yang cantik, sehingga Nyonya Arumi sangat mengaguminya.
"Tuan Arya bilang, Saya hari ini boleh libur dan mengurus Pak Arkana dulu, Nyonya."
Nyonya Arumi mengangguk. "Baiklah ... Terimakasih sudah bersedia mengurus Arkana. Saya benar-benar tidak bisa saat ini, karena akan ada beberapa pelanggan terbesar di butik."
"Iya Nyonya, tidak apa-apa."
Nyonya Arumi pun pamit dan mengelus lengan Anjana sambil melewatinya. Lalu Anjana masuk ke kamar Arkana.
"Sarapan datang ...," ucap Anjana ketika sudah memasuki kamar.
Arkana mengerutkan keningnya ketika melihat Anjana masuk membawa sarapan. "Kenapa Kamu yang bawa sarapan ke sini, bukan pelayan?"
"Aku diijinkan libur sama Tuan Arya untuk mengurus Kamu."
"Apa?"
"Gitu aja ngambek." Arkana pun menarik Anjana supaya duduk di sisi ranjang.
"Abisnya, kayak nggak suka gitu reaksinya."
Arkana mendengkus geli dan menyentil kening Anjana. Tentu saja Anjana meringis dan memdelikkan matanya.
"Sok tahu," ucap Arkana cuek.
"Ish ...."
Anjana pun mengambil piring yang berisi sarapan untuk Arkana yang tadi Dia letakkan di atas nakas. "Nih, sarapan dulu. Setelah itu minum obat!"
"Huuufffttt ...."
"Kenapa?" tanya Anjana heran.
"Katanya mau ngurusin Aku yang sakit. Kok nggak disuapin," protes Arkana.
Anjana mendengkus sebal dengan sikap manja Arkana. "Tangan Kamu 'kan nggak apa-apa. Bisa dong kalau buat makan doang mah."
"Mumpung ada yang ngurusin gratis. Why not," ledek Arkana. Anjana semakin mendelik sebal.
Walaupun sebal, tapi Anjana tetap menyuapi Arkana dengan telaten. Arkana sebenarnya ingin tertawa, tapi Dia tahan. Sarapannya pun tandas tak tersisa. Lalu meminum obatnya.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu kalau gitu. Kalau ada perlu apa-apa, hubungi Aku aja. Bay ...," ucap Anjana pamit keluar dari kamar Arkana.
"Tunggu!" Arkana mencegahnya.
"Apa lagi?"
"Setelah selesai urusanmu. Bisa bawa Aku ke taman! Aku bosan jika harus berdiam diri di kamar terus!" pinta Arkana.
Anjana menghela nafas. "Baiklah ... Tapi jangan kesal jika menungguku lama." Anjana pun bergegas pergi keluar dari kamarnya.
Kepergian Anjana sudah ada 2 jam. Arkana benar-benar dibuat kesal olehnya. Dihubungi ponselnya pun tak ada jawaban dari Anjana dan malah suara dari operator bahwa nomor itu sedang sibuk. Berarti, Anjana sedang melakukan panggilan telepon.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah Anjana yang sudah fresh. Arkana malah terlihat sebal dengan kedatangannya.
"Lama amat ... Bikin lumutan aja," protes Arkana.
Anjana terkekeh geli dan menghampirinya. "Tadi, selepas dari sini, ada telepon masuk dari Tuan Arya. Beliau meminta Vidio persentase untuk rapat. Jadi lama deh."
"Huuufffttt ... Baiklah ... Ayok ke taman sekarang!" ajak Arkana dengan mengulurkan tangannya.
"Apa ini?" tanya Anjana heran.
"Papah Aku ke taman. Jalanku masih lemas!"
Anjana mendes\*h pasrah dan mendekati Arkana untuk memapahnya. Namun ketika Arkana sudah berdiri dipapahnya, keseimbangan Anjana terganggu karena tubuh Arkana yang berat, dan mengakibatkan tubuhnya goyah lalu jatuh bersama Arkana ke ranjang.
Anjana berada di bawah tubuh Arkana. Untuk sepersekian detik, pandangan mereka saling beradu dan saling terpaku. Mereka sama-sama diam tanpa kata.
Arkana sangat mengagumi kecantikan Anjana. Dari awal bertemu hingga sekarang, belum ada yang berubah. Hingga tanpa Dia sadari, wajahnya semakin mendekat ke wajah Anjana. Semakin dekat dan semakin mengikis jarak tatkala mata Arkana tertuju pada bibir manis di hadapannya. Namun ...
"Addduuuhhh ...."
__ADS_1
BERSAMBUNG ...