TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU

TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU
2. Permintaan Alea


__ADS_3

Seorang wanita turun dari taksi di pelataran Perusahaan ternama. Dia menenteng kotak makan di tangan kanannya.


Beberapa karyawan di perusahaan itu sudah mengenal sosok wanita tersebut. Dia adalah asisten pribadi pemilik Perusahaan Mahesa Group.


Anjana Paramitha, usia 27 tahun, dan status dia seorang janda anak satu. Suaminya meninggal dunia karena kecelakaan.


Asisten keluarga Mahesa sebenarnya adalah mendiang suaminya. Namun keluarga Mahesa menawarkan pekerjaan asisten itu kepadanya ketika tepat 40 hari kematian suaminya itu.


Awalnya Anjana menolak. Namun, dia melihat sang putri yang semakin tumbuh dan semakin besar juga biaya yang perlu dia keluarkan. Apalagi sang putri sudah memasuki sekolah Taman Kanak-kanak. Hingga tanpa pikir panjang, dia menerima tawaran itu.


Satu tahun sudah berlalu dengan kepergian suaminya. Satu tahun pula dia mengabdi di keluarga Mahesa. Lambat laun bisa melupakan kesedihannya.


"Siang, Mbak Anjana?" sapa scurity di depan pintu masuk.


"Siang juga, Pak Dodo," jawab Anjana dengan ramah.


"Makin hari makin cantik aja deh, Mbak," canda Pak Dodo dengan usil.


"Duh, nggak punya receh, wkwkwk," ucap Anjana menganggapnya bercanda juga.


Mereka pun tertawa. Begitulah keseharian Anjana. Sedikit bisa melupakan kesedihannya, karena di sekitarnya selalu mendapat hiburan.


"Aiiihhh ... Kamu mah, Pak Dodo diladeni." Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampirinya. Dia adalah Rani. Resepsionis di Perusahaan itu. Dia adalah sahabat Anjana dan orang pertama yang dekat dengannya ketika mulai bekerja menjadi asisten pribadi di keluarga Mahesa.


Anjana tersenyum pada Rani, "Biarin aja. Itung-itung hiburan," ucap Anjana. Sedangkan Rani mendengkus sebal.


Rani melihat kotak makan yang Anjana bawa. "Wah, pasti mau kirim Pak Bos maksi, deh."


"Yoi ... ya udah, Aku ke atas dulu," ucap Anjana pamit.


Ruangan Arkana ada di lantai 9. Anjana pun naik ke lift untuk menuju ruangan itu. Setelah tiba di lantai itu, dia berpapasan dengan Bu Linda, sekretaris Arkana. Dia akan turun ke bawah untuk makan siang. Namun Bu Linda lebih dulu mengantarkan Anjana ke ruangan Arkana.


Arkana tersenyum ketika Bu Linda membawa Anjana masuk. Bu Linda pun pamit undur diri setelah Anjana masuk.


"Tepat waktu sekali. Cacingku udah berontak," ucap Arkana dan mencomot makanan yang sedang disajikan Anjana.


Anjana mendengkus mendengarnya dan fokus menyajikan makanan itu. "Selamat menikmati!"


Arkana pun makan dengan lahap. "Kamu nggak ikut makan?" tanya Arkana, karena Anjana terlihat fokus dengan ponselnya.


"Tadi sebelum ke sini, Saya makan duluan, Pak," jawab Anjana tanpa menoleh ke arahnya.


"Kebiasaan ... lain kali jangan makan duluan, biar bareng sama Aku!


"Kelamaan kalau nunggu Bapak."

__ADS_1


"Ck ... bisa nggak sih jangan bicara formal!"


Anjana pun menoleh dan meletakkan ponselnya, "Loh, ini 'kan Kantor. Bapak bilang kalau di Kantor harus formal, kalau di luar Kantor, baru non formal."


Arkana pun mengedigkan bahunya, "Terserah Kamu, deh!"


Suara ponsel Anjana pun berdering. Di sana tertera nama sang Putri semata wayangnya, yaitu Alea Aditia Paramitha.


"Hallo ... sayang ... Assalamualaikum?" sapa Anjana langsung ketika mengangkat teleponnya.


"Hallo ... Bunda ... waalaikumsalam," ucap Alea di sebrang sana.


"Kenapa, sayang? Tumben hari Kamis sudah telpon Bunda? Udah kangen ya kalau nunggu hari Sabtu?"


"Alea kangeeennn banget sama Bunda ... tiada hari tanpa ngangenin Bunda ... xixixi."


"Aaaiiihhh ... sosweeettt ... putri Bunda belajar gombal darimana tuh?" ucap Anjana sambil senyum merekah.


"Dari Pap---," belum sempat Alea menjawab, ponsel Anjana sudah direbut Arkana. Tentu saja membuat Anjana melotot.


"Hallo ... Alea sayang ...?" sapa Arkana. Dia takut Alea bilang kalau gombalan itu dia yang ajarkan.


"Eh, ada Papa di sana?" Terdengar suara Alea yang riang.


Arkana cuek dan malah asyik teleponan sama Alea. "Ada dong, sayang. Papa baru beres makan siang. Kamu udah makan siang belom?"


"Belum ... Nenek belum panggil Aku," celoteh Alea sangat lucu. "Oh ya, Aku mau ngomong lagi sama Bunda!"


Arkana pun meletakkan ponsel Anjana di meja dan membesarkan volume ponsel itu. "Ada apa, Sayang?" tanya Anjana, namun matanya mendelik ke arah Arkana.


"Minggu besok ada acara Hari Ibu di sekolah, Bunda dateng, ya!"


"Wah ... tentu saja Sayang, Bunda pasti Dateng."


"Sekalian, sama Papa. Soalnya teman-teman Aku pada mau ajak kedua orangtuanya!"


Deg ...


Hati Anjana terasa mencelos mendengar ucapan Alea.


"Papa pasti dateng, Kamu nggak usah khawatir," ucap Arkana, dan hal itu membuat Anjana memandangnya penuh tanya.


"Yeeeyyy ... makasih, Pa. Ya udah, Alea tutup teleponnya dulu, ya. Nenek udah panggil Aku buat makan siang ... Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," ucap Anjana dan Arkana.

__ADS_1


Anjana langsung terlihat sendu. Hatinya nyeri ketika mendengar kata 'orangtua.'


"Ada apa?" tanya Arkana, karena dia sadar sikap Anjana menjadi pendiam.


Anjana terlihat menarik nafas dalam-dalam, "Maaf, atas permintaan Alea, barusan!"


"Aku nggak keberatan. Lagipula, Aku sudah berjanji pada Almarhum Ayahnya, akan menjaga Kamu dan Alea," ucap Arkana.


*


Sejak pertemuan 7 tahun yang lalu itu, Arkana memang sering bertemu dengan Anjana. Karena, setiap acara kantor atau di luar kantor, Adit selalu membawa serta Anjana kemanapun.


Sampai Anjana mengandung dan lahirnya Alea pun tak luput dari perhatian Arkana.


Arkana pun akhirnya menikah dengan Mira. Arkana juga sering menengok Alea kecil bersama Mira ke rumah Adit dan Anjana.


Kana sangat memimpikan seorang malaikat kecil seperti Alea. Namun sayang, tuhan belum mengijinkan mereka mendapatkannya dan malah berujung perceraian, setelah usia pernikahan mereka 5 tahun lamanya.


Alea dari dulu sangat dekat dengan Arkana. Makannya sekarang Alea tidak segan pada Kana. Apalagi sikap Arkana yang penyayang anak-anak. Alea pun menganggap Arkana sebagai ayah keduanya. Apalagi, sekarang Ayah Alea sudah tiada.


Di hati Kana yang paling dalam berjanji, akan membahagiakan Alea dan Ajana. Walaupun dia harus menutupi kebenaran yang selama ini terpendam. Namun, hal itu bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak.


*


"Ya, intinya, Aku akan jadi pelindung kalian. Kamu lupa, kalau Aku Ayah keduanya Alea?"


Ucapan Arkana membuat hati Anjana semakin sakit.


"Tapi kebaikan Bapak sudah tak terhitung. Saya takut nggak bisa membalas kebaikan Bapak. Saya juga nggak mau kalau Alea terlalu bergantung pada Bapak."


Andai Anjana tahu, justru Arkana lah yang saat ini sedang berbalas budi.


"Alea sudah Aku anggap anakku sendiri dari saat dia lahir. Kamu nggak usah mikir macam-macam. Cukup bahagiakan Alea. Supaya Adit bahagia di atas sana."


Seketika air mata Anjana jatuh ke pipinya yang putih. Arkana tidak kuasa melihat itu. Dia pun mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata itu. Namun Anjana dengan cepat menghapus sendiri air matanya.


"Ya, sudah, Saya pulang dulu!" pamit Anjana dan dia berlalu dari ruangan Arkana. Dia pun tidak lupa membawa kotak makan yang sudah kosong.


Setelah kepergian Anjana, Arkana benar-benar frustasi. Dia terlihat sendu dan bayangan pahit kembali menghantui pikirannya. Bayangan di mana seharusnya dia yang jadi korban, bukan Adit suaminya Anjana.


*


Bersambung ...


__ADS_1


__ADS_2