
Satu tahun yang lalu ...
Di dalam mobil ambulance yang membelah jalanan itu adalah korban yang berlumuran darah begitu parah.
"Ku mohon, bertahanlah!" perintah Akana pada pria yang sudah tak berdaya itu dengan menggenggam erat tangannya.
"Jika, aku tak bisa bertahan, tolong titip anak dan istriku!" ucap pria yang tak lain adalah Adit. Nafasnya tersengal karena akibat kecelakaan sangat parah.
"Kamu gila ... Kenapa kamu harus menolongku. Kenapa tidak kamu biarkan saja Aku yang tertabrak?" ucap Arkana yang merasa bersalah, kenapa dia harus diselamatkan olehnya.
"Berjanjilah ... kumohon ...!" ucap Adit yang semakin tersenggal.
Arkana semakin menggeleng, "Aku yakin Kamu pasti bisa lewatin ini semua."
"Hanya ... Kamu ... harapanku ... uhuk ... uhuk ...." Genggaman tangan Adit semakin melemah berbarengan tibanya mereka di Rumah Sakit.
Pasien langsung dimasukkan ke Instalasi Gawat Darurat. Ahli medis langsung menanganinya.
Sementara Arkana, dia menunggu di luar ruangan itu dan berusaha menghubungi seseorang. Tak berapa lama seseorang itu pun datang dan mereka saling berpelukan.
"Papa yakin, dia pasti bertahan. Percayalah ...!" ucap pria paruh baya itu, yaitu Pak Arya, Papanya Arkana.
"Aku gak akan maafin diri Aku sendiri jika terjadi sesuatu padanya, Pa." Arkana semakin putus asa.
Tak berapa lama, pintu ruangan Instalasi Gawat Darurat itu terbuka dan menampilkan seorang dokter. "Dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu sembari membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Iya, Dok, kami keluarganya." Pak Arya yang menjawab dan Arkana memberontak ingin masuk.
"Kami, mohon maaf, tidak bisa menolong pasien. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain," ucap Dokter itu.
Arkana benar-benar luruh ke lantai dan berteriak histeris, "Tidaaakkk ...."
***
"Maafkan Aku, Dit. Aku belum bisa jujur yang sebenarnya pada Anjana. Aku takut ... jika kejujuranku bisa membuat Anjana menjauh. Aku bukannya egois ... Aku hanya ingin melindunginya."
Air mata Arkana tak bisa dibendung lagi. Dia menangis bukan karena cengeng. Tapi tangisan itu adalah tangisan penyesalan dan juga rasa takut. Menyesal karena, kenapa bukan dirinya yang jadi korban. Takut karena, dia tidak ingin kenyataan itu terungkap, hingga membuatnya kehilangan orang yang dia sayangi.
__ADS_1
Biarlah kenyataan ini dia kubur dalam-dalam. Daripada dia harus kehilangan.
*
Hari ini adalah hari Sabtu pagi. Di mana, hari Sabtu adalah hari Anjana pulang ke rumahnya. Tempat tinggal Anjana memang membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari rumah keluarga Mahesa. Jadi, keluarga Mahesa menyuruh Anjana untuk tinggal di rumahnya menempati kamar Adit sebelum meninggal. Jadi Anjana setiap weekend pulang ke rumahnya.
Saat ini, Anjana sedang berkemas. Lalu, dia duduk di pinggir ranjang. Tangannya terulur mengambil foto dirinya, Alea dan juga Adit sang mendiang suami.
"Mas ... sebentar lagi Alea masuk SD. Masa yang kita nantikan. Kamu sampai sudah menyiapkan sekolah yang bagus buat dia," lirih Anjana dengan sendu. Kenangan indah pun tanpa permisi dia ingat kembali. Kenangan yang ternyata adalah untuk yang terakhir kalinya.
***
Satu tahun yang lalu, sebelum seminggu Adit meninggal ...
"Kamu kenapa, senyum-senyum?" tanya Anjana pada Adit suaminya yang sedang melihat brosur yang bertuliskan penerimaan murid SD baru. Anjana memeluknya dari belakang.
Adit tersenyum dan mengusap tangan Anjana yang melingkar di pinggangnya. "Aku nggak sabar lihat Alea kita masuk SD, SMP, SMA dan juga perguruan tinggi. Tapi ... Aku takut."
Anjana melepaskan pelukannya dan berjalan ke hadapan suaminya. "Takut kenapa?" tanya Anjana sambil memegang tangan Adit.
Adit mengulurkan tangan kanannya untuk membenarkan rambut Anjana yang berantakan. "Aku takut, nggak bisa lihat Alea tumbuh dewasa."
"Berjanji sama Aku ... jika nanti Aku nggak bisa di samping kalian, hiduplah dengan baik. Sekolahkan Alea sampai setinggi-tingginya." Adit berucap sambil mengelus rambut Anjana.
"Emang Kamu mau kemana, Mas ... kok Aku jadi nggak tenang."
"Aku nggak akan kemana-mana. Hanya saja ...," ucapan Adit menggantung dan hal itu membuat Anjana mengurai pelukannya dan memandang wajah Adit.
"Hanya saja, apa?"
Adit mendengkus dan membingkai wajah Anjana. "Hanya saja, kapan Alea dikasih Adik?"
Seketika cubitan panas diberikan oleh Anjana pada Adit. Tentu saja Adit meringis. Anjana pun tersenyum puas dan Adit pun menggelitik pinggang Anjana.
"Awas ya kamu ... tunggu hukuman dariku, sayang!"
***
__ADS_1
"Hiksss ... Aku janji akan membesarkan Alea dengan baik. Menyekolahkan Alea sampai ke perguruan tinggi seperti yang kamu mau. Tapi hidupku terasa hampa tanpamu, Mas." Anjana berucap sambil mengelus foto Adit, sang suami yang sudah setahun meninggalkannya.
"Apakah Aku bisa bertahan hidup tanpa Kamu, Mas. Jika Aku boleh meminta, ajak Aku bersamamu. Kumohon!"
Tanpa Anjana sadari. Di balik pintu kamarnya ada seseorang yang mendengar kesedihannya. Dia adalan Arkana.
Arkana awalnya memang akan ke kamar Anjana untuk menanyakan kepulangannya ke Bogor, yaitu rumah di mana Alea tinggal bersama sang Nenek. Namun langkahnya terhenti, ketika dia tak sengaja mendengar isak tangis Anjana. Kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup rapat.
Arkana semakin merasa bersalah. Isak tangis Anjana sangat memilukan. Andai saja, dia yang jadi korban, bukan Adit. Mungkin tidak akan ada kesedihan seorang istri dan seorang anak. Anjana harus menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus menjadi seorang Ibu yang kuat dan juga seorang Ayah.
Arkana pun tidak jadi mengetuk pintu kamar Anjana. Dia berbalik arah dan menuju taman dan duduk di kursi yang tersedia di sana. Sungguh, dia tidak sanggup menerima kenyataan jika Anjana tahu semua kebenarannya.
"Ar ... kok, belum berangkat?" tanya sang Mama, yang bernama Bu Arumi.
"Anjana belum keluar dari kamarnya, Ma," jawab Arkana.
Bu Arumi duduk di samping Arkana. Dia tahu apa yang dirasakan anaknya. Dia juga tahu masalah apa yang sedang dipikirkan anaknya.
"Sudah setahun lamanya ... lupakan kecelakaan itu!" ucap sang Mama.
"Mana bisa Aku melupakannya, Ma. Aku nggak bisa hidup dalam bayang-bayang kesalahanku itu. Andai yang meninggal itu Aku, bukan Adit. Pasti nggak akan ada kesedihan di hati mereka."
"Sudah berapa kali Mama katakan. Jangan pernah bicara seperti itu. Semua itu adalah takdir Tuhan. Siapa bilang, tidak akan ada kesedihan. Mama dan Papa pasti akan sedih juga."
Bu Arumi bukannya egois. Tapi semua itu adalah takdir Tuhan.
"Mama nggak ngerasain gimana perasaanku ketika melihat dengan mata kepalaku sendiri, Adit lebih memilih menolongku dan tertabrak sampai terluka parah dan meninggal dunia."
Arkana benar-benar frustasi jika mengingat kecelakaan itu. Ketika pasca kecelakaan itu, Arkana sampai frustasi dan hampir depresi. Namun, dengan hadirnya Anjana dan mengingat pesan Adit sebelum meninggal, dia pun berusaha bangkit.
"Apa Aku jujur saja sama Anjana, kalau Aku yang udah menyebabkan Adit meninggal. Aku juga siap dipenjara jika itu bisa mengurangi rasa bersalahku."
Bu Arumi menggeleng dan membentak Arkana. "Jangan ngaur Kamu, Ar!"
"Ada apa Nyonya?"
Deg ...
__ADS_1
BERSAMBUNG ...