
Bu Linda sudah hafal sifat Arkana. Jika sedang ada masalah pasti dia akan lampiaskan pada barang apa saja yang ada di depannya.
"Aku ingin sendiri ... Tolong tinggalkan Aku sendiri!" ucap Arkana dingin.
Dengan menggeleng pelan, Bu Linda pun keluar dari ruangan Bos-nya. Dia juga sangat tahu sifat Bos-nya, bahwa dia tidak ingin dibantah.
Tepat Bu Linda keluar dari ruangan itu, Anjana sedang melenggang masuk menghampirinya.
"Pak Arkana-nya ada? Ada beberapa berkas yang butuh tanda tangannya," ucap Anjana.
Bu Linda terlihat menghela nafasnya, "Ada ... Tapi, Dia sedang tidak ingin diganggu. Jika Kamu berani, silakan coba masuk!"
Anjana mengerutkan keningnya. Dia pun melangkah ke arah pintu ruangan Arkana. Mengetuk pintunya sekilas dan memberanikan diri untuk masuk dan menutup pintunya kembali. Anjana dibuat tercengang dengan keadaan ruangan Arkana.
"Sudah kubilang ... Biarkan Aku sendiri ... Dan jangan ganggu Aku dulu, Bu Linda," bentak Arkana di balik kursi itu karena dia mengira itu Bu Linda.
Anjana sangat terkejut dengan bentakan itu. Dengan berani, dia pun menghampiri Arkana dengan melangkah pelan. "Saya, Anjana. Bukan Bu Linda."
Anjana pun meletakkan berkas-berkas yang tadi dia bawa di meja Arkana yang berantakan. Dia hanya bisa menghela nafas dengan keadaan ruangan Arkana.
"Ngapain Kamu ke sini?" tanya Arkana dengan dingin dan datar.
Anjana mencoba membereskan meja Arkana yang berantakan itu. "Diutus Tuan Arya untuk mengantarkan berkas-berkas yang butuh tanda tangan Anda."
"Aku butuh sendiri ... Bisa tolong tinggalkan Aku!" pinta Arkana dengan suara lirih.
Anjana berjalan mendekati dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Dia berdiri membelakangi Arkana dengan tatapan lurus ke depan. "Ada yang bilang ... Jika ada masalah, jangan dipendam sendiri. Berbagi ceritalah agar beban masalah sedikit ringan!"
Arkana tentu hafal dengan kalimat itu. Kalimat yang pernah dia ucapkan untuk Anjana. Namun ternyata, dia mengalaminya sendiri.
Anjana berbalik badan dengan melipat kedua tangan di dad*, dan memperhatikan Arkana yang terdiam tak bersuara. "Ck ... Baiklah, Saya akan pergi, jika memang Anda ingin sendiri!"
Tepat setelah Anjana berucap kalimat itu, Arkana menahan tangan Anjana ketika akan melewatinya. Tanpa aba-aba, Arkana berdiri dan menarik tubuh Anjana ke pelukannya.
"P-pak ...." Anjana sangat terkejut dengan apa yang Arkana lakukan. Dia pun berusaha melepaskan diri, namun Arkana tak melepaskannya.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini sebentar saja!" pinta Arkana dengan lirih. Anjana bisa merasakan kerapuhan Arkana. Dia pun yang tadinya meronta ingin melepaskan diri, akhirnya melemah dan mengijinkan Arkana memeluknya.
"Aku butuh seseorang yang bisa mengerti keadaanku. Aku merasa, hidup ini penuh dengan tekanan," ucap Arkana di sela pelukannya.
Anjana merasa iba dengan keadaan yang Arkana jalani. Namun dia masih belum tahu semua hal tentangnya. Dia hanya menduga, Arkana seperti itu karena dirinya yang mandul dan ditinggalkan istrinya. Dia pun mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk punggung Arkana, guna menenangkannya.
Tanpa mereka sadari, Bu Linda mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. 'Aku rasa, Arkana sudah saatnya jujur pada dirinya sendiri,' ucap Bu Linda dalam hati.
Arkana begitu nyaman berada di pelukan Anjana. Namun dia sadar, bahwa hal ini sudah salah. Dia pun mengurai pelukannya dan menghela nafasnya. "Maaf ... Sudah lancang memelukmu," lirih Arkana dan kembali duduk di kursinya.
Anjana masih diam berdiri. Namun dia berusaha mengalihkan perasannya. Dia pun berinisiatif untuk menghibur Arkana. "Mau ikut Saya, nggak?" tawar Ajana.
Arkana mendongakkan wajahnya, "Tidak ... Aku hanya butuh waktu untuk sendiri."
"Ck ... Ayolah ... Nggak ada gunanya meratapi masalah. Saya yakin Anda pasti menyukainya dan melupakan masalah itu. Setidaknya, sementara."
Arkana tampak menghela nafas, "Baiklah ... Ayok berangkat sekarang!" ajak Arkana.
"Wait ... Ada syaratnya."
Anjana terkekeh, "Ok ... Ok ... Maaf. Tapi, bisakah tanda tangan dulu berkas-berkas ini sebelum pergi!"
"Anjana ... Aku sedang tidak bersemangat untuk bekerja," protes Arkana dengan kesal.
"Anda itu panutan para karyawan. Kalau sikap Anda tidak profesional seperti ini, jangan salahkan karyawan jika nanti tidak disiplin!" ceramah Anjana, sambil membalikkan kursi Arkana ke arah mejanya dan mendudukkan Arkana di kursi tersebut. Dia pun menyiapkan berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh Arkana dan memberikan pulpen ke arah Arkana. Anjana memutar bola matanya jengah, pasalnya Arkana tida menerima pulpen yang dia sodorkan. Alhasil, pulpen itu Anjana selipkan ke jari tangan Arkana.
"Baiklah, Nona!" ucap Arkana dengan lemas.
Setelah Arkana selesai menandatangani berkas-berkas itu, Anjana langsung membereskannya. Sedangkan Arkana berdiri dan akan memakai jasnya yang tersampir di sandaran kursi.
"Nggak usah pakai jas. Karena Saya yakin, jas itu tak akan dipakai di sana!" cegah Anjana dan merebut jas yang Arkana pegang. Arkana pun pasrah dengan apa yang Anjana suruh.
Mereka keluar dari ruangan. Bu Linda tersenyum melihat Anjana bisa membantu Arkana keluar dari zona masalahnya.
"Bu Linda ... Boleh, Aku minta bantuan?" ucap Anjana.
__ADS_1
"Tentu saja. Apa yang bisa Aku bantu?"
"Tolong berikan berkas-berkas ini pada Tuan Arya. Bilang padanya, kalau Aku pergi mengasuh bayi besar ini." Ucapan Anjana sukses membuat Arkana melotot.
"Siapa yang Kamu maksud bayi besar?"
"Ck ... Orang dewasa tidak mungkin seperti ini," kekeh Anjana. Arkana sangat kesal dibilang bayi besar. Bu Linda pun ikut terkekeh.
"Hey, Bu Linda, jangan ikut ketawain Aku!" protes Arkana.
"Ok ... Ok ... Maaf. Kalau begitu, silakan pergi. Biar Tuan Arya menjadi urusanku. Have fun ya!"
Anjana pun mengangguk dan pamit pergi. Namun Arkana malah diam saja tida mengikutinya. Anjana pun jengkel dan menghampirinya, lalu menggenggam tangan Arkana supaya bisa mengikutinya.
Bu Linda tersenyum melihat adegan itu, hingga mereka hilang ke dalam lift. 'Semoga Tuhan membiarkan kalian berjodoh,' doa Bu Linda di dalam hati.
Arkana memandang tangannya yang digenggam Anjana. Genggaman yang begitu nyaman. Hati Arkana terasa menghangat. Namun, Anjana sepertinya belum menyadari perlakuannya. Hingga lift terbuka pun, Anjana tidak melepaskan genggaman itu. Tentu saja hal itu mengundang perhatian beberapa karyawan ketika melewati lobi.
"Ehem ... Mau sampai kapan Kamu menggenggam tanganku?" ucap Arkana. Anjana menghentikan langkahnya dan melihat ke arah genggamannya. Dia pun melepaskan genggaman itu.
"Ooopppsss, sorry ... Saya nggak ada maksud untuk ---," ucapan Anjana menggantung ketika Arkana malah meraih tangan Anjana kembali dan menggenggamnya.
"Sudah tanggung ... Ayok ajak Aku ke mana!"
Anjana gelagapan, namun dia pun melanjutkan langkahnya. "Emmm ... Kita jalan kaki saja. Karena tempat tujuannya nggak jauh dari sini!"
Arkana pun menurut. Lagipula, Dia juga lupa membawa kunci mobil. Namun Dia dibuat tercengang dengan apa yang Dia lihat di hadapannya ketika sudah sampai.
"Kamu serius ... Ajak Aku ke sini?"
"Tentu saja ... Saya yakin, Anda pasti senang!"
Anjana menarik tangan Arkana dan masuk ke tempat yang membuat Arkana melongo.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1