
Anjana sudah selesai berkemas. Dia pun keluar dari kamarnya. Dia memperhatikan sekeliling rumah, tidak ada seorang pun yang dia temui.
"Kenapa nggak ada orang? Oh ya, Pak Arkana jadi ikut nggak sih?"
Anjana mengedigkan bahu dan membawa kopernya berjalan ke luar. Dia melihat Bu Arumi dan Arkana sedang mengobrol di taman, Dia pun tersenyum melihat mereka dan menghampirinya.
Sayup-sayup terdengar suara Bu Arumi seperti sedang marah. Langkah Anjana pun semakin cepat. "Ada apa Nyonya?"
Arkana dan Bu Arumi pun seketika menoleh ke arah Anjana.
"Eeemmm ... Anjana, Kamu ... sejak kapan Kamu berada di situ?" tanya Bu Arumi gugup.
"Baru saja ... emmm, apa ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa, An ... Kami hanya membahas ururusan Perusahaan," jawab Bu Arumi. 'Semoga saja Anjana tidak mendengar semua yang dibicarakannya dengan Arkana,' ucap Bu Arumi dalam hati.
"Oh ya, An ... Kamu udah siap berangkat sekarang?" tanya Arkana tiba-tiba.
"Iya ... ayok berangkat sekarang. Takut kena macet kalau nunggu siang!"
Arkana pun mengangguk dan berjalan lebih dulu ke mobil.
"Nyonya, Saya pulang dulu, ya!" pamit Anjana. pada Bu Arumi.
"Iya, An ... hati-hati. Oh ya, salam buat Ibu Kamu dan juga Alea. Kapan-kapan ajak Alea main lagi dong ke sini!" ucap Bu Arumi dengan ramah sambil berjalan mengantarkan Anjana ke mobil Arkana.
"Iya, Nyonya, nanti Saya sampaikan salamnya sama Ibu dan Alea, terimakasih!"
Anjana pun masuk ke mobil Arkana. Lalu, Arkana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Selama di perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Hanya iringan musik yang memutarkan lagu artis Ibu Kota Afgan Syahreza.
"Oh iya ... Aku belum beli oleh-oleh buat Alea. Nanti Aku mau berhenti dulu di depan, buat beli sesuatu," ucap Arkana yang baru mengingat hal itu.
"Nggak usah repot-repot. Setiap Minggu, setiap Saya pulang, Bapak selalu nitipin hadiah buat Dia. Di rumah sampai numpuk, loh," protes Anjana.
Arkana berdecak dan menggeleng, "Kurang afdol rasanya kalau Aku nggak kasih hadiah ke bidadari kecilku itu."
Anjana mendengkus, "Bidadari kecilku," ucap Anjana menirukan ucapan Arkana.
"Kenapa emangnya?"
"Kedengarannya kayak aneh gitu, loh, Pak."
Tawa Anjana pun pecah. Arkana terpukau melihat tawa Anjana yang lepas.
"Emang ada yang lucu, hmmm ...," tanya Arkana di sela tawa Anjana.
__ADS_1
"Biasanya, seorang pria kalau bilang bidadariku itu sama ceweknya. Bukan sama anak kecil. Masa iya, Bapak suka sama anak saya. Big nooo!" ucap Anjana sambil tangannya membentuk silang.
"Bisa nggak sih, jangan panggil Aku pake embel-embel 'Pak!' Aku berasa tua dibilang kayak gitu!" protes Arkana.
"Dih ... 'kan Bapak memang sudah tua."
"Mana ada ... masih muda gini juga. Pokoknya, mulai sekarang, kamu panggil aku tanpa embel-embel 'Pak' ... no debattt ...!"
"Nggak sopan, dong ... gimana kalau saya manggil Kak, Bang, atau Mas?" usul Anjana sambil terkekeh.
"Mas ... lebih cocok, tuh!"
"Ok, Pak, eh, Mas ... heee."
Arkana awalnya akan protes jadi tidak jadi. "Good!" Anjana pun memutar bola matanya jengah.
Sesuai janji Arkana, dia membeli sesuatu dulu untuk Alea. Anjana tidak ikut dan hanya menunggu di mobil.
"Ck ... beli mainan lagi," ucap Anjana ketika melihat isi paper bag yang tadi Arkana bawa.
"Nggak apa-apa ... Aku enjoy kok beliin buat Alea."
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai tujuan.
"Bundaaa ...," suara nyaring Alea ketika Anjana sampai.
"Sayang ... Bunda kangeeennn banget sama Alea," ucap Anjana dan memeluk sang putri.
"Ehemmm ...," dehem Arkana dan hal itu membuat Alea melepaskan pelukannya.
"Papa ...," ucap Alea, lalu sekarang giliran Arkana yang dipeluk.
"Kangen nggak sama Papa?"
"Kangen, dong."
"Papa punya oleh-oleh buat kamu. Bentar, Papa ambilkan." Arkana pun mengambil oleh-oleh itu di dalam mobil.
"Wah ... terimakasih, Pa," ucap Alea girang.
Muncullah Bu Sari dari dalam rumah. "Eh ... Kamu udah sampai, Nak?"
"Bu ... baru saja sampai," ucap Anjana sambil mencium punggung tangan sang Ibu.
"Loh ... dianterin Pak Arkana." Arkana pun tersenyum dan menghampiri Bu Sari lalu mencium punggung tangannya.
"Ayok masuk!"
__ADS_1
***
Sorenya, Arkana dan Anjana mengajak Alea ke taman bermain. Alea terlihat sangat bahagia bermain perosotan bersama Arkana. Sedangkan Anjana merekam kebersamaan mereka.
Tak berapa lama, Arkana menghampirinya dan meninggalkan Alea bermain sendiri. Namun Arkana lebih dulu membelikan minuman.
"Nih," sodor Arkana.
"Terimakasih," ucap Anjana sambil tersenyum. Namun, dia kesusahan membuka minuman botol itu yang masih tersegel. Arkana pun mengambilnya kembali dan membantu membukanya. Barulah dia bisa meminumnya setelah dibukakan oleh Arkana.
"Alea terlihat bahagia," ucap Arkana sambil mendudukkan bokongnya di samping Anjana.
"Tentu saja ... masak, bundanya dateng, dia nggak bahagia," celetuk Anjana sambil terkekeh. Arkana juga senang jika melihat Anjana bisa tersenyum dan tertawa jika sedang bersama sang putri.
"Sudah setahun lamanya Adit pergi. Apa kamu nggak ada niatan untuk menikah lagi? Maksudku ... apa kamu nggak kasihan sama Alea yang nggak ada sosok seorang Ayah?"
Pertanyaan Arkana membuat wajah Anjana menjadi datar. Dia tidak menyangka akan mendengar pertanyaan ini lagi setelah sang Ibu lebih dulu bertanya.
Arkana merasa tidak enak sudah bertanya hal itu. Anjana sampai terdiam tak bersuara.
"Maaf ... jika pertanyaanku lancang. Nggak usah dijawab. Anggap saja, Aku nggak pernah bertanya soal itu!"
Anjana pun sedikit tersenyum miris. "Untuk saat ini, Saya nggak ada niat untuk menikah lagi. Saya hanya ingin fokus membesarkan Alea. Walaupun tanpa sosok Ayah untuknya. Lagipula, Saya yakin masih bisa membahagiakan Alea."
Pernyataan Anjana sangat menyentil hati Arkana. Gara-gara dirinya, orang-orang di sekitarnya harus menderita.
"Jika Ibu Kamu mempunyai calon Ayah untuk Alea. Apa Kamu akan menerimanya?" tanya Arkana lagi.
Anjana berdecak, "Ck ... pertanyaan apalagi itu ... nggak mungkin, Ibu punya calon Ayah untuk Alea."
"Lalu ... bagaimana jika Alea meminta seorang Ayah?"
Seketika, tatapan Anjana horor ketika menatapnya. Arkana pun jadi gelagapan dibuatnya. Apalagi, Anjana mencondongkan tubuh ke arah dirinya.
"Apa Mas Arkana punya calon untuk Saya? Atau ... Mas Arkana mau jadi Mak Comblang? Kenapa dari tadi bahas tentang Ayah untuk Alea. Mas lupa ya ... Mas 'kan papanya Alea."
Tubuh Arkana benar-benar menegang. Tatapan Anjana seolah dibuat selucu mungkin. Namun dia harus tetap waras. Sebutan Papa yang dimaksud itu, adalah hanya sebatas sebutan saja dan tidak mengubah status dalam dirinya.
"Papa angkat ... nggak lebih," ucap Arkana sambil menggunakan telunjuknya ke kening Anjana agar menjauh darinya.
"Pppuuufffttt ... tentu saja ... hanya Papa angkat ... tapi menurut Saya, itu sudah lebih dari cukup untuk Alea. Nggak usah cari Ayah yang lain lagi."
Entah kenapa Arkana tidak senang hanya sebatas Ayah angkat untuk Alea.
"Terimakasih, sudah selalu ada untuk Alea!" ucap Anjana. Matanya sedikit berkaca-kaca.
"Huuummm ... nggak usah sungkan jika kalian butuh sesuatu!"
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada sosok pria yang sedari tadi memperhatikan mereka. Kedua tangannya mengepal menyaksikan kedekatan Anjana dengan pria lain
BERSAMBUNG ...