TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU

TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU
8. Derita Arkana


__ADS_3

Arkana bingung harus mencairkan suasana di dalam mobil itu. Hening ... Begitulah keadaannya saat ini. Anjana diam seribu bahasa. Namun, Arkana bisa tebak, hati Anjana sedang menangis.


"Kalau Kamu perlu tempat untuk bercerita. Aku siap menjadi pendengar yang baik," tawar Arkana.


"Setidaknya, jangan menanggung masalah sendiri. Siapa tahu dengan berbagi kesedihan atau mencurahkan isi hati Kamu, bisa membuat bebanmu berkurang," lanjut Arkana.


Terdengar helaan nafas dari Anjana. Arkana hanya melihat sekilas ke arahnya, karena dia sedang fokus mengemudi.


"Ibu, minta Aku menerima lamaran Doni."


"Apa?" Arkana kaget bukan main dengan pernyataan Anjana.


"Emmm ... Maksudku ... Kapan Doni ngelamar Kamu?" tanya Arkana dengan sedikit gelagapan.


Mata Anjana seperti menerawang tak tentu tujuan. "Sudah lama ... Tepatnya, sebelum Saya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan dari Bu Arumi."


"Jadi ... Kamu bersedia menerima pekerjaan ini itung-itung lari dari lamaran Doni?"


Anjana mengangguk lesu, "Ya ... Bisa dibilang seperti itu."


"Memangnya, kenapa Kamu nggak suka sama Doni?"


Anjana terlihat tersenyum miris menanggapi pertanyaan Arkana. "Nggak semudah itu menerima hati yang baru, ketika posisi Saya saat itu masih dalam masa bersedih. Doni pria yang baik. Tapi Saya nggak bisa membuka hati semudah itu. Cinta tidak bisa dipaksakan, kan?"


Arkana pun hanya bisa mengangguk tanda setuju. Di hatinya yang paling dalam, masih merasakan penyesalan.


Tiba-tiba, Arkana menepuk jidatnya. Dia baru mengingat sesuatu.


"Astaga ...," ucap Arkana. Hal itu sukses membuat Anjana menoleh dan bertanya.


"Kenapa?"


"Beberapa barang-barangku masih di Hotel," ucap Arkana dengan meringis. Dia pun menghentikan mobilnya.


"Lah ... Saya kira udah check out sekalian tadi pagi," ujar Anjana.


"Belum."


"Emang barang apa aja di sana?"


"Laptop dan ransel."


"Ya ampun ... Ya udah, putar balik lagi aja. Mumpung belum jauh!"


"Seriusan, nggak apa-apa? Kita udah jalan jauh loh. Kalau kita balik lagi, pasti sampai Jakarta bisa lewat tengah malam."


"Nggak apa-apa. Di laptop pasti banyak hal penting."

__ADS_1


"Bukan penting lagi. Di laptop ada file buat persentase rapat besok di Kantor."


"Tuh kan ... Cepetan putar balik aja!"


Akhirnya, mereka pun putar balik. Untung saja, Arkana bisa mengingatnya. Walaupun sedikit telat. Anjana yang tadinya diam, setelah keteledoran Arkana jadi bawel. Semacam berubah 180 derajat. Ya ampun, Arkana sampai bosan diceramahi ini itu. Apalagi ini menyangkut file perusahaan.


Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di Hotel tempat Arkana menginap. Anjana pun ikut masuk ke sana. Anjana takut jika menunggu di mobil sendirian. Apalagi, jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


Ting ...


Lift sudah sampai di lantai kamar Hotel yang Arkana tempati. Mereka pun langsung menuju ke kamar tempat Arkana menginap semalam.


"Akhirnya ... Masih ada," ucap Arkana dan tersenyum.


Anjana memutar bola matanya jengah. "Ya pasti masih ada, dong. Siapa juga yang mau ngambil."


Arkana hanya terkekeh. Dia pun memasukkan Laptopnya ke ransel dan juga memasukkan barang-barang miliknya yang masih tergeletak di ranjang Hotel itu.


Anjana yang melihat kelakuan bosnya yang teledor itu hanya geleng-geleng kepala. Beberapa barang tergeletak dan juga sangat berantakan di atas ranjang.


Demi mempersingkat waktu, Anjana pun sambil mendumal membantu membereskan barang-barang tersebut. Namun, kejadian tak terduga menimpa dirinya. Dia tersandung kabel casan handphone yang terletak sembarangan di lantai.


Arkana yang melihat itu, langsung menolong Anjana yang hampir terjatuh tersungkur dengan cara menarik tangan kirinya. Anjana pun berhasil tidak tersungkur. Namun, posisinya sekarang Anjana berada di pelukan Arkana dengan kedua telapak tangannya tepat di dada bidang Arkana. Bukan itu saja ...


Cup ...


Bibir Arkana tidak sengaja mencium kening Anjana.


"Sa-saya tunggu di luar!" ucap Anjana dan bergegas keluar dari kamar Hotel itu.


Arkana masih terkesima dengan kejadian baru saja. Jantungnya berdetak kencang dengan hebatnya. Debaran jantung yang dulu masih saja terasa sama ketika dulu di pertemuan pertama dengan Anjana.


Sama halnya dengan Anjana. Dia juga sedang menetralkan debaran jantungnya. Dia merasa ini tidak benar dan berusaha melupakan yang baru saja terjadi.


Tak berapa lama, Arkana pun keluar dari kamar Hotel itu.


"Sudah beres semua?" tanya Anjana dan bersikap biasa saja. "Yakin, nggak ada yang tertinggal?" tanya Anjana lagi.


Arkana mengangguk, "Sudah ... Ayok kita pulang sekarang!"


Mereka pun masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah. Arkana juga check out dari Hotel itu.


"Maaf ...," lirih Arkana, ketika mereka sudah melajukan mobilnya kembali.


Anjana pun menengok, "Untuk apa?" tanyanya dengan sedikit dingin.


"Soal kejadian barusan. Aku hanya menolongmu. Nggak ada maksud apa-apa."

__ADS_1


"Itu hanya kecelakaan. Saya sudah melupakannya."


'Secepat itu, Anjana melupakannya?' ucap Arkana di dalam hati.


Dari situ, tak ada yang bersuara lagi. Arkana merasa canggung sendiri. Sedangkan Anjana terlihat biasa saja.


Keesokan harinya ...


"Semalam kalian pulang jam berapa?" tanya Bu Arumi di sela sarapannya.


"Sekitar jam 1 kalau nggak salah," jawab Arkana.


"Lewat tengah malam, ya ...," ucap Bu Arumi.


"Maaf Nyonya, semalam kita pulang terlalu larut. Soalnya Saya tidak bisa meninggalkan Alea kalau dia belum tidur." Anjana ikut menimpali.


Anjana di rumah itu tinggal di Paviliun. Jika waktu sarapan atau waktu makan lainnya, dia bergabung dengan keluarga Mahesa. Bu Arumi meminta Anjana untuk tidak segan di rumah itu. Anjana juga bersyukur, Bos yang dulu diikuti mendiang suaminya ini sangat baik.


"Kenapa Kamu nggak ajak Alea tinggal di sini? Saya sangat senang jika Alea ikut sama Kamu. Setidaknya, di rumah ini tidak akan kesepian. Saya sangat mendambakan seorang cucu. Tapi Kamu tahu sendiri, Arkana masih setia menduda," ucap Bu Arumi.


"Ma ...," protes Arkana.


"Nggak usah repot-repot, Nyonya. Lagipula, Alea di sana juga sambil menemani Ibu."


"Mama jangan terlalu memaksa Anjana. Dan Kamu, An ... Jangan terlalu nurut sama Nyonya Kamu!" Pak Arya ikut nimbrung di dalam obrolan mereka.


Anjana hanya mengangguk sopan. Dia benar-benar beruntung bisa mengenal majikan sebaik mereka.


"Pagi-pagi udah pada ribut aja deh, kalian," protes Arkana.


"Abisnya, Mama kesepian ... Oh ya, kapan Kamu akan menikahi Niken? Mama sudah nggak sabar kamu menikah lagi dan memberikan Mama cucu."


Niken adalah gadis yang dijodohkan Pak Arya pada Arkana. Sebenarnya, Arkana belum menerima perjodohan itu. Dia hanya bersikap baik dan menghormati keluarga Niken, karena Ayah Niken adalah salah satu pemegang saham di perusahaannya.


"Aku belum terpikir ke arah sana. Lagipula, Aku nggak yakin jika keluarga Niken tahu kenyataan bahwa Aku nggak bisa memberikan seorang anak. Pasti mereka akan berpikir dua kali untuk menerimaku."


Anjana seketika menghentikan kunyahannya. Dia baru tahu apa yang diderita Arkana.


"Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Yaitu membuat pasanganku menjadi pengkhianat dan berakhir perceraian lagi," lanjut Arkana lagi.


Pak Arya dan Bu Arumi terdiam dengan pernyataan Arkana.


"Ar ... Mama yakin, sebenarnya Kamu itu sehat. Perempuan itu saja yang tidak sabaran," ucap Bu Arumi membela sang anak.


"Pokoknya ... Kalau Niken ingin menikah denganku, dia harus tahu dulu kenyataannya!" tegas Arkana.


Arkana pun bangkit dari duduknya, dan bergegas pergi meninggalkan meja makan yang membuatnya jadi tak nafsu makan.

__ADS_1


Anjana merasa canggung di sana. Dia bagaikan sebuah lalat yang hinggap tak berarti di dalam percakapan mereka. Namun, dia merasa iba dengan apa yang diderita Arkana.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2