TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU

TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU
15. Andai Kamu Tahu


__ADS_3

"Addduuuhhh ... ."


Arkana seketika mengaduh kesakitan. Ternyata Dia hanya mimpi. Dia ketiduran sambil duduk di kepala ranjang dan kepalanya terbentur meja nakas yang ada di samping ranjangnya.


Bagaimana tidak ketiduran, tadi Dia sudah meminum obat, jadi berefek mengantuk. Arkana mendengkus geli dan mengusap-usap kepalanya yang terbentur.


"Sial*n ... Ternyata tadi hanya mimpi."


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan wanita yang baru saja ada di mimpinya. Wanita itu tersenyum ke arahnya. Wajahnya sudah terlihat segar menandakan bahwa dirinya sudah mandi. Makeup yang natural membuat Arkana terhipnotis. Pakaian yang dikenakan pun selalu cocok dikenakan. Mungkin itu sebabnya Arkana tidak henti-henti mengangumi. Jangan lupakan rambutnya yang dikuncir kuda dan menyisakan sedikit helaian rambut di kedua sisi pipinya.


"Maaf, lama," ucap wanita itu yang tak lain adalah Anjana.


Arkana tersenyum dan melihat jam yang menempel di dinding. "Cuma 1 jam, kok. Lagipula, barusan Aku malah tertidur. Mungkin efek minum obat tadi."


"Oh ... Ok deh ... Kalau gitu, yuk ke taman sekarang!" ajak Anjana dan mengulurkan tangannya. Berbanding terbalik dengan yang ada di mimpinya. Jika di mimpinya, Dia yang merengek minta dipapah. Namun ternyata, sekarang Anjana yang menawarkan diri untuk memapah.


Arkana langsung menggenggam tangan Anjana dan berusaha berdiri. Jujur, tubuhnya merasa lemas karena akibat demam semalam.


"Kalau badan Kamu selemas ini, kenapa sok-sokan pengen jalan-jalan ke taman," protes Anjana sambil memapah Arkana. Wangi parfum Anjana masih sama di penciumannya. Bagaimanapun, tubuh mereka saat ini sangat dekat dan saling menempel.


"Apa Aku berat?" tanya Arkana yang merasa tidak enak.


Anjana menoleh ke arahnya. Wajah mereka sangat dekat. Detak jantung Arkana benar-benar tidak bisa dikompromi. Namun Anjana dengan cepat kembali melihat ke depan.


"Pake nanya ... Ya, berat dong," ucap Anjana sambil mendengkus sebal.


Mereka pun sampai ke taman belakang. Di sana ada beberapa tanaman bunga. Kolam renang persegi panjang yang lumayan besar. Juga ada kolam ikan dan menciptakan suara gemericik air karena seperti ada air terjun buatan.


Mereka duduk di kursi santai pinggir kolam. Anjana pamit sebentar ke dalam rumah. Tak berapa lama, Dia membawa nampan berisi dua cangkir teh dan beberapa camilan.


"Maaf ... Sudah merepotkanmu," ucap Arkana.


"Gara-gara Aku, Kamu jadi nggak ke kantor," lanjut Arkana lagi.


Sebelum menjawab, Anjana lebih dulu meminum tehnya dan memakan camilan yang tadi Dia bawa. Lalu Dia terkekeh sambil mengunyah. "Bukannya, tadi malam udah minta maaf. Lagipula, kalau dipikir-pikir Kamu demam itu kehujanan kemaren karena malah memberikan kemejamu padaku."


"Iya sih ... Tapi tetap saja Aku nggak enak. Udah bikin Kamu repot dari semalam sampai saat ini."


"Udah deh, nggak usah dibahas. Lagipula, Aku nggak libur-libur amat. Aku kerja dari rumah." Anjana pun melengos pergi. Tak berapa lama Dia pun kembali dengan membawa laptop.


"Astaga ... Ini sih, Papa bukannya ijinin Kamu libur kalau masih kerja di rumah." Anjana hanya terkekeh, sedangkan Arkana menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi santai itu.




Keesokan harinya, tubuh Arkana sudah fit kembali. Dia pun memaksakan diri untuk masuk Kantor. Awalnya Bu Arumi melarang, dan menyuruh Arkana tetap istirahat total, paling tidak sampai hari Minggu. Namun, karena Arkana memaksa, Bu Arumi pun terpaksa mengijinkan.



Sesuai janji Arkana, selama seminggu ke depan, Dia akan mentraktir Anjana setiap makan siang. Seperti saat ini, mereka sedang makan siang di salah satu restoran terdekat dengan Kantor. Tadinya, Anjana mengajarkannya makan siang di kantin. Namun Arkana menolak. Kepergian Arkana dan Anjana tidak luput dari perhatian Bu Linda.

__ADS_1



"Kamu yakin, mau traktir Aku makan siang selama seminggu?" tanya Anjana di sela kunyahannya.



Arkana mengangguk. "Tentu saja. Cuma makan siang doang nggak akan bikin kantongku kering."



Anjana mencebikkan bibirnya. "Dih, sombongnya."



"Lagipula, tabunganku nggak ada yang make. Setiap gajihan kantor nggak ada yang minta dan nggak ada yang Aku nafkahin. So ... Mau traktir Kamu tiap hari pun Aku siap."



"Ckckck ... Brasa Aku istrinya dong, makan gaji Kamu tiap hari," ucap Anjana tanpa pikir panjang.



"Kalau Kamu mau, Aku bisa wujudkan itu."



Seketika, Anjana menghentikan kunyahannya. Dia baru sadar, bahwa tadi sudah salah bicara.




Anjana tampak menghela nafas dan menaruh garpu dan sendok di atas piring miliknya. "Ar ... ."



"Hmmm ... ." Arkana fokus pada makanannya.



"Kenapa Kamu belum menikah lagi? ... Maksudku, apa Kamu masih belum bisa melupakan mantan istrimu. Jika memang mantan istrimu dulu sudah mengkhianatimu, harusnya Kamu bangkit dan buktikan sama Dia, kalau Kamu bisa dengan cepat melupakannya dan mendapatkan penggantinya."



Ucapan Anjana membuatnya tersentil. Dia pun terkekeh. "Dari awal menikahi Mira, Aku sebenarnya tidak terlalu mencintainya. Maksudku, Aku menikahinya karena hanya pelarian saja. Aku mencintai wanita lain yang tak bisa kumiliki."



Anjana benar-benar kaget mendengar pernyataan Arkana. Dia juga penasaran, siapa wanita yang dimaksud Arkana.


__ADS_1


"Hingga Aku memutuskan untuk menikahi Mira yang masih teman kuliahku dulu. Tapi ternyata, Tuhan menegurku dan membuatku mandul. Itu adalah ganjaran karena Aku membuatnya sebagai pelarian. Tak kusangka, Dia malah mengkhianatinya dan malah selingkuh dengan pria lain, yang masih sahabatku sendiri."



Anjana merasa iba dengan semua cerita Arkana.



"Untuk saat ini. Aku hanya ingin sendiri. Lagipula, wanita yang Aku cintai dari dulu masih belum membuka pintu hatinya juga."



Anjana benar-benar penasaran, siapa wanita yang dicintai Arkana dari dulu.



"Siapa wanita itu? Apa Aku mengenalnya? Kalau dulu Kamu bilang nggak bisa milikin Dia. Apa bedanya dengan sekarang?"



"Dulu dan sekarang sudah berbeda. Aku yakin bisa memilikinya sekarang. Tapi, ada hal yang membuatku tidak percaya diri dan takut. Apalagi, Aku mandul. Dia pasti tidak akan menerimaku." Arkana menumpu dagunya dengan kedua tangan dan memperhatikan Anjana yang sedang melanjutkan makannya.



"Wah ... Beruntung sekali jika wanita itu mau membuka pintu hatinya. Masalah kemandulanmu, menurutku, jika cinta di antara Kalian kuat, Aku yakin itu bukan masalah."



Arkana hanya bisa menghela nafas dan tersenyum dengan semua ucapan Anjana.



'Andai Kamu tahu, wanita yang kumaksud itu adalah Kamu, An.' Pikiran Arkana bermonolog.



"Menurutku, Kita ada di fase yang sama. Sama-sama dalam menata hati yang rumit. Sama-sama mempunyai masa lalu. Kalau dipikir-pikir, kenapa Kita tidak jadian saja. Supaya Kita bisa sama-sama saling mengobati luka satu sama lain."



Seketika Anjana membulatkan matanya. Raut wajahnya tak bisa ditebak. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Namun dengan pelan Dia menelannya dan menyeruput minumannya. Tiba-tiba, tawa Anjana pecah dan melemparkan sedotan ke arah Arkana.



"Bercandamu nggak lucu."



Arkana mengedigkan bahunya dan ikut tertawa. "Aku nggak suka ketegangan. Aku lebih suka candaan," ucap Arkana, namun dalam hatinya tidak seperti itu. Dia ingin Anjana menganggapnya serius, tapi selalu dianggapnya bercanda.


__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2