
Saat ini Arkana sedang di ruang rapat bersama Bu Linda, sekretarisnya. Sedangkan Anjana baru saja datang bersama Pak Arya. Pekerjaan Anjana memang random. Kadang jadi asisten Pak Arya, kadang juga jadi asisten Arkana. Apalagi jika Bu Arumi butuh teman belanja atau sekedar teman ngobrol, Anjana pun siap dipanggil. Namanya juga asisten di keluarga Mahesa, jadi dia harus siap siaga.
Bu Linda memperhatikan gelagat Arkana yang menurutnya sedang ada masalah. Dari awal rapat sampai selesai, tidak nampak gair*h sedikitpun dari wajahnya.
Setelah rapat selesai, Arkana langsung bergegas keluar meninggalkan ruangan rapat. Bu Linda pun hanya menggeleng lesu melihatnya.
Bu Linda berinisiatif menghubungi Anjana. Karena Anjana dan Arkana kemarin sudah pergi ke Bogor bersama. Di pikiran Bu Linda, mungkin mereka sedang ada masalah.
"Hallo, An ...," sapa Bu Linda ketika sambungan telepon tersambung.
"Hallo, Bu Linda ... Tumben telepon?" ucap Anjana di sebrang sana.
"Nanti makan siang bareng, yuk! ... Ada yang ingin Aku tanyakan padamu."
"Boleh ... Apa ada hal serius?"
"Nanti saja bahasnya! ... Sekarang masih jam kerja. Bay ...."
Klik ...
Anjana mendengkus melihat sambungan telepon itu berakhir. Bu Linda memang selalu bersikap dadakan kalau bicara. Anjana pun mengedigkan bahunya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Siang pun tiba ...
Bu Linda dan Anjana sedang di Restoran dekat kantor. Anjana kira, Bu Linda ingin mengajaknya makan di kantin, tapi ternyata Bu Linda mengajaknya makan di restoran.
"Apa yang ingin Bu Linda tanyakan?" tanya Anjana to the point.
"Sabar dong ... Habiskan dulu makan siangnya!" celetuk Bu Linda.
"Bisa bahas sambil makan. Supaya mempersingkat waktu!" seloroh Anjana.
"Ok ... Ok ... Gini, ini soal anak majikan Kamu."
Anjana menghentikan kunyahannya, "Mas Arkana, eh maksudku, Pak Arkana." Mulut Anjana kelepasan. Tentu saja membuat Bu Linda mengerling gen*t.
"Cieee ... Panggil Pak Kana 'Mas' ni yeee."
__ADS_1
"Apa-an sih, Bu ... Nggak ada maksud apa-apa. Sebutan itu Aku pake kalau kita lagi nggak di kantor." Anjana berusaha meluruskan ucapannya.
"Ada apa-apanya juga nggak apa-apa, kok." Bu Linda menggod* Anjana.
Anjana memutar bola matanya jengah. "Terserah Bu Linda saja ... Cepetan, ada apa dengan Pak Arkana?"
Bu Linda berdecak dan melipat kedua tangannya di dad*. "Ck ... Kamu suka ngalihkan pembicaraan, deh!"
"Ya udah ... Kalau nggak penting, Aku pergi aja!" Anjana jengah dengan sikap usil Bu Linda.
Bu Linda terkekeh dengan sikap Anjana yang merajuk. "Penting nggak penting sih ... Hmmm, apa Kamu sama Pak Arkana ada masalah? ... Secara, kemarin 'kan Kamu pulang ke Bogor diaterin Dia."
Anjan mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan. "Nggak ada ... Emang kenapa?"
Pikiran Anjana malah mengingat ke insiden di kamar Hotel itu. Yaitu Arkana tidak sengaja mengecup keningnya. Dia pun spontan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Linda yang melihatnya merasa aneh.
"Kamu kenapa? Apa iya di antara kalian ada masalah?"
"Eh ... Emmm ... Nggak ada. Maksudku, kami baik-baik saja."
"Jadi gini ... Pak Arkana dari awal datang ke kantor tadi pagi, sampai hadir di ruangan rapat, mukanya itu kayak ditekuk. Muka dia menggambarkan bahwa dia sedang ada masalah. Nah ... Apa jangan-jangan, dia abis ditolak cintanya."
'Apa mungkin, Pak Arkana masih kepikiran soal obrolan tadi pagi?' monolog Anjana di dalam hati.
"Sok tahu Kamu, kalau Pak Arkana jomblo. Gitu-gitu juga dia punya gebetan, loh." Ucapan Bu Linda sukses membuat Anjana penasaran.
"Iya kah ... Oh, yang Bu Linda maksud itu Mbak Niken kali, ya."
Bu Linda menggelengkan kepalanya, "Bukan. Kalau Niken itu gadis yang dijodohkan dengannya, dan Pak Arkana belum memutuskan menerimanya. Tapiii ...," Bu Linda sengaja menjeda ucapannya.
"Siapa? ... Kok Aku nggak tahu kalau Pak Arkana punya gebetan," ucap Anjana penasaran.
Bu Linda terkekeh-kekeh, "Biar waktu yang menjawab. Aku nggak ada hak untuk memberitahumu." Bu Linda sebenarnya tahu siapa wanita yang Arkana suka. Yaitu, wanita yang bersamanya sekarang. Kenapa Bu Linda sampai tahu? Karena dia pernah tidak sengaja melihat isi galeri ponsel Arkana yang penuh dengan foto-foto Anjana. Dari sana Bu Linda sudah bisa menebak, bahwa Arkana menyukai istri dari mendiang asistennya.
"Ish ...," jengkel Anjana.
"Jadi, gimana, Kamu nggak tahu masalah dia apa."
__ADS_1
Anjana sebenarnya ingin cerita soal masalah tadi pagi. Dia takut salah bicara. Tapi tak ada salahnya bercerita. Lagipula, Bu Linda adalah orang kepercayaan Arkana.
"Sebenarnya tadi pagi, ketika sarapan, Nyonya Arumi menyinggung soal perjodohannya dengan Mbak Niken. Nyonya Arumi ingin Pak Arkana cepat menikahinya agar bisa mendapatkan seorang cucu. Namun, pernyataan Pak Arkana membuatku tercengang."
"Kenapa?" tanya Bu Linda antusias.
"Apa Bu Linda tahu. Kalau Pak Arkana itu mandul?"
Bu Linda pun ikut tercengang. "Jadi, rumor itu benar."
Anjana sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bu Linda. "Rumor apa?" tanya Anjana dengan seksama.
"Rumor kalau Pak Arkana dikhianati oleh istrinya itu karena dia mandul."
Deg ...
Hati Anjana semakin iba mendengarnya. Jadi, anak-anak kantor sudah tahu kenyataan Pak Arkana yang mandul.
"Emangnya sudah terbukti kah bahwa Pak Arkana mandul?"
"Aku pernah melihat secarik kertas yang diremas oleh Pak Arkana yang tergeletak di lantai ruangannya. Pas Aku buka, di sana tertulis bahwa dia dinyatakan mandul. Aku hanya diam dan tak ingin ikut campur. Tapi anak-anak Kantor sangat heboh."
Bu Linda memandang wajah Anjana. "Kamu tahu ... Aku sangat sedih dengan kenyataan Pak Arkana. Aku sudah menjadi sekretarisnya semenjak dia dilantik jadi CEO Perusahaan Mahesa. Aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri. Apalagi, ketika istrinya ketahuan selingkuh. Di saat itu juga, Pak Arkana langsung menceraikannya."
Anjana juga sangat mengenal mantan istri Arkana. Karena Arkana selalu membawa istrinya ke rumah jika ingin menjenguk Alea.
Obrolan mereka pun usai. Mereka sudah tahu penyebab kemurungan Arkana. Mereka pun kembali lagi ke Kantor. Bu Linda melihat ke arah pintu ruangan Arkana. Sepertinya, Bos-nya itu tidak makan siang.
Bu Linda mengetuk pintu ruangan itu. Dia khawatir Bos-nya itu kelaparan. Mungkin dia bisa membelikan makanan untuknya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tidak ada sahutan dari dalam. Bu Linda sangat khawatir pada Bos-nya. Dia pun memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Arkana. Seketika, Bu Linda membulat. Ruangan Arkana sangat berantakan dan berserakan barang-barang.
Bu Linda masuk dengan hati-hati. Dia mencari keberadaan Bos-nya. Ternyata Arkana sedang duduk di kursi kebesarannya dan membelakangi meja kerjanya. Dia sedang memandang dinding kaca ruangannya yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit.
Bu Linda menghela nafasnya sambil memperhatikan keadaan bos-nya. "Lagi dan lagi ... Kenapa jika ada masalah, Kamu selalu memendamnya sendiri?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ...