TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU

TERJERAT CINTA ISTRI ASISTENKU
6. Pernyataan Sang Ibu


__ADS_3

"Jadi, Mas Arkana mau langsung ke hotel?" tanya Anjana ketika mereka di dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumahnya.


"Iya ... besok Aku ke sini lagi jemput kalian untuk berangkat ke acaranya Alea di sekolah," jawab Arkana sambil fokus mengemudi.


Alea terlihat tertidur di kursi belakang. Mungkin dia kecapekan karena dari tadi diajak main.


Tidak berapa lama, mereka pun sampai di pelataran rumah Anjana. Di sana ada sebuah mobil yang terparkir. Anjana tahu siapa pemilik mobil itu.


"Kayaknya ada tamu," ucap Arkana.


"Doni," bisik Anjana, namun masih terdengar oleh Arkana.


"Teman Kamu?"


Anjana mengangguk, "Emmm ... Iya. Ya udah, Saya masuk dulu!"


Ada yang aneh dari gelagat Anjana. Arkana pun tidak bisa diam saja. Dia harus cari tahu siapa orang itu. Dia pun ikut turun dari mobil. Lagipula, Dia harus membantu Anjana untuk menggendong Alea yang tertidur.


"Biar Aku saja!"


"Nggak usah. Saya bisa sendiri, kok!"


Arkana tidak mendengar protes Anjana. Dia lebih dulu melangkah menggendong Alea dan masuk ke dalam rumah. Kebetulan pintu rumahnya terbuka.


"Kalian sudah pulang? Ibu baru saja akan menghubungi Kamu, An," ucap Bu Sari.


"Maaf, Bu. Kami mainnya kemalaman. Alea sampai tertidur," ucap Arkana sambil melirik seseorang yang duduk di kursi tamu.


"Ya sudah, mari Ibu antar ke kamar Alea!" ajak Bu Sari.


"Oh ya, An. Nak Doni katanya pengen ketemu Kamu. Samperin gih!" lanjut Bu Sari.


Entah kenapa, ada perasaan tidak suka di hati Arkana pada pria itu. Mungkinkah dia hanya sekedar teman. Tapi, Arkana merasa jika pria itu seperti mengharapkan Anjana. Dia bisa melihat dari tatapan pria itu terhadap Anjana.


"Hai, An ... Apa kabar?" tanya pria itu dan mengulurkan tangan kanannya pada Anjana.


"Baik, Don," ucap Anjana dan menjabat tangan Doni.


Mereka pun duduk bersebrangan. Anjana merasa risih dengan kedatangan Doni ke rumahnya. Tapi Ibunya, sangat menyukai Doni.


"Siapa pria yang sama Kamu?" Doni adalah orang yang tadi memperhatikan di taman bermain itu. Makannya, tanpa menunggu lama-lama, dia langsung mendatangi rumah Anjana. Lagipula, dia sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Oh, dia Bos Aku," ucap Anjana asal.

__ADS_1


Di kamar Alea, Arkana dengan pelan membaringkan tubuh Alea di ranjangnya. Ranjang yang penuh dengan boneka pemberiannya. Arkana tersenyum melihatnya. Dia senang, bahwa hadiah yang sering dia beri, dipajang rapi di kamar Alea.


"Terimakasih, Pak!" ucap Bu Sari sopan.


"Bu ... Saya rasa, jangan panggil Saya dengan sebutan 'Pak.' Panggil nama saja, tidak apa-apa!"


"Tidak apa-apa, Pak. Anda 'kan Bosnya Anjana. Apalagi, anda sudah banyak membantu keluarga Kami."


"Tapi Saya ingin dianggap seperti orang biasa. Jadi, tolong jangan panggil Saya 'Pak' lagi!"


"Baiklah, jika begitu. Ibu akan panggil Nak Arkana saja."


Arkana tersenyum menanggapinya. "Oh ya ... Pria di depan itu siapa, Bu?"


"Oh ... Dia Doni. Temannya Anjana. Rumahnya tidak jauh dari sini."


Arkana pun mengangguk dan keluar dari kamar Alea. Sedangkan Bu Sari permisi untuk pergi ke dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika samar-samar dia mendengar ucapan Doni.


"Aku hanya ingin lebih dekat dengan kalian. Setidaknya beri Aku kesempatan untuk bisa membuka hatimu!"


"Don ... Maaf ... Seperti yang sudah-sudah. Aku masih ingin sendiri. Lagipula, lebih baik kita hanya berteman saja." Anjana berusaha tenang menyikapinya.


Doni memang dari dulu selalu mengejar Anjana. Namun, dia harus meneruskan studinya di Luar Negri, jadi ketika Anjana menikah dia tidak tahu. Hal itu membuat dia frustasi. Di saat dia mendengar kabar jika Anjana sudah menjanda ditinggal meninggal oleh suaminya, Doni datang kembali mendekatinya. Tapi Anjana masih menutup hatinya. Dari dulu, dia menganggap Doni hanya sekedar teman, tidak lebih.


Doni orang yang baik. Kata Ibunya, Doni sering datang ke rumah, hanya untuk menjenguk Alea. Bu Sari juga tahu apa maksud dari perlakuan baik Doni. Tapi Bu Sari tidak ingin memihak pada Doni ataupun Anjana. Biarlah mereka yang menjalani.


"Aku nggak akan melarang Kamu untuk dekat dengan putriku. Tapi maaf, jangan pernah Kamu menungguku lagi. Karena hatiku tidak dipaksakan!"


Doni menggeser posisi duduknya mendekat ke tempat Anjana. Dia pun meraih tangan Anjana. "Aku nggak memaksakan hatimu. Tapi setidaknya, jangan larang Aku untuk meluluhkan hatimu!"


Anjana menggeleng dan melepaskan tangan Doni. "Sudah malam. Sebaiknya Kamu pulang!"


Doni tidak bisa berkata apa-apa lagi. Daripada Anjana marah dan semakin tidak suka padanya, dia pun pamit pulang.


"Baiklah, Aku pamit pulang. Sampaikan salamku sama Ibu Kamu dan juga Alea!"


Anjana mengangguk dan mengantarkan Doni keluar. Bukan maksud dia mengusir. Tapi, semakin memberi Doni banyak kesempatan bicara, semakin susah untuk dia menghindar.


Setelah Doni pergi, Arkana pun menghampiri Anjana. Betapa terkejutnya Anjana, ketika berbalik badan, Arkana ada di belakangnya.


"Astaga," ucap Anjana sambil memegang dad*nya.


Arkana terkekeh dengan keterkejutan Anjana. Dia pun duduk di kursi yang tadi jadi tempat Doni duduk.

__ADS_1


"Dia naksir Kamu?" tanya Arkana.


Anjana ikut duduk dan mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Arkana. "Siapa?"


"Ck ... Cowok barusan."


"Oh ... Doni ... Dia hanya teman," ucap Anjana sambil mendengkus.


"Maaf, tadi nggak ngenalin dia sama Mas. Tapi, nggak penting juga sih. Lagipula, dia bukan siapa-siapa," lanjut Anjana.


Tak berapa lama, Arkana pun pamit untuk menginap ke hotel yang letaknya tak jauh dari rumah Anjana. Awalnya, Alea meminta agar Arkana menginap di rumahnya. Tapi keadaan tidak segampang itu. Mana ada, seorang duda


menginap di rumah seorang janda. Akan timbul pemikiran negatif.


Saat ini Anjana baru saja selesai mandi dan siap-siap untuk tidur. Dia tidur di kamar sang putri. Tiba-tiba, Bu Sari masuk menghampirinya.


"Bisa bicara sebentar, di luar!" pinta Ibunya.


Anjana pun mengikuti sang Ibu dan keluar dari kamar sang putri.


"Ibu minta kamu jujur sama Ibu!" ucap Bu Sari sambil mendudukkan bokongnya di sofa ruang TV.


Anjana mengerutkan keningnya, "Maksud Ibu?"


"Apa kamu punya hubungan dengan Pak Arkana?"


Tentu saja pertanyaan Ibunya merasa konyol dan membuat Anjana terkekeh. "Ya ampun, Bu. Kenapa sampai punya pikiran seperti itu?"


"Status kalian sama-sama sendiri. Kamu janda. Dia duda. Sedangkan, kalian dalam satu pekerjaan yang sama dan juga tinggal satu atap jika di Jakarta. Ibu hanya takut, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


"Pak Arkana, hanya sebatas bos. Aku hanya sebatas asisten. Hanya saja keberuntungan sedang berpihak kepadaku, yaitu orang tua Pak Arkana dengan baik hati memberikan pekerjaan ini dan juga tempat tinggal. Lagipula, selama satu tahun ini, hubungan Aku sama Pak Arkana baik-baik saja. Kita tidak pernah ikut campur urusan pribadi masing-masing."


"Tapi, di mata Ibu itu berbeda." Bu Sari terlihat menarik nafas dalam-dalam.


"Begini saja. Jika sampai satu tahun ke depan ini kamu belum bisa mencari pengganti mendiang suamimu, Ibu dengan terpaksa akan menerima pinangan Nak Doni. Dia laki-laki yang baik. Apalagi dia sejak dulu sangat mengharapkan kamu. Dia juga sayang sama Alea."


Pernyataan Bu Sari membuat hati Anjana melemas. Hatinya terasa nyeri mendengar ucapan sang Ibu.


"Sudah berapa kali Aku bilang, kalau Mas Adit nggak akan tergantikan."


"Tapi sebagai seorang Ibu sangat was-was ketika anaknya seorang janda. Apalagi ketika mendengar cibiran-cibiran tetangga tentang kamu. Ibu hanya bisa menahan diri untuk tidak marah pada mereka."


Seketika, Bu Sari pergi meninggalkan Anjana yang diam termenung tanpa kata.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2