
Wangi tubuh Anjana masih sama di penciuman Arkana, ketika tadi Anjana mencondongkan tubuhnya. Pikirannya tiba-tiba ke masa lalu. Di mana, dia dan Anjana pernah melakukan hubungan suami istri. Saat itu, Arkana baru beberapa bulan menikah dengan Mira, mantan istrinya.
Enam tahun yang lalu ...
"Apa? Kamu nggak bisa hadir?"
Arkana di ruangannya sangat gelisah. Pasalnya, Adit tidak bisa mendampinginya rapat malam ini. Adit sedang sakit dan harus istirahat total. Sedangkan berkas yang diperlukan ada di tangan Adit.
"Maaf, Ar. Asam lambungku kumat. Kamu bisa cari penggantiku sementara untuk pertemuan kali ini. Kamu tahu sendiri, asam lambungku kalau kumat itu parah," ucap Adit di sambungan telepon.
"Bukan masalah penggantinya. Tapi berkas yang Aku butuhkan ada di tangan Kamu 'kan?"
"Kamu tenang saja. Istriku sedang dalam perjalanan ke sana untuk mengantarkan berkas yang Kamu butuhkan."
"Apa? Kamu malah nyuruh istrimu?"
"Ini sedang darurat. Lagipula, istriku tidak keberatan menggantikan Aku sekarang."
Tok ... tok ... tok ...
Sambungan telepon mereka masih tersambung ketika pintu ruangan Arkana diketuk.
"Sepertinya, istrimu sudah sampai," ucap Arkana pada Adit dan berjalan membuka pintu itu. Benar saja, Anjana dengan senyum manisnya ketika Arkana membukakan pintu.
"Berikan teleponmu pada istriku!" ucap Adit di sambungan telepon itu.
"Astaga ... yang bos itu Aku, kenapa di sini seolah seperti Kamu yang bos-nya." Terdengar gelak tawa Adit di sebrang sana.
Anjana menerima uluran ponsel milik Arkana. "Hallo, Mas. Aku udah sampe di Kantor. Jadi, setelah ini Aku pulang lagi."
"No ... sayang ... kayaknya rencana berubah. Kamu bisa 'kan gantiin Aku jadi asisten Arkana untuk saat ini?"
"Apa? Bukannya tadi bilang, Aku cuma nganterin doang."
"Awalnya iya. Tapi barusan dapat telepon dari klien, katanya ingin meeting dimajukan dan nggak ada waktu untuk Arkana cari pengganti. Lagipula, Aku yakin Kamu bisa handle berkas itu."
"Iya sih, tapi ...," ucap Anjana ragu.
"Please ... ini klien besar Arkana. Kamu cukup dampingi dia dan bicara seperlunya aja!"
"Ck ... ya udah, tapi jangan salahin Aku jika meetingnya gagal."
"Nggak mungkin ... Aku percaya sama Kamu. Ya udah, Aku mau lanjut istirahat lagi. Perih dan mual banget. Bay sayang ...."
"Hmmm ... take care, ya!" Anjana hanya bergumam ketika Adit memutuskan sambungan telepon itu.
"Dasar, nih anak," ucap Arkana sambil menerima ponselnya kembali dari tangan Anjana.
"Kalau Kamu nggak siap, nggak apa-apa. Saya bisa cari yang lain!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok. Saya bersedia. Lagipula saya sedikit hafal dengan berkas itu. Daripada cari yang lain."
Arkana mengangguk dan tersenyum. "Baiklah. Kita berangkat sekarang!"
Mereka pun bergegas berangkat ke tempat tujuan. Klien sudah mengsharelock tempat meetingnya. Namun, Anjana sempat mengerutkan keningnya ketika lokasi yang dikirimkan klien.
"Meetingnya di sini?" tanya Anjana. Tempat meeting mereka ternyata di salah satu hotel.
"Iya. Ayok kita masuk!" ajak Arkana dan Anjana mengangguk seraya ke luar dari mobil.
Mereka sudah disambut oleh bodyguard di sana dan menuntun jalan ke bos mereka yang berada di lantai 12.
"Silakan masuk, Bos kami sudah menunggu Anda di dalam!"
Mereka pun masuk ke kamar hotel yang sudah ditunggu klien. Di sana mereka saling berdiskusi mengenai kesepakatan mereka. Untung saja Anjana sedikit menguasai berkas itu karena Adit meminta bantuannya. Jadi akhirnya, meeting pun berjalan dengan lancar.
"Maaf, meetingnya diadakan di sini. Sebentar lagi saya harus segera berangkat ke Bandara," ucap klien tersebut.
"Tidak masalah. Saya yang seharusnya berterimakasih karena Anda yang malah jauh-jauh dari luar kota datang ke mari hanya untuk berdiskusi dengan kesepakatan kita." Arkana merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Lagipula, Saya sekalian berlibur ke sini." Klien itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Anjana.
"Wah, asisten Anda cantik juga, ya!" seloroh klien Arkana dengan menampilkan senyum genitnya. Anjana sedikit risih dengan hal itu.
"Emmm, dia bukan asisten Saya," sergah Arkana.
"Oh begitu ... Hmmm ... andai waktu saya masih banyak di sini. Mungkin kita akan berbincang lebih lama lagi. Tapi kerjaan saya masih banyak. Lain waktu, kita bisa bertemu kembali."
Anjana seketika kesusahan menelan ludahnya sendiri. Pikiran dia jadi melayang dan negatif.
"Maaf ... atas pemandangan barusan. Kalau begitu, saya permisi lebih dulu karena pesawat yang saya tumpangi sebentar lagi berangkat," ucap klien itu sambil melihat jam tangan mewah yang melingkar di tangannya.
"Terimakasih atas meetingnya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar." Arkana menjabat tangan klien itu dengan ramah.
"Tentu." Klien itu pun menjabat tangan Anjana juga. Namun ternyata, klien itu mengerling nakal kepadanya. Anjana pun langsung melepaskan tangannya.
"Oh ya, minuman Anda masih utuh," ucap Arkana seraya melihat ke atas meja.
"Biarkan saja. Saya sudah tidak butuh lagi minuman itu." Klien itu pun berlalu meninggalkan kamar hotel tersebut. Sementara Arkana menggedigkan bahunya.
"Akhirnya, klien itu sudah pergi," ucap Anjana sambil meminum minuman milik klien tadi.
Arkan melihatnya sedikit keberatan. "Anjana ... kamu asal minum aja," Arkana protes dengan kelakuan asal Anjana.
"Haus, dari tadi nggak disuruh minum." Anjana terkekeh setelah meneguk habis minuman tersebut.
"Iya sih, tapi jangan asal minum juga kali. Mana tau itu yang kamu minum alkohol."
Anjana terkekeh, "Maaf, Pak Bos!" ucap Anjana sambil menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
Arkana menghela nafas dan dia pun sibuk membereskan berkas-berkas dan dimasukkan ke dalam tas yang tadi dia bawa.
"Saya mau numpang ke toilet dulu, ah." Tanpa persetujuan Arkana, Anjana pun bergegas masuk ke dalam toilet.
Tak berapa lama, Arkana mendengar suara jatuh dari dalam toilet. Dia pun bergegas menuju toilet yang tadi dimasuki Anjana.
"An ... apa kamu baik-baik saja di dalam?" panggil Arkana di luar pintu toilet.
Tanpa ada sahutan dari dalam toilet. Tiba-tiba Anjana keluar dengan sempoyongan. "Kok, kepalaku tiba-tiba pusing, ya."
Arkana langsung menolong Anjana dan memapahnya menuju kursi. "Apa kamu sakit?"
Anjana menggeleng dan berusaha sadar. Kedua tangannya dia gunakan memijit pelipisnya.
Arkana khawatir dengan keadaan Anjana. "Kalau gitu, kita ke rumah sakit saja!"
"Nggak usah repot-repot. Kayaknya Saya hanya masuk angin. Lebih baik kita pulang sekarang!"
Anjana berusaha berdiri. Namun karena tubuhnya yang tiba-tiba linglung, dia pun hampir saja terjatuh jika saja Arkana tidak menolongnya. Tapi ternyata pertolongan Arkana malah membuat tubuh mereka oleng dan terjatuh ke ranjang.
Penglihatan Anjana seketika buram. Yang ada di depannya terlihat suaminya. "Mas Adit," lirih Anjana.
Arkana berusaha bangun karena posisi tubuhnya menindih tubuh Anjana. Arkana canggung dengan keadaan seperti ini. Namun, Anjana menahan tubuhnya dan tiba-tiba menyambar bibirnya.
"Anjana, apa yang kamu lakukan?" Arkana melepaskan bibir Anjana tidak percaya Anjana akan melakukan hal itu.
"Mas Adit, Aku mencintaimu," lirih Anjana dan kembali menyambar bibir Arkana yang dia kira Adit-suaminya.
Arkana yang memang menaruh hati pada Anjana, merasa mendapat angin segar ketika mendapat perlakuan seperti itu. Hingga entah set*n dari mana, dia pun membalas cium*n itu dan berakhir saling memuaskan.
Arkana sangat menikm*ti tubuh istri asistennya. Sejak awal bertemu, dia memang mengaguminya. Namun saat ini, keadaan sedang dikuasai oleh h*srat yang tak bisa dibendung lagi. Ibaratnya, kucing akan senang hati melahapnya jika ada ikan yang mendekatinya.
"Ssshhh ... pu*skan aku, sayang ... aaahhh," racau Anjana. Hal itu membuat Arkana semakin semangat menuntaskan hasr*tnya. Namun, kewarasannya mulai kembali di saat Anjana melirihkan nama suaminya.
"Terimakasih, Mas Adit, kamu memang selalu memu*skanku."
Deg ...
Tepat setelah Arkana mengeluarkan benihnya, Anjana menyebutkan nama Adit tepat di telinganya. Seketika Arkana tersadar. "Astaga, apa yang sudah kulakukan?"
Arkana bergegas membersihkan diri dan memakai bajunya kembali. Dia yakin, Anjana juga dalam pengaruh minuman yang tadi Anjana minum. Dengan pengecutnya, Arkana berusaha menutupi kejadian yang sudah terjadi dengan memakaikan kembali baju Anjana tanpa celah. Dia juga membersihkan bekas percintaan mereka dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Lama, Arkana menunggu Anjana sadar. Satu jam kemudian, Anjana sadar dan meringis memegang pelipisnya. "Apa Aku tertidur?"
***
"Papa ... ."
Lamunan Arkana buyar ketika mendengar suara Alea yang nyaring.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...