
Dua orang sedang bertengkar hebat. Sama-sama memiliki sifat yang keras.
"Jika kau masih tidak bisa menurut, keluar dari rumah ini dan jangan pernah injakan kaki lagi di rumah ini!" teriak Roy Mahawiratama, ayah Benny.
Benny menatap tajam sang ayah.
"Baik! Aku akan keluar dari rumah ini!" ucap Benny dengan tegas. Dia berjalan tanpa menoleh ke arah ayahnya. Benny pergi dari rumahnya dan memilih tinggal di jalanan.
***
Beberapa tahun kemudian.
Benny kini tinggal satu tempat dengan sahabat karibnya, Reynaldi. Rumah Reynaldi begitu sederhana. Mereka hidup berdua saja. Kedua orang tua Reynaldi telah meninggal dunia saat dia lulus SMP. Kemudian selama dua tahun di tingkat SMA, Reynaldi sudah hidup sendirian lalu datang Benny sebagai teman baiknya yang kemudian menjadi kawan bersama tinggal di rumah sederhana Reynaldi.
Benny sempat tetap melanjutkan sekolahnya. Namun kemudian karena dia sering bolos, akhirnya Benny memilih keluar dari sekolah. Dua tahun belakangan ini, Benny dan Reynaldi tinggal bersama. Mereka bahkan tidak bersekolah. Seharusnya saat ini mereka bersekolah di tingkat akhir saat SMA. Namun mereka malah hidup di jalanan bebas.
Cara mereka mencari makan adalah dengan balapan liar dan taruhan. Itulah satu-satunya cara mereka mencari uang untuk bertahan hidup selama ini. Kadang kala, mereka akan bekerja di dekat bengkel yang tidak jauh dari rumah Reynaldi. Begitulah biasanya.
Sore itu, Reynaldi biasa dipanggil Rey mendatangi Benny yang baru saja selesai makan dan mandi.
"Bro, ada berita bagus!" Wajah Rey begitu berseri dan nampak cerah.
Benny melihat ke arah Rey, "Apaan?" tanya Benny kepada Rey.
"Malam ini kita ada taruhan. Kalau elu menang bakalan menang besar kita, Bro." Senyum cerah mengembang menghiasi wajah Rey.
"Serius lu, Rey!" Tatap Benny yang mendengar bakal ada hadiah menang besar yang akan mereka terima. Tentu saja, siapa yang tidak senang.
Sudah lama mereka tidak ada taruhan. Biasanya hanya balapan biasa saja dengan anak-anak geng motor mereka. Namun kali ini ada taruhan tentu buat senang. Selain kemenangan akan ada uang banyak yang mereka dapatkan. Mereka bisa makan banyak dan makan enak. Jika tidak ada taruhan, mereka hanya kerja bantu-bantu di bengkel. Gaji kecil yang palingan untuk hari-hari cuma bisa makan mie instan saja. Begitulah kehidupan laki-laki lajang.
"Serius dong, ah! Percaya sama gue, Ben. Seorang Benny Samudera gitu loh, pasti gak bakalan ngelewatin kesempatan ini kan?!" Tatap Rey dengan alis mata naik turun.
__ADS_1
Benny tersenyum lebar. "Sip. Pasti gue ambil dong! Secara udah lama kita gak ada taruhan. Terakhir kali 6 bulan lalu yang hampir aja ketangkep polisi, hahaha," ucap Benny sambil tertawa terbahak-bahak.
Rey menepuk pelan pundak Benny. "Gitu dong. Good job!"
Keduanya tersenyum bahagia. Membayangkan kemenangan yang nanti akan mereka dapatkan tanpa mencari tahu siapa lawan mereka nanti malam siapa.
Malam hari tiba.
Benny dan Rey bersiap ke tempat yang akan menjadi kumpulan biasa orang balapan. Kali ini ada taruhan. Mereka sangat bersemangat.
Saat melintasi sebuah tempat, Benny sempat melihat sebuah bangunan menjulang tinggi. Sebuah perusahaan terbesar di kota mereka. Perusahaan tersebut adalah tempat papa Benny bekerja. Benny menatap sekilas ke arah perusahaan tersebut. Kemudian dia memalingkan wajahnya. Rey sempat melihat kelakuan Benny tersebut.
Beberapa saat kemudian, Rey dan Benny telah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka sampai ke tempat tersebut dengan menaiki sepeda motor kesayangan milik Benny. Kali ini mereka boncengan berdua. Sepeda motor milik Rey sedang rusak, karena itu dia ikut dengan Benny.
Rey menatap ke arah Benny.
"Ben, kayaknya lawan kita belum sampai nih," ucap Rey melihat sekeliling.
"Kayaknya gitu, sih. Kali aja dia takut sama gue. Soalnya biasa belum ada yang bisa ngalahin gue," ucap Benny dengan senyuman bangga.
"Jangan senang dulu. Gue dengar lawan kalian itu Ronie. Dia anak jalanan dari geng di tempat lain. Gue dengar dia jago dalam balapan," ucap Miko yang tiba-tiba bergabung dengan Benny dan Rey. Miko ini salah satu anak jalanan yang selalu suka taruhan dan balapan juga.
Benny dan Rey melihat ke arah Miko. "Elu kenal siapa lawan kita?" tanya Benny.
"Yoi. Gue dengar dia bisa main kasar apalagi curang. Elu harus hati-hati, Ben." Miko memperingati.
Benny dan Rey hanya menganggukkan kepalanya. Jika memang benar seperti itu, maka mereka harus berhati-hati.
Tidak lama kemudian, rombongan anggota geng motor pun hadir. Salah satu diantara mereka ada Ronie. Ronie menatap tajam ke arah Benny. Benny pun sama. Keduanya saling menatap tajam. Kilatan cahaya dan api seakan ada di bola mata mereka.
Ronie turun dari sepeda motor miliknya yang berukuran besar. Dia kemudian mendekati Benny.
__ADS_1
"Elu lawan gue?" Tatap Ronie.
Benny mengangguk. "Ya. Ini gue," ucap Benny.
"Gue Ronie, lu siapa?" Tatap Ronie kepada Benny.
"Benny dan ini teman gue, Miko dan Rey." Tunjuk Benny ke arah Rey dan Miko.
Mereka saling menatap dan menganggukkan kepalanya.
"Oke. Kita langsung aja. Ambil posisi dan mulai balapannya." Usul Ronie. Dia begitu bersemangat.
"Sip. Anak-anak lain dan para yang hadir juga udah pasang taruhan." Benny pun mengiyakan.
Ronie pun menganggukkan kepalanya dan pergi ke posisinya. Dia mau bersiap dengan sepeda motor miliknya. Begitu juga Benny, dia juga mulai bersiap. Rey dan Miko berdiri di dekat para hadirin yang ikut menonton bahkan banyak yang pasang taruhan.
Pihak lawan dan anggotanya juga mulai memasang uang taruhan. Ronie banyak memberikan uang untuk taruhan. Dia begitu yakin bisa mengalahkan Benny.
Benny pun sama. Dia juga yakin bisa mengalahkan Ronie.
Akhirnya setelah semua persiapan siap, maka mereka segera memulai balapan.
Ronie dan Benny saling berbaris di garis yang dianggap sebagai garis start . Mereka mulai menghidupkan mesin sepeda motor. Sambil menunggu aba-aba untuk melajukan kendaraan. Aba-aba pun dimulai. Hitungan mundur, dari 3, 2, hingga ke 1. Setelah angka 1 diucapkan barulah kedua orang tersebut baik Benny dan Ronie segera memacu kendaraan mereka dengan laju.
Keduanya mengebut dengan kencang.
Ronie dan Benny berlomba-lomba memacu kendaraan mereka berdua. Terkadang Ronie di depan dan kadang Benny di depan. Mereka saling salip menyalip. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Mereka berdua menginginkan kemenangan.
Satu putaran selesai hingga putaran kedua. Kini tinggal putaran ketiga yang terakhir sebagai penentu kemenangan. Keduanya sama-sama melaju dengan kecepatan yang tinggi. Namun di tengah perjalanan Benny kemudian diserempet oleh Ronie dan ditendang oleh Ronie dengan tiba-tiba.
Benny pun oleng dengan serangan tiba-tiba tersebut. Kendaraan Benny keluar jalur dan brak! Menabrak tiang listrik di jalanan. Tubuh Benny terpental jauh dari sepeda motor dan sepeda motor kemudian jatuh dan berguling serta rusak parah.
__ADS_1
Benny jatuh terkulai lemas dan bersimbah darah.
Bersambung.