Terjerat Cinta Sang Pengacau

Terjerat Cinta Sang Pengacau
Bab 2.


__ADS_3

Keysa Cantika, saat itu baru saja pulang dari les. Dia pulang kemalaman. Tadinya setelah pulang sekolah akan langsung les. Namun tugas piket kebersihan sekolah harus Keysa sendirian yang mengerjakan. Teman-teman sekolahnya semua memberikan tugas tersebut kepada Keysa. Keysa yang tidak berani berkata akhirnya mengerjakan semua dengan sendirian. 


Akhirnya dia telat pergi ke tempat les. Maka dari itu Keysa pun akhirnya telat baru pulang. Saat gelap, dia  baru pulang dari tempat les. Keysa berpikir mau mengambil jalan pintas, agar dia cepat sampai rumah. Dia takut dimarahi oleh papa dan mamanya jika sampai malam begini belum sampai  rumah juga. 


Keysa pun mengambil jalan  yang berbeda dari biasanya yang dia lewati. Saat sedang berjalan kebetulan tidak ada kendaraan umum lewat, sehingga dia hanya bisa berjalan kaki. Kemudian saat itulah Benny dan Ronie lewat. 


Keysa melihat dua orang mengendarai sepeda motor besar sedang balapan di depan matanya dan melewati dirinya. Mereka kebut-kebutan di jalanan. Keysa tidak tahu kalau kedua orang tersebut sedang balapan karena taruhan. Keysa melihat salah satu diantara kedua lelaki tersebut sengaja menyenggol pihak lainnya. Sehingga jatuh. Kemudian kecelakaan tersebut pun terjadi didepan mata Keysa. Benny disenggol sengaja oleh Ronie sehingga dia jatuh dan kecelakaan. Kemudian Ronie  pergi meninggalkan Benny sendirian yang sudah jatuh dan terluka. 


Terlihat jelas Ronie tersenyum puas. Dia kemudian pergi begitu saja. Sedangkan Benny terluka parah. 


"Oh tidak!" seru Keysa saat melihat Benny kecelakaan. Dia ragu-ragu. Namun akhirnya mendekati tubuh Benny. Setelah berlari cukup jauh karena Benny terpental cukup jauh. Keysa mendekati Benny yang terluka. 


Keysa tidak sengaja melintasi tempat dimana Benny balapan. Kini malah terjadi kecelakaan. Keysa mau menolong Benny. 


"Hey, elu gak apa-apa kan?!" tanya Keysa ragu-ragu. 


Keysa menatap ke arah Benny. Namun Benny seakan sudah mulai kehilangan kesadaran. Benny samar-samar melihat ke arah Keysa. 


"Tolong! Tolong gue," ucap Benny dan akhirnya dia pingsan. Keysa semakin panik. Dia berteriak meminta tolong. Namun tidak ada siapa pun. Kemudian Keysa kepikiran untuk menelepon pihak rumah sakit. Dia menelepon nomor darurat dan meminta sebuah ambulan untuk datang agar menolong Benny kemudian membawa Benny ke rumah sakit. Benny harus segera ditolong karena dia terluka parah. 


"Halo! Tolong kirimkan ambulan sekarang! Ada yang terluka saat ini," ucap Keysa kemudian mengatakan lokasi dia berada saat ini berada. 


"Segera! Secepatnya!" seru Keysa kemudian. 


Keysa kemudian kembali menatap ke arah Benny. "Tolong, bertahan dahulu. Bantuan akan segera datang," ucap Keysa penuh kecemasan. 


Namun Benny sudah kehilangan kesadaran. Keysa berharap Benny masih bisa tertolong. 


Beberapa saat kemudian, mobil ambulan datang dan Benny akhirnya dibawa juga ke rumah sakit. Keysa ikut serta karena mendampingi Benny ke rumah sakit. 

__ADS_1


Tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib Benny kalau tidak ada Keysa. Bisa saja nyawa Benny tidak tertolong. Syukur saja ada Keysa sebagai dewi penyelamat Benny, maka Benny akhirnya bisa dibawa ke rumah sakit dan tertolong. 


Masa-masa kritis telah terlewati. Benny pun kini ditempatkan di sebuah ruangan kamar pasien setelah ditolong seorang dokter. Keysa mengisi bagian administrasi agar pertolongan Benny segera dilaksanakan. Dia tidak mengenal Benny, sehingga tidak tahu mau menghubungi siapa. 


Keysa mencoba mencari tahu, tetapi Benny tidak membawa tanda pengenal. Bahkan tidak ada informasi apa pun di dompet Benny. Hanya ada beberapa lembar uang saja. Namun tidak banyak. 


Akhirnya Keysa mengeluarkan dompetnya. Di dalam dompet begitu banyak uang. Keysa sama sekali tidak pernah kekurangan uang. Bahkan kartu  ATM selalu ada di dompet Keysa jika sewaktu-waktu perlu bisa digunakan. Orang tua Keysa begitu royal kepada anaknya. 


Keysa pun memakai uangnya untuk menolong Benny. 


Kini Benny sudah terbaring di ruang pasien. Masa darurat sudah berlalu. Keysa bisa bernapas lega. Dia menatap Benny yang belum sadarkan diri. Keysa berdoa semoga Benny segera sadar. Kemudian Keysa melihat ke arah jam yang melingkari tangannya. Sudah jam larut malam. Dia pasti kena marah. 


Keysa pun buru-buru pulang. Dia berpesan kepada pihak rumah sakit jika ada apa-apa dengan anak laki-laki yang dia tolong, agar segera mengabari dirinya. 


Keysa pun segera memesan taksi dan pulang secepatnya. Beberapa saat kemudian, Keysa sampai di rumah. Hati Keysa begitu cemas, karena takut kalau sampai dimarahi oleh papanya. 


Keysa berjalan perlahan. Sampai di ruang tamu, Keysa dikejutkan dengan mama dan papanya yang menunggu dengan wajah cemas. 


Keysa melihat ke arah Melia. "Mama," ucap Keysa perlahan. 


Kemudian Keysa melihat ke arah Bram Hartawan, papa Keysa. "Papa," ucap Keysa pula menatap papanya. 


"Kenapa baru pulang, Key?! Ini sudah malam sekali. Apa kau tidak ingat waktu lagi?" tanya Bram dengan marah. Matanya begitu tajam dan menyiratkan amarah. Baru kali ini Keysa pulang sangat terlambat. 


"Maaf, Pa, Ma. Keysa terlambat pulang," ucap Keysa dan tidak berani menatap ke arah kedua orang tuanya. Keysa pun menundukkan kepala. 


"Sudah, mandi dahulu kemudian makan. Nanti kita bicara lagi." Pinta Melia kepada Keysa anaknya. 


Sebenarnya Bram masih mau bertanya kepada Keysa. Dia mau mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Namun Melia ingin anaknya membersihkan diri dahulu kemudian istirahat dan makan. Akhirnya Keysa melakukan perintah mamanya. Bram menahan diri agar tidak memarahi Keysa saat ini. 

__ADS_1


Keysa masuk ke kamar dan pergi mandi. Kemudian Melia mengajak Keysa makan malam. Setelah selesai makan dan istirahat, sebelum Keysa pergi tidur, Bram mengajak Keysa berbicara di ruang tamu. Melia mengatakan agar esok hari saja. Sekarang istirahat saja. Namun Bram ingin sekarang juga. 


Kini ketiganya sedang berada di ruang tamu. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut. Rumah Keysa begitu besar. Terlihat jelas kalau Keysa anak orang berada. Semua fasilitas ada, rumah besar, dan uang selalu tercukupi. Hanya saja untuk pergi sekolah memang Keysa berkata mau pergi sendiri ke sekolah dengan angkutan umum, karena dia tidak mau dibilang pamer lagi. 


Di sekolah begitu banyak yang iri dengan Keysa. Keysa anak orang berada, cantik, dan pintar di sekolah. Namun begitu banyak yang membenci Keysa karena semua hal yang dimiliki Keysa. Oleh karena itu, Keysa tidak lagi membawa mobil untuk antar jemput dia ke sekolah karena takut omongan para teman di sekolahnya. 


Sikap ramah dan baik Keysa, malah dibuat para temannya untuk memanfaatkan kebaikan Keysa. Seperti hari ini mereka meninggalkan Keysa dan meminta Keysa mengerjakan semua tugas piket. Akhirnya kini dia terlambat pulang. Apalagi tadi Keysa pun menolong Benny yang kecelakaan. 


Kini Keysa sedang disidang oleh papa dan mamanya. Bram dan Melia duduk bersebelahan. Keysa duduk di sofa sebelahnya. Bram menatap putri satu-satunya. 


"Key, hari ini kau tau kesalahanmu?" tanya Bram sambil menatap putrinya. 


"Tau, Pa. Karena Keysa terlambat pulang hari ini," jawab Keysa dengan suara perlahan dan wajah menunduk. 


"Karena apa, Nak? Keysa kenapa bisa lama pulangnya?" Kini Melia yang bertanya kepada Keysa. 


"Tadi Keysa bantu ngerjain tugas piket di sekolah. Kemudian terlambat masuk les. Pulang les ambil jalan lain. Maksudnya mau cepat sampai ke rumah, tapi malah ada kecelakaan jadi Keysa nolong anak laki-laki itu dahulu baru pulang," ucap Keysa sambil menjelaskan kepada kedua orang tuanya. 


Melia dan Bram saling pandang. "Kecelakaan?! Siapa, Key?"


"Gak tau. Gak kenal juga," jawab Keysa polos. 


"Aduh, Nak. Untung Keysa gak kenapa-napa. Lain kali hati-hati, Nak." Pesan mama Keysa. 


"Iya, Ma."


"Tapi siapa anak laki-laki itu? Nanti dia orang jahat, Key?" Tatap Bram, papa Keysa. Dia merasa curiga dan harus mawas diri. "Ini cerita sesungguhnya 'kan, Keysa? Kamu gak bohongin papa dan mama, kan?" Tatap Bram menyelidiki dengan mata tajamnya. 


"Lalu kenapa gak ngabarin papa dan mama secepatnya? Kan kamu ada ponsel bisa telpon ke rumah kasih kabar. Jangan coba-coba bohong, ya, Key!" Bram terlihat begitu menakutkan. 

__ADS_1


"Gawat! Papa marah, nih! Gue harus gimana?"  ucap Keysa dalam hatinya. 


Bersambung. 


__ADS_2