Terjerat Cinta Sang Pengacau

Terjerat Cinta Sang Pengacau
Bab 4.


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit, Benny langsung pulang ke rumah Rey. Saat tiba, dia bertemu Rey yang hilir mudik ke sana kemari. Benny langsung menyapa Rey. 


"Kenapa lu, Bro?" tanya Benny dan langsung duduk saja. 


Rey melihat ke arah Benny. Dia kemudian memeluk sahabatnya tersebut. 


"Elu kemana aja, Bro?! Gue khawatir banget sama elu! Gue cuma nemuin sepeda motor elu yang rusak tapi elu malah gak ada di tempat kejadian," ucap Rey. Ternyata dia panik karena mencemaskan Benny. Benny tersenyum ke arah Rey. 


"Gue baik aja. Ada seseorang yang nolong gue," jawab Benny dan membuat Rey menjadi tenang. 


"Syukurlah. Tapi kita kalah banyak taruhan, Bro." Rey menyayangkan kekalahan mereka. 


"Itu karena Ronie curang. Dia sengaja mencelakai gue biar dia menang. Brengsek! Gue harus kasih dia pelajaran!" Mata Benny menyiratkan amarah dan dendam. 


"Gue udah duga. Pasti dia curang. Miko benar. Ternyata Ronie cara mainnya gak adil," ucap Rey menambahkan. Dia juga kesal akibat tindakan Ronie maka Benny kalah. Kekalahan Benny adalah kekalahan Rey juga. Dia pun tidak terima. 


"Tapi itu nanti aja. Gue mau nyari tau tentang penolong gue." Benny kemudian teringat kepada Keysa. Gadis manis dan cantik tersebut. Benny kini penasaran akan sosok Keysa. Dia mau tahu alamat Keysa dan dimana Keysa bersekolah. Benny ingat betul saat Keysa menjenguknya, Keysa memakai seragam putih abu-abu. Bisa dipastikan mereka sepertinya seumuran. 


"Emang siapa, sih?" tanya Rey juga penasaran. 


"Seorang gadis manis yang cantik." Benny tersenyum tampan sekali. 


"Serius lu cewek cakep?" Tatap Rey seakan tidak percaya. 


"Serius gue, Bro! Entar lu juga gue kenalin. Tapi awas, dia punya gue!" Tatap Benny tajam. Rey yang mendengar langsung mencibir. 


"Iya, deh. Iya. Percaya gue, dah." Rey kemudian beranjak mau pergi. Benny membiarkan Rey pergi begitu saja. Benny malah sibuk dengan rencananya sendiri mau mencari tahu tentang Keysa. 


"Keysa Cantika." Gumam Benny seorang diri. 


Benar saja. Esok harinya Benny mulai mencari tahu Keysa. Dia sempat melihat seragam Keysa dan dari seragam Keysa, maka Benny mengetahui dimana sekolah Keysa. 


Benny memulai melakukan pengamatan. Dia memantau dahulu aktivitas dari Keysa. Dari baru sampai ke sekolah, belajar, jam istirahat hingga waktunya pulang, dan sampai ke rumah Keysa. Semua dipantau oleh Benny. Bahkan Keysa singgah kemana saja tempat yang ditujunya juga Benny ikuti. 


Setelah beberapa hari mengawasi Keysa, akhirnya Benny tahu apa saja yang dialami Keysa. Dia tahu bagaimana Keysa di sekolah dan di rumah. Jika di rumah, Keysa seperti tuan putri yang semuanya terpenuhi bahkan putri kesayangan kedua orang tuanya. Namun di sekolah, Keysa didekati beberapa anak laki-laki, tetapi dia menjauhi mereka. Benny pun melihat sikap para anak cewek di sekolah Keysa begitu tidak baik. 


Melihat sikap anak-anak cewek di sekolah Keysa, di hati Benny terbesit keinginan melindungi dan menjaga Keysa. Awalnya hanya iseng mau mencari tahu Keysa. Namun kini malah ingin segera melindungi Keysa. Keysa sama sekali tidak tahu kalau beberapa hari ini Benny terus mengawasi dirinya. 


Setelah Benny mengetahui semua hal tersebut. Dia berencana masuk ke sekolah Keysa. Hal tersebut pun diutarakan Benny kepada Rey. 


Malam hari. Rey dan Benny sedang duduk berdua nonton TV. Benny memulai pembicaraan. 


"Rey, gue mau kembali sekolah lagi. Menurut elu gimana?" tanya Benny sambil menatap ke arah Rey. 


Rey kaget. "Serius lu?! Elu beneran mau sekolah lagi?"


Benny menganggukkan kepalanya. Rey menghela napas panjang. 


"Apa ini ada hubungannya sama cewek yang nolong elu itu?" Rey mulai mencari tahu. 

__ADS_1


"Iya, Bro. Gue udah cari tahu tentang dia. Setelah beberapa hari ini gue lihat ternyata dia sering dimusuhi sama anak cewek di sekolahnya. Gue mau melindungi dia. Gue mau balas kebaikan dia, Bro. Kalau dia gak menyelamatkan gue, mungkin gue udah mati." Benny menghela napas panjang. Dia tahu karena Keysa maka sampai hari ini Benny masih  bisa bernapas. 


Rey memahami hal tersebut. Dia tahu betul maksudnya Benny. 


"Gue dukung aja, Bro. Tapi gimana elu masuk ke sekolah elu? Elu kan udah lama out dari sekolah?" Tatap Rey agak kurang mengerti. 


"Gampang. Gue bakal datangi sekolah lama gue. Sekolah lama gue kan tahu gimana dan siapa gue sebenarnya. Dengan cara itu gue bakal minta semua administrasi kepindahan ke sekolah baru." Benny menjelaskan rencananya. 


Rey baru ingat. Sekolah lama Benny adalah sekolah yang difasilitasi oleh dana papa Benny. Mereka mengenal Benny dengan baik. Jadi masalah kepindahan sepertinya akan mudah. Rey segera mengangguk dan mendoakan Benny. 


"Kali ini elu belajar dan sekolah yang benar." Pesan Rey kepada Benny dengan sok bijak. 


Benny tertawa, "Hahaha, sialan elu! Sok bijak. Elu aja udah putus sekolah dari lama!"


"Hahaha." Keduanya malah tertawa bersamaan. 


***


Seorang pegawai mendatangi ruangan Presdir. Dia mengetuk pintu dan kemudian masuk. Pria dewasa yang begitu berwibawa, tetapi begitu keras menatap pegawai yang baru masuk tersebut. 


"Pak." Panggil pegawai tersebut. 


"Ada apa?" tanya Roy, papa Benny. Benar sekali. Saat ini adalah perusahaan dari keluarga Benny. Roy sedang berada di kantornya untuk bekerja seperti biasanya dan pegawainya datang seperti mau melaporkan sesuatu. 


"Ada hal yang mau saya sampaikan, Pak Roy," jawab pegawai tersebut. 


"Masalah apa?" Tatap Roy dengan tajam. Dia menutup file  berkas yang tadinya dia pegang. 


Roy menatap tajam dan menghela napas dalam-dalam. "Apa anak itu sudah tobat dan meninggalkan balapan?"


"Saya rasa tidak, Tuan Besar. Dari hasil pengawasan kami Tuan Muda masih hidup di jalanan untuk balapan dan masih bersama temannya yang bernama Rey itu," ucap si pegawai menjelaskan. 


"Baiklah. Biarkan saja apa mau Benny. Jika dia mau sekolah di tempat lain, biarkan saja." Roy menggeser kursi dan berdiri. Dia menyalakan rokok dan menyesap rokok tersebut. 


"Apa Tuan Besar tidak merindukan Tuan Muda? Sudah lama Anda tidak bertemu dengan putra Anda, Pak." Si pegawai mengetahui jelas hubungan Roy dan Benny, karena dia adalah orang kepercayaan Roy yang merupakan tangan kanan Roy di kantor. 


Namun Roy tidak menjawab. Akhirnya Zaki, si pegawai tersebut diam dan pamit pergi. Dia hanya akan mengawasi Benny dari kejauhan sambil tetap menjalankan setiap tugas pekerjaan dari Roy di kantor. 


***


Esoknya. 


Suasana sekolah seperti biasanya. Tetap sama bagi Keysa. Namun yang berbeda adalah pagi ini Pak Willy membawa seseorang disisinya. Seorang murid baru. Dia adalah Benny.


"Pagi anak-anak kita kedatangan teman baru. Perkenalkan dirimu," ucap Pak Willy.


Benny mengangguk dan melihat ke seluruh teman sekelasnya. Ada Keysa diantara mereka.


Hari itu pun datang, Benny datang ke sekolah Keysa. 

__ADS_1


"Halo. Perkenalkan namaku Benny Samudera," ucap Benny di depan kelas. Dia memperkenalkan diri. 


Keysa yang mendengar nama Benny segera melihat ke arah Benny. Tadinya dia melihat ke bukunya saja. Begitu melihat, Keysa kaget melihat Benny yang tiba-tiba muncul di kelasnya. Benny tersenyum melihat ke arah Keysa. "Gue akan jadi penyelamat elu, Key. Sama seperti elu nolong gue maka gue hadir untuk nolong elu, Keysa," ucap Benny di dalam hati.


"Benny!" seru Keysa. Namun dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Berharap tidak ada yang mendengar perkataan Keysa. 


Setelah Benny memperkenalkan diri. Pak Willy menyuruh Benny duduk di kursi kosong. Pelajaran pun dimulai. Waktu terus berlalu hingga akhirnya jam istirahat berbunyi. 


Keysa keluar kelas. Benny memperhatikan dari kejauhan. Keysa berjalan ke arah lain. Dia kali ini sedang istirahat. Namun sedang tidak lapar. Akhirnya berjalan melewati taman sekolah dan melihat bunga-bunga yang bermekaran. Keysa duduk sambil menghirup udara segar di taman tersebut. 


Devan datang mendekati. "Key, sendirian aja?" tanya Devan, si ketua OSIS. 


Keysa menoleh, "Eh elu. Iya. Sendirian aja."


"Gue gabung, ya."


Keysa tidak menjawab. Dia diam saja. Devan pun mendekati Keysa. 


"Key, gue sebenarnya suka sama elu, tapi elu-nya diam aja," ucap Devan melihat ke arah Keysa. 


"Maaf, gue mau balik ke kelas duluan, ya." Keysa bangun dan mau berjalan menjauh. Devan segera mencegah dan meraih tangan Keysa. Namun segera dielakkan oleh Keysa.


"Sorry, Devan. Gue musti pergi," ucap Keysa dan dia pun pergi. Devan hanya bisa menghela napas dan melihat kepergian Keysa. Dia tahu kalau Keysa selalu menghindari dirinya.


Keysa berjalan jauh, sejauh yang dia bisa. Dia memang menjauh dari para anak laki-laki yang ada di sekolah. Keysa tidak mau menerima lagi tatapan kebencian dari para anak cewek di sekolahnya. Keysa menghela napas lega setelah merasa sudah jauh dari Devan. 


Namun sayangnya, Ivony malah kini muncul di depan Keysa. Ivony orang yang selalu membuat Keysa dikucilkan di sekolah, dimusuhi, bahkan dibenci oleh yang lain. Ya, itu adalah tindakan dari Ivony. 


"Ivony!" seru Keysa yang kaget melihat Ivony muncul didepannya. 


"Enak, ya jadi elu! Kecaperan sana sini. Devan si ketua OSIS lah. Bima si ketua kelas kita. Atau kapten basket di sekolah kita, Vino. Hebat! Hebat! Mau elu sikat semua cowok, ya. Itu baru tiga cowok tertampan di sekolah kita. Belum lagi ditambah sama cowok-cowok lainnya, ya kan??" Tatap Ivony dengan kebencian terhadap Keysa. Alis mata Ivony naik sebelah. 


Keysa diam. Dia menatap Ivony dalam kediaman. 


"Jadi cewek jangan tebar pesona dan kecaperan sana sini, dong!" Ivony begitu kesal. "Goda sana sini!" Tambah kata Ivony pula. 


"Gue gak godain mereka semua. Gue juga gak ada berusaha dekat sama mereka," ucap Keysa. 


"Halah! Munafik elu!" Tatap Ivony kesal. 


"Gue serius, Von." Tahap Keysa ke arah Ivony. Namun Ivony yang memang dasarnya tidak suka dan memusuhi Keysa, maka apapun itu dia akan benci. 


"Elu kenapa, sih? Kenapa benci banget sama gue? Dari dulu hingga sekarang?" Tatap Keysa dengan kening berkerut. 


"Benci ya benci. Gak suka ya gak!" Ivony mau pergi, tetapi dihalangi Keysa. Ivony kesal dan mendorong Keysa. Kemudian dia mau memukul Keysa. Tangan Ivony terangkat dan siap memukul, tetapi dicegah seseorang. 


Tangan Ivony dipegang Benny. Ivony menatap ke arah Benny. Dia begitu kaget melihat Benny. Tatapan mata Benny begitu menakutkan. Ivony pun terdiam dan mematung. 


"Jangan ganggu Keysa! Pergi sana!" Bentak Benny terhadap Ivony. Ivony tersentak dan jatuh terduduk. Keysa pun kaget akan sosok Benny yang tiba-tiba muncul. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2