
Devan, Bima dan Vino tentu panas dibilang seperti itu. Mereka bukan orang yang pengecut. Bahkan yang menang akan bisa dekat dan bersama Keysa. Tentu saja itu adalah tawaran menggiurkan bagi mereka. Mereka pun langsung sepakat.
"Oke, Setuju!" Bima setuju.
"Gue juga setuju!" Vino pun segera menyetujui. Dia berharap kalau dia yang akan menang.
"Fine! Gak masalah. Gue setuju saja. Asal elu beneran dan gak bohong. Yang menang dapatkan Keysa," ucap Devan pula memastikan kembali.
"Oke. Deal! " ucap Benny setuju dengan mereka.
Benny sengaja mengajak taruhan dan balapan, agar mereka segera mundur dan tidak mengganggu lagi. Benny tidak akan semudah itu membiarkan mereka menang. Dia juga tidak akan menyerahkan Keysa begitu saja. Dia tidak akan mundur dengan begitu mudah. Untuk itu Benny berpikir dengan cara ini bisa menyingkirkan mereka bertiga.
Usai saling menyepakati hal tersebut. Devan berkata nanti kabarin tempat dan kapan balapan tersebut. Benny mengiyakan. Setelah itu, Devan, Bima dan Vino pun pergi. Mereka mau masuk ke kelasnya masing-masing.
Benny hanya tersenyum. Dia juga melangkah. Namun baru beberapa langkah, Keysa pun tiba. Keysa mendekati Benny.
"Ben!"
"Eh, Keysa! Elu ngapain disini?" tanya Benny heran.
"Gue yang harus nanya. Elu baru dari ruangan BP kan? Kenapa? Gue dengar elu habis berkelahi dengan Vino, Devan dan Bima? Kenapa?" tanya Keysa dengan cemas.
Benny melihat ke arah Keysa. Dia berusaha agar tetap tenang.
"Gak apa, Key. Semua baik aja. Namanya juga anak laki-laki, ya biasalah. Berantem gitu," ucap Benny. Dia tidak mau Keysa tahu kenapa dia berkelahi dengan Devan dan kawan-kawan.
"Jangan berantem lagi dengan yang lain, ya." Tatap Keysa dan Benny mengangguk. Kemudian Keysa menarik tangan Benny. Dia membawa Benny ikut serta dengan dirinya.
Benny heran kemana mau dibawa dirinya. Namun dia diam saja dan mengikuti saja kemana Keysa membawanya. Setelah beberapa saat kemudian, sampailah ke ruang UKS. Di sana Keysa mengambil beberapa obat, kapas dan perban. Dia mulai membersihkan luka-luka kecil pada wajah dan lengan Benny.
Benny hanya diam saja memperhatikan. Setelah dibersihkan, Keysa mulai memberikan obat dengan kapas. Kemudian memberikan perban dengan luka yang agak sedikit parah dengan dibantu olesan obat kapas dan dibalut hansaplas.
"Oke. Beres!" Keysa tersenyum. Benny pun tersenyum.
"Terima kasih," ucap Benny kemudian.
"Lain kali hati-hati. Gak boleh berkelahi lagi, ya!" Tatap Keysa dengan serius.
"Iya." Benny hanya mengiyakan. Sebenarnya hanya demi membuat Keysa tenang saja maka diiyakan.
Setelah selesai, Keysa meletakkan semua benda yang tadi di pinjam di ruang UKS. Ada petugas jaganya. Keysa mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut.
Selanjutnya Keysa dan Benny kembali ke kelas. Mereka akan kembali belajar karena sudah bel berbunyi tanda kembali belajar dimulai.
Waktu berlalu. Beberapa saat kemudian. Bel pulang. Keysa dan Benny pulang bersama. Sesuai janji, Benny mengajak Keysa jalan berdua.
Kali ini Benny meminta Keysa agar mau naik sepeda motor bersama dirinya. Keysa masih ragu, tetapi Benny menyakinkan. Akhirnya setelah dibujuk Benny, maka Keysa pun mau.
Mereka naik sepeda motor bersama. Sensasi berbeda saat pertama kali Keysa naik sepeda motor. Dia berpegangan erat pada pinggang dan tubuh kokoh Benny. Ada debaran dan desiran manis yang terasa di hati. Keysa dan Benny tersenyum bersama.
Sepanjang perjalanan angin berhembus menerpa rambut panjang Keysa. Keysa juga merasakan kebebasan disaat Benny membawa dirinya menaiki sepeda motor dan membelah keramaian. Mereka melesat dengan kecepatan stabil.
Setelah beberapa saat, sampailah di tempat yang Benny tuju. Keduanya turun dan Benny memarkirkan sepeda motor.
__ADS_1
Benny dan Keysa berjalan bersisian. Keysa melihat ke arah Benny.
"Kita ngapain disini?" tanya Keysa.
"Bersenang-senang," jawab Benny dan meraih tangan Keysa. Keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam sebuah wahana.
Di dalam Benny mengajak Keysa naik rollercoaster. Keysa ketakutan, tetapi Benny berkata dia akan memegangi tangan Keysa. Mereka pun naik rollercoaster tersebut.
Benar saja, Keysa ketakutan sekali. Dia terus menggenggam tangan Benny. Benny tersenyum senang. Selanjutnya mereka bermain permainan lainnya. kora-kora, komedi putar dan juga baling-baling. Keysa begitu senang. Sudah lama sekali dia tidak pernah lagi naik wahana seperti itu.
Hari ini Keysa begitu senang. Benny kemudian membeli roti bakar dan roti hotdog serta minuman es jeruk. Mereka makan dan minum bersama di tempat yang disediakan. Puas bermain dan makan, Benny mengajak bermain tembak-tembakan. Keysa tentu senang.
Benny menembakkan beberapa kaleng dan tepat sasaran. Dia memenangkan boneka beruang dan dihadiahkan kepada Keysa. Selanjutnya Keysa yang main, tetapi dia kalah. Keduanya kemudian tertawa riang.
Sore hari.
Keysa menatap ke arah Benny. "Ben, makasih untuk hari ini, ya." Keysa tersenyum.
Benny mengangguk. "Iya, sama-sama."
"Udah sore. Ayo kita pulang!" ajak Keysa. Benny pun setuju.
"Gue antar sampai rumah, ya!"
Keysa pun mengangguk. Keduanya kemudian pulang. Keysa memeluk erat Benny dari belakang. Benny tersenyum bahagia. Hati Benny dan Keysa sedang dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.
Beberapa saat kemudian sampai di rumah Keysa. Keysa turun dari sepeda motor Benny. Benny juga turun. Helm cadangan diberikan Keysa kepada Benny. Benny menerima dan juga membuka helm yang dia kenakan. Kini kedua helm disangkutkan ke sepeda motor Benny.
Benny melihat ke arah Keysa. Dia kemudian memberi sesuatu yang disimpan dari tadi di dalam tas yang dia kenakan. Keysa melihat ke arah Benny.
"Buat gue?" Tatap Keysa serius.
"Iya. Buat elu. Diterima, ya. Jawabannya nanti aja." Benny tersenyum lembut. Keysa pun tersenyum dan cup. Satu kecupan terjadi. Keysa mengecup pipi kanan Benny. Benny tertegun. Keysa tersenyum dan segera berbalik masuk ke rumah.
"Bye, Benny. Sampai esok lagi, ya!" ucap Keysa dan masuk rumah.
Benny tersenyum dan kesenangan. Dia terlihat gembira. Benny melompat senang. Kemudian segera mengendalikan diri. Dia bersikap tenang kembali. Naik kembali ke sepeda motor dan berlalu pergi.
Di dalam kamar, Keysa segera menutup pintu. Dia begitu senang. Hati pun begitu berdebar. Keysa kemudian melihat isi kotak. Pita dibuka yang melilit kotak tersebut. Setelah itu dibuka.
Di dalam kotak ada coklat mahal dan setangkai mawar merah serta sebuah kotak kecil yang setelah dibuka adalah sebuah kalung indah. Keysa tersenyum. Kalung tersebut berinisial KNB artinya Keysa dan Benny.
Keysa tersenyum bahagia. "Indah dan cantik," ucap Keysa. Dia juga melihat sebuah kartu ucapan.
" I Love You, Keysa. Mau jadi pacarku, ya?" Begitulah tulisan pada kartu tersebut. Dimana ada nama Benny di bagian bawah kartu. Keysa tersenyum bahagia. Dia segera mengangguk. Keysa langsung memakai kalung tersebut di leher jenjangnya.
Keysa kemudian membaringkan tubuhnya dan segera mengetik sebuah pesan chat kepada Benny. "Ya, aku mau dan bersedia. Love you too." Itulah isi pesan chat dari Keysa. Kemudian dia tersenyum bahagia.
Di lain sisi. Benny sudah berada di rumah Rey. Dia sedang duduk di sofa dengan minum beberapa soda minuman. Benny menerima pesan chat. Saat dia buka betapa bahagianya Benny. Dia berjingkrak kesenangan.
"Yes, gue berhasil!" teriak Benny kesenangan. Rey yang menonton televisi menjadi heran melihat Benny kehebohan sendiri.
"Sawan elu, ya? Atau udah gila?" Tatap Rey heran kepada Benny. Benny hanya senyum-senyum sendiri. Dia begitu bahagia.
__ADS_1
***
Beberapa hari kemudian. Benny yang masih dimabuk asmara lupa akan janji dia dengan Devan dan kawan-kawan. Sehingga mereka sampai mendatangi Benny. Padahal Benny masih sedang asyik-asyiknya pacaran dengan Keysa.
Saat Benny sendiri, baru mereka mendatangi Benny.
"Hey, Ben! Elu lupa dengan kesepakatan kita, hah!" Tatap Devan dan Bima serta Vino.
Benny pun teringat. "Oh, engga kok. Kalau gitu nanti malam di tempat yang akan gue kabarin di chat."
"Oke!"
Pembicaraan mereka pun terdengar oleh Ivony. Ivony langsung saja akan memberitahu Keysa.
Malam hari di tempat yang dijanjikan.
Benny akhirnya balapan dengan tiga pemuda yang menyukai Keysa juga. Semua sepakat taruhan. Jika kalah maka harus membiarkan pemenangnya tetap dekat dengan Keysa. Bagi yang kalah tidak boleh lagi mengganggu. Balapan pun terjadi. Cukup sengit.
Benny melajukan motor dengan kecepatan tinggi disusul oleh Devan dan Bima. Vino tidak mau kalah. Dia juga segera memacu dan menyusul yang lainnya. Susul menyusul dan salip menyalip. Keempat pria melajukan motor mereka.
Sudah dua putaran. Rey sebagai saksi pertandingan mereka dengan disaksikan beberapa penonton lainnya. Mereka menyoraki Benny agar menang. Tinggal satu putaran lagi sebagai penentuan kemenangan.
Vino tiba-tiba ingin menyenggol Benny. Namun segera Benny hindari dan hasilnya Vino malah menabrak Bima. Bima dan Vino oleng kehilangan keseimbangan. Akhirnya mereka berdua jatuh. Syukur saja tidak cidera parah.
Tinggal Benny dan Devan saja. Devan sudah kesenangan karena hanya tinggal dia saja berdua dengan Benny. Devan melajukan motor lebih kencang. Benny pun sama. Keduanya sama-sama tidak mau kalah. Akhirnya sebentar lagi garis finish.
Benny akhirnya memakai senjata terakhirnya. Dia memencet tombol NOS pada sepeda motor yang sudah dipermak dan didesain oleh dirinya dan Rey. Seketika itu juga laju kendaraan Benny melaju melesat melewati Devan dan mendahului Devan.
Devan begitu kesal karena Benny sudah didepannya. Di detik akhir, Benny pun masuk garis akhir dan dia menang. Semua bersorak-sorai meriah menyambut kemenangan Benny.
Benny segera mematikan sepeda motor yang hampir saja akan mau meledak jika dia terlambat atau melebihi batas suhu panasnya. Syukur masih sempat. Setelah itu dia turun dari sepeda motor. Benny dan Rey bersorak senang juga berpelukan bahagia karena menang. Bahkan para penonton juga memasang taruhan dan Rey menang banyak.
"Menang kita, Ben!" seru Rey memeluk senang.
"Sip. Gue juga jadi menang double," ucap Benny senang.
Tentu saja menang double karena satu menang taruhan uang dan satu lagi dia dan Keysa tidak diganggu lagi. Ketiga pemuda itu mundur dengan kekalahan mereka.
Devan yang baru tiba di garis akhir. Memukul kemudi setang dengan marah. Dia kalah dan gagal mendapatkan Keysa. Bima dan Vino kini berkumpul bersama Devan. Mereka bertiga terlihat kecewa. Benny menghampiri.
"Gue menang. Sesuai perjanjian. Gue bersama Keysa dan kalian jangan mengganggu kami," ucap Benny puas dan penuh kemenangan.
Devan hanya mengangguk lemah. Dia sudah tidak bersemangat lagi. Vino dan Bima hanya bisa terdiam karena kekalahan mereka. Kemudian Devan dan kedua temannya pun pulang.
Benny tersenyum melihat para lawannya akhirnya pulang. Dia puas mengalahkan mereka.
Akhirnya Benny juga yang memenangkan. Keysa pun mengetahui hal balapan tersebut. Dia begitu marah kepada Benny karena dijadikan bahan taruhan.
Saat Benny berbalik arah dan mau memanggil Rey untuk pesta kemenangan mereka, dia malah melihat Keysa. Benny tertegun. Dia diam mematung. Keysa sudah mendengarkan semua ucapan Benny tadi kepada Devan dan kawan-kawan.
"Jadi ternyata benar elu balapan, Ben? Dengan mereka dan gue jadi taruhannya!!! Jahat elu, Ben!" ucap Keysa dengan ekspresi wajah marah.
Benny kaget dan diam menatap wajah Keysa yang cantik, tetapi sedang marah.
__ADS_1
"Gawat!!" keluh Benny dalam hati.
Bersambung.