Terjerat Cinta Sang Pengacau

Terjerat Cinta Sang Pengacau
Bab 12.


__ADS_3

Benny terluka akibat tusukan dari Ronie. Dia kehilangan banyak darah. Dia mulai merasa pusing kembali. Sudah kepalanya dipukul, lalu dia dihajar babak belur dan kini kena tikam. Benny pun akhirnya jatuh dan tumbang.


Keysa yang melihat kemudian berteriak memanggil nama Benny dengan menangis pula. Ronie telah sampai digaris akhir. Dia pun menang. Dia tertawa menikmati kemenangan.


Ronie melihat Benny yang jatuh tumbang. Ronie menikmati pemandangan tersebut. Keysa hanya bisa menangis melihat ke arah Benny.


"Benny! Tidak!" teriak Keysa sambil menangis.


Ronie dan anak buahnya malah hanya tertawa. Mereka begitu senang akan penderitaan Benny. Kemudian para teman Benny akhirnya datang. Rey datang bersama Miko dan teman-teman lainnya.


Mereka kemudian menyerbu sekawanan Ronie. Terjadi baku hantam. Rey segera berlari ke arah Benny.


"Ben, elu gimana?" tanya Rey cemas. Dia melihat Benny terluka parah.


Benny dengan sisa-sisa kekuatannya segera bangun dibantu Rey berdiri.


"Thanks, Rey." Tatap Benny dengan wajahnya yang dibuat tersenyum.


Rey menggeleng. "Disaat seperti ini kau bisa tersenyum, Ben. Gue salut sama elu. Sana cepat jemput tuan putrimu," ucap Rey kemudian. Benny mengangguk.


Rey kemudian membantu Miko dan lainnya menghajar para anak buah Ronie. Benny sendiri berlari ke arah Keysa. Dia mendekati Keysa dan memeluk Keysa.


"Ben!"


"Keysa!"


Keduanya berpelukan. Keysa menangis haru didalam pelukan Benny. Benny menahan rasa sakitnya.


"Ayo, kita harus segera pergi!" ajak Benny.


Keysa melihat ke arah luka Benny, "Tapi luka elu gimana, Ben?"


"Gue baik aja. Ayo!" Benny segera menarik tangan Keysa. Keysa mengikuti Benny. Mereka kemudian kabur dengan menggunakan sepeda motor milik Benny.


Setelah dengan susah payah akhirnya Keysa selamat. Benny berhasil menyelamatkan Keysa. Namun nyawa Benny dalam bahaya.


Ditengah perjalanan mengantarkan Keysa pulang, Benny semakin kehilangan kesadaran. Dia sudah tidak tahan. Akhirnya menghentikan motornya di tengah jalan raya. Hari sudah sangat gelap.


"Key, pulang naik taksi ya sekarang. Gue sudah gak kuat," ucap Benny dengan perlahan.


Keysa turun dari sepeda motor Benny dan melihat Benny. "Ben! Luka elu!" Tatap Keysa ke arah darah yang terus mengalir.


Benny akhirnya tumbang dan pingsan. Keysa menjadi panik. Dia berteriak memanggil Benny berkali-kali. Namun Benny sudah kehilangan kesadaran. Akhirnya dia menyetop sebuah taksi dan meminta supir taksi menolong mereka. Keysa pun minta diantar ke rumah sakit segera kepada supir yang membantu Keysa membawa Benny ke dalam taksi.


Temen-temen Benny kemudian muncul. Mereka sudah selesai membereskan Ronie dan anggotanya. Mereka menyusul Benny dan Keysa. Hanya Miko dan Rey, sedangkan yang lain sudah kembali ke masing-masing tempat. Rey dan Miko melihat keadaan Benny di dalam taksi.

__ADS_1


"Ayo, cepat bawa ke rumah sakit!"


Keysa segera membawa Benny ke rumah sakit bersama teman Benny. Miko dan Rey mengiringi dari belakang dengan sepeda motor mereka. Keysa sendiri di dalam taksi sambil memeluk Benny. Supir segera melajukan mobil taksinya ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian.


Mereka telah sampai di rumah sakit. Di rumah sakit Benny diharuskan operasi oleh dokter. Mereka kebingungan bagaimana nasib Benny. Keysa merasa sedih. Dia menangis. Dia berdoa demi keselamatan Benny.


"Pasien terluka parah harus segera di operasi!" Dokter memandang ke arah Keysa, Rey dan Miko. Mereka semua saling pandang dan panik.


Keysa langsung mengangguk. "Ya, Dokter. Tolong segera selamatkan. Operasi jika diperlukan maka lakukanlah," ucap Keysa.


"Baik." Dokter pun mengangguk.


Dokter segera bersiap dan dia kembali masuk ke ruangan UGD dibantu oleh para suster. Mereka pun kemudian sedang di ruang operasi. Benny sedang dioperasi saat ini.


"Tuhan, tolong selamatkan Benny. Ku mohon," ucap Keysa yang sedang berdoa. Dia berdoa sambil menangis. Keysa sedih dengan keadaan Benny saat ini. Miko dan Rey hanya bisa ikutan berdoa juga.


Di lain tempat. Di rumah kediaman keluarga Roy. Dia mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai kondisi Benny saat ini.


"Tuan. Maaf menggangu malam begini."


"Katakan ada apa?" Tatap Roy dengan pandangan tajam.


"Ini mengenai kondisi Tuan Muda."


"Tuan Muda tidak berulah. Tapi ...."


Sang bawahan menjeda perkataannya. Roy kembali melirik ke arah bawahannya dengan tatapan semakin tajam.


"Katakan!"


"Dia saat ini di rumah sakit. Sepertinya terluka parah. Ada orang yang menusuk Tuan Muda. Sekarang kondisinya kritis." Sang bawahan akhirnya melaporkan kondisi sesungguhnya.


Roy langsung berdiri dan menatap nyalang ke arah bawahannya. "Apa kau bilang?!"


"Tuan Muda sedang sekarat, Tuan Besar." Bawahan menundukkan kepala setelah melaporkan hal tersebut.


"Anak ini cari mati, hah!" Nada kesal dan marah Roy lontarkan untuk Benny. Dia kemudian kembali menatap ke arah bawahannya. "Kenapa tidak kalian selamatkan dia dari awal? Apa gunanya kalian memata-matai dia selama ini, hah!?"


Roy menatap kesal ke arah bawahannya.


Sang bawahan kembali menunduk dan meminta maaf. "Maafkan kami. Saat kami tahu sudah terlambat. Kami telah lalai. Maafkan kami. Silahkan hukum kami," ucap bawahannya Roy kembali.


"Sudah! Sekarang kita ke rumah sakit!"

__ADS_1


"Baik."


Roy segera bergegas pergi. Sang bawahan segera menuruti. Roy pun segera naik mobil dan menuju arah rumah sakit dimana Benny berada.


Di rumah sakit kembali.


Keysa, Miko dan Rey masih menunggu Benny yang ada di ruang operasi. Mereka semua cemas dengan keadaan Benny. Mereka semua mendoakan keselamatan Benny.


Disaat penantian tersebut, dering ponsel Keysa berbunyi. Keysa menatap layar ponsel. Telepon rumah dari papanya. Oh, iya. Seharian ini Keysa hilang kabar dan keluarganya pasti panik. Apalagi ini sudah malam hari.


Keysa kemudian bergeser dan menjauh dari yang lainnya untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo, Pa." Keysa menerima panggilan tersebut.


"Kemana saja kau, Keysa? Sudah tidak ada kabar seharian ini sekarang sudah malam begini belum juga pulang. Kau dimana saat ini?" tanya papa Keysa dengan nada cemas dan juga ada rasa marah.


Keysa ragu menjawab. "Di rumah sakit, Pa."


"Rumah sakit! Kenapa, Keysa? Apa kau sakit?" suara cemas terdengar jelas dari papa Keysa.


"Bukan, Pa. Tapi teman, Keysa."


"Teman? Teman yang mana? Jangan bilang pemuda itu, Key. Kalau iya, cepat pulang sekarang juga." Nada kesal kini terdengar jelas dari suara papa Keysa.


"Maaf, Pa. Keysa gak bisa!" Keysa menggeleng.


"Keysa! Kau sudah melawan kepada papa kah?"


Tut tut tut.


Keysa menutup telepon tersebut. Dia tidak bisa meninggalkan Benny disaat seperti ini. Keysa menghapus air matanya. "Maafkan Keysa, Pa!"


Keysa kembali ke tempat Benny di operasi. Dia bergabung dengan Rey dan Miko. Mereka menunggu diluar ruangan operasi.


Dokter kemudian keluar. Dia terlihat gusar. Keysa, Miko dan Rey segera mendekati Dokter tersebut.


"Bagaimana, Dok?" tanya Keysa bersamaan dengan Miko dan Rey.


Dokter terlihat tidak baik aura wajahnya. "Pasien kehilangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit sudah kehabisan untuk tipe darah pasien. Pasien memiliki tipe darah spesial yang langka," ucap sang dokter.


Seketika semua orang berwajah sedih. Darah langka yang spesial. Akan butuh waktu jika harus mencari lagi, sedangkan Benny sudah kritis. Pihak rumah sakit juga kehabisan stok darah.


Keysa bingung harus bagaimana menolong Benny. Rey dan Miko pun bingung karena darah mereka tidak cocok. Jika cocok mereka mau saja menolong dengan mendonorkan darahnya.


Kemudian papa kandung Benny pun datang disaat Benny kritis.

__ADS_1


"Tunggu dokter. Aku akan menolongnya!" Suara Roy terdengar bersamaan langkah kakinya yang juga sampai.


Bersambung.


__ADS_2