
Keysa ditampar oleh papanya. Keysa begitu kaget. Dia melihat ke arah papanya. Sebelumnya papanya tidak pernah menampar diri Keysa. Selama ini papanya begitu sayang. Namun kini Keysa di tampar, Keysa menjadi kaget. Dia menatap papanya dengan uraian air mata.
"Papa menampar Keysa?" Tatap Keysa seakan tidak percaya akan sikap papanya.
"Papa bilang pulang tapi kau masih mau disini. Jadi wajar kan papa tampar!"
"Aku gak akan pulang. Jadi Papa pulang saja dahulu." Keysa menyentuh wajahnya yang sakit terkena tamparan tadi.
"Kau sudah berbohong dan melawan ke papa gara-gara anak itu!" Raut wajah terlihat begitu menakutkan. Dia marah sekali dengan putrinya.
"Papa bilang jauhi dia dan tinggalkan dia sekarang, Key!" Tatap sangar sang papa.
Keysa segera menggeleng. "Tidak! Benny sudah menolong dan menyelamatkan Keysa. Jadi Key masih mau disini nemanin dia sampai sadar," ucap Keysa yang merasa sedih.
Bram begitu kesal dan marah dengan Keysa. Begitu kesalnya akhirnya Bram memilih pulang dan memilih tidak memedulikan Keysa.
"Papa!" Lirih kata Keysa. Dia sebenarnya sedih. Di satu sisi Papanya. Satu lagi kekasihnya, Benny.
Keysa merasakan hari yang begitu berat. Dia melihat sosok Bram yang semakin menjauh dan pergi. Keysa yang awalnya mau ke mini market tidak jadi. Dia kembali ke ruangan kamar pasien.
Rey melihat Keysa di dalam ruangan. Tadi Rey dan Miko baru saja makan di warung makan. Rey juga membelikan sebungkus nasi padang untuk Keysa. Dia mendekati Keysa.
"Makan dahulu, Key!" Rey menyerahkan bungkusan nasi padang tersebut.
"Terima kasih. Lalu kalian?" tanya Keysa dengan ragu menerima nasi bungkus nasi padang tersebut. Namun akhirnya tetap dia terima.
"Kami udah makan kok." Miko mengatakan kalau mereka sudah. Kenyataan memang begitu. Akhirnya Miko mencari tempat nyaman. Dia mau tidur karena waktu semakin mendekati malam.
"Iya, Key. Kita udah. Elu makan aja sekarang, ya." Tatap Rey dan akhirnya Keysa mengangguk.
Keysa kemudian mencari tempat nyaman. Dia membuka nasi padang dan memakannya. Rasanya begitu nikmat. Keysa menikmati makanannya. Rey menatap ke arah Keysa. Entah kenapa hatinya menghangat saat melihat Keysa. Dia tersenyum melihat ke arah Keysa yang sedang makan.
Beberapa detik kemudian, Rey segera berpaling. Dia merasa ini tidak benar. Keysa pacar Benny. Dia tidak boleh begitu kepada Keysa. Miko sendiri sudah tertidur lelap. Akhirnya Rey pun mencari posisi enak untuk tidur. Dia mengalihkan pikirannya dari Keysa. Dia harus melupakan apa yang dia rasakan di hati untuk Keysa.
Keysa selesai makan dan membersihkan sisa nasi bungkus. Lalu dibuang ke tong sampah bungkusan yang kotor. Hari semakin malam dan Keysa juga memilih tidur.
__ADS_1
Waktu terus berputar dan esok hari pun tiba.
Benny pun sadar. Saat ini Miko dan Rey sedang kembali ke bengkel. Mereka harus tetap melakukan aktivitas. Mereka juga bergantian dengan Keysa saat menjaga Benny. Benny kemudian sadar.
Setelah Benny sadar. Dia melihat sekeliling dan hanya melihat Keysa disisinya. Keysa yang menyadari Benny telah sadar kembali membuat Keysa tersenyum bahagia.
"Keysa!" Benny menatap Keysa.
"Iya, Ben. Gue disini." Keysa tersenyum. "Syukur saja elu udah sadar. Makasih, ya, Ben. Maafkan gue gara-gara nyelametin gue, elu jadi luka gini. Syukur saja elu selamat. Hiks." Keysa mulai terisak.
Benny berusaha duduk dan menghapus air mata Keysa. "Jangan bersedih. Gue kan udah selamat."
Keysa mengangguk. Benny meminta minum dan Keysa ambilkan. Siang hari, Rey dan Miko kembali ke rumah sakit melihat Benny. Mereka berdua begitu senang melihat Benny sudah sadar.
Keysa dan temannya Benny (Miko dan Rey) bercerita bagaimana dia selamat. Bahkan Keysa baru tahu kalau Benny ternyata mempunyai seorang ayah. Keysa pikir kalau Benny itu sebatang kara. Nyatanya dia masih punya keluarga.
"Jadi gitu ceritanya. Bagus, Ben, kini elu sadar. Buat kita cemas aja. Cepat sembuh, Bro," ucap Miko dan menepuk pelan punggung Benny. Keysa dan Rey juga membenarkan. Mereka menceritakan perihal Benny yang kondisi gawat di rumah sakit. Pada saat itu papanya datang.
"Thanks, Bro." Benny tersenyum. Dia bersyukur masih ada teman-temannya yang selalu sedia dan bersedia menolong. Miko mengangguk pelan. Benny juga sempat kaget mendengar papanya datang. Setelah sekian lama, bagaimana bisa papanya datang. Artinya selama ini papa mengawasi Benny.
"Makasih, Rey."
Kemudian Keysa yang sudah lama menahan diri akhirnya bertanya juga.
"Ben, gue gak tau kalau elu punya papa. Gue kira elu hidup sebatang kara," ucap Keysa hati-hati saat berbicara.
Benny terdiam. Keysa, Miko dan Rey menatap ke arah Benny. Miko sebenarnya penasaran juga. Dia juga mau bertanya eh rupanya Keysa juga bertanya.
Rey yang melihat situasi terlihat serius, akhirnya dia ngajak Miko keluar dahulu.
"Ehem. Kita keluar dahulu bentar, ya. Kalian ngobrol saja berdua." Rey kemudian menarik Miko keluar. "Yok, Miko!"
"Aduh. Bentar napa," ucap Miko rada kesal. Padahal dia juga mau tahu. Namun Miko telah dibawa Rey. Mereka berdua pun sudah keluar.
Tinggal hanya Keysa dan Benny berdua saja saat ini. Keysa melihat ke arah Benny.
__ADS_1
"Maaf, ya kalau gue nanya-nanya gini. Kalau elu gak nyaman gak usah cerita aja." Keysa memastikan agar dia tidak salah bertindak. Keysa akhirnya memilih diam saja.
Benny menatap ke Keysa. Dia tidak mau membuat Keysa kecewa kepada dirinya.
Akhirnya Benny bercerita kepada Keysa tentang jati dirinya. Benny pun bercerita kenapa dia sampai keluar dari rumah dan tidak akur dengan papanya.
"Gak apa, Key. Gue yang salah sebenarnya. Gue yang harusnya minta maaf."
"Engga, Ben. Elu gak salah. Gue rasa semua akan baik saja." Keysa meraih tangan Benny dan menggenggamnya.
Benny melihat ke arah Keysa yang begitu tulus kepada dirinya.
"Oke. Gue akan certain sama elu, Key." Benny menghela napas sejenak. Dia kemudian menatap ke arah Keysa.
"Gue gak sebatang kara. Gue masih punya papa. Cuma gue dan papa sempat ribut. Akhirnya aku keluar dari rumah. Jadi beginilah hidupku," ucap Benny. Dia belum menjelaskan keseluruhan cerita sesungguhnya.
"Dilihat kejadian di rumah sakit ini, maka papa elu sebenarnya peduli kepada kau, Ben. Namun kalian hanya sama-sama keras kepala. Aku tidak tahu bagaimana papamu datang kemari. Tapi jika dia mau datang artinya dia peduli, Ben."
"Iya." Benny menjawab singkat.
Iya. Benar sekali. Papa Benny memang masih peduli sesungguhnya dengan Benny. Namun karena kejadian masa lalu maka hal tersebut agak merusak hubungan mereka.
Sejujurnya Benny ingin sekali akur kembali dengan papanya. Namun dimata papanya hanya ada nama adiknya dahulu. Iya. Benny punya seorang adik dahulunya.
"Lalu?" Tatap Keysa. Benny tersenyum. Cup. Satu kecupan sekilas dilakukan Benny dipipi Keysa. Keysa tertegun dan kemudian wajahnya memerah. Dia agak malu saat ini.
"Keysa, gue dan papa ribut dahulu itu karena masalah adikku. Dia sudah meninggal, tetapi sama ayah seakan hanya ada nama adik dimatanya," ucap Benny perlahan. Dia kemudian menatap langit-langit di atas kepalanya.
"Meninggal? Adikmu? Elu punya adik? Apa. hubungan semua itu dengan keributan antara papamu dengan elu?"
Benny menatap Keysa lekat-lekat. "Adik gue mati karena gue, Key!"
Kedua bola mata Keysa langsung membulat.
"Hah! Apa!"
__ADS_1
Bersambung.