Terjerat Cinta Sang Pengacau

Terjerat Cinta Sang Pengacau
Bab 5.


__ADS_3

Ivony yang ketakutan segera berlari dan menjauh. Dia tidak mau dekat-dekat dengan Benny. Benny memang cowok tampan, tetapi begitu menakutkan bagi Ivony. Dia memilih menjauh saja. 


Keysa menatap ke arah Benny. Benny pun sama. 


"Elu! Kenapa ada disini?" tanya Keysa heran. Dia menatap ke arah Benny.


"Gue lihat elu diganggu, jadi gue kesini bantuin elu," jawab Benny.


"Gak perlu, Ben. Tapi elu kok disekolah ini?" Tatap Keysa heran.


Benny agak kebingungan menjawab pertanyaan dari Keysa. Dia hanya bisa tersenyum saja.


"Iya, sekolah dong. Maka gue disini," jawab Benny kemudian. Dia tidak tahu harus jawab apa. Akhirnya berkata sesuka saja.


"Gue gak tau kalau elu anak sekolah. Gue pikir elu anak jalanan biasa." Kini Keysa dan Benny berjalan bersisian. Mereka berbincang sambil berjalan berdua.


"Gue masih sekolah kok. Gue pindah dari sekolah lama kemudian sekolah kemari maka kita bisa ketemuan," ucap Benny. Padahal dia memang sengaja masuk dan pindah ke sekolah Keysa agar bisa dekat dengan Keysa.


"Oh," ucap Keysa singkat. Kemudian kedua terdiam. Benny merasa suasana sunyi mereka berdua begitu menyenangkan. Keysa kemudian berjalan menyusuri daerah belakang sekolah dan menatap ke arah taman belakang. Dia diam dan kemudian duduk di rerumputan. Benny mengikuti Keysa dan duduk di sebelahnya.


"Kita kan udah kenalan sebelumnya, jadi gimana kalau sekarang kita berteman. Gue mau dekat dan berteman dengan elu, Key," ucap Benny menatap lurus ke arah Keysa.


Keysa melirik Benny. Keduanya saling menatap. "Gue kaget awalnya pas lihat elu disini. Tapi senang juga kali ya kalo ada temannya. Gue gak punya teman dekat sebelumnya." Keysa kemudian menunduk. Dia merasa sedih dan kesepian.


Benny menatap ke arah Keysa. "Gue akan jadi teman elu. Gue akan jaga dan lindungi elu, Key. Gue akan temani elu kemana elu suka," ucap tulus Benny.


Benny berkata ingin dekat dengan Keysa dan menjadi teman. Keysa pun akhirnya setuju. Bahkan Benny berkata dia akan melindungi Keysa. Keysa merasakan kebaikan dan rasa hangat dan nyaman dari Benny. Maka itu Keysa pun akhirnya setuju.


"Baiklah. Mari berteman," ucap Keysa dan mengulurkan tangan. Benny tersenyum dan menyambut tangan Keysa. Keduanya kemudian tersenyum lembut.


Semenjak hari itu, mereka pun menjadi dekat. Kini dimana ada Keysa pasti disitu ada Benny.

__ADS_1


Bahkan para gadis yang dahulu suka mengerjai Keysa kini tidak berani lagi karena ada Benny disisi Keysa. Ivony juga tidak berani karena sosok Benny yang bagi dia begitu menakutkan.


Jika Keysa pergi ke perpustakaan maka Benny akan menemani Keysa. Benny terus menempel disisi Keysa. Dia tidak mau menjauh, sehingga lama kelamaan muncul benih cinta dihati mereka berdua. Benny dari pertama sudah jatuh hati dengan Keysa, sedangkan Keysa kini baru saja mulai tumbuh rasa suka dan mulai telah jatuh cinta dengan Benny. Namun ada yang tidak menyukai kedekatan mereka berdua.


"Mereka makin hari makin dekat. Jangan-jangan sudah ada rasa suka. Gawat! Ini gak bagus. Gue gak suka!" ucap Devan dari kejauhan. Dia melihat kedekatan Keysa dan Benny. Kemudian pergi begitu saja.


Bel pulang sekolah. Seperti biasa Keysa dan Benny pulang bersama. Benny menawarkan naik sepeda motor besarnya. Namun Keysa selalu menolak dengan alasan takut dan tidak pernah naik yang begituan. Akhirnya Keysa memilih pulang dan pergi naik angkutan umum. Benny pun menemani Keysa naik angkutan umum juga.


Jika pergi sekolah, Benny akan menunggu di halte yang tidak jauh dari rumah Keysa agar mereka pergi bersama. Jika pulang maka akan bersama-sama naik angkutan umum. Saat singgah ke toko buku atau Keysa akan les maka Benny akan menemani. Dua bulan berlalu dan keduanya semakin dekat saja.


Hingga suatu hari Benny memberanikan diri kali ini mengantarkan Keysa sampai depan rumahnya. Mereka berjalan bersisian bersama sampai depan rumah Keysa. Setelah sampai Keysa melirik ke arah Benny.


"Sudah sampai, Ben. Sampai disini saja. Makasih, ya." Keysa tersenyum.


"Iya. Sama-sama, Key. Sampai besok lagi. Gue tunggu di halte esok, ya," ucap Benny kepada Keysa.


"Iya. Sampai besok."


Keduanya tersenyum dan kemudian Keysa masuk ke dalam rumah. Benny yang sudah melihat Keysa masuk kemudian pergi pulang.


"Key, kenapa baru pulang sudah sore sekali ini!" tegur sang papa.


Keysa menoleh ke arah papanya. "Iya, Pa. Tadi Keysa habis les lalu pergi ke toko buku. Maaf telat. "


"Siapa yang bersamamu tadi, Key. Papa lihat pulang sama seseorang?" tanya papa Keysa.


"Teman, Pa. Udah dulu, Pa. Keysa masuk kamar dahulu." Keysa langsung pamit dan masuk kamar. Dia takut papanya akan banyak bertanya lagi. Dia juga tidak bohong kalau dia dan Benny memang berteman. Namun kini memang sedang ada yang tumbuh di dalam hatinya.


Papa Keysa yang mempercayai anaknya akhirnya pun membiarkan Keysa masuk ke kamarnya.


***

__ADS_1


Benny sampai ke rumah. Dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa. Rey belum kelihatan. Benny kemudian bermain video game di ponselnya. Setelah cukup lama, kemudian Benny pergi ke dapur kecil dan memasak mie instan. Dia lapar sehingga mau makan, karena itu dia akan memasak dahulu.


Kebetulan setelah itu Rey pulang. Dia langsung masuk dan duduk. Benny menoleh sebentar.


"Elu udah pulang, Rey? Mau makan juga gak? Biar sekalian gue masak mie." Tawar Benny kemudian.


"Boleh, Ben. Kebetulan gue juga laper. Habis dari bengkel tadi. Capek rasanya." Rey menghidupkan kipas angin dan kemudian merasakan hembusan dari kipas angin.


"Okey." Benny kemudian memasak dua porsi. Memasak mie instan saja, karena memang hanya ada mie instan. Kekalahan mereka waktu itu membuat mereka kalah banyak. Sekarang hanya bisa makan dengan stok mie instan yang ada di dapur.


Beberapa saat kemudian, Benny selesai memasak. Dia kemudian menyajikan dua porsi mie instan dalam mangkuk. Benny bawa dan letakkan di atas meja di depan hadapan Rey. Kemudian dia mulai makan bagian miliknya.


Rey juga mengambil mangkuk miliknya berisi mie instan yang sudah dimasak Benny untuk dirinya. Sedap. Enak sekali. Rey pun makan dengan lahap.


Kemudian setelah beberapa saat keduanya selesai makan.


"Kenyang," ucap Benny.


"Yoi. Enak buatan elu, Ben. Sering-sering, ya." Rey mengacungkan dua jempol.


"Hem. Bilang aja elu malas kan. Dasar! Sesekali gak apa-apa sih, tapi kalau sering mah ogah. buat sendiri elu! Hahaha!" Benny tertawa lebar.


Kemudian Rey menepuk lengan Benny. Benny balas dengan melemparkan bantal yang kebetulan ada di dekatnya. Keduanya malah bercanda ria.


"Oke. Stop, Ben. Ada yang mau gue sampaikan," ucap Rey kemudian dan Benny kini menatap Rey dengan serius.


"Apaan?" tanya Benny.


"Elu esok malam bakal ada balapan lagi. Katanya Ronie yang buat tantangan. Gimana elu berani ambil?" Tatap Rey dengan serius pula.


Benny terdiam. Terakhir kali dia kalah dari Ronie karena kecurangan Ronie. Namun ini balapan liar sehingga hal apa saja bisa saja terjadi. Apalagi mereka balapan di jalanan bebas.

__ADS_1


"Elu gak mau balas dendam kekalahan elu, Ben? Kalau elu masih berani dan mau, ayo ikutan lagi dan lawan Ronie!" ajak Rey kemudian.


Bersambung.


__ADS_2