
Keysa kaget sekali, sedangkan Benny hanya diam kemudian. Dia sebenarnya juga merasa bersalah. Mungkin karena itu Benny memilih hidup di jalanan.
"Maksudnya apa, Ben?" Tatap Keysa dengan kening berkerut.
"Adik gue meninggal karena gue, Keysa. Itu penyebab keributan pertama gue dan papa!"
Kemudian Benny menceritakan segalanya kepada Keysa. Keysa mendengarkan cerita Benny dengan seksama. Keysa baru tahu kalau Benny ternyata punya kembaran. Dia kembar identik dengan adiknya. Dahulu Benny dan adiknya suka bermain di luar rumah. Mereka suka bersenang-senang.
"Gue punya Adik yang wajahnya serupa dan mirip sekali dengan gue. Kami kembar identik. Kami begitu akrab dan dekat. Gue suka main diluar rumah seperti balapan. Adikku juga menyukai hal tersebut karena sering aku ajak. Kami suka bermain diluar rumah dan bersenang-senang." Benny mengingat kembali masa lalunya saat ini dia sedang bercerita.
Suatu hari Benny mengajak adiknya balapan sehingga akhirnya adiknya meninggal dunia. Hal tersebut membuat papanya marah besar dan murka dengan Benny. Benny pun menyesalinya. Dia berkali-kali menyalahkan dirinya. Bahkan meminta maaf. Namun sang ayah masih marah besar.
"Kemudian suatu hari gue balapan. Ada taruhan. Karena wajah kami sama, tidak ada yang curiga. Adikku masuk ke dalam mobil dan dia balapan. Aku saat itu sedang membeli sesuatu. Saat kembali ternyata dia balapan atas nama aku. Kemudian terjadi kecelakaan saat balapan. Adikku terluka parah dan tidak tertolong. Aku yang mengajak dia ke tempat balapan. Sehingga dia akhirnya meninggal dunia," ucap Benny. Dia menyesal sekali. Keysa mendengarkan dalam diam. Dia tidak berkomentar apapun.
Keysa diam dan menyimak perkataan Benny.
__ADS_1
"Gue menyesal atas kematiannya. Beberapa kali gue minta maaf ke papa. Papa sangat marah. Dia tidak mau memaafkan gue. Gue depresi dan sempat masuk rumah sakit. Gara-gara gue maka adikku meninggal!" Tangan Benny kemudian bergetar. Dia gemetaran. Hal menyakitkan kembali dia ingat membuat Benny merasakan kesulitan. Dia seakan susah bernapas.
Keysa langsung memeluk Benny. Dia berusaha menenangkan Benny.
"Saat itu Papa gak mau melihat gue. Berbicara dengan gue aja gak mau. Dia seakan tidak melihat gue lagi. Gue berkali-kali berkata maaf, tapi Papa tidak mempedulikan. Gue depresi sempat dirawat di rumah sakit. Hanya seminggu. Setelah itu, gue kembali pulang."
Akhirnya papa Benny meminta agar Benny meninggalkan balapan dan dunia liarnya supaya dia memaafkan Benny juga agar dia tidak kehilangan anaknya satu lagi.
"Untuk melupakan rasa sedih serta stress, gue kembali balapan. Hal tersebut diketahui Papa. Akhirnya Papa mau berbicara kembali kepada gue. tapi dia meminta gue agar meninggalkan balapan. Dia bilang agar gue gak bernasib seperti adik gue. Karena gue tinggal satu-satunya anaknya. Papa melarang gue balapan," ucap Benny kembali.
Namun Benny menolak. Dia masih sangat menyukai balapan. Akhirnya Benny dan papanya bertengkar kemudian Benny memilih keluar rumah sejak saat itu.
"Gue menolak perkataan Papa. Padahal Papa mau memaafkan gue asalkan meninggalkan balapan. Tapi gue gak bisa. Gue merasakan hal bebas dan nyaman saat balapan. Gue suka balapan. Karena penolakan gue, Papa dan gue bertengkar hebat akhirnya aku keluar dari rumah kemudian hidup di jalanan. Gue tinggal dengan Rey akhirnya."
Benny pun kemudian menceritakan semua tanpa ada yang dia tutupi lagi.Baik itu tentang dirinya, Papa, dan almarhum adiknya serta kejadian kemudian masalah masa lalu lainnya. Semua diceritakan oleh Benny. Benny sudah menceritakan semua dengan sejujurnya.
__ADS_1
Keysa akhirnya mengetahui jati diri Benny dan asal usul Benny sesungguhnya. Benny bukan pemuda miskin, dia seorang pewaris tunggal dari perusahaan papanya. Awalnya Benny masih berpikir kalau papanya sudah tidak mengakui dirinya lagi. Namun dari cerita Keysa dan temannya kalau Papa datang menolong dirinya di rumah sakit, membuktikan Papa masih peduli dengan Benny.
"Gue kira Papa udah gak peduli lagi dengan diriku. Tapi dia malah menolong aku di rumah sakit," ucap Benny dengan helaan napas.
"Papa elu masih peduli, Ben. Gue bisa lihat dan rasakan itu. Dan masalah balapan, papamu benar, Ben. Lupakan dan tinggalkan! Demi gue, Ben. Sudah dua kali gue lihat elu celaka gara-gara balapan. Jadi sudah lupakan dan tinggalkan saja hal itu. Demi gue, Ben. Elu kan udah janji," ucap Keysa dan menatap Benny dengan serius.
Benny kembali menghela napas panjang. Iya. Dia sudah pernah berjanji dengan Keysa. Namun apa Benny benar-benar bisa meninggalkan balapan pun dia masih ragu.
Keysa melihat ke arah Benny. "Elu janji, ya. Ingat tidak ada lagi namanya balapan! Oke!"
Keysa memeluk Benny kembali dengan lebih erat. Benny hanya berkata Oke dan mengangguk saja.
Kemudian cup cup cup.
Bersambung.
__ADS_1