
Mereka berempat berbincang-bincang di sana, menyusun strategi melawan Cokro.
" Cokro sudah mulai beraksi, kamu harus hati-hati... Teo. Pesan Hadi
" Iya, om. Tadi ia sudah mengancam Teo akan mengusir Teo dari rumah itu segera mungkin.
" Apa kamu tidak kasih tau kalau mama mu masuk rumah sakit?! Tanya Novi.
" Sudah tante... tapi dia tidak peduli. Jawab Teo sedih.
" Mana mungkin dia mau berbelas kasih pada mbak Yenny, sama abang nya sendiri aja dia tega... Hadi mengingatkan. Makanya kita harus cerdik juga, jangan sampai aset-aset peninggalan papa mu habis dijual Cokro. Lanjut Hadi.
" Iya om... Teo pun bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
" Teo, kamu harus fokus ke masalah mu dengan Cokro. Jangan kamu pecah konsentrasi malah memikirkan soal kamu hanya seorang anak adopsi... ingat kami semua tidak pernah menganggap mu seperti itu. Mau kamu kandung atau tidak, kamu tetap anak mbak Yenny dan Bang Teddy... nasehat Hadi kembali.
" Iya om... makasih atas dukungan nya. Teo pun bersemangat kembali.
" Iya... lo itu sepupu gw bro... jadi jangan pusingin omongan orang. Fokus aja ke masalah ini, kami pasti akan membantu lo... Steven ikut memberi dukungan.
" Thank you... bro. Teo pun tersenyum gembira.
" Jadi sekarang kita harus gimana?! Tanya Novi.
" Semua barang-barang dan surat berharga yang ada di rumah mu, harus segera kamu simpan yang baik. Jangan sampai jatuh ke tangan Cokro.. Kata Hadi pada Teo.
" Oke, om. Tante, apa tante mau bantu Teo cari barang-barang itu di rumah nanti?! Tanya Teo pada Novi.
" Iya, Teo. Nanti tante bantu kamu cari... sahut Novi.
" Minta salinan surat wasiat itu dari Cokro, kita harus mencari seorang notaris handal untuk mengecek keaslian nya. Hadi memberi masukan.
" Iya om...
" Apa tidak sebaiknya kamu telp om mu yang di Medan untuk memberitahukan hal ini, Teo... saran Novi.
" Benar, lebih baik kamu telp om mu yang di Medan. Mungkin mereka bisa membantu dan menasehati Cokro... kata Hadi.
" Baiklah, nanti malam Teo akan menghubungi om Fredy... jawab Teo. Mungkin sekarang kita makan malam dulu, setelah kita ke rumah untuk mencari barang dan surat berharga lain nya. Lanjut Teo.
" Ayo... udah lapar nih... jawab Steven langsung berdiri.
__ADS_1
" Cacing di perut mu minta makan melulu... sindir Hadi.
" Hahaha... kasian pa, tadi siang cuma di kasih makan dikit, abis keburu mau meeting... canda Steven.
Setelah selesai makan di sebuah resto dekat rumah sakit, mereka menuju ke rumah Teo.
Hadi dan Steven mencari dus dan plastik besar untuk menaruh barang-barang. Teo dan Novi sibuk mengumpulkan uang, perhiasan, surat-surat berharga dan tas-tas branded kepunyaan Yenny.
" Tante, bawa aja semua... Teo takut tiba-tiba om Cokro kemari dan menemukan nya. Kata Teo kuatir.
" Baik lah, akan tante gabung dengan barang-barang berharga milik mama mu yang lain...jawab Novi.
Novi, Hadi dan Steven pun pamit pulang dengan membawa beberapa dus barang.
Novi pun menggabungkan semua barang-barang itu sesampainya di rumah.
" Lebih baik, perhiasan dan emas batangan itu kamu simpan di bank. Itu jauh lebih aman, di banding di taruh di sini. Saran Hadi.
" Ya, besok pagi akan aku simpan di bank... kata Novi.
" Dan tas-tas itu akan rusak jika kau taruh di sana, teman ku ada apartemen kosong yang ia titip jual pada ku. Mungkin sementara ini bisa kita taruh di sana. Kata Hadi kembali.
" Ya sudah, kamu atur aja. Jawab Novi sambil merapikan tas-tas itu ke dalam dus.
📞 Halo Teo... jawab Om Fredy
📞 Halo om... maaf mengganggu om.. kata Teo.
📞 Tidak apa, Teo. Ada apa?!
📞 Om, mama koma dan sekarang ada rumah sakit ... cerita Teo.
📞 Kenapa bisa koma, Teo... tanya Fredy terkejut.
📞 Om Cokro datang ke rumah dan mengatakan semua harta atas nama papa di warisan kepada nya... jawab Teo.
📞 Apa... kenapa dia bisa berkata seperti itu. Apa dia punya surat legal nya... tanya Fredy kembali.
📞 Punya... sebelum papa meninggal, papa pernah menanda tangani berkas kosong yang bermaterai. Mungkin berkas itu yang di jadikan surat wasiat dari papa... Teo menjelaskan.
📞 Kenapa papa mu bisa ceroboh seperti itu, seharusnya ia sudah tau kalau Cokro itu licik... apa kamu punya salinan surat nya... tanya Fredy.
__ADS_1
📞 Tidak ada, Teo belum minta pada om Cokro... jawab Teo.
📞 Segera minta surat itu, kita harus selidiki keaslian nya. Nasehat Fredy.
📞 Iya om.. jawab Teo.
📞 Kalau sudah dapat segera hubungi om... kata Fredy.
📞 Baik om... nanti Teo hubungi om lagi. Makasih om...
📞 Sama-sama, jaga mama mu. Kabari om segera jika ada sesuatu... kata Fredy sebelum mengakhiri panggilan nya.
Keesokan pagi nya, Hadi mendrop Novi ke sebuah bank setelah itu Hadi melanjutkan perjalanan nya menuju sebuah apartemen untuk menaruh tas-tas itu. Hadi menyusunnya di sebuah lemari yang ada di dalam apartemen itu.
Setelah Novi selesai dengan urusannya di bank, ia segera ke rumah sakit tempat kakak nya di rawat.
Novi hanya di perbolehkan melihat kondisi kakaknya dari luar yang di sekat dengan kaca. Yenny terbaring koma dengan beberapa peralatan medis di tubuh nya. Hati Novi sangat sedih dan ia hanya mampu berdoa untuk kesembuhan kakaknya.
Sementara di toko Teo sedang berpikir, bagaimana jika toko itu di ambil alih Cokro... ia tidak ada pemasukan, apalagi mama nya butuh biaya besar di rumah sakit.
" Tanti, barang apa aja yang paling laku di sini... tanya Teo pada salah satu pegawai papa nya.
" Ada beberapa macam mas... Tanti pun mengambil contoh semua barang itu di perlihatkan nya pada Teo.
" Apa barang-barang itu masih banyak stok nya?! Tanya Teo kembali.
" Masih mas, ada di gudang... jawab Tanti. Mas, mau... nanti saya ambilkan.
" Apa om Cokro, ada pegang kunci gudang... tanya Teo.
" Ada mas, om Cokro pegang 1 set kunci gudang. Jawab Tanti.
" Ayo kita ke gudang sekarang... ajak Teo.
Tanti dan Teo pun segera pergi ke gudang.
" Seperti nya barang gudang ada yang berkurang, mas.. terakhir saya ke sini... di sini masih banyak baju tidur dan baju gamis... Tanti pun berkeliling mencari dan memeriksa stok yang ada.
" Apa mungkin di ambil om Cokro?! Tanya Teo
" Mungkin mas... karena kemaren kata Mitha ia melihat om Cokro ke arah gudang.
__ADS_1
Teo pun menghela nafas kesal... Cokro sudah bertindak diluar sepengetahuannya.
🏅🏅🏅🏅🏅