
Setelah mengantar Lisa pulang dengan mobil kantor milik orang tua Lisa, Nathan pun mampir ke sebuah bar. Dia mencari Sabrina pacar gelap nya.
" Tumben lo cari gw?! Sapa Bina begitu melihat Nathan mendekati nya.
" Gw lagi pusing... lo temani gw ya... ajak Nathan.
" Hahaha... kemana pacar kaya lo... dia udah ninggalin lo?! Ejek Bina.
" Sembarangan lo... gw sama dia bentar lagi nikah. Cuma hari ini gw lagi kesel sama bapak nya. Nathan pun curhat ke Bina.
" Ada mau nya aja lo ke sini, ntar kalau dia tau lo sama gw gimana... Bina yang sedang malas bertemu dengan Nathan pun menolak nya halus.
" Enggak lah... dia ng mungkin tau. Kecuali lo yang kasih tau... tapi lo kasih tau dia juga, belum tentu dia percaya elo... hahahaha... ledek Nathan.
" Ngeledek lagi... semprot Bina.
" Sudah lah sayang, jangan ngambek begitu. Kita senang-senang aja yuk... udah lama nih. Aku lagi kepengen banget naik kuda sama kamu, sayang.... Nathan pun merayu Bina untuk menemani nya tidur.
" Ih... kenapa lo ng minta jatah aja sama pacar lo itu. Bina masih cemberut pada Nathan.
" Kan belum sah, dia ng kasih lah. Nathan mulai memeluk dan menciumi Bina.
" Jadi karena dia ng kasih, lo lari nya ke gw gitu?! Bina membalas pelukan Nathan.
" Iya lah... mau kemana lagi gw kalau ng ke elo. Rayu Nathan kembali.
" Karena cuma sama gw yang gratis malah dapat uang rokok... ya kan?! Bina melihat tajam ke Nathan.
__ADS_1
" Hehehe... udah ah. Udah ng sabaran nih ade gw. Yuk, kita cari tempat yang nyaman aja. Ajak Nathan. Bina yang begitu mencintai Nathan tak kuasa menolak nya, walaupun ia tau Nathan hanya memanfaatkan nya aja. Mereka pun keluar bar dan menuju sebuah hotel melati.
Sedangkan Teo sudah membuat kesepakatan dengan orang tua nya kalau ia akan ke toko setiap selasa dan kamis. Orang tua nya pun setuju, mereka akan memberikan gaji jika Teo bisa menjalankan tugas nya dengan baik.
Di dalam kamar, Yenny dan Teddy pun berbincang-bincang sebelum mereka tidur.
" Mudah-mudahan Teo bisa berubah ya, ma... kata Teddy pada istrinya.
" Iya, pa. aku juga harap begitu. Teo itu satu-satunya anak kita, dia yang akan mewarisi semua harta kekayaan kita. Ia harus bisa belajar mengatur nya bisa tidak habis begitu aja. Yenny mengungkapkan harapannya.
" Iya... hanya aku takut sama Cokro. Dia kemarin memberikan kertas kosong yang sudah di beri materai, minta aku tanda tangani. Teddy sangat kuatir.
" Jangan terlalu berprasangka buruk pada nya. Mungkin saja dia malas mengetik draf nya. Yenny mencoba menenangkan Teddy.
" Kita ng boleh terlalu percaya pada nya... sudah berapa kali dia menipu kita. Belum lagi semua modal usaha yang kita berikan hilang begitu aja. Teddy mengingatkan sifat buruk Cokro.
" Teo itu malas karena terlalu kita manja... kita harus bisa bersikap lebih tegas lagi pada nya. Agar ia bisa mengurus toko juga menyelesaikan kuliah nya. Teddy pun membela Teo.
" Iya... tapi kita juga tidak boleh terlalu keras pada nya. Teo itu agak sensitif. Kalau dia ngambek lebih berabe... kata Yenny kembali.
" Coba Teo kayak Steven ya... kita jadi bisa hidup tenang. Mereka bermain bersama sedari kecil tapi sifat baik Steven tidak ada yang menempel di Teo sedikit pun. Heran aku... Teddy pun menggelengkan kepala nya.
" Teo itu sudah bisa di layani, beda dengan mereka yang mau melayani. Yenny kembali menjelaskan.
" Kita ini udah tua, sebelum aku meninggal aku mau memberitahu hal yang sebenarnya pada Teo... ucap Teddy lirih.
" Ya... nanti pada saat kita lihat Teo sudah siap. Saat ini dia masih labil dan masih seperti anak kecil. Aku takut ia tidak terima kenyataan ini, lalu ia kabur meninggalkan kita... sahut Yenny sedih.
__ADS_1
" Ya... ng sekarang. Teddy mengelus pundak Yenny hangat. Sudah lah, kita tidur sekarang. Besok aku dan Teo akan ke toko. Teddy dan Yenny pun segera membaringkan tubuh mereka yang sudah lelah.
Keesokan pagi nya, Teo dan Teddy berangkat ke toko. Selama di toko, Teo hanya memegang hape dan memainkan game yang ada di hape nya.
" Teo, kamu mau ikut papa ke gudang ng?! Tanya Teddy yang melihat anaknya asyik bermain game.
" Ng...?! Papa aja yang pergi ke sana. Teo jaga toko aja... sahut nya tanpa melihat wajah ayah nya.
" Kamu jangan main game terus, Teo. Kasih contoh yang baik ke karyawan... bentak Teddy kesal.
" Ah... papa cerewet. Teo mulai kesal pada papa nya.
" Perhatiin orang yang belajar, cek barang sebelum di berikan ke pelanggan. Belajar tau barang dan harga nya... nasehat Teddy panjang lebar membuat Teo makin kesel.
" Papa minta Teo jaga toko kan, bukan jadi karyawan papa... kata Teo mulai sewot.
" Ya kamu belajar apa salah nya sih... tambah ilmu Teo... suatu saat kamu yang akan mengurus toko ini 100%. Teddy juga kesal melihat tingkah laku Teo, akhirnya ia pun keluar toko menuju gudang di blok sebelah.
Teo kembali ke hape nya dan ke permainan nya. Ia tak peduli apa kata papa nya, sampai ia sudah bosan berada di toko.
Karena hape nya sudah low bat, akhirnya Teo memutuskan untuk berkeliling pusat grosir itu. Teringat waktu ia masih TK sampai SD kelas 3, hampir tiap hari Teo main di sini. Dan seluruh pusat grosir itu sudah ia kelilingi, hampir semua toko mengenal nya... sampai mama nya bingung jika mendengar nama anaknya di panggil oleh orang-orang yang tidak di kenalnya.
Teo itu bawel dan ketus tapi supel pada semua orang... dari pelayanan toko sampai pemilik toko mengenal nya. Sering Yenny mendapat undangan pernikahan atau sunatan anak ke toko untuk Teo. Padahal Yenny sama sekali tidak mengenal mereka begitu juga sebaliknya...
Teo berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong toko sampai akhirnya ia di gudang papa nya. Di sana ia melihat papa nya dan Tanti karyawan papa nya sedang sibuk memeriksa stok. Teo hanya melihat mereka dari luar karena ia tak mau di suruh ikut memeriksa barang-barang itu. Akhirnya ia pun kembali berjalan keliling pusat grosir itu.
🏅🏅🏅🏅🏅
__ADS_1