Ternyata Aku Anak Adopsi

Ternyata Aku Anak Adopsi
Ep 15


__ADS_3

πŸ“ž Halo... jawab Hadi


πŸ“ž Om... om Cokro mengambil stok di gudang... lapor Teo.


πŸ“žBerapa banyak stok yang di ambil nya?! Tanya Hadi


πŸ“ž Entah lah, om... jawab Teo yang memang tidak tau berapa stok barang nya.


πŸ“ž Kalau begitu kamu angkut aja stok itu ke mobil mu, om segera ke sana... jawab Hadi.


πŸ“ž Oke, om... Teo pun segera mematikan telp nya. Ia dan Tanti segera memasukkan stok barang ke dalam mobil.


Tak lama kemudian, Hadi pun sampai. Ia bertemu Teo di tempat parkir.


" Teo, masukkan juga ke dalam mobil om... kata Hadi sambil melipat jok penumpang sehingga ruang untuk menaruh barang lebih banyak.


" Iya om... Teo meminta Tanti memanggil beberapa pegawai lain untuk membantu nya.


Setelah kedua mobil itu penuh dengan stok, Hadi pun mengajak Teo ke apartemen teman nya untuk menyimpan stok itu di sana.


Sore hari nya, begitu Teo pulang dari rumah sakit sehabis menjenguk mama nya, ia melihat mobil Cokro telah terparkir di carport rumah nya.


" Ada apa om... tanya Teo pura-pura tak tau maksud kedatangan Cokro.


" Kapan kamu mengosongkan rumah ini... tanya Cokro kesal.


" Mana salinan surat wasiat itu, kami akan memeriksa nya terlebih dahulu... tantang Teo.


" Baiklah, aku akan kembali membawa berkas itu... jawab Cokro sambil masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.


Teo pun mendengus kesal kemudian masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Teo kembali membongkar lemari mama nya untuk mencari sesuatu yang berharga yang masih tertinggal di sana.


Ia menemukan sebuah dompet di lemari atas di meja rias mama nya tertutup dengan kosmetik sang mama. Teo pun mengambil dan membuka nya, ada setumpuk uang dolar Amerika. Cepat-cepat ia menyimpannya dan kembali mencari barang lainnya.


Ia ingat orang tua nya menyimpan kotak brangkas di dalam gudang, Teo pun segera masuk ke gudang rumah nya. Benar saja ia menemukan brangkas itu dan mencoba membuka nya dengan pin yang biasanya mama nya pakai. Terbuka... ia menemukan uang Yuen dan rupiah di sana. Di masukkan uang itu ke dalam tas bersama dompet yang ia temukan tadi. Ia pun bergegas ke rumah Novi, tante nya.


" Teo... masuk. Ada apa, bukan masalah mama kan?! tanya Novi panik.


" Bukan tante... ini Teo nemu uang di brangkas. Tante, simpan aja. Tadi om Cokro ke rumah meminta Teo pergi. Kata Teo.


" Tapi kamu berhasil melawan nya kan?! tanya Novi khawatir.

__ADS_1


" Iya, Teo minta salinan surat wasiat itu. Dia ngomong akan kembali mengantar surat itu... sahut Teo kembali.


" Ya sudah, kamu makan dulu yuk... ajak Novi. Steven lagi mandi, mungkin om Hari bentar lagi pulang...


Teo, Steven dan Novi pun makan malam bersama. Tak lama kemudian Hadi pun pulang.


" Mandi dulu, pa... terus makan kata Novi.


" Iya... jawab Hadi sembari menuju kamar mandi.


Selesai makan mereka pun berkumpul di ruang tamu.


" Kalau kamu sudah dapat salinan surat wasiat itu, kita bawa ke notaris teman om... dia mau bantu kita. Kata Hadi.


" Iya om... jawab Teo.


" Apa kata om kamu yang lain tentang Cokro?! tanya Novi.


" Om Fredy kaget, dia minta salinan surat wasiat itu. Dia mau bantu cek... jawab Teo kembali.


" Bagus lah... mudah-mudahan mereka bisa menasehati adik nya jangan bertindak di luar batas... harap Hadi.


" Iya om...Teo juga harap begitu. Jangan gara-gara harta kita sampai berantem. Walau bagaimana juga dia adik papa... kata Teo sedih.


" Iya om... jawab Teo pelan. Teo pun pamit pulang karena ingin beristirahat.


Sementara di Medan, Fredy vidio call bersama kakak adik nya yang lain membahas masalah Cokro.


" Apa..?! Kenapa Bang Teddy bisa sebodoh itu, padahal dia sering di kelabui oleh Cokro... Hendra pun kesal.


" Perasaan ku, Bang Teddy tidak sebodoh itu... maka dari itu kita harus mendapatkan salinan surat itu dulu. Balas Cornell.


" Fredy, kau ancam dulu si Cokro... jangan sampai dia berbuat nekat. Hendra kembali bersuara.


" Iya... nanti aku telp Cokro. Jawab Fredy. Aku hanya kuatir d ngan keadaan mbak Yenny...


" Kita bisa apa... berdoa aja. Jawab Cornell. Lagipula sebenernya ini pelajaran berharga bagi Teo untuk bertindak dewasa dan bertanggung jawab. Selama ini dia terlalu di manja, sehingga tidak bisa apa-apa... Ucap Cornell kesal.


" Benar... kita bantu dia diam-diam aja. Biar dia menyelesaikan masalah ini. Sahut Hendra.


" Iya... aku setuju jawab Fredy. Sebelumnya aku akan memperingati Cokro dulu agar dia tidak sampai menjual aset Bang Teddy.

__ADS_1


" Bener... jawab Cornell.


Setelah mencapai kesepakatan, mereka pun kembali ke tugas nya masing-masing.


Malam itu juga, Fredy menghubungi Cokro tetapi Cokro tidak mau mengangkat telp dari abang nya.


Dengan kesal akhir nya Fredy mengirim pesan pada nya.


✏ Cokro... kenapa kamu tidak mau mengangkat telp dari ku?! Kami sudah tau apa yang kau lakukan terhadap mbak Yenny dan Teo. Dan jika sampai ada aset peninggalan Bang Teddy yang kau jual... kau akan berhadapan langsung dengan kami. Aku tidak main-main...


Begitu pesan yang di kirim oleh Fredy. Cokro pun kesal membaca pesan itu.


" Kurang ajar!!! Apa mau nya mereka?! Apa mereka juga mau kecipratan harta ini... huh, dasar. Aku tidak akan takut pada mereka. Hahaha.... kata Cokro dalam hati.


Keesokan hari nya, saat Teo sedang membereskan barang-barang yang hendak di simpan nya di apartemen teman om Hadi... tiba-tiba Cokro datang.


" Untuk siapa semua barang ini... tanya nya pada Tanti yang sedang menaikan barang ke atas troli.


" Oh... ini punya pesanan langganan om... jawab Tanti bohong. Dalam hati Tanti deg-degan juga.


Teo pun lega, Tanti bisa langsung menjawab om Cokro tanpa di curigai.


" Wah, hari ini dapat banyak duit dong... tanya nya pada Teo.


" Ng om... itu kan punya langganan di Lampung. Dia kan bayar nya nyicil. Teo pun ikut bersandiwara.


" Ah, kamu mau bohongi aku ya... Cokro pun kesal.


" Loh, kan om tau sendiri... langganan papa yg di sana kan sistem nya ambil dulu dan bayar nyicil. Jawab Teo menyakinkan Cokro.


" Ini surat nya... Cokro memberikan amplop coklat pada Teo. Kapan kau keluar dari rumah itu?! Tanya Cokro kembali.


" Surat ini harus di cek dulu keaslian nya...kalau surat ini palsu bagaimana?! Teo balik tanya.


" Mana mungkin aku bohong... Bang Teddy itu abang kandung ku, sedangkan kau hanya anak pungut nya. Mana mungkin ia menyerahkan harta nya pada mu... ejek Cokro.


" Terserah om, aja... yang pasti aku akan mengecek keaslian surat ini dulu. Selama belum terbukti, om jangan coba-coba mengusir aku... ancam Teo.


" Aku kasih kamu waktu satu minggu... bentak Cokro.


" Tidak ada limit waktu, jika om macam-macam... akan aku laporkan ke polisi... Teo makin mengancam nya.

__ADS_1


Cokro pun kesal dan pergi meninggalkan Teo.


πŸ…πŸ…πŸ…πŸ…πŸ…


__ADS_2