
Sudah satu minggu ini, beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan kantor baru untuk para pekerja yang bekerja di kantor yang bergerak di bidang ekspedisi ini.
Menurut bos mereka, kantor lama ini sudah tidak memenuhi kapasitas lagi. Usaha semakin ramai. maka mereka juga harus menambah jumlah karyawan.
"Alhamdulilah... Akhirnya, kita punya kantor baru juga!" ucap Kinan, senang.
"Tau gue, nape lu bersyukur kek gitu. Lu bakalan jauhan kan dari gue. Makanya lu seneng!" saut Tya, teman seruangan Kinan.
"Nggak gitu juga keles. Gue seneng, soalnya tu kantor searah ama rumah gue." Kinan tersenyum.
"Emang lu dah survei, dah tau tempatnya?" tanya Tya lagi.
"Pastinya belum tau, sih! Tapi kalo lihat rutenya, keknya itu deket jalanan menuju rumah gue. Cuman, kata Frans, agak masuk. Kira-kira lima ratus meter lah dari jalan raya. Tapi nggak pa-pa lah, dari pada kita sempit-sempitan di sini, ye kan?" jawab Kinan dengan sikap centilnya seperti biasa.
"Oke, baeklah... jaga diri baik-baik di sono ya, Neng! Inget, elu tanpa gue, ibarat nasi bungkus nggak pakek karet. Ambyar kan lu?" Canda Tya, sembari terkekeh.
"He em, pastinya... Gue bakalan kangen ama oseng teri emak elu, Wak! Biar gue di sono, jangan lupa mampir ya Wak. Lu tau kan, yang ikutan pindah ke sono rata-rata laki. Siapa nanti yang bakalan beliin gue pembalut kalo kepepet?" ucap Kinan, membalas candaan kocak sang sahabat.
"Suruh aja, Albert. Dia pasti mau kok!" Tya terkekeh. Sedangkan Kinan hanya melirik tak nyaman pada pria itu. Sebab Albert hampir tidak pernah bercanda. Hidup pria itu terlalu serius. Entah apa sebabnya.
Menurut mereka, alur kehidupan Albert terlalu membosankan. Bahkan sangat-sangat membosankan.
Bagaimana tidak? Dia datang, sampai kantor hanya duduk, menyalakan laptop, kerja, bikin kopi lalu kerja lagi. Bahkan mereka jarang sekali melihat Albert ke kamar mandi. Entah kenapa, pria itu sangat anti kamar mandi. Sehingga dirinya dijuluki pria anti kamar mandi from neptunus.
Sedikit kisah tentang Albert. Pria ini sangat dingin pada sesama . Ia hanya bekerja sesuai peraturan. Jarang mau nimbrung kalo ada acara. Sering terlihat ngomong sendiri. Hanya dengan Frans lah ia mau bercengkrama akrab. Mungkin, karena Frans yang membawanya bekerja di sini. Atau bisa jadi, Frans adalah ketua devisi tempat dia bekerja.
Terbukti, saat ini mereka sedang bercengkrama akrab.
"Kamu siap, Al?" tanya Frans.
"Ya, semua udah aku packing. Tapi aku laper?" jawab Albert, santai.
Tumben laper, biasanya dia paling cuek. ada apa dengan bocah ini? tanya Frans dalam hati.
"Ini masih pagi lo gaes, kamu nggak sarapan tadi di rumah?" tanya Frans, penasaran.
__ADS_1
"Sarapan lah! Cuma lagi pengan makan aja." Albert tersenyum sambil menaikkan kacamatanya. Sedangkan Frans hanya mencebikkan bibir, meremehkan.
"Ya udah ayo jalan, nanti kalo ada kedai kita mampir. kali ini aku trakhir, biar kau senang," ucap Frans, sedikit bercanda.
"Oke, makasih lo. anda baik sekali!" jawab Albert seraya merangkul pundak sahabatnya.
Frans sangat tahu bahwa Albert hanya merayunya. Itu sebabnya ia pun enggan meladeni kekonyolan sahabatnya itu.
***
Hari beranjak siang. Anak-anak yang dideportasi dari kantor lama ke kantor baru pun sudah siap.
Satu persatu mulai masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke tempat baru. Tanpa terkecuali Albert. Karena dia juga termasuk kawanan yang kena imbas deportasi.
Beberapa orang terlihat bersedih. Mereka merasa perpisahan ini sungguh berat. Mungkin karena mereka terlanjur nyaman satu sama lain. Tapi mau gimana lagi? Ini adalah keputusan sang atasan. Mau tak mau mereka harus tetap menjalankan perintah.
Namun, kesedihan itu tak berlangsung lama. Ada beberapa di antara mereka juga merasa senang. Karena tempat baru mereka, dikabarkan lebih strategis dan aman dari banjir.
Apapun alasan itu, sayangnya tidak berlaku bagi Albert. Wajah pria itu malah terlihat marah. Seperti tak suka dengan suka cita kawan-kawannya dipindahkan ke tempat itu.
Kegelisahan Albert tidak terbaca oleh hampir semua teman, hanya Frans yang merespon. Karena Frans tahu, jika Albert memang berbeda dengan orang biasa pada umumnya
"Hemm!" jawab Albert.
"You oke?" tanya Frans lagi.
"No!"
"Why?"
Albert tak menjawab. Sebab di belakangnya ada satu anak bos yang mungkin akan ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Seakan bisa membaca pikiran sahabatnya, Frans pun mengetik di ponselnya lalu ia menyerahkan ketikan itu pada Albert.
"Apakah kamu merasakan sesuatu?" tulis Frans.
__ADS_1
"Kamu percaya padaku?" tanya Albert.
"Yes! Aku percaya kemampuanmu," tulis Frans lagi.
"Aku rasa ada yang tidak beres dengan tempat itu. Tapi aku nggak bisa kasih tau kamu sekarang. Sebelum aku membuktikannya terlebih dahulu!" balas Albert.
"Tidak beres, maksudnya?" tulis Frans lagi.
"Coba lihat pohon beringin itu, seperti ada sosok yang tinggal!"
"Ya iyalah, namanya juga pohon gede," balas Albert.
"Tidak ini lain, auranya lain. Sepertinya kita harus hati-hati, Bro. Aku takut mereka tak suka dengan kita."
Frans tak membalas ketikan terakhir Albert. Namun ia percaya, bahwa Albert tak pernah bercanda dengan hal-hal yang berbau mistis.
Satu jam berlalu, akhirnya rombongan mereka sampai di tempat tujuan.
Sebuah rumah yang cukup mewah dengan desain clasik ala era-era 90-an. Mempunyai halaman depan dan belakang yang sangat luas. Ada beberapa pohon mangga berdiri kokoh di sana. Namun pohon itu terlihat tua. Seperti usia rumah yang mereka pijak saat ini, mungkin.
Kembali orang-orang itu tersenyum senang. Karena kantor mereka yang baru, terlihat adem dan sepi dari luar.
"Wahhh... bagus juga kantor kita ya, Wak. Besar lagi. Eh, tapi kok kayak rumah sih?" tanya Kinan pada Frans, sebab Frans adalah orang pertama yang dibawa sang bos untuk mengunjungi tempat ini.
"He em, semoga kalian betah," jawab Frans seraya melirik Albert yang terlihat meremas tangannya. Seperti menahan amarah. Mata Albert tak berkedip. Membuat Frans semakin curiga.
Teman-teman yang lain sudah mulai masuk. Hanya Albert dan Frans yang masih ada diluar.
"Aman Al?" tanya Frans sehari menepuk pundak mereka.
Albert tak menjawab, namun ia tetap melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
Tentu saja apa yang dilakukan Albert membuat Frans bingung.
"Ya Tuhan, ada apa dengan anak itu?" gumam Frans dalam hati
__ADS_1
Gerak gerik Albert tidak luput dari perhatian Frans. Rasa penasaran akan apa yang di pikirkan sahabatnya itu membuat Frans tak sabar ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Bersambung....