Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Wanita Itu Lagi


__ADS_3

Masih dengan keadaan linglung, keenam orang yang ada di dalam mobil itu pun saling menatap. Menatap penuh tanya.


"Eh, kok kita masih di sini. Bukankah semalam kita?" tanya Mayang pada Yani.


"Iya, sudah... jangan dibahas di sini. Yang penting kita tutup dulu apa yang kita alami semalam. Aku takut, teman-teman yang lain jadi takut. Kita kan nggak tau, apa yang kita alami itu bener atau cuma mimpi," jawab Frans. Sedangkan Albert dan yang lainnya hanya diam. Sebab mereka masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Lian sendiri tak kalah kebingungan melihat keenam temannya yang menatapnya dengan tatapan kosong. Seperti ngeblank. Seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.


"Klean kenapa, Geng. Kenapa nggak pulang? Kalian malah tidur di mari, aelah?" cecar Lian dengan raut wajah yang sukar di artikan.


"Hehe iya, maafkan kami. Kami kejebak hujan. Jadi sambil menunggu, ehhh ketiduran. Ya udah kita nginep," jawab Yani, bohong.


"Oh, tapi napa klean nggak masuk aja. Pan di dalam banyak kamar?" tanya Lian heran.


"Ya itu, kita kejebak hujan. Mau maju salah mau mundur pun salah. Jadi kami mutusin buat tetap stay di mobil. Kan nggak lucu brother, cewek udah pada klenger kita tinggalin, ye kan... hehehe," jawab Aziz, ikutan mendukung kebohongan Yani. Padahal ia sendiri masih bingung dan tertekan dengan kejadian yang ia alami bersama kelima sahabatnya.


"Ohhh, oke deh. Ya udah kalian mau pulang dulu apa begimane? kalian belon pada mandi kan?" tanya Lian.


"Iya deh, kita pulang dulu bentar. Yani biar sama Mayang, klean searah kan. Aziz biar ama gue. Frans lu sama Al, ye!" ucap Kinan, ikutan berusaha menutupi apa yang mereka lalui semalam.


"Oh ya udah. Kalo mau pekek motor gue, pakek aja. Ku lihat motor Kinan bannya kempes tu," ucap Lian.

__ADS_1


"Yah... Ziz, gimana dong?" tanya Kinan memelas.


"Tenang honey, bunny, sweetie. Serahin semua ama Bang Aziz tersayang ye, yuk kita naik motor Aa' Lian terganteng. Siapa tau kita ketularan bisa beli motor begituan, kan?" ucap Aziz, sedikit bercanda. Namun, keanehan terjadi di sini. Ketika Aziz selesai berucap demikian pundaknya seperti ada yang menepuk. Membuat Aziz merinding.


"Ada apaan Ziz? napa mukanya tegang begitu?" tanya Frans.


"Ahhh, nggak ada, lupakan. Yuk bubar!" ajak Aziz, karena waktu mereka mepet.


Tak banyak kata, akhirnya mereka pun segera pulang ketempat masing-masing dengan formasi yang telah mereka sepakati.


***


Selesai berganti pakaian keenam orang itu pun kembali ke kantor itu. Dengan perasaan lebih baik setelah mandi dan mengganti pakaian mereka.


Bayangan demi bayangan yang terjadi malam tadi, kini terlintas di benak mereka masing-masing.


Tak tenang, akhirnya Kinan pun membuat grup chat berisikan kelima temannya, berenam dengan dirinya.


"Sorry, gaes. Terpaksa aku bikin grup ini, karena aku penasaran dengan kejadian malam tadi. Itu aku sendiri atau kalian juga ngalamin?" tulis Kinan di grup tersebut.


"Elu ngalamin apa?" balas Mayang.

__ADS_1


"Gue lihat cewek di anu, gaes. Di anu lima orang. Terus di tanam di halaman depan rumah," jawab Kinan.


"Fix, elu nggak mimpi say. Aku juga lihat!" tulis Mayang.


Keempat pria itu sepertinya masih fokus pada pekerjaan mereka sehingga belum ada satupun yang membalas pesan itu.


Tak berapa lama, Frans membuka aplikasi di ponselnya. Sedikit kaget, karena melihat ada grup chat baru di ponselnya. Di sana ada nama Kinan sebagai Admin. Berarti grup itu di buat Owlh gadis itu.


Frans membaca pesan yang tertulis di sana. Agar Kinan dan Mayang tidak terlalu tenggelam dengan kejadian semalam, ia pun menulis, "Udah jangan diingat, anggap aja nggak ada apa-apa. Oke!"


"Tapi Frans, gimana kalo tu cewek sengaja kasih tau kita, supaya kita tolongin?" balas Mayang.


"Gimana kita bisa nolong, Neng! Itu mahluk halus!" balas Frans.


"Minta kita doain, mungkin?" tulis Kinan.


"Nah, kalo doa barang kali. Ya udah mari kita kiri. doa buat almarhum. Jika benar apa yang ditunjukkan pada kita semalam adalah kenyataan yang beliau alami. Semoga beliau bisa berpulang dengan baik, aamiin!" tulis Frans.


Tak lama berselang, Yani pun membaca chat mereka. Sayangnya Yani tak bisa membalas chat itu. Sebab wanita yang semalam mereka lihat ternyata sekarang sedang duduk di tangga dengan wajah sedih.


Yani tak bisa berkata apapun. Jangankan berucap untuk memberi tahu para temen-temannya, Yani telah terpaku dengan tatapan wanita itu. Menatapnya tajam. Seakan di dalam sana terdapat beribu kebencian. Membuat Yani merinding...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2