Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Albert Si Peka


__ADS_3

Frans menyusul langkah Albert. Langsung bergabung dengan semua teman yang mulai sibuk mengatur barang-barang yang mereka bawa ke meja mereka masing-masing.


"Enak banget di sini ya, Wak! Adem!" ucap Kinan girang.


"Seneng kan lu, kantor baru kita lebih luas. Di halaman belakang juga ada tempat santai. Kalo jenuh kita bisa bawa kerjaan ke sana. Kalo capek, mager pulang, udah disediain kamar. Kurang baik apa bos kita," saut Vian, seraya tersenyum senang.


Sibuk merapikan barang masing-masing, tiba-tiba saja, pesan dari pusat datang. Beberapa orang di minta pergi ke pelabuhan. Karena ada barang datang.


"Hay gaes, ada tugas ni buat kita. Frans, Albert, Vian dan Han... kalian mesti ke pelabuhan jam satu ini. Ada barang datang!" ucap Kinan sembari membacakan pesan teks dari kantor pusat.


"Oke!" jawab Frans selalu kepala tim pengecekan barang.


"Ada lagi gaes, Mayang, Lian sama Hilda, kalian ada tugas ke kecamatan. Buat ngurus gudang kita yang baru. Oke! Yang lain tetap stay, kita kerjakan tugas masing-masing. Oke!" ucap Kinan lagi.


"Siap! Laksanakan miss!" jawab Lian sedikit bercanda. Lalu senyum ikhlas pun mengembang di bibir masing-masing.


Namun sayang, salah satu anggota mereka justru sama sekali tidak menikmati moment bahagia ini. Sebab ia merasakan gangguan ini, bahkan sebelum kakinya menginjak tempat ini.


Siapa lagi orang tersebut kalau bukan Albert. Pria ini berkeringat sendiri. Padahal AC menyala. Suhu ruangan juga cukup dingin. Namun, berkali-kali Albert memgelap keringat yang terus keluar dari keningnya.


Frans yang sedari tadi terus memerhatikan teman seperjuangannya itu pun penasaran. Ia menduga, pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


Benar dugaan Frans, ada yang tidak beres dengan Albert. Berkali-kali Frans melirik Pemuda itu. Tangannya masih mengepal, seperti seseorang yang sedang menahan amarah.


Tak hanya itu, Frans juga tak sengaja melihat Albert menatap tajam ke arah kamar mandi. Seperti ingin menghajar seseorang yang mungkin saat ini sedang meledeknya.


"Al, lu kenapa? Aman kah?" tanya Frans sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


Albert masih belum mau menjawab pertanyaan Frans. Namun matanya melirik sekilas pada Ken, yang tak lain adalah anak bos mereka. Dugaan Frans, Albert tak mau menjawab pertanyaannya karena ada Ken. Mungkin dia merasa tak nyaman.


Frans tak mau mati penasaran, ia pun segera menarik tangan Albert dan mengajak sahabatnya itu ke teras belakang.


"Bro, lu kenapa?" tanya Frans lagi.


Albert menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada orang lain selain mereka.

__ADS_1


Albert memegang pundak Frans. Tak lama, hanya berselang beberapa detik, Frans terjingkat, terkejut karena merasakan kakinya panas. Seperti sedang menginjak bara api.


"Woy, panas anjirrr!" pekik Frans.


Albert langsung menurunkan tangannya dari pundak sang sahabat. Lalu ia pun berucap, "Sekarang paham kan apa yang aku katakan tadi? Aku nggak bohong, Bro. Tempat ini nggak aman buat kita!"


"Ah, elu kelewat peka kali, Bro. Lihat yang lain, semuanya aman!" sanggah Frans, menolak apa yang sampaikan oleh Albert.


"Bagaimana jika apa yang aku katakan ini jadi kenyataan?" tanya Albert lagi.


"Al, di sini tujuan kita kerja. Kita nggak mau ganggu mereka," jawab Frans, masih berusaha menepis apa yang sebenarnya dia sendiri juga takut.


"Memang, tapi gimana jika mereka merasa terganggu? Apa yang akan kita lakukan?"


"Lu gila ya, Al. Mana ada begitu. Kita kan berdampingan, mereka pasti bisa lah memaklumi."


"Bagaimana jika tidak?"


Frans tak mampu menjawab pertanyaan terakhir sahabatnya, ia malah menatap tak percaya pada Albert. Tubuhnya seketika merinding. Bulu kuduk pria itu langsung berdiri sempurna.


"Hiiii... Apakah saat ini kamu merasakan apa yang barusan aku rasakan, Al?" tanya Frans lagi.


"Nggak, tapi aku tau.. lehermu seperti ada yang meraba kan?" Jawab Albert sembari menatap tajam pada tembok yang berada di belakang Frans.


"Kok kamu tau, emang ada yang megang aku ya Al?"


Albert mengangguk.


Pantas saja dia terlihat marah. Ternyata dia peka dengan tempat ini. Ahhh semoga tidak ada apa-apa. harap batin Frans.


"Al, jadi kita harus gimana?" tanya Frans, gugup. Kali ini, Frans tak mau meremehkan seperti tadi. Ia yakin kalo Albert memang bisa merasakan ini.


"Kita hati-hati aja, Frans. Mahluk di sini banyak banget. Sampai pusing aku jelasinnya. Mahluknya serem-serem!"


"Benarkah? aku merinding, Al. Tapi aku tak tau harus berbuat apa?"

__ADS_1


"Sesuai yang kamu katakan, di sini kita kerja, kita nggak ada niat ganggu mereka. Semoga kita nggak diganggu ama mereka. Itu harapanku sih. Tapi kalo seandainya kita terganggu, sebaiknya kita bicarakan ini pada pemilik kantor, Frans. Soalnya aku sangsi merena nggak bakal ganggu kita." ucap Albert, penuh harap.


Belum sempat Frans membalas ucapan Albert, terdengar jeritan seseorang dari dalam.


"Aaaaa..... "


"Apaan tu?" tanya Frans seraya berlari menuju arah suara. Sedangkan Albert, pria peka ini pun ikut melangkah menuju arah suara.


"Ada apa?" tanya Frans.


"Itu... anu... itu... " jawab Kinan gugup.


"Itu anu apa, coba jawab yang bener!" pinta Frans .


"Itu, ada.. ada... itu.. hiiii," jawab Kinan seraya menutup wajahnya dengan map.


Albert yang tahu apa yang telah dilihat sahabatnya itu hanya diam. Ia pun mengucapkan doa dan mengusap wajah Kinan. Setelah itu Kinan pun mulai tenang.


"Minum ini," ucap Albert, seraya memberikan air yang sudah ia kasih doa. Awalnya Kinan ragu namun Frans memberi isyarat untuknya meminun itu. Barulah, setelah Kinan meneguk air itu, gadis ini berani bercerita.


"Kamu tadi kenapa, Kin?" tanya Frans.


Kina menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan Ken tidak ada di tempat. Karena perasaannya sama dengan Albert. Sama-sama tak nyaman membicarakan apa yang terjadi padanya di depan anak bos mereka. Kinan takut Ken tersinggung.


"Aman, Kin, bicaralah. Kamu tadi kenapa?" tanya Frans lagi.


"Itu Kak Frans, tadi Kinan mau bikin kopi buat kalian. Tapi di falam lemari penyimpanan kopi ada penggalan kepala manusia. Matanya menatap tajam ke arah Kinan. Kinan takut kak, hiiii," jawab Kinan, sesuai yang ia lihat.


Frans dan Albert saling menatap. Jantung keduanya berdetak sangat kencang. Sebab mereka berdua sudah tahu apa yang terjadi. Namun, untuk membuat Kinan tenang, Frans pun terpaksa bercanda.


"Ah, itu pasti hayalanmu saja. Jangan sering nonton horor makanya. Jadi kebawa ke dunia nyata kan. Udah, mungkin dia mau kenalan," ucap Frans, dengan senyum terpaksa tentunya.


Kinan terlihat bingung. Antara percaya dan tidak ucapan sahabatnya itu. Namun ia pun mencoba tetap berpositif thinking. Sedangkan teman-teman yang lain terlihat cuek dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


"Oke, aku dan teman-teman cus ke pelabuhan ya. Kalo ada apa-apa kabarin kami. Assalamu'alaikum!" ucap Frans seraya meraih kunci mobil dan tas miliknya. Sedangkan ketiga temannya pun mengikuti langkahnya. Termasuk Albert.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2